
"Terima kasih bantuannya anak muda" ucap pengemis tua itu. Angelica yang mendengar rasa terima kasih dari kakek tua itu hanya tersenyum kecil.
'Syukurlah dia tidak menanyakan soal siapa aku,' batin Angelica lalu pergi dengan kecepatan tinggi menghilang di kerumunan.
Ke esokan harinya.
Terlihat Angelica menyiapkan segala keperluannya, dibantu oleh Shiria dalam memasangkan pakaiannya. Sejujurnya Angelica merasa risih kalau semua kegiatannya harus dibantu oleh pembantu, termasuk dalam memakai baju, karena hal ini akan membuat tubuhnya terus-terusan dilihat oleh orang lain. Namun, ia beruntung pembantunya adalah wanita bukan pria.
Setelah persiapan selesai, seperti biasanya, Angelica selalu berjalan sembari membaca buku dan menggunakan instingnya untuk mendeteksi keadaan sekitar, hal ini membuatnnya tidak perlu melihat dengan mata untuk mengetahui apa yang ada di depannya, sehingga ia selalu bisa menghindari hal-hal yang akan membuatnya terjatuh dan lain sebagainya.
Bahkan saat dikelas sekalipun, tatapan mata Angelica tidak pernah teralihkan dari bukunya dan masih melihat isinya dengan tenang, 'Pac, bagaimana keadaan pengemis tua itu?' tanya Angelica melalui telepati.
'Dia baik-baik saja dan dengan hasil penjualan emasnya ia menggunakannya untuk membuka bisnis keluarga,' jawab Pac pada Angelica. Angelica yang mendengarnya hanya tersenyum kecil, karena ia bisa membahagiakan orang lain, meskipun harus menyembunyikan identitas.
"Oy!" seru pemuda yang berdiri di samping Angelica yang sedang duduk membaca.
Mendengar panggilan itu, membuat Angelica sedikit mendelik dan terlihatlah pria tampan berambut pirang dengan baju bangsawannya di temani oleh Lucas yang mengganggunya kemarin.
Angelica yang sedang dalam mod baik pun tersenyum dan menutup bukunya lalu menatap lawan bicaranya, "Ada perlu apa kalian datang menemuiku, Edward dan Lucas-san, lalu eee ah Erwin," ujar Angelica dengan senyum anehnya menyebut nama-nama lelaki yang ada di sampingnya.
Erwin, lelaki berambut putih gaya jabrik yang menemani Edward hanya diam saja sembari menatap tajam Angelica.
"Sebaiknya hentikan saja kepura-puraanmu itu," ujar Edward sembari menatap tajam Angelica.
"Kepura-puraan? Apa maksudmu?" tanya Angelica lagi.
"Katakan apa yang sebenarnya kau lakukan pada kristal pemeriksa level itu!" perintah Edward saat itu.
Angelica yang mendengar perintah tanya itu, langsung mengedutkan matanya beberapa kali, lalu kembali duduk dan menenangkan dirinya dengan buku yang ia baca barusan. Ia tidak peduli dianggap tidak sopan atau apapun itu kepada pangeran kedua kerajaan. Sekarang yang Angelica lakukan adalah menenangkan diri.
"Lagi-lagi kalian mengatakan sesuatu yang membosankan, repot-repot memanggilku hanya untuk pertanyaan dan perintah konyol semacam itu, tidak akan membuatku berkata apa-apa selain. Sebaiknya kalian mempersiapkan diri untuk pelajaran dari pada melakukan hal sia-sia seperti menanyaiku ini itu," ungkap Angelica.
"Kau! Beraninya kau mengabaikanku yang merupakan Pangeran kedua El scaro!" Edward mulai marah.
"Benar sekali, kau telah lancang pada Pangeran Edward! Padahal kau hanyalah putri dari seorang Viscont rendahan yang diletakan di provinsi keci!"
"Benar! Dasar bangsawan rendahan! Bahkan banyak rumor yang beredar mengenai keluarga Dolkness adalah bangsawan paling korup," tambah Lucas.
