
The Heroik Villain bab 06
"T-tidak mungkin! Aku tidak menerima kenyataan ini!" seru Erwin yang merasa harga dirinya sebagai penyihir Jenius runtuh karena keahlian Angelica dan lari dari sana, sedangkan sang guru hanya diam tercengang melihat armor yang hanya bisa dihancurkan oleh penyihir sekelas Royal Court dapat dipenyokan.
"Dan itu aku masih belum menggunakan satu persen kekuatanku," tambah Angelica dengan angkuhnya ia menatap sang guru.
Tak lama kemudian kepala sekolah datang menemui, Angelica.
"Angelica Dolkness karena melakukan perusakan alat pemeriksa kekuatan dan membuat kekacauan, aku akan mengeluarkanmu dari sekolah!"
"Maaf kepala sekolah, kekacauan seperti apa yang aku lakukan? Hingga tuan bisa semarah ini dan mengusirku dari sekolah ini?" tanya Angelica pada kepala sekolah.
"Kau dinyatakan telah membuat orang-orang berpikir kau mempunyai level tak terukur hanya dari alat pengukur level yang hancur, jujur saja aku tak pernah menyukai yang namanya pembohong," balas si kepala sekolah.
"Tunggu dulu pak kepala, mungkin saja levelnya memang sangat besar, lihatlah ia mampu memberikan damage pada jirah yang hanya bisa dirusak oleh penyihir sekelas royalcort," bela guru sihir yang melihat kehebatan sihir dari Angelica.
"Tapi bukankah penyihir Royalcort yang levelnya masih bisa diukur juga bisa merusak jirah itu, bahkan kerusakannya jauh lebih besar," sanggah sang pangeran dan diberi anggukan dari kepala sekolah.
"Untuk apa aku menunjukkan kekuatan asliku hanya untuk melawan boneka besi yang tidak bisa bergerak?" tanya Angelica pada pangeran dan juga kepala sekolah dengan tampang meremehkan, bahkan terkesan angkuh, "Orang lemah seperti kalian tidak akan pantas melihat kekuatanku sesungguhnya, jika kita bertarung aku yakin tak sampai satu detik aku sudah bisa menghancurkan pulau ini," ujar Angelica yang benar-benar tidak suka di rumehkan dan dianggap berbohong.
"Maksudmu kau tidak serius dengan ujian ini?" tanya si guru sihir dan hanya dibalas anggukan dari Angelica.
"Kalau begitu tunjukan kekuatanmu, kekuatan yang mustahil bisa dilakukan orang lain," tantang si pangeran.
"Itu benar, kau harus membuktikannya," dukung si kepala sekolah.
Mendengar perintah dari kepala sekolah, Angelica pun menatap si kepala sekolah dan berkata, "Boleh saja, tapi sebelum aku minta kau keluarkan semua murid, pegawai guru dan barang-barang apapun yang penting dari sekolah dan asrama," pinta Angelica dengan tatapan serius.
"Kenapa aku harus melakukan itu?"
"Karena targetku adalah gedung sekolah dan Asrama," jawab santai Angelica, "Atau kau ingin aku menghancurkan gunung yang ada di belakang sekolah, tapi tetap saja sih pecahan batu dari pegunungan akan bertebaran dan menghantam gedung sekolah," jawab Angelica lagi.
"Angelica! Apa kau tidak punya target lain?" tanya kepala sekolah dengan nada keras.
"Kenapa kau panik, kau kan tidak percaya padaku, harusnya kau tak usah sepanik itu, atau mungkin kau diam-diam mengakui kekuatanku jauh lebih besar dari yang kau kira," tanya Angelica dengan tatapan datar dan merendahkan.
"A-aku hanya tidak ingin mengambil resiko, lagi pula memindahkan barang-barang penting semua murid dan pegawai dari sekolah dalam waktu singkat itu mustahil dan juga siapa yang akan memperbaiki gedung sekolah hah!" teriak kepala sekolah.
__ADS_1
Angelica yang mendengar itu langsung memberikan sebatang emas kepada kepala sekolah, "Apa itu sudah cukup untuk biaya ganti rugi," tanya Angelica lagi.
"Apa maksudmu? Kau pikir gedung sekolah ini dibangun hanya dengan sebatang em ... mas," seketika si kepala Sekolah dan para murid di sana beserta pangeran kaget melihat piramida besar terbuat dari tumpukan batang emas berukuran besar dengan Angelica yang bersandar di dekatnya.
"Apa ini cukup untuk menggantinya?" tanya Angelica lagi.
Semua orang diam melongo melihat Angelica duduk di piramid emas batangan yang muncul entah dari mana.
