The Last Demigod

The Last Demigod
Ch. 10 - Bertemu Kembali


__ADS_3

Setelah cukup lama pergi ke berbagai tempat. Sang Demigod akhirnya tiba di sebuah tempat terbuka, yang berada di atas langit. Firasatnya menunjukan, ada sesuatu di tempat ini.


Tempat itu melayang di atas awan. Lantai yang diinjak oleh sang Demigod berwarna putih, di hadapannya terlihat ada seorang wanita dewasa, dan di belakang wanita itu ada sebuah pohon besar berwarna emas.


Sang Demigod melihat ke arah wanita itu. Wanita itu terlihat begitu familiar baginya.


"tidak aku sangka kita akan bertemu lagi disini. Bagaimana bisa kau berada disini?" tanya sang Demigod pada wanita tersebut.


Wanita itu tersenyum tipis, dan berkata.


"kamu benar. Dunia ini menjadi semakin menyenangkan seperti yang kamu bilang."


Ternyata, wanita itu adalah wanita yang sempat ditemui oleh sang Demigod pada saat ia masih berada di Bumi.


"setelah kamu pergi, sebuah cahaya yang misterius muncul dihadapanku, dan entah bagaimana caranya, tiba - tiba aku sudah berada di tempat ini. Aku juga tidak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan mu, aku pikir kamu hanyalah sebuah ilusi, tapi setelah melihatmu lagi, kau ternyata ada." jelas wanita itu.


"apa yang sedang kau lakukan disini? Aku tidak berharap akan bertemu denganmu di tempat seperti ini." kata sang Demigod.


"firasat ku mengatakan, bagaimanapun caranya, aku harus menghalangimu ke jalan kebenaran." jawab wanita itu.


"jalan kebenaran? Apa maksudnya itu?" tanya sang Demigod.


"entahlah, akupun tidak mengerti