
The Heroik Villain Bab 13
"Kata-katamu benar-benar memyakitkan, aku hanya ingin lebih mengenalmu sebagai tunanganku saja apa itu salah?" tanggap si pangeran.
"Heh, Baka ... tapi, terserah padamu aku akan melihat apa kau bisa menghiburku dengan kencan pertama yang kau ajukan ini, dan satu yang perlu kau ingat ... aku bukan orang yang mudah terkesan," tanggap Angelica sembari tersenyum lembut dan akhirnya ia benar-benar pergi meninggalkan Edward.
Di sekolah sihir kemudian, terlihat orang-orang memperhatikan Angelica ketika berjalan pelan, Angelica temtu sedikit kaget karena ia menjadi pusat perhatian, ia tidak tahu maksud tatapan orang-orang kepadanya.
'Apa arti tatapan itu? Takutkah atau mungkin itu adalah rasa hormat? Tidak, mungkin saja yang aku lihat adalah kebencian terpendam,' batin Angelica yang kembali membaca buku miliknya.
Nampak orang-orang tidak ada yang berani menghalangi jalannya, langkah kaki Angelica membuat orang-orang menghindar atau tak ada yang berani menghalangi jalan atau langkah kakinya.
'Sepertinya tatapan itu artinya adalah rasa takut,' batin Angelica ketika ia menatap ke salah satu murid yang ada di sana dan membuat mereka mundur dan lari ketakutan.
"M-maafkan kami!" seru mereka yang langsung berlarian tidak jelas.
Angelica hanya diam saja, ia tidak ingin memberikan respone apapun dengan itu, sejujurnya ia tidak suka akan hal itu, hanya saja ia sedang ada misi untuk melawan makhluk misterius yang bahkan bentukannya saja tidak diketahui.
Di taman sekolah.
Terlihat Edward bersama kedua sahabatnya berkumpul di sana.
"Edward, apa kau yakin menerima pertunanganmu dengan Angelica, si monster wanita itu?" tanya Lucas atau lebih tepatnya Lucas Salazar pada Edward Willyam Elscaro.
"Ya mau bagaimana lagi, hasilnya sudah seperti ini ... lagi pula akan sangat memalukan bagi bangsawan jika tidak bisa menepati janji atau kesepakatan," tanggap Edward.
"Singkatnya, kau menerima pertunangan ini karena terpaksa, apa benar begitu?" tanggap Erwin pada Edward.
Edward pun hanya diam saja sembari menatap ke arah langit dan memejamkan matanya untuk sesaat ia mengingat Angelica yang tersenyum tipis sembari mengucapkan terima kasih hanya karena sebuah buku Diary yang sudah dikembalikan.
"Ed? Edward, Ed ... Edward!" seru dan panggil Lucas dan Erwin.
"Ah ya ada apa?" tanya Edward pada keduanya.
"Tolong jawab pertanyaanku tadi!" seru Erwin.
"Ya aku juga penasaran soal kenapa kau tidak mengeluh sama sekali dengan pertunanganmu yang terjadi bukan karena rasa cinta!" seru Lucas yang rupanya juga ikut penasaran.
"Ya soal itu bagaimana yah, aku sendiri juga tidak tahu apakah aku cocok dengannya atau tidak, tapi pertama aku harus mencoba membiasakan diri dan jika aku sudah yakin akan perasaanku barulah aku akan melakukan tindakan," tanggap Edward dengan santai.
"Oke, tapi jika kau ingin membatalkan pertunanganmu dengannya, maka kami akan membantumu," tanggap santai Lucas.
"Yah aku setuju, soalnya gadis bar-bar seperti itu sama sekali tidak cocok untuk menjadi permaisurimu," ungkap santai Erwin.
Edward yang mendengar pendapat dari kedua sahabatnya hanya tersenyum kecil saja, tak lama setelahnya gadis berambut pirang dengan gaun yang cukup sederhana muncul di dekat mereka.
"Hei, bukankah dia seorang rakyat biasa yang berkesempatan bersekolah di sini karena punya elemen cahaya?" tanya Lucas pada kedua sahabatnya.
Pangeran Edward dan juga calon penyihir agung Erwin langsung menatap ke arah yang di tunjuk oleh Lucas, terlihat kalau gadis cantik berambut pirang dengan baju sederhana sedang diganggu oleh anak bangsawan lain.
__ADS_1
Terlihag anak lelaki berambut merah dan teman-temannya mendorong gadis bertubuh kecil dengan rambut pirang ikal seleher itu hingga jatuh ke tanah.