"Da-darimana emas batangan itu?" tanya tak percaya kakek tua yang melihat beratus-ratus susunan emas batangan hingga membentuk piramida setinggi gunung.
"Tak peduli dari manapun ini. Ini adalah harta yang telah aku miliki dan aku kumpulkan selama ini dan ini tersimpan erat di dalam aliran manaku ah bahkan ini masih belum satu persen dari harta-harta yang aku miliki," tanggap Angelica dengan wajah santai sembari menjentikan jari dan emas-emas itu pun menghilang entah kemana.
"Jadi apa jawabanmu?" Tanya Angelica dengan nada bosan dan tidak ada gairah hidup seperti kata pepatah 'hidup segan mati tak mau'
"Ehem," si kepala sekolah pun berdehem pelan, "Kalau begitu tunjukan teknik terkuatmu dan arahkan ke udara," pinta si kepala sekolah pada Angelica.
Angelica pun menatap ke arah kepala sekolah dan menjawab, "Jika aku melakukannya, maka ada kemungkinan tempat ini akan dilanda perang karena jurus yang aku milikki akan mengundang perhatian banyak pihak," ujar Angelica lagi dengan tatapan tajamnya.
"Apa kau mau aku melakukan teknik itu?" Tanya Angelica lagi dengan nada tajamnya
"Lakukan saja, aku yang bertanggung jawab!" seru si pangeran karena ia benar-benar tidak bisa percaya apa yang dikatakan Angelica.
"Itu jika kau mampu" balas pangeran itu
Angelica pun memejamkan matanya dan ketika ia membukanya sebuah mata berwarna merah berbentuk Hexsagram di mata kanannya dan ungu riak air dengan dikelilingi enam tomoe di mata kirinya.
"Chibaku tensei!" seru Angelica dan seketika seluruh benda di sektitar mereka, baik tanah pepohonan mulai berterbangan keatas langit dan membentuk bola tanah raksasa yang terus membesar dan membesar dengan terus menarik berbagai macam material yang ada di darat dan lautan yang berada di dekat mereka dan daya hisapnya semakin lama semakin kuat terlihat Angelica tersenyum sementara yang lain panik karena terangkat ke udara dan berpegangan pada apapun yang ada di sekitar mereka agar tidak menjadi bagian dari bola tanah.
Ctik
Dhuaar
Karena nggak mau terlalu lama akhirnya Angelica menghentikan sihir mematikkannya sehingga ledakan itu menjadi kembang api walau berupa serpihan tanah dan bangunan lainnya
"Kenapa dengan kalian yang takut begitu?" Tanya Angelica
"Sihir macam apa itu?"
__ADS_1
"Itu adalah sihir penyegelan, aku bisa menyegel apa saja kedalam gumpalan tanah itu tak peduli sekuat apapun mereka, ia akan terkurung dalam gumpalan tanah melayang dan aku bisa menghancurkannya dengan teknik tambahan," jawab Angelica dengan tenang dan berjalan mendekati kepala sekolah dan pangeran dan menatap sekolah mereka yang ternyata juga ikut tertarik gravitasi dan hancur sebagian, "Makanya aku sudah mengatakan untuk mengeluarkan kalian dari sini tapi nggak mau dengar. Ya jadilah seperti itu" ucap Angelica dengan nada yang santai dan tidak ada masalah dengan perbuatannya walau lapangan dah hancur sana-sini akibat ulahnya, "Oh iya aku sudah bilang kalau aku bisa menghancurkan sebuah pulau kan, kalau saja aku tidak menghentikannya, pulau ini sudah hancur karena terus ditarik menjadi bola tanah," jelas Angelica lagi dengan tatapan sadisnya.
'Sadis dan mengerikan' pikir semua orang
"Masih mau mengeluarkanku atau menjadikanku murid nomor satu di sini itu terserah padamu kepala sekolah dan untukmu tuan pangeran, mulai besok kau akan menjadi pesuruhku untuk selamanya dan mereka telah menjadi saksi atas janjimu padaku," ujar Angelica sembari tersenyum kecil dan tatapan merendahkan yang ia arahkan pada semua orang yang ada lalu ia pun memberikan hormat pada guru sihir dan kembali ke asramanya, "Sungguh pelajaran di sekolah ini sangat membosankan," ungkap Angelica lagi.
Ke esokan harinya karena kehebohan yang terjadi di pulau khusus sekolah bangsawan itu, Angelica pun dipanggil ke kerajaan untuk menjawab pertanyaan dari Raja yang merupakan anak dari pangeran yang menjadi pesuruh Angelica, ya mereka mendengar semua keributan dan gosip di sekolah itu.
