
“Gais, kalian pernah nggak jatuh cinta?” tanya Rendy tiba-tiba pada kita semua, baik geng LorezQ atau pun geng CaPaMud.
Aku dan semuanya duduk melingkari api unggun, kita saling berhadap-hadapan, menatap satu sama lainnya. Dengan perasaan canggung, aku pun menjawab pertanyaan Rendy. “Gue gak tahu ini perasaan apa, tapi kayak bikin jantung gue mau copot setiap sama dia doang, padahal udah dibikin biasa aja gitu,” tuturku yang membuat lainnya menatap serius ke arahku.
“Itu namanya jatuh cinta, Can,” sahut Alya yang menjelaskannya padaku.
“Emang iya-iya?” tanyaku pada semuanya, mereka mengangguk.
Hingga tiba-tiba Sandi pun ikut menjelaskan, “Itu tanda-tanda lo mulai jatuh cinta, gue juga ngalamin itu, gue browsing eh rupanya semua tanda-tanda cinta gue alamin dong.” Sandi menjelaskannya panjang lebar.
Aku pun memikirkannya dalam diam. “Sandi jatuh cinta, dia jatuh cinta sama siapa?” tanyaku dalam pikiranku sendiri.
“Cailah, lo jatuh cinta sama siapa, San?” Pertanyaan Putra tak kusia-siakan untuk disimak betul-betul.
Sandi pun menjawab pertanyaan Putra, “Kepo lu kek Dora!” Jawaban Sandi membuatku menghela napas pasrah karena jawaban itu tak memuaskan rasa penasaran aku padanya.
“Halah, bilang aja rahasia gitu,” cebik Putra yang kesal dengan jawaban Sandi.
“Btw cakep nggak San doi lu?” tanya Reyga kini.
“Cakep, tenang aja, dia like angel, cailah.” Sandi mulai salting dengan ucapannya sendiri.
“Angel? Boso jowo?” tanya Putra dengan bahasa Jawa sok dimedok-medokin.
“ITU ANGEL KAMPRET!” pekikku seraya mengetok kepala Putra dengan kupluk yang kukenakan.
“Sakit woi!” Putra memekik kencang, aku hanya tertawa melihatnya seperti itu.
“Kalian berdua cocok dah,” ujar Tara tiba-tiba.
“Dih cocok, ogah gue sama titisan belatung begini,” elak Putra yang aku angguki.
“Gue juga gak mau sama modelan kolong wewe begini,” tambahku yang juga kesal dengan ucapan Tara. Sedangkan lainnya hanya tertawa, tetapi Sandi dan Rio terdiam.
__ADS_1
Mereka sama-sama terdiam dan tak ada yang menampakkan ekspresi tawa sama sekali. Aku menatap Sandi dan Rio secara bergantian.
“Kalian kenapa dah?” Pertanyaanku itu mampu mengundang keheranan yang lainnya, sedangkan mereka berdua bingung dengan pertanyaanku.
“Gue?” tanya Sandi yang menunjuk diri sendiri, aku mengangguk.
“Iye elu sama Rio, yakali Haji Jumaedi sama Atok Dalang!” gurauku.
“Gue gak apa-apa,” jawab Sandi yang mendadak datar. Dia pun bangkit dari duduk, lalu melanjutkan ucapannya. “Gue pergi dulu ya, baru inget ada janji sama orang,” lanjut Sandi yang berjalan begitu saja, meninggalkan diriku dan teman-teman lainnya yang masih terduduk di lantai.
Lalu tiba-tiba Rio pun ikutan bangkit, “Gue juga mau pergi, keknya ada dan gak ada gue juga kek gak penting.” Rio pun pergi juga.
Aku dan teman-teman lainnya saling menatap satu sama lainnya. “Gue ada salah ya?” tanyaku pada teman-teman lainnya.
Devi menepuk pundakku. “Lo gak salah, mungkin memang mereka lagi nggak baik-baik aja,” ujar Devi.
Reyga pun juga berkata, “Iya lo gak salah, kita semua lagi seneng-seneng kok di sini.”
Bara dan Via mendekat, Tara dan Alya berada di dekat Putra, semuanya merapat. “Lo nggak usah mikir yang aneh-aneh, kalau mereka kesinggung, atau candaan lo bikin mereka gak seneng, ya udah biarin aja. Jangan dipikirin,” nasihat Via padaku, aku mengangguk.
