
The heroik Villain bab 08
Sang pangeran pun semakin ketakutan dan tubuhnya langsung bergetar hebat yang membuatnya tak mampu bergerak, "Ingatlah, kalau aku adalah monster yang harus kau layani, dan posisimu di hadapanku bukanlah pangeran tapi hanya seekor anjing yang siap menjilat sepatuku setiap hari, maka dari itu mulai sekarang, bersikap hormatlah padaku, menunduklah dan jangan lupa tersenyum dan lakukan semua perintahku dengan baik tanpa mengeluh, atau aku akan mematahkan setiap sendi tulangmu, anjing kampung," bisik Angelica yang langsung pergi meninggalkan pangeran yang tanpa sadar ngompol di celana karena merasakan sumber dari aura mematikan dari jarak yang sangat dekat.
Setelah Angelica sudah jauh, barulah orang-orang berani mendekati pangeran dan mencoba menghiburnya, sementara Angelica kembali menyendiri di kelasnya sembari membaca buku, anak-anak bangsawan di kelasnya nampak ketakutan melihat sosok Angelica di kelas mereka, karena kejadian waktu pelajaran sihir dimana Angelica hampir saja menghancurkan pulau dan sekolah mereka dengan satu sihir yang bahkan mereka tidak pernah melihatnya seumur hidup mereka.
Tak lama setelah membaca buku yang ada di tangannya, terlihat Angelica sedikit menyunggingkan senyuman. Namun, para murid bangsawan yang melihat Angelica tersenyum, menganggap senyum itu adalah seringai jahat, apalagi para murid lain menggosipkan apa saja yang dilakukan Angelica pada pangeran kedua beberapa menit sebelumnya.
"Akhirnya aku bisa tenang setelah diganggu tiga lelaki bodoh, sekarang aku benar-benar merasa nyaman hidup dengan santai dan kalau bisa aku ingin terus seperti ini, tenang tanpa gangguan. Aku akan menekan siapa saja untuk bisa mendapatkan ketenangan ini, yah siapapun," ungkap pelan Angelica sembari tersenyum lebar dan senyum lebar Angelica muncul di saat pangeran dan dua temannya masuk ke dalam kelas, dan hal itu semakin membuat suasana kelas menjadi tidak nyaman karena prasangka mereka atas senyum lebar dari Angelica.
Tak lama setelahnya Claudia pun masuk dan menatap Angelica yang masih asik dengan bukunya, Claudia pun hanya bisa menghela nafas dan menggunakan sihirnya untuk mengambil buku yang ada di tangan Angelica dengan sihir kegelapannya, "Angelica, saat guru masuk, kau harus menunjukan rasa hormatmu dengan memberikan perhatian pada siapa yang masuk dan membaca buku yang sesuai dengan pelajaran yang dibawakan," tegur Claudia.
Angelica yang ditegur Claudia sama sekali tidak marah, karena hal itu memang kesalahannya, "Aku minta maaf karena kelalaianku, dan bisakah sensei mengembalikan buku itu karena buku itu sangat penting untukku," pinta Angelica pada Claudia sensei.
Claudia dengan tenang memberikan kembali buku milik Angelica, "Lain kali jangan ulangi lagi," tanggap Claudia sembari menatap datar Angelica yang meneluk buku itu dan menyimpannya. Sementara itu pangeran yang melihat Claudia tidak ingin kehilangan buku yang terus menerus ia baca, langsung merasa curiga dan penasaran akan isi buku itu.
Angelica hanya mengangguk dan nampak ekspresinya sudah tidak semengerikan tadi, malah lebih ke gadis rapuh yang sedih, entah apa yang terjadi hal itu membuat semua orang berpikir kalau buku itu adalah sumber dari kekuatan Angelica, karena Angelica tidak akan pernah melepaskan buku itu dari tangannya dalam kegiatan apapun.
Angelica kemudian sedikit mendelik ke arah para murid yang sedang berbisik-bisik tak jelas lalu membatin, 'Bagus mereka semua sudah memakan umpan yang aku lempar.'
__ADS_1
Claudia pun memulai pelajarannya dan terlihat Angelica mengikuti pelajaran dari Claudia dengan sangat baik, tak ada pembantahan atau perlawanan, ia menurut bahkan ketika di suruh menerangkan teori sihir, ia dapat menerangkannya dengan sangat baik tanpa harus melihat buku, bahkan Angelica dapat menghapal sejarah sihir di dunia mereka dengan sangat baik.
