
Aku bersama teman-teman turun dari mobil milik Bara dan Sandi yang kita pakai untuk sampai ke pantai. Jarak yang ditempuh cukup lumayan lama, tidak terlalu lama juga, hanya saja lumayan untukku.
Aku berjalan mendekati pantai, seakan ombaknya memanggil namaku. Melambai untuk dihampiri, aku mendekati pantai, berjalan di pinggirannya, membuat air pantai yang pasang surut itu mengenai kakiku.
Sandi berlari ke arahku, lalu tiba-tiba menarik pergelangan tanganku menjauh dari semua teman-temanku. “Sandi, ngapain?” tanyaku pada Sandi yang tidak digubris dan malah terus berjalan.
Hingga saat tepat di bawah pohon kelapa yang cukup rindang, Sandi melepaskan pergelangan tanganku, dia mengambil posisi duduk di bawah pohon kelapa.
“San ....” Baru saja aku hendak menanyakan, Sandi melakukan isyarat agar aku diam.
Lalu tiba-tiba Sandi menyuruhku untuk duduk di sebelahnya sambil menepuk tempat di sampingnya. “Duduk Can.” Suara berat yang lembut itu membuatku menuruti perintahnya.
Aku duduk di sebelah Sandi, menatap pantai yang mengayunkan ombaknya. “Lo ngapain tarik gue sampai sini?” tanyaku pada Sandi.
Sandi menoleh, lalu menjawab, “Quality time sama gue, dari kemaren-kemaren lo terlalu sibuk sama pengakuran teman-teman kita, sedangkan diri lo juga butuh istirahat.”
“Lihat deh mereka, udah bahagia dan kembali ke situasi semula. Dan mungkin aja, Can, mereka menaruh rasa kepada orang yang tepat suatu saat nanti dipertemanan kita,” jelas Sandi padaku.
Ucapannya seperti tombak yang membuatku dilema, jika ditanya soal cinta, aku akan kesulitan untuk memilih. Bagiku pertemanan akan abadi, sedangkan cinta akan sulit diabadikan.
“Tapi San, gue harap kita semua gak saling jatuh cinta lagi, gue gak mau mereka terpisah, gue juga gak mau terpisah dari mereka lagi.” Aku mengatakannya pada Sandi, berharap dia mengerti apa yang aku ucapkan.
“Lo gak bisa paksa hati seseorang Can, contoh kecilnya aja, lo gak bisa ubah perasaan yang lo rasain ke gue, yakan?!” Sandi menunjuk ke arah dada miliknya, menunjukkan posisi di mana detak jantung begitu cepat berada di situ.
“Jangan paksakan perasaan itu mati, jangan juga paksa perasaan seseorang untuk mati hanya karena ketakutan lo itu, Can. Biarkan apa yang mau diungkapkan hati itu terungkap, jangan dipendam dan dimatikan,” ujar Sandi padaku.
“Terus maksud lo ngomong gitu apa, San?” tanyaku yang sedikit meninggi kepada Sandi.
“Gue cinta sama lo, Can, gue gak mau kehilangan rasa ini, dan gue gak mau kehilangan lo di sisi gue juga,” jawab Sandi yang menundukkan pandangannya, meraup wajahnya.
“Gue mau lo bukan hanya sebagai sahabat gue doang, tapi pacar gue juga. Menemani dalam setiap langkah dengan rasa yang sama.” Sandi mendongakkan kepalanya lagi.
__ADS_1
Menatapku dengan tatapannya yang tegas itu, tatapan itu cukup lama, aku menggaruk tengkuk, menahan posisi tangan di area tengkuk cukup lama.
“San lo sadar nggak, kita aja belum bisa buat Rio baikkan sama kondisi semua ini, dan untuk tentang perasaan yang sama. Gue gak mau egois sama perasaan gue sendiri, gue gak mau libatin masalah hati ke dalam pertemanan, meskipun gue akui bahwa gue juga ada rasa sama lo, gue gak pandai menutupi rasa yang pertama kali hadir ini,” jelasku panjang lebar pada Sandi.
“Can ... lo gak egois, lo berhak bahagia sama gue, pertemanan bisa lanjut kok bareng-bareng sama perasaan yang kita rasain.” Sandi berusaha meyakinkan perasaan.
Tetapi aku tetap dalam keteguhanku, pertemanan harus dibedakan dengan rasa cinta, aku rela memendam rasa ini demi sebuah pertemanan yang abadi. Mungkin aku akan merasakan sakit saat ini, tapi jauh lebih sakit jika keduanya harus hilang dari sisiku, harus merasakan kecanggungan yang sengaja diciptakan oleh sebuah rasa yang hadir.
