
The Heroik Villain bab 07
Selepas kunjungan ke istana Raja Angelica keluar dari istana menggunakan portal miliknya dan muncul di tengah kota dan lagi-lagi di sana ia menutupi identitasnya dengan mengenakan jubah serba hitam dan topeng rubah yang menempel di wajahnya.
Terlihat Angelica begitu mencolok dengan jubah hitam panjang dan tudung hitamnya yang menutupi seluruh tubuhnya, hingga mirip sosok di game Assassin Cread yang sedang jalan-jalan, hanya saja warna kostumnya berwarna hitam ditambah lagi dengan topeng rubah yang menutupi wajahnya membuat tampilannya sangat mencurigakan dan menarik perhatian para prajurit kerajaan yang berjaga di pasar.
"Maaf karena telah menghambat perjalanan tuan, demi keamanan kami harus memeriksa anda terlebih dahulu," ucap salah satu prajurit yang menghampiri Angelica yang sedang menyamar.
"Aku mengerti, tapi jangan buka topengku, aku memiliki luka bakar yang sangat mengerikan, jadi aku harus menutupinya seperti ini untuk bisa jalan-jalan di pasar tanpa harus membuat orang-orang ketakutan dengan wajah saya yang menyeramkan," jawab Angelica dengan tenang.
Si prajurit terdiam, karena suara orang dibalik pakaian aneh itu adalah perempuan, lalu mereka mengangguk, karena mereka juga tidak ingin melihat luka bakar yang ada di wajah seorang perempuan.
Setelah melakukan pengecekkan tubuh dan dirasa cukup aman, para prajurit itu pun melepaskan Angelica. Angelica yang dilepaskan dari pemeriksaan berjalan santai memperhatikan pasar dan ia pun melihat banyak para gelandangan kelaparan duduk mangkal di sana.
Karena Angelica merasa tidak akan ada yang mengenalinya, ia pun mulai memberikan kebaikannya pada anak-anak gelandangan dan orang-orang tua yang sudah tak bisa berkerja dengan sebatang emas 90 karat per orang. Lalu ia pergi meninggalkan mereka setelah sudah melakukan apa yang menurutnya bagus.
"Terima kasih."
"Terima kasih."
__ADS_1
"Terima kasih tuan dermawan bertudung!" seru anak-anak yang menerima sebatang emas dari Angelica.
Angelica yang mendengar ucapan terima kasih anak-anak hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh kebelakang dan terus melanjutkan langkah kakinya, lalu membeli apapun yang ia perlukan di setiap kios pasar yang ada di sekitarnya.
Sesampainya di Asrama, Angelica melihat sang pangeran datang ke hadapannya dengan berat hati menundukkan wajahnya di hadapan Angelica seperti seorang pelayan yang selalu menunduk di hadapan majikannya.
"Pangeran, kau benar-benar beruntung mempunyai orang tua yang perhatian kepadamu. Tadi mereka memintaku untuk membebaskanmu, meskipun tentu saja aku tidak akan mau melepaskan orang yang berurusan denganku begitu saja. Sejujurnya kalau saja mereka bukan Raja dan Ratu di wilayah ini, aku sudah membunuh mereka karena telah berani memintaku untuk melepaskan orang yang menentangku," tanggap Angelica sembari berjalan melewati Pangeran yang nampak sangat marah karena perkataan Angelica barusan.
"Angelica kau benar-benar berjalan di luar alur cerita," ucap spirit berwujud kucing api yang tiba-tiba muncul di samping Angelica, tapi nampaknya hanya Angelica yang bisa melihatnya.
"Apakah aku kurang kejam hingga kau bilang aku berjalan di luar alur?" tanya Angelica dengan telepati.
"Tidak, malahan perbuatanmu lebih kejam dari tokoh aslinya, Angelica kenapa kau kejam pada pangeran, harusnya kau kejam pada saingan cintamu?" tanya kucing api itu lagi.
"Kau ini ada-ada saja," tanggap kucing api itu sembari menghilang.
Angelica yang mendengar hal itu hanya tersenyum kecil mendengarnya, "Oi pangeran pesuruh cepat kemari aku punya banyak tugas untukmu!" perintah Angelica seketika.
"Cih! Baiklah!" seru si pangeran dengan wajah tak senang dan tatapan benci yang ia arahkan pada Angelica.
__ADS_1
"Pangeran," gumam para murid akademi yang merasa kasihan dengan pangeran kedua di negri mereka yang malah menjadi budak dari seorang bangsawan kelas bawah seperti Angelica. Bahkan dua sahabat pangeran kaget melihat hal itu dan nampaknya mereka tak bisa berbuat apa-apa, karena hal yang di hadapi pangeran adalah hasil dari kesepakatan yang ia buat sendiri dengan Angelica, gadis berhati iblis.
Buaaaag!!!
"Arrrgh! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau memukulku?!" tanya Edward yang mulai kesal dengan sikap Angelica, karena tiba-tiba memukulnya ketika ia sudah berada di hadapannya. Padahal ia sendiri yang memanggilnya.
"Apa? Sekarang kau bukan lagi pangeran, kau hanya pesuruhku, jadi untuk apa aku segan padamu, ditambah lagi kau sudah membuat beberapa kesalahan ketika aku memanggilmu jadi wajar kalau aku memukulmu," balas Angelica dengan santainya.
Pangeran kedua itu pun meringis kesakitan dengan hidung berdarah, "Pangeran kau baik-baik saja?" tanya Lucas dan Erwin yang menjadi sahabat dari pangeran yang dipukul keras oleh Angelica.
"Jangan mendekat! Jika kalian tidak ingin pangeran kesayangan kalian mengalami patah tulang sebaiknya tetap diam di tempat dan lihat dari sana. Ini adalah pelajaran untuk tidak meragukan kemampuan orang lain, ataupun menghina orang tuaku!" balas Angelica dengan aura membunuhnya dan karena aura mematikan dari Angelica, Lucas dan Erwin pun terpaksa mundur.
"Kau monster!" seru Edward sembari menahan rasa takutnya dari Angelica. Angelica yang melihat kejadian itu dan mendengar ia dipanggil sebagai monster oleh sang pangeran, hanya tersenyum kecil.
"Yah, aku adalah monster," ungkap Angelica sembari berjalan mendekati pangeran yang tengah terbaring lemah di lantai sembari menutupi hidungnya yang berdarah karena dipukul oleh Angelica dengan keras.
"J-jangan mendekat!" perintah sang pangeran.
"Perintahmu tidak akan berguna pangeran, karena kau sekarang adalah pesuruhku dan aku adalah majikanmu, jadi akulah yang pantas memerintahmu. Dan tolong ingat ini seumur hidupmu jika kau masih ingin selamat pangeran," ucap Angelica sembari mendekatkan wajahnya ke hadapan pangeran yang ketakutan.
__ADS_1
Sang pangeran pun semakin ketakutan dan tubuhnya langsung bergetar hebat yang membuatnya tak mampu bergerak, "Ingatlah, kalau aku adalah monster yang harus kau layani, dan posisimu di hadapanku bukanlah pangeran tapi hanya seekor anjing yang siap menjilat sepatuku setiap hari, maka dari itu mulai sekarang, bersikap hormatlah padaku, menunduklah dan jangan lupa tersenyum dan lakukan semua perintahku dengan baik tanpa mengeluh, atau aku akan mematahkan setiap sendi tulangmu anjing kampung," bisik Angelica yang langsung pergi meninggalkan pangeran yang tanpa sadar ngompol di celana karena merasakan sumber dari aura mematikan dari jarak yang sangat dekat.
Bersambung