Hal itu membuat para murid terkesan akan kemampuan Angelica yang luar biasa, seolah ia memang sosok putri yang tanpa celah, hebat dalam segala hal, hanya satu yang kurang darinya, ia bukan berasal dari keluarga bangsawan yang baik, dimana reportasi keluarganya sangat buruk yang membuat Angelica tak pernah bisa bersosialisasi. Hal itu terbukti dari cara bicaranya yang cukup sarkas pada orang lain dan etikanya bahkan lebih buruk dari pada rakyat jelata.
Hal ini tidak lain di sebabkan oleh pola pikirnya yang percaya kalau orang kuat pantas menginjak yang lemah dan orang lemah harus menjadi keset atau tempat pijakan orang kuat, karena itu sangat sedikit orang yang bisa dapat rasa hormat darinya. Bahkan pangeran keduapun harus menderita karena telah berani macam-macam padanya. Hal ini membuat para anak bangsawan merasa segan dan takut untuk berurusan dengan Angelica.
Ketika jam pelajaran selesai dan para murid di haruskan untuk beristirahat dan makan siang, Angelica langsung memanggil si pangeran, "Oi Pesuruh kemari!" seru Angelica sembari memberikan tatapan merendahkan.
Si pangeran pun maju ke depan menghadap ke arah Angelica sembari tersenyum, meskipun senyum itu bukan senyum tulus melainkan terpaksa.
"Tidak buruk untuk orang yang belajar tersenyum," tanggap Angelica ketika melihat senyuman dari pangeran, "Sekarang panggil aku dengan sebutan Angelica Ojou-sama," pinta Angelica sembari mengarahkan pisau tajam ke ************ pangeran Erwin dan Angelica pun melihat wajah tegang dari pangeran dan dengan santai Angelica mendekatkan wajahnya ke telinga pangeran lalu berbisik, "Cepat atau kau akan kehilangan masa depanmu," ancam Angelica yang pisau tajamnya sudah menyentuh celana si pangeran tak lupa juga Angelica meniup pelan daun telinga si pangeran.
Angelica pun terdiam, jujur ia merasa tidak nyaman. Namun, entah bagaimana sebagian dari dirinya merasa puas dengan hal itu.
"Hem, aku lapar jadi pergilah ke kantin dan belilah sesuatu yang mengenyangkan di sana," perintah Angelica pada Pangeran Edward.
Edward pun langsung pergi tanpa mengatakan apa-apa, ia benar-benar takut melawan Angelica, apalagi ia sudah melihat seberapa mengerikannya kekuatan gadis itu.
Sementara itu Angelica hanya menghela nafas lalu pergi tanpa membawa bukunya, singkatnya buku yang ia ia terus bawa itu masih berada di dalam lacinya.
__ADS_1
Tak lama roh hewan, berwujud kucing api kembali muncul di samping Angelica, "Angelica-sama," panggil kucing api itu pada dirinya.
"Ada apa Pach?" tanya Angelica yang masih sibuk memilih buku di perpustakaan.
"Kenapa kau memperlakukan Pangeran Edward seperti itu? Asal kau tahu, perbuatanmu bisa saja membuatmu dimusuhi negara," tegur kucing api itu.
"Aku penjahatnya, wajar kalau dimusuhi, mati di pertempuran adalah akhir yang terhormat bagi penjahat wanita di novel bukan?" tanggap Angelica dengan telepati.
"Peranmu memang sebagai Villain, tapi bukan sejahat ini juga tahu! Apakah dulunya kau itu adalah Otaku Sosiopat?!" tanggap kucing api memberikan pertanyaan keras pada Angelica.
"Haruskah aku menjawabnya kucing manis? Aku punya rencana sendiri, lagian aku ini bukan bonekamu? Aku hanya mengerjakan peranku, sisanya terserah yang lain," tanggap Angelica sembari menatap tajam si kucing api.
Di kucing api yang tak ingin berurusan dengan Angelica pun pergi menjauhinya. Lalu Angelica keluar dari perpustakaan sembari membawa sebuah buku untuk di baca di tempat yang bagus.
"Ojou-sama, ini makanannya," ujar Pangeran Edward yang tiba-tiba berada di hadapan Angelica.
"Terima kasih, sekarang pergilah bermainlah dengan temanmu, untuk saat ini aku tidak punya hal lain yang ingin di kerjakan," ujar Angelica sembari mengambil kotak makanan yang diberikan Edward padanya.
Lalu setelahnya Angelica pun pergi memberikan kebebasan sementara pada Edward. Sementara itu Edward pergi menemui teman-temannya.
__ADS_1
Bersambung