The Geng'S

The Geng'S
Friends (Part 2)


__ADS_3

Aku mengumpat di bawah kolong meja dengan Alya tentunya. Kita mengendap-endap, agar tidak ketahuan guru, untungnya Pak Wawan lupa mengabsensi siswa maupun siswi.


Selama 2 jam aku dan Alya benar-benar berjongkok di bawah kolong meja milik Devi dan Via yang memakai bangku milikku, sedangkan Tara dia duduk dengan siswi yang bernama Sinta sampai pelajaran Pak Wawan selesai. Pak Wawan mengajarkan pelajaran Ilmu Kimia, dia terlalu memusingkan untuk aku dan Alya yang bosan dengan perhitungan aneh selain Matematika.


Setelah jam istirahat berbunyi, Pak Wawan keluar, aku memberi kode dengan menoel kaki Via. “Vi, aki-aki udah keluar?” tanyaku pada Via dengan berbisik.


Via menunduk sedikit, tapi tak menjawab sama sekali. Sedangkan Devi pura-pura tidak melihat. “Kampret, jawab!” pekik Alya pada Devi dan juga Via.


Aku membekap mulut Alya, “Kenceng bener lu kalau ngomong! Diem napa sih!” Aku mengomeli Alya, membuat Alya mengangguk.


Aku melepaskan bekapan, Alya pun bernapas lega kembali, dan menjawab ucapanku tadi, “Maap aelah.”


“Keknya udah aman deh,” ujarku pada Alya. “Keluar aja yuk, capek gue,” lanjutku yang membuat Alya mengangguk sekali lagi, Aku pun keluar dari meja.


Meregangkan badan yang sakit semua.


Alya pun keluar, hingga saat kita berbalik wajah Pak Wawan menghiasi penglihatan kita, aku tersenyum ramah padanya, “Halo Pak.” Aku menyapa sambil melambaikan tangan, diikuti oleh Alya.


Pak Wawan menjewer telingaku dan Alya. Kita berdua mendapatkan jeweran yang membuat telingaku sakit. “Aduh, sakit banget Pak,” keluhku pada Pak Wawan.


“Kamu ini ngajak-ngajak Alya yah! Biar dia bolos kelas saya juga?” Pak Wawan mulai memarahiku.


“Kagak Pak, dia mau sendiri, ya, kan, Al.” Aku meyakinkan Alya untuk mengatakan iya.


“Enggak, eh iya, Pak.” Alya menjawabnya tidak akurat, membuat Pak Wawan menggelengkan kepala.


“Kalian ini! Udah kelas dua aja sukanya bohong, udah sana kalian berdua hormat di tengah lapangan sekarang sampai jam pelajaran kedua berikutnya mulai masuk.” Ucapan Pak Wawan membuatku terdiam, jika dia sudah begini, tidak mungkin untuk melawannya.


Alya dan aku pasrah, kita berdua berjalan keluar bersamaan dengan Pak Wawan yang masih menjewer telinga kita berdua.


Aku terus mengaduh pun tak didengar olehnya, kita diarak sampai ke tengah lapangan yang terdapat bendera merah putih.


Membuat sebuah sorakan dari lantai atas dan lantai bawah pun riuh. Aku melihat semua orang nampak menyaksikan hukuman yang saat ini dijalankan olehku saat jam istirahat.


Hingga tepat berada di depan tiang bendera, barulah Pak Wawan melepaskan telingaku. Kuping Alya memerah, mungkin kupingku juga begitu, rasanya panas di sekitar telinga kiriku.

__ADS_1


“Hormat sampe bel masuk dan pergantian jam kedua berikutnya berbunyi!” perintah Pak Wawan kita turuti, aku mendongakkan kepala, memberi hormat pada bendera kemenangan kita semua.


Bersama Alya, aku melaksanakan hukuman yang diberikan Pak Wawan. “Lain kali kalau nggak mau dihukum, jangan macam-macam ya, sampai ngumpet dikolongan. Meskipun saya udah tua, tapi mata saya jeli buat melihat kalian yang bergosip dikolong meja!” ujar Pak Wawan dengan panjang lebar.


“Mengerti?” Pak Wawan bertanya dengan tegas. Aku dan Alya mengangguk seraya menjawab, “Iya Pak, mengerti.”


“Baik kalau begitu, saya pergi ke kantor, ingat! Saya mengawasi kalian berdua dari kantor,” ujar Pak Wawan, tak lama setelahnya pergi dari hadapan kami.