"Dasar gadis rendahan, berani sekali kau berjalan di hadapanku dan menghiraukan keberadaanku, cuih!" seru pria berambut merah itu sembari meludah ke arah Gadis itu.
"Ah maafkan aku, aku benar-benar tidak tahu, maafkan aku!" seru gadis itu.
Kembali ke tempat pangeran dan dua sahabatnya.
Mereka bertiga yang melihat pembullyan itu langsung terdiam ditempat, jujur mereka bingung dengan kejadian di depan mata mereka ini.
"Apa-apaan hal yang aku lihat ini?" batin Edward.
"Gadis itu dia sedang dibully," gumam Lucas.
"Apa yang harus kita lakukan Edward?" tanya Erwin.
"Sudah jelas, kita harus membantunya," ucap Edward yang langsung berjalan ke arah sana diikuti dua sahabatannya dengan tatapan marah.
Sampai akhirnya mereka melihat Angelica tiba-tiba ada di dekat bangsawan berambut merah itu dan menabrak bahu pemuda itu hingga membuatnya terjatuh.
"Argh sialan! Siapa kau berani sekali menggangguku?!" tanya keras pemuda berambut merah itu kearah Angelica yang menabrak bahunya hingga hampir membuatnya terjatuh.
Angelica pun menatap pemuda berambut merah itu sembari membaca buku catatannya dan berkata, "Memangnya kau siapa, aku sama sekali tidak mengenalimu?" tanggap Angelica.
"Aku Robert D'Rogga Pangeran pertama dari kerajaan Grigory dari Provinsi Hakuba!" seru pria berambut merah itu.
"Heh lihat dia mulai ketakutan!" seru pengikutnya.
Angelica pun sedikit mendelik dan berkata, "Kalian berisik sekali, aku tidak tahu ada raja yang melahirkan seekor Keledai untuk menjadi pewaris tahtanya, dan aku sungguh merasa jijik dengan kalian," tanggap Angelica dengan nada datar.
Hal itu langsung mengundang perhatian orang banyak dan ada bebwrapa bangsawan yang hampir tertawa ketika mendengar perkataan dari Angelica, tapi karena ditatap tajam oleh Robert dan tidak mau dapat masalah dari kerajaan tetangga yang akan membuat peperangan bisa terjadi mereka langsung berhenti tertawa.
"Kau! Apa kau sadar dengan siapa yang kau hina ini hah?!"
Angelica pun menatap ke arah gadis dari kalangan rakyat biasa yang bersekolah ditempatnya, "Tentu aku tahu betul siapa orang yang aku hina, karena di mataku hanya hanyalah, keset lantaiku yang sudah aku buang," tanggap Angelica, "Kotor menjijikan dan sama sekali tidak berharga.
Suasana langsung menjadi tegang ketika pangeran dari kerajaan tetangga itu mengeluarkan aura membunuhnya ke arah Angelica yang terlihat adem ayem aja.
"Siapa kau sialan?!" seru Robert dengan mengelurakan tekanan energi mana yang sangat besar.
Angelica nampak tidak peduli dengan seruan pangeran itu dan lebih memilih menatap murid dari kalangan rakyat biasa yang dibully oleh Pangeran pertama itu.
"Hei namamu Lucia Luna bukan?" tanya Angelica yang mulai membersihkan wajah Lucia dari ludah yang dipercikan si pangeran pertama pada Lucia dengan menggunakan tisu.
"Em terima kasih," tanggap Lucia.
"Tidak perlu, aku tidak ada maksud untuk membantumu, aku hanya merasa terganggu melihat wajah orang yang terkena air liur menjijikan dari sampah bangsawan semacam tomat busuk berisik di belakangku," tanggap Angelica sembari merosting pembully.
Lima meter dari arah kanan tempat Angelica berdiri.
__ADS_1
"Wah kata-katanya kasar," tanggap Edward yang swedrop dan akward dengan kata-kata kasar dari tunangannya.
"Jujur aku masih tidak menyukainya, tapi untuk kali ini aku mendukung tindakannya ungkap Lucas yang juga ikut diam menonton bersama Edward dari jarak lima meter.
"Aku sependapat denganmu," ungkap santai Erwin yang juga ikut terdiam melihat kejadian itu, jujur mereka tidak menyangka kalau Angelica akan membantu gadis dari kalangan rakyat biasa dari pembulyan.
