
Setelah kejadian itu, semua orang mulai semakin menjauhi Angelica, karena takut akan perbedaan level yang tidak diketahui, sementara itu Angelica juga merasa sedikit risih dengan apa yang akan ia hadapi, ia juga tidak tahu kapan ia menghadapi makhluk itu, tapi suatu saat pasti ia akan berhadapan dengan makhluk misterius itu.
'Meski aku meminta pac untuk membantuku mencari makhluk itu, tapi hasilnya tetap nol. Sebaiknya aku harus menjaga alur cerita agar tidak menjadi kacau, meskipun mungkin pada akhirnya aku malah mati sebelum bisa membunuh para Inpostor, toh cepat atau lambat dunia juga hancur,' batin Angelica sembari meneliti apa yang ada di hadapannya.
Kelas berikutnya adalah pelajaran sihir, mereka semua pun di suruh untuk menembakkan sihir mereka ke arah boneka yang telah dilapisi armor berat yang kuat.
"Ini adalah uji coba kekuatan sihir, targetnya adalah boneka dengan armor itu," ujar sang guru gemuk pendek dengan baju berwarna ungu panjang yang menutupi seluruh tubuhnya dan juga topi lancip ala-ala penyihir dunia dongeng.
Semua orang mulai maju menembakkan sihir-sihir mereka ke arah boneka itu. Namun, tak ada satu orang pun yang dapat menghancurkan armornya, karena sihir-sihir mereka begitu lemah, dari sudut pandang Angelica, kekuatan sihir mereka begitu lemah, bahkan elemen apipun hanya bisa ditembakkan sebesar kepalan tangan saja, 'Aku tidak bisa berharap pada mereka untuk membantuku, sihir mereka kelewat lemah,' batin Angelica sembari membaca buku ceritanya lagi, ia sudah agak malas melihat bentuk-bentuk sihir murahan yang mereka keluarkan.
Sampai akhirnya sebuah nama pun dipanggil dan nama itu adalah Nama protagonis di dunianya, seorang rakyat jelata yang diijinkan bersekolah di sekolah bangsawan, karena memiliki sihir cahaya.
"Lucia Luna!" panggil sang guru, mendengar namanya dipanggil, gadis berambut pirang lurus dengan pakaian sederhana datang berjalan tenang, meskipun terlihat gugup ia mencoba untuk percaya diri, sementara itu. Angelica sedikit menurunkan bukunya dari wajahnya untuk melihat sihir macam apa yang akan dikeluarkan Protagonis.
'Jika dia memang protagonis, kekuatannya haruslah cukup kuat, setidaknya lebih kuat dari yang lain, meski tidak jarang juga ada protagonis yang lebih lemah dari yang lain untuk awal-awal cerita,' batin Angelica yang sedikit tertarik dengan kekuatan Rivalnya di dunia baru, dan karena dunia yang ia tempati adalah dunia Shoujo manga, kemungkinan Rivalitas yang dimaksud bukan soal kekuatan, tapi perebutan kekasih.
__ADS_1
"Light shoot!" setelah menyerukan nama jurusnya, kedua tangannya pun diarahkan kedepan dan dalam sekejap bola cahaya sebesar bola kasti melesat dan meledak di boneka itu, sayangnya ledakannya tidak besar dan efeknya juga tidak ada.
'Apakah jirahnya yang terlalu kuat atau sihirnya saja yang lemah. Sial aku benar-benar tidak mengerti,' batin Angelica yang mengamati perkembangan dari Lucia.
Setelahnya Erwin maju dan langsung menembakkan empat elemen sihir secara langsung dan tetap saja tidak memberikan damage apapun pada target, tapi sang guru langsung bangga padanya dan berkata kalau jarang ada orang yang bisa menggunakan 4 elemen dasar sekaligus dalam satu mantra.
"Heh, tentu saja, aku adalah si jenius sihir, tapi. Omong-omong aku agak penasaran dengan kekuatan orang yang menghancurkan kristal pemeriksa level," ujarnya sembari menatap ke arah Angelica yang sedang asik membaca.