Matahari yang mulai berada di puncak kepala pun membuat kami merasakan dipanggang hidup-hidup. Tapi ya, inilah hukuman bagi aku dan Alya. Waktu berlalu begitu cepat.


Semua siswa dan siswi yang tadinya memandang aku dan Alya pun kian pergi, lalu menghilang sepenuhnya ke dalam kelas masing-masing. Hanya tersisa CaPaMud dan LorezQ yang setia menemani.


Mereka semua berjalan ke arah kita. “Ciye dihukum,” ejek Putra dengan cengirannya yang membuat Alya menendang asal, mengenai dengkul Putra.


“SAKIT AL, GUE LAPORAN KEKOMNAS COWOK NIH!” Putra sudah keluar jurus lebaynya, membuat aku menghela napas pasrah, pasti kegilaan itu tidak akan berujung.


“Put, lo mending ke kelas dah,” ujarku yang diangguki Reyga.


“Bener banget tuh apa kata Cantik, lo balik aja dah ke dalam kelas,” timpal Rendy.


“BIAR GUE DAMAI, TENTRAM, KARENA LO PERGI JAUH!” Alya sudah muak pun mulai memekik dengan keras kepada Putra.


“Ih galak kali loh.” Putra mulai mendramatisir.


“Mana gue galak, gue tuh imut, nggak percaya noh tanya aja sama, sama Cantika deh.” Alya pun menyebut-nyebut namaku.


“Apaan dah nama gue dibawa-bawa, nggak ada-ada, gosah ngadi-ngadi lu semua!” pekikku membuat suasana semakin riuh di area tiang bendera.


Pak Wawan pun berteriak dari pinggiran koridor sekolah. “HEH KALIAN SEMUA, NGAPAIN DI SANA? UDAH JAM PELAJARAN! MASUK KELAS!” Pak Wawan berteriak, membuat semua teman-temanku berbalik badan.


Mereka mengangguk dan hendak balik ke kelas, tapi dasar Putra yang super lemes mulutnya pun berkata, “BENTAR PAK, INI LAGI SERU DEBAT SAMA ALYA, CANTIKA!”


“YA SUDAH KALIAN SEMUA DIHUKUM!” Pak Wawan kesal dengan jawaban Putra pun akhirnya memberikan hukuman yang sama padaku.


Aku tak kuasa menahan tawa, teman-temanku berdecak dan kesal kepada Putra saat Pak Wawan sudah pergi. Aku dan semua rombongan The Geng’s pun melakukan hormat kepada bendera merah putih.

__ADS_1


“Awas lu, Put,” ancam Sandi pada Putra.


“Gue tandain lu!” timpal Reyga.


“Gue bagian midioin!” ujar Rendy.


“Gue bagian doa.” Rio pun kini membuka suaranya meski nadanya datar, diangguki oleh Alya.


“Gue bagian jitakin palanya Putra, PIKS INI MAH!” Kini aku yang membuka suara, membuat Devi, Via, dan Tara setuju.


“Gue juga jitakin Putra, kesel gue sama Putra, ck akhirnya kita kena hukuman semua, kan!” keluh Devi.


“Gue disalahin mulu dah, salah gue apaan?” Putra seolah-olah tidak tahu apa-apa.


Aku menendang kaki Putra yang kebetulan berada di sebelahku. “Ape lu, gosah sok pikun ya, lu tuh biang rusuh,” tuturku.


“BENER BANGET,” seru Alya yang membenarkan ucapanku.


“WASYEM SALAH GUE NAON? DISALAHIN MULU!” ungkap Putra.


“Lo napas aja salah, Put,” ujar Rio.


“Nah-nah, ini Rio bener nih, tumben lempeng kek papan triplek,” sahut Reyga.


“Mana ada gue napas salah, lu kali yang lahir aja salah kelamin,” elak Putra yang membalas ejekan Reyga.


“Mana ada salah kelamin.” Reyga tak terima pun membalas.


“Lah emang bener, kan, lu pas waktu emak lu hamil, ngiranya lo perempuan, eh keluarnya demit cowok, ck.” Putra mendapatkan jitakan dari Reyga yang sengaja mendekatinya.


“Mana ada, gosah ngadi-ngadi lu!” pekik Reyga yang tak terima.


“Ada, gue saksinya,” ujar Rendy.


Reyga yang malu pun kembali ke tempatnya, kita semua tertawa terbahak-bahak, meskipun dihukum, tapi kita malah asyik bercanda di tengah lapangan sampai bel pelajaran kedua baru kita selesai dihukum.

__ADS_1


__ADS_2