Kembali ke tempat Angelica.
"Kurang ajar, bukan hanya mengabaikanku, kau juga menghinaku, SEBAIKNYA KAU MATI!" seru si pangeran berambut merah itu sembari menciptakan bola api raksasa yang siap di hantamkan ke arah Angelica. Sementara itu para guru nampaknya tak berani ikut campur, karena pemuda itu adalah anak Raja yang akan membuat mereka bisa mengalami nasib sial jika berani menegurnya.
Melihat hal itu Edward kaget dan lupa kalau Angelica itu adalah orang yang sangat kuat dan langsung melesat ke arah belakang Angelica berusaha melindunginya dengan sihir air miliknya dan.
Boooooom
Uap air tercipta karena benturan sihir api dan air yang seimbang, Angelica kemudian menatap Edward, "Kenapa kau datang kemari? Ingat aku tidak akan berterima kasih karena serangan macam tadi tidak ada apa-apanya bagiku," ungkap Angelica dengan wajah datarnya.
"J-jangan salah, aku kesini bukan untuk melindungimu, aku hanya berpikir kalau api sebesar tadi bisa menghancurkan sekolah dan dampaknya sangat merugikan para guru dan kerajaan untuk memperbaikinya!" sanggah Edward.
"Heh, terserah padamu," tanggap Angelica sembari menatap sedikit luka bakar di tangan Edward.
"Jangan mengabaikanku sialan" seru Robert yang benar-benar marah. Terlihat Robert mulai melapisi tinjunya dengan api biru membara, terlihat para bangsawan dan guru menatap khawatir ke arah para siswa-siswi yang sedang berkonflik dan tak tahu harus berbuat apa.
Mereka tidak khawatir pada Angelica, ataupun Edward, melainkan Robert, yah karena kita tahu sendiri seperti apa Angelica.
Duaarrrr!!!
"Urrregh!" ringis Edward yang menahan tinju api dari Robert yang terarah pada Angelica.
"Kau kenapa kau menghalangi seranganku? Pergi aku tidak ada urusan denganmu Edward!" seru Robert dengan amarahnya.
Angelica yang melihat tangan Edward terbakar, hanya tersenyum tipis dan berjalan santai ke melewati Edward dan menatap Robert dengan matanya, "Edward lepaskan tanganmu, kau tak perlu terluka lagi, aku akan mengakhiri ini dengan satu serangan," ucap Angelica dengan nada dingin.
"Haah? Kau meremehkanku pelacur!" seru kasar Robert pada Angelica.
Edward pun melepaskan genggamannya dari tangan Robert, melihat hal itu Robert langsung kembali melapisi tangannya dengan api super panas dan langsung menghantamkanya ke arah Angelica. Akan tetapi Angelica langsung dengan cepat mencengkaram wajah pangeran berambut merah itu dan membenturkannya dengan keras ke arah lantai bata tempat mereka berpijak dengan cepat.
Blaaarrrrr!!!.
Seketika semua orang tercengang termasuk dua pengikut pangeran petama itu yang kaget melihat pangeran meraka dikalahkan dengan mudah oleh Angelica. Sementara si pangeran jatuh pingsan dengan kepala yang mengalami pendarahan hebat karena membentur batu-bata dengan sangat keras, bahkan batu-bata yang menjadi tempat mendarat kepala pangeran langsung hancur.
"Kualitasmu terlalu rendah untuk seorang pangeran, jadi belajarlah etiket dan cara menghargai keberadaan orang lain sebelum minta dihargai, sampah! Cuih!" seru Angelica sembari meludah ke arah pangeran berambut merah itu.
Angelica pun kembali ke arah Edward dan menyentuh tangan Edward.
"Aarrggh, sakit hati-hati dong!" seru Edward yang kesakitan.
"Hn" tanggap Anggelica dengan nada dingin dan pergi meninggalkan Edward. Edward cukup kaget dengan sikap Angelica padanya meski begitu ia juga cukup kaget melihat tangannya sudah sembuh tanpa luka sama sekali.
"Sejak kapan?" gumam tak percaya Edward melihat luka bakarnya menghilang.
__ADS_1
"Edward, aku cukup terkesan dengan tindakanmu yang berani menjadi tameng untuk sekolah ini, untuk kali ini aku mengakui kualitasmu sebagai pangeran," ucap Angelica sembari melanjutkan langkahnya meninggalkan mereka dan melewati dua pengawal dari pangeran berambut merah yang arogan tadi.
Bersambung