
Edward hanya sempat terdiam dan mencoba mengingat apa yang sempah ia bicarakan dengan Lucia.
"Kami hanya bicara mengenai hal-hal lucu dan juga ... mengenai bagaimana ia bisa masuk sekolah sihir yang notabennya hanya untuk para bangsawan," jawab Edward sembari menatap ke arah Angelica, "Tapi kenapa kau menanyakan hal ini? Apa kau merasa cemburu?" tanya Edward lagi.
"C-Cemburu? Cuih! Jangan mengada-ngada hal itu hanya akan terjadi jika aku memang punya rasa padamu, hem! Soal kenapa aku bertanya hanya murni karena penasaran!" tanggap cepat Angelica sembari mengalihkan wajahnya.
"Hua kasarnya," gumam pelan Edward.
Angelica hanya diam untuk beberapa saat ia kemudian tersenyum tipis, "Maaf jika aku terlalu kasar untukmu," ungkap pelan Angelica.
"Yah tidak apa-apa," tanggap Edward.
Deg-deg!
Seketika wajah Angelica tegang dan menatap ke arah jendela kereta di sebelah kanan dan membuka tirainya, Angelica pun akhirnya melihat sebuah meteor berukuran besar jatuh ke pegunungan.
"Bintang jatuh ... langka sekali," gumam pelan Edward sembari tersenyum, sedangkan Angelica tubuhnya langsung bergetar hebat, "Angelica kau kenapa?" tanya Edward.
'Apa-apaan ini, aku tiba-tiba merasakan akan adanya kekuatan misterius yang sangat besar, aku tidak pernah merasa setakut ini sebelumnya?' batin Angelica yang berusaha mengendalikan dirinya dengan tubuh gemetar dan keringat yang keluar cukup banyak.
Duaaaaarrrrrrr!!!
Meteor itu tiba-tiba meldak dan membuahmt gunung yang ditabraknya hancur dan berhamburan, kemana-mana "Yang Mulia hati-hati pecahan peggunungan mengarah ke tempat kita!" seru pelayan lelaki yang sedang mengendalikan kuda yang menarik kereta mereka.
Angelica yang mendengar hal itu langsung keluar dari kereta melalui jendela lalu naik ke atap kereta kuda dan menatap tajam seluruh pecahan gunung yang mengarah ke tempatnya, "Lady Dolkness-sama jangan berdiri di atas kereta berbahaya!" seru pelayan milik Edward memperingati Angelica sembari memacu kecepatan gerakan kudanya.
Angelica tidak terlalu menghiraukannya, terlihat matanya kembali berubah menjadi Mangekyo Sharinggan. Angelica mulai mengaliri lengannya dengan petir berwarna biru lalu mulai mengayunkan tangannya ke arah seluruh batu yang berjatuhan dan menciptakan tombak petir tajam yang memotong dan meledakkan seluruh batu disentuhnya hingga menjadi debu.
"Chidori Eishou!"
Duaaaarrrrrrrrr!!!!!!
Setelah itu jalan yang mereka lewati sedikit menjadi lebih aman karena hantaman petir dalam bentuk garis lurus yang keluar dari jari telunjuk Angelica bertegangam satu juta volt sepanjang 100 meter dan diayunkan dengan cepat menghantam seluruh material gunung yang pecah oleh hantaman meteor dan menghancurkannya.
Angelica dengan santainya kembali masuk ke dalam kereta kuda dan melihat Edward yang terlihat tenang dan santai.
"Kau nekat sekali," tanggap Edward sembari memperhatikan Angelica.
"Hm, tadi itu cukup menegangkan," tanggap Angelica sembari memejamkan matanya.
__ADS_1
"Tadi aku melihat tubuhmu sempat gemetar, kenapa?" tanya Edward pada Angelica.
"Bukan apa-apa, tak usah kau pikirkan," ungkap Angelica dengan wajah datar.
"Oh ayolah, tidak bisakah kau berbagi masalah denganku?" tanggap Esward ketika mendengar ungkapan pelan dari Angelica.
"Aku hanya ... sudahlah, aku tidak mau menjawabnya," gumam pelan Angelica, 'Aku tidak mungkin mengatakan kalau aku merasakan hawa keberadaan sosok super kuat ketika meteor tadi jatuh, hingga membuat ia bergetar ketakutan.'
Sesampainya di sebuah panti asuhan.
Akhirnya Edward dan Angelica keluar dari kereta mereka dan nampak keduanya berjalan santai bersama.
"Tempat apa ini?" tanya Angelica penasaran karena melihat ada banyak anak bermain di sana.
"Ini adalah panti asuhan yang aku bangun untuk menyejah terakan kehidupan anak-anak tanpa orang tua," ungkap pelan Edward sembari melihat anak-anak yang ada di sana.
"Edward-san!" seru seseorang yang memanggil Edward dari arah belakang.
Angelica dan Edward pun menatap ke arah belakang, terlihat seorang gadis berambut coklat dengan pakaian lusuh yang sederhana menyapa Edward sembari tersenyum.