Angelica yang mendengarnya telihatnya langsung panas, semua orang di kelas pun langsung menatap ke arah Angelica, "Melihat sifatmu yang tak tahu sopan santun dan tata kerama. Kelihatannya rumor itu memang benar. Kau bukan orang yang berbakat dalam sihir. Bahkan orang-orang dari provinsi Ngarai juga mengatakan kalau putri dari bangsawan Dolkness tidak bisa melakukan apapun selain berkata sombong dan mencaci maki orang," ujar Erwin mencoba memancing amarah dari Angelica.
__ADS_1
Angelica yang mulai terpancing pun langsung menutup bukunya dan ...
Buaaak!!!
"Uarrg!!"
Tampa aba-aba, Angelica langsung hilang dari tempat duduknya dan memukul hidung Erwin hingga berdarah lalu membuatnya terbaring lemas di lantai.
"Ugh! Kuang-"
Boooooom!!!!
Seketika sebelum Erwin menyelesaikan makiannya, Angelica sudah menunduk dan menghantamkan tinjunya ke samping kepala Erwin dan terlihat lantai yang dipukul oleh Angelika berlubang dan mengeluarkan retakan yang menyebar kemana-mana, tubuh Angelica juga diselimuti aura ungu gelap dan ketika Erwin bertatap muka langsung dengan Angelica, ia langsung diam dan tak bisa berkata apa-apa, karena tatapan tajam Angelica yang sangat menusuk.
"Sekali lagi kau menghina keluargaku, tak peduli apapun pangkatmu, aku akan menginjak-injak harga diri keluargamu dan menghancurkannya dalam satu malam," ancam Angelica, setelahnya ia berdiri tegak dan semua orang menjadi tegang ketika Angelica dan pengaran Edward.
Edward kemudian menyiapkan kuda-kuda bertahannya, karena tidak ingin mendapatkan serangan tiba-tiba, ia juga sudah melihat seberapa dasyat serangan Angelica pada lantai kelas dan juga wajah Erwin yang langsung mengalami pendarahan hebat di hidung.
"Dengarkan aku. Aku tidak akan menaruh rasa hormatku pada siapapun yang menurutku tidak pantas, Edward, kau memang pangeran dan anak dari Raja yang menjadi salah satu pewaris tahta. Tapi ingat, aku tidak akan tunduk pada seseorang hanya karena keturunannya. Jika kau ingin aku tunduk padamu, maka tunjukkan kemampuanmu dalam bidang akademis dan non akademis lalu kemampuan dalam memimpin kelompok juga hal penting. Jika kau tidak punya kualifikasi yang bagus maka mendapat rasa hormat dariku hanyalah mimpi!" seru Angelica pada saat itu sembari berjalan pergi meninggalkan mereka dan membaca bukunya kembali.
Siang hari kemudian, akhirnya mereka sampai pada pelajaran berpedang, Angelica sedikit heran dengan budaya dunianya yang baru, karena di sini wanita pun di ajarkan cara menggunakan pedang. Padahal pada kenyataannya wanita tidak diizinkan untuk berperang.
Angelica pun maju dengan tenang ke arah depan mendatangi sang guru yang memanggilnya. Setelah sudah berhadapan, Angelica pun memberikan salam ala bangsawan, dengan cara sedikit menekuk lutut dan mengangkat sedikit roknya.
"Angelica Dolkness, salam kenal," tanggap Angelica.
"Hoh, kau nampak sopan juga rupanya, tak seperti yang di rumorkan," ungkap sang guru.
"Aku hanya memberikan sopan santun dan rasa hormatku pada orang yang tepat saja," tanggap Angelica sembari mengambil pedangnya dan memegang pedangnya di tangan kanan, lalu tangan kirinya masih setia memegang buku yang terbuka, ia bahkan membaca isinya dengan santai.
Hem, kelihatannya ia ketularan Kakashi
Melihat Angelica yang masih fokus pada buku, padahal ini adalah pelajaran bela diri, membuat sang guru bingung sembari bertanya-tanya.
"Ano, kau akan melakukan latih tanding, jadi bisa kau lepas buku itu?" pinta sang guru pada Angelica.
