The Heroik Villain

The Heroik Villain
Bab 14


__ADS_3

"Sejak kapan?" gumam tak percaya Edward melihat luka bakarnya menghilang.


"Edward, aku cukup terkesan dengan tindakanmu yang berani menjadi tameng untuk sekolah ini, untuk kali ini aku mengakui kualitasmu sebagai pangeran," ucap Angelica sembari melanjutkan langkahnya meninggalkan mereka dan melewati dua pengawal dari pangeran berambut merah yang arogan tadi.


Edward hanya bisa diam melihat Angelica berjalan menjauhi tempat itu sembari melambaikan tangan, sedangkan para guru langsung dengan cepat membawa Robert ke ruang perawatan.


"Yang Mulia Pangeran, apa tangan anda baik-baik saja?" tanya Lucia yang tadi juga sempat melihat kalau tangan Edward memiliki luka bakar yang parah.


"Yah aku rasa begitu," gumam pelan Edward sembari memperlihatkan tangannya yang tidak memiliki sedikit pun luka bakar.


"Hebat, apakah itu karena ulah Angelica-sama?" ucap Lucia dengan penuh rasa hormat menyebut nama Angelica dengan tendermark sama.


"Mungkin saja, aku juga tidak tahu pasti. Tapi bagaimana denganmu? Tadi aku sempat melihatmu terjatuh?" tanya Edward pada Lucia.


"Aku baik-baik saja berkat kalian," tanggap Lucia sembari tersenyum manis ke arah pangeran Edward.


Edward sedikit kaget melihat senyuman dari Lucia, "K-kalau begitu aku pergi dulu!" seru Edward sembari pergi meninggalkan Lucia dan kembali ke arah kedua temannya, 'Kenapa jantungku tiba-tiba berdebar,' batin Edward yang semakin tidak paham.


Singkat cerita.


Terlihat Angelica tengah menqtap datar Edward yang berjalan bersama dengan Lucia sembari memegang pisau kecil di tangannya.


...



...


"Edward sedang apa kau?" tanya Angelica yang merasa heran ketika melihat tunangannya, yang bernama Edward berjan bersama Lucia.


"Aku ... hanya sedang menemani Lucia-san jalan-jalan," balas Edward sembari tersenyum.


"Oh," tanggap Angeloca dengan singkat dan terlihat ekspresi wajahnya yang memberikan tatapan tak percaya atau meragukan jawaban dari Edward.


...

__ADS_1



...


"Ano, Angelica ... aku kurang nyaman jika kau menatapku begitu," ungkap pelan Edward.


"Hm aku mengerti, pergilah ... dan bersenang-senanglah selagi bisa, lagi pula kita tidak tahu hal apa yang akan terjadi kedepannya, mungkin saja kalian akan dijatuhi tai burung entahlah siapa yang tahu" ungkap santai Angelica sembari pergi menjauhi Edward dan Lucia.


Setelah sudah melangkah cukup jauh, Angelica pun mendelik ke belakang dan melihat Edward tersenyum dan bersenda gurau bersama Lucia dan dua temannya, Angelica pun menyentuh dada kirinya yang terasa seperti berdenyut.


"Kau tidak menghalangi mereka?" tanya kucing api yang tiba-tiba muncul di samping Angelica.


Angelica pun sedikit mendelik ke arah kucing api itu, "Tidak ada gunanya mengurusi hal ini, yang lebih penting adalah apa kau sudah mendapatkan petunjuk mengenai Inpostor?" tanya Angelica.


"Sedikit tapi masih belum jelas," tanggap kucing api yang terbang melayang di sekitar Angelica.


"Setidaknya kau sudah bisa merasakan keberadaannya," tanggap Angelica yang masih memperhatikan Lucia dan Edward yang tertawa bersama.


'Sejujurnya aku ingin punya teman, tapi .... jika aku harus menjaga reputasi ku sebagai orang paling kejam, maka aku harus menutup diri agar tak ada yang bisa memahamiku, sejujurnya aku iri pada para NPC yang bisa hidup bebas sesuka hati mereka,' batin Angelica.


Angelica kemudian memperhatikan kegiatan orang-orang di sekolah, sampai akhirnya waktu masuk kelas berbunyi. Angelica dengan cepat berlari ke dalam kelasnya ia tidak mau ketinggalan, karena sebagai bangsawan ia tidak boleh terlambat.