"Ah Sofia-san!" sahut santai Edward sembari tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah Sofia gadis biasa yang menyapa mereka.
"Hehehe, soalnya mereka sangat menyenangkan," tanggap Edward sembari tersenyum ke arah Angelica.
Angelica hanya diam dan mengangkat sebelah alisnya tanda ia sedikit heran dengan sikap Edward yang cukup berbeda dari yang ia bayangkan dari sikap kebanyakan bangsawan.
"Aku tidak menyangka kau akan datang lagi untuk berkunjung, padahal ini belum seminggu semenjak kunjunganmu, ada apa?" ucap Sofia sembari tersenyum ke arah Edward dan cukup kaget ketika melihat Angelica ada di dekat Edward.
"Yah itu karena aku ingin memperlihatkan tempat ini pada tunanganku, dan aku berharap ia terkesan dengan panti asuhan ini," tanggap Edward dengan senyum lembutnya.
"Wah aku tidak sangka kalau pangeran Edward bisa jatuh hati pada seorang wanita. Kalau boleh tahu siapa namanya nona?" tanya Sofia pada Angelica sembari tersenyum.
Bukannya menjawab Angelica malah menatap datar gadis itu, selama beberapa detik, "A ano .... apakah saya salah bicara?" tanya gadis itu lagi.
"Hei Angelica ia ingin kau memperkenalkan namamu," ucap Edward sembari menyenggol Angelica.
Tatapan Angelica pun teralihkan ke dalam keranjang dari gadis itu, "Sofia, katakan padaku kau habis dari mana?" tanya Angelica.
"Ah aku baru saja selesai memetik sayuran dari pegunungan yang ada ada di sana, memangnya kenapa yah?" tanya Sofia.
__ADS_1
"Buang sayuran itu, aku bisa merasakan kalau sayur yang kau bawa sudah terkontaminasi zat misterius, jika kau menggunakan sayur itu dihidangkan pada anak-anak itu akan sangat berbahaya," ucap Angelica dengan tatapan tajam.
"Eh??? Tapi aku sudah sering mengambil makanan dari gunung, dan anak-anak baik-baik saja," ungkap pelan Sofia yang merasa aneh.
"Sebaiknya kau mendengarkanku! Gunung tempat kau mengambil sayur itu dijatuhi meteor cosmik yang sedang menebar bibitnya!" seru keras Angelica.
"Angelica apa maksudmu!" seru tak percaya Edward.
Angelica yang merasa tidak punya waktu untuk menjelaskan langsung menggunakan kekuatannya dan membuat sayur-sayuran yang ada di dalam wadah itu terlempar kemana-mana.
"Sayuranku!" seru Sofia yang melihat sayur yang sudah ia kumpulkan susah payah malah terlempar ke udara. Angelica yang melihat hal itu langsung mengeluarkan standnya dan membuat stand yang terbentuk dari jiwanya itu meninju salah satu sayur yang ada dan benar saja, seketika sebuah lendir berwarna hijau keluar dari sayur itu dan membentuk diri mereka menjadi gumpalan slime dan langsung melesat ke arah Sofia.
Sofia dan semua orang yang melihat hal itu langsung kaget bukan main, Angelica yang melihat Sofia hampir ditelan oleh gumpalan Slime yang diperkirakan adalah Inpostor yang merupakan sosok yang harus ia kalahkan, tanpa pikir panjang langsung melepaskan diri dari Edward dan melindungi Sofia dengan menumbuhkan pohon besar di tanah yang ia pijak untuk mengikat dan menjerat atau mengekang si slime.
Berpikir kalau pohon itu sudah cukup Angelica langsung kaget ternyata sosok slime itu tiba-tiba bisa keluar dan melapisi pohon besar yang ia tumbuhkan dan mulai mengendalikan gerakan ranting dan akarnya untuk menyerang Angelica.
Melihat hal itu Angelica tidak tinggal diam dan langsung mengeluarkan Rinnegan miliknya memeluk tubuh Sofia dan menatap kereta kuda yang ia dan Edward gunakan untuk berpergian tadi.
"Angelica awas!" seru Edward yang kawatir sembari menembakan serangan cepat berupa sihir air, "Aqua cutter!"
Spraaassss!!!
Ranting pohon tadi langsung terpotong oleh pisau air milik Edward, akan tetapi ranting yang terpotong langsung menumbuhkan bagian yang terpotong dan masih menyerang Angelica tapi beruntung dalam momentum itu Angelica langsung bertukar tempat dengan kereta kuda mereka, hingga kereta kudanya yang hancur.
"Sofia pergi lindungi anak-anak, aku akan menghadapi monster itu," ucap Angelica sembari bersiap dengan baju tempur miliknya.
...
...
"Aku akan membantu!" seru Edward yang berdiri di samping Angelica.
"Jangan, ini terlalu berbahaya," ucap Angelica sembari menatap tajam monster pohon yang sedang berjalan ke arah mereka dengan menggunakan akar miliknya.
Bersambung
__ADS_1