Angelica pun datang seorang diri dikawal dengan beberapa pasukan kerajaan dan terlihat para prajurit kerajaan berbisik-bisik, mereka nampak menggosipkan sesuatu yang berhubungan dengan kelakuan Angelica pada keluarga kerajaan, yah membuat keluarga kerajaan menjadi bawahan adalah hal yang tak termaafkan, apalagi kalau ia adalah pangeran.
Angelica datang dengan mata terpejam dan menatap datar sosok Raja dan Ratu yang duduk di atas singga sananya.
"Kenapa Yang Mulia Raja memanggilku kemari?" tanya Angelica pada kedua sosok agung di kerajaan tempat ia tinggal.
"Apa-apaan sikapnya itu? Apa dia tidak tahu kesalahan macam apa yang telah ia perbuat?" ucap para prajurit yang marah padanya.
Melihat keadaan yang akan menjadi sangat runyam jika dibiarkan Raja pun mengangkat tangannya dan membuat para prajurit dan tetua kerajaan diam.
"Kenapa kau membuat anakku menjadi pesuruhmu, apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian?" tanya sang Raja pada Angelica.
"Jawabannya sangat simpel jika kau bertanya padaku, dia kalah taruhan dan karena yang dia pertaruhkan adalah kebebasannya sebagai pangeran, maka sudah jelas saat ia kalah ia akan menjadi pesuruhku," jawab Angelica dengan santainya tak peduli kalau ia berada di daerah siapa.
"Tak bisakah kau peringan dengan mengurangi masa hukumannya dari selamanya menjadi beberpa tahun atau setidaknya sampai dia lulus?" tanya sang Raja.
"Janji tetaplah janji, kesepakatan tetaplah kesepakatan, meskipun kami tidak membuat perjanjian resmi, tapi janji tetaplah janji. Dia telah menyetujui isi perjanjian yang menyatakan dia akan menjadi pelayanku selamanya, dan itu tidak bisa dirubah seenaknya," tanggap Angelica dengan tatapan datar.
"Angelica Dolkness sadari dimana tempatmu!" seru sang Raja yang mulai emosi.
"Kaulah yang harus menyadari posisimu Yang Mulia! Menghianati perjanjian yang telah dibuat itu bukan hal yang pantas dilakukan anggota Kerajaan, jika kalian memintaku merubah isi perjanjian hanya karena orang yang kalah adalah anggota keluarga kalian, itu namanya egois! Sekarang aku bertanya, apa kalian akan meringankan hukuman yang akan aku terima jika yang kalah bertaruh itu adalah diriku?" tanya Angelica pada sang Raja, "Jika tidak bisa menjawab sebaiknya diam! Di dunia ini yang lemah hanya akan hidup di bawah kaki yang kuat, anak kalian lemah makannya dia harus hidup di bawah kaki orang yang lebih kuat yaitu aku!" seru Angelica mendeklarasikan dirinya sebagai putri kejam dari keluarga Dolkness.
Mendengar pernyataan keras dari Angelica mengenai kebijakan keluarga kerajaan benar-benar membuat sang Raja mati kutu, mereka nampak kehabisan kata-kata untuk menangani hal ini.
'Apakah aku terlalu keras pada mereka?' batin Angelica yang melihat wajah orang-orang dikerajaan tertekan dan menatap jengkel ke arah dirinya. Namun, Angelica tidak terlalu memikirkan hal itu, "Tapi kalian bisa membebaskannya jika kau punya seseorang yang mampu mengalahkanku di sini, aku akan mengabulkan keinginan Yang Mulia untuk melepaskan anak tuan, tapi jika gagal Yang Mulia harus turun tahta dan untuk mengisi kekosongan, maka ayah dan ibuku akan menjadi Raja dan Ratu baru di sini, lalu jika berakhir dengan seimbang atau bisa dibilang tidak menang dan juga tidak kalah atau bisa dibilang seri aku akan membebaskan pangeran, tapi sebagai ganti dari pembebasannya dia harus bertunangan denganku," usul Angelica pada sang Raja.
Mendengar ada harapan dari usulan Angelica sang raja pun tersenyum, "Baik kami akan menyetujuinya dan tunggulah sekitar 7 hari dari sekarang aku akan menyiapkan petarung dan penyihir terbaikku untuk menghadapimu," ungkap sang Raja.
"Baik, akan aku tunggu hal itu, selamat tinggal," ujar Angelica yang menghilang kedalam gerbang dimensi berwarna emas.
__ADS_1
Bersambung.