"Tenang saja, para kunyuk yang ada di sana tidak ada yang selevel denganku dalam hal berpedang," jawab ketus Angelica yang masih setia menatap buku yang ia baca dan tidak mengalihkan pandangan sama sekali dan di buku itu terlihat jelas Angelica fokus pada tulisannya. Singkatnya ia sama sekali tidak siap siaga, melainkan hanya fokus membaca.
Mendengar perkataan Angelica barusan Lucas Salazar merasa diremehkan, langsung berjalan maju kedepan dan mengambil pedang kayu untuk latihan lalu menatap tajam Angelica.
__ADS_1
"Kalau begitu, biar aku yang jadi lawan bertarungmu!" seru Lucas sembari mengarahkan pedangnya ke depan.
"Huh, si level sepuluh. Perlu kau tahu aku hanya perlu menggenggam pedangku, bahkan tampa pedang kayu inipun aku masih bisa menang," tanggap Angelica yang masih asik membaca buku novel di tangannya.
"Sialan kau! Beraninya kau mengatakan kata-kata itu padaku!" seru Lucas menatap Angelica dengan tatapan tak percaya.
"Sudah-sudah, sebaiknya kalian siapkan kuda-kuda kalian," pinta sang guru yang mulai pusing dengan tingkah kedua orang yang maju.
Dan kini 2 orang itu siapkan kuda-kuda andalan mereka. Meski yang satu masih fokus sama bukunya dan memasang kuda-kuda tidak jelas.
"Piff, Ahahahaha, halaman ini lucu sekali wkwkwkwkwkwk awokawokawoka!" tawa Angelica ketika menemukan bagian lucu pada novel percintaan yang sedang ia baca.
"Teme. Lawan aku" ucap Lucas
"Maaf, bukannya aku enggak mau melawanmu, hanya saja kau tidak akan bisa menyentuhku," balas Angelica sembari membaca bagian yang diucapkan oleh tokoh utama di novelnya.
"Sialan kau" ucap Lucas yg kini berlari mau nebas Angelica. Namun ketika memberikan tebasan, Angelica langsung melompat dan berdiri di atas pedang kayu Lucas dan dalam kecepatan tinggi Angelica langsung menendang wajah Lucas.
Duaaag!
"Arrrrgggg" teriak Lucas kesakitan.
"Maaf jika sepatuku sangat keras, aku tidak melihatmu di sana," tanggap Angelica dengan nada merendahkan.
"Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin Bangsawan rendahan penipu sepertimu mengalahkanku seperti ini?!" seru Lucas tak terima.
"Tapi bukankah kau sudah aku kalahkan, bahkan tampa harus menggunakan pedang?" tanya Angelica dengan tenang sembari menyimpan bukunya.
"Cih, Aku masih belum kalah!" seru Lucas sembari mengamuk menyerang Angelica yang terus menerus menghindari tebasan demi tebasan, sampai akhirnya Angelica memberikan serangan kejutan berupa hantaman keras di dada dengan ujung pedang kayunya yang membuat Lucas terlempar dan terguling-guling di tanah.
"Uaaarggg!!!" erang Lucas kesakitan bahkan ia nampak kesulitan bernapas dan bangkit dari jatuhnya, bahkan ia kehilangan kesadaran dengan cepat.
Melihat hal itu Angelica langsung berjalan mendekati Lucas dan memeriksa nafasnya dengan menyentuhkan jarinya ke hidung dari Lucas, lalu dengan tenang ia berdiri dan menatap ke arah sang guru.
"Bisakah sensei memutuskan siapa pemenangnya, Lucas-san kelihatannya kesulitan bernapas," ujar Angelica sembari menatap sang guru yang tercengang melihat orang berlevel sepuluh dikalahkan dengan mudah.
"A-Ah baiklah, pemenangnya adalah Angelica Dolkness!" seru sang guru sembari mendekati Lucas dan mengangkatnya, "Untuk sementara kalian latihan sendiri dulu dan dilarang untuk sparring sampai aku kembali!" printah sang guru sembari menggotong Lucas yang tak bedaya.
Sementara itu Angelica kembali membaca bukunya dan tak terlalu peduli dengan para bangsawan yang bergosip ria tentang dirinya.
__ADS_1
Bersambung