Angelica pun nampak sudah siap dengan mengenakan kemeja putih dan dandanan sederhana disertai rok hitam panjang yang menjadi bawahannya.


...



...


Ia menatap datar Edward yang mengajaknya untuk jalan-jalan sepulang sekolah, terlihat Edward mengenakan pakaian mewahnya yang berwarna biru.


Angelica pun berjalan dan menatap ke arah pangeran Edward dan berkata, kau tidak mengajak orang lain bukan dalam acara jalan-jalan ini?" tanya Angelica dengan wajah datarnya.


"Bisa dibilang begitu," ungkap santai Edward sembari mengajak Angelica memasuki kereta kuda.

__ADS_1


Angelica pun menurut saja dan duduk di dalam kereta kuda dan nampak ia dan Edward duduk berhadapan ketika kereta mereka berjalan.


"Kau tidak membawa buku harianmu lagi?" tanya Edward mencoba basa-basi.


Angelica membuka tirai kereta dan menatap pemandangan dengan tatapan sendu, "Memangnya kenapa? Itu hanya buku harian, pelayanku Shiria bisa menjaganya dengan baik," ungkap pelan Angelica sembari memejamkan mata, "Lalu pemandangan di tempat ini cukup menarik dan aku sangat menghargainya," ungkap pelan Angelica sembari tersenyum tipis.


"Benarkah, oh iya apakah kau yang menyembuhkan telapak tanganku?" tanya Edward penasaran.


Angelica langsung menatap ke arah Edward dengan wajah datar dan akhirnya Angelica pun angkat bicara, "Ya, tapi aku melakukannya bukan karena aku mencintaimu atau semacamnya, melainkan karena yang terluka adalah tangan kanan, jadi aku berpikir kau mungkin akan kesulitan dalam belajar jika menderita luka bakar seperti itu," tanggap Angelica dengan santai.


"Hanya karena itu?" ucap tak percaya Edward.


"Ada masalah dengan itu?" tanya Angelica dengan wajah datarnya.


"Tidak, tidak sama sekali .... tapi aku jadi kepikiran, soal kenapa dalam perjanjian yang kau buat dengan ayah dan ibuku adalah pertunangan kita kalau hasilnya seri?" tanya Edward, "Apa tujuanmu sebenarnya jika kau tidak mencintaiku?" tanya Edward.


"Uang, kehormatan dan kekuasaan, alasan klasik seorang bangsawan sepertiku mendekati keluarga raja, menurutku naik pangkat saja tidak cukup. Aku harus masuk ke dalam keluarga raja untuk bisa mendapatkan kekuasaan penuh, apa kau mengerti tuan pangeran," jawab Angelica.


"Kau .... kenapa kau malah mengatakan hal itu tanpa beban sama sekali?" tanya Edward yang merasa heran, karena aneh saja kalau ada orang yang mau memberitahukannya alasan sebenarnya dari tindakan mereka, apalagi kalau jawabannya terkesan sangat jahat dan ambisius.


"Karena aku Angelica Dolkness tidak takut apapun. Tak akan ada apapun diluar sana, baik itu langit dan bumi yang bisa mengaturku," ucap santai Angelica sembari menyombongkan dirinya sendiri.


'Terlalu percaya diri,' batin Edward sedikit swedrop akan sikap aneh tunangannya.


"Oh iya ... aku sempat melihat kau dan Lucia tertawa bersama, sebenarnya apa yang kau bicarakan dengannya?" tanya Angelica lagi sembari menatap ke arah Edward dengan tatapan mengancam.


...



...


Edward hanya sempat terdiam dan mencoba mengingat apa yang sempah ia bicarakan dengan Lucia.


"Kami hanya bicara mengenai hal-hal lucu dan juga ... mengenai bagaimana ia bisa masuk sekolah sihir yang notabennya hanya untuk para bangsawan," jawab Edward sembari menatap ke arah Angelica, "Tapi kenapa kau menanyakan hal ini? Apa kau merasa cemburu?" tanya Edward lagi.

__ADS_1


"C-Cemburu? Cuih! Jangan mengada-ngada hal itu hanya akan terjadi jika aku memang punya rasa padamu, hem! Soal kenapa aku bertanya hanya murni karena penasaran!" tanggap cepat Angelica sembari mengalihkan wajahnya.


Bersambung


__ADS_2