“Udah elah, yuk seru-seruan lagi.” Putra kini sudah berdiri di tengah-tengah ruangan, dia berlari ke arah televisi, menyalakan salah satu lagu hits yang memiliki nada enak untuk dibawa dance.
Aku bangkit, menghampiri Putra. Dia sudah lebih dulu berjoget, aku pun mengikutinya dengan gerakan lain. Teman-teman lainnya juga mengikuti gerakan yang dilakukan kita, meskipun gerakan lainnya tidak seirama satu sama lainnya.
Hingga tepat saat lagu berganti dengan nada dangdut, Putra, Reyga, dan Rendy mulai menggila dengan berjoget ala bapak-bapak yang suka nyawer.
“ANJIR JOGETNYA!”Alya yang tidak tahan pun langsung tertawa terpingkal-pingkal.
“Temen gue pada gila semua,” ujar Tara yang mulai pening melihat semua kelakuan temannya.
Aku ikut tertawa seperti Alya, diikuti lainnya. Reyga pun berkata, “Enak anjir jogetnya, nyok Neng semuanya ikutan, serrr~” Reyga kembali berjoget berputar sambil mengeluarkan uang dari sakunya, lalu dikibar-kibar ke atas.
“Aduh Aa Reyga baik banget.” Putra mengelus dagu Reyga sambil kembali berjoget.
__ADS_1
Aku tak kuasa tertawa dan berkata. “SUMPAH PUT, IH GELI!”pekikku.
“Apa sih, iri ya,” ujar Putra dengan nada yang dibuat banci-banci gitu, membuat aku dan teman-teman lainnya bergidik, sedangkan Reyga malah membelai rambut Putra dengan halus.
Mereka berdua menghayati perannya masing-masing. “ISTIGHFAR LO BERDUA, NAJONG PISAN.” Kini Devi pun ikut menyuarakan kegeliannya.
“Stress semua, udah gak aman buat lo Vi, yuk ikut gue aja,” ujar Bara yang menarik tangan Via untuk pergi, meninggalkan aku dan teman lainnya.
“Nahkan, Put sadar weh! Reyga pulak kenapa ini, kesurupan jin tomangnya Putra, weh sadar.” Aku pun berusaha menyadarkan mereka berdua. Namun, Reyga dan Putra seolah semakin hanyut dengan perannya.
Devi, Tara dan Alya masih terkikik geli. Rendy berhenti berjoget-joget saat aku menggoyangkan tubuhnya, dia pun berjalan berdiri di dekat Tara.
Kita berlima melihat Putra yang sudah tidak waras bersama Reyga. “Atuh kumaha iye, dua orang gila, air-air buruan!” ujarku yang membuat Rendy langsung bergegas mengambil air dari dapur milik rumah Bara yang memang sengaja dikosongkan khusus untuk kita latihan, di sinilah kita bertemu dan bermain seharian.
Rendy datang-datang membawa air putih, memberikannya padaku. Aku tanpa membaca doa pun langsung menyiramkan ke arah mereka berdua. Reyga terdiam sejenak, sedangkan satu makhluk dari saturnus masih berjoget riang tanpa henti mengikuti alunan lagu.
Devi mematikan televisi, hingga membuat Putra terdiam dan tidak bergeming, dia juga menghentikan aksi jogetnya.
“Kenapa dimatiin sih?” Putra menanyakannya pada Devi, tetapi Devi mengetuk dahi Putra.
“Istighfar lu,” ujar Devi pada Putra.
“Begimana gue mau ucapin astaghfirullah anjir, nanti gue berdosa di depan Dewa! Yakali gue berpaling Tuhan, kalau berpaling doi sih sering cuy,” tutur Putra.
“Lo punya doi?” tanya Rendy dengan polos.
“KAGAK, PUAS LO!” Putra cemberut dibuat oleh Rendy, kita semua tertawa kencang.
“Ini ngemeng-ngemeng, kenapa gue bajunya basah?” tanya Putra.
“DISIRAM ANJIR!” jawab Reyga dengan kesal, dia pun pergi meninggalkan kita, langsung berganti pakaian di kamar yang sudah tersedia baju-baju milik Bara.
Putra pun mengikuti Regya yang berganti baju, mereka berdua bajunya basah akibat disiram olehku. Tingkah mereka berdua tertangkap olehku dan teman lainnya, kita hanya bisa melihat aksi mereka dan menertawakannya. Lalu melanjutkan dengan aktivitas lainnya, yaitu ngerumpi cuy.
__ADS_1