“Sorry San, gue lebih baik berteman dan bersahabat terus dengan lo dan mereka semua. Cinta hanya sementara, sedangkan persahabatan akan abadi selamanya, terlebih gue gak mau nantinya jadi orang yang beda dihadapan lo ketika gue sama lo atau udah gak sama lo, gue belum siap kehilangan pertemanan.” Aku yang baru selesai mengatakan itu pun bangkit dari dudukku, berjalan sedikit menjauh dari Sandi, hingga Sandi pun setengah berteriak, aku berhenti dan menoleh.
“Cantika ....” Sandi mengejarku, lalu langsung memeluk erat ke dalam pelukanku.
“Jangan tinggalin gue sendiri ....” Suara Sandi begitu lirih, lalu dia pun melanjutkan ucapannya, “Gue gak akan mampu tanpa lo, gue mau 24/7 sebagai sahabat yang siaga buat lo, tapi lo jangan pergi, hati gue gak bisa kalau gak ada lo di sisinya.”
Aku melepaskan pelukan Sandi. “Lebay lo 24/7 jadi sahabat yang siaga, lo gak perlu sebegitunya, lo cukup ada di saat gue butuhkan, lo support gue, dan selalu bisa jadi pendengar yang baik aja, lo udah jadi sahabat terbaik gue,” ujarku pada Sandi.
Aku dan Sandi bertatapan cukup lama, lalu kembali memeluk satu sama lain. Lalu Sandi melepaskannya, aku pun merenggangkan pelukan itu.
Tiba-tiba Sandi mengajakku sedikit ke arah ombak. “Lo main air gih, gue fotoin, gue mau belajar jadi sahabat lo yang baik nih,” ujar Sandi yang membuatku terkekeh, dia juga ikut menampakkan senyuman yang menampakkan giginya.
“Udah buruan!” usir Sandi padaku yang membuatku cemberut, tetapi sedetik kemudian aku pun menurutinya dengan sedikit menengah ke air pasang yang akan menjadi objek berfotoku.
Sandi merogoh ponselnya, lalu mulai memposisikan di mana letak foto yang bokeh sepertinya. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan.
“Oke pas, dalam hitungan 1 ... 2 ... 3 ....” Sandi pun menyelesaikan ucapannya, hingga suara jepretan foto keluar dari ponselnya.
“Nice, Can!” pekik Sandi yang membuatku setengah berlari ke arahnya.
Aku diperlihatkan oleh Sandi hasil foto tadi, hasilnya menurutku cukup bagus, bahkan sangat bagus. Di mana rasa kegembiraanku akan sebuah pertemanan yang mampu kupertahankan akhirnya membuahkan hasil, meski belum sepenuhnya tapi keadaan sudah sedikit melegakan.
“Kirim ke gue dong ...,” rajukku pada Sandi yang dia langsung kirimkan tanpa berlama-lama.
__ADS_1
Sandi My Enemy
(Send Picture)
Nih, cakep yakan
Cantika Uye
Cakep banget, gue gitu loh
Makasih btw San:3
Sandi My Enemy
Masama Can-Cankuh:3
Aku yang berada di dekat Sandi pun langsung menjitak kepalanya. “Istighfar lo!” pekikku yang diiringi tawa satu sama lain.
“Alhamdulillah ....” Sandi malah mengucapkan rasa syukur, aku yang tidak kuasa pun tertawa.
“Salah dodol,” balasku yang membuat Sandi pun ikut tertawa.
Perdebatan antara aku dan Sandi pun dimulai, api unggun sudah disiapkan, acara barbeque, dan seru-seruan akan dimulai sebentar lagi.
Aku dan Sandi harus mengakhiri perdebatan unfaedah kita berdua, lalu kembali duduk bersama teman-teman, membantu hal yang belum terselesaikan.
Langit semakin menggelap dan gelap. Hari itu pertemanan membaik, aku bahagia akan hal sesederhana itu. Bahkan aku tidak pernah membayangkan bahwa Sandi bisa menerima apa yang aku mau dan apa yang aku pikirkan.
Mungkin benar ada pepatah yang mengatakan bahwa cinta tertinggi di dalam diri seseorang adalah membuat orang yang kita cintai bahagia dengan pilihannya. Dan pertemanan abadi adalah pilihanku, dia mendampingi pilihanku itu.
“Thanks for my choice, San. Lo udah mau menerima apa yang gue pilih, lo laki-laki terhebat bagi gue ....” Aku mengatakannya dalam hati sambil menatap langit yang bertabur bintang di malam hari ini.
__ADS_1