"Apa aku melewatkan sesuatu?" tanya Angelica sembari menatap ke arah boneka dengan armornya, "Karena tidak ada kerusakan apapun, jadi aku rasa aku tidak melewatkan apapun," gumam Angelica lagi yang kembali fokus pada bukunya.
"Oh giliranku yah," ujar Angelica yang berjalan maju kedepan sembari membaca novel yang ada di tangannya dan berdiri di samping sang guru, "Boleh aku mulai sekarang?" tanya Angelica pada sang guru.
"Silahkan," jawab sang guru pada Angelica.
"Tapi sebelum itu sensei, aku ingin bertanya, ada berapa jenis elemen sihir yang pernah sensei lihat?" tanya Angelica pada guru.
__ADS_1
"Sebenarnya ada banyak sihir yang sudah sensei lihat, tapi jika itu bertipe elemen, kelihatannya Sensei sudah cukup banyak melihat sihir elemen, seperti angin, api, air, petir, tanah dan cahaya dan kegelapan, jadi sesei rasa untuk sihir elemen sudah semua jenisnya sensei ketahui," balas sang guru.
"Itu artinya sensei, belum melihat sihir bertipe kehidupan," tanggap Angelica sembari tersenyum ke arah gurunya dan menutup bukunya, lalu menatap ke arah target. "Meski sihirku bukan tipe penghancur, tapi jika orang dengan jirah berat dan kuat itu datang menyerangku, ia tidak akan bisa melakukan apapun, hingga akhirnya mati kelaparan," ungkap Angelica sembari mengeluarkan standnya yang berwarna emas, atau bisa dibilang Gold Experience. Oh karena disana tidak ada pengguna stand jadi tidak ada yang melihat stand milik Angelica.
"Sudahlah, tak usah basa-basi, tunjukkan saja kemampuan payahmu," tanggap Erwin yang sejak awal tidak menyukai Angelica.
"Huh, dasar tidak sabaran. Gold Experience!" Setelahnya, Gold Experience langsung melesat dan berhenti di jarak sekitar lima meter dari Angelica, atau lebih tepatnya dihadapan boneka dengan jirah beratnya, lalu dengan satu pukulan Gold Experience ke tanah tempat boneka itu didirikan, sebuah batang pohon muncul dan tumbuh dengan cepat mengikat dan menjerat boneka itu lalu pohon itu tumbuh semakin besar dan semakin menjerat kuat boneka itu, semakin lama, jeratan dari pohon itu semakin kuat dan pohon itu menumbuhkan daun dan buah yang juga cukup banyak.
"Apa itu? Aku tak pernah melihat sihir semacam itu?" tanya sang guru dan para murid lain, sembari menatap tak percaya ke arah Angelica.
"Aku memberikan kehidupan pada tanah yang di dekat boneka target lalu menumbuhkan sebuah pohon dengan cepat dari sana," balas Angelica sembari tersenyum, lalu setelahnya Angelica membatalkan kekuatannya dan membuat pohon itu menghilang, tapi terlihat kalau armor itu memiliki penyokan di bagian-bagian yang dibelit oleh sulur-sulur atau batang pohon tadi, "Dan nampaknya, aku juga bisa mematahkan tulang targetku dengan itu," balas Angelica dengan tenang sembari mengambil kembali bukunya dan membacanya sembari berjalan ke barisannya.
"T-tidak mungkin! Aku tidak menerima kenyataan ini!" seru Erwin yang merasa harga dirinya sebagai penyihir Jenius runtuh karena keahlian Angelica dan lari dari sana, sedangkan sang guru hanya diam tercengang melihat armor yang hanya bisa dihancurkan oleh penyihir sekelas Royal Court dapat dipenyokan.
"Dan itu aku masih belum menggunakan satu persen kekuatanku," tambah Angelica dengan angkuhnya ia menatap sang guru.
__ADS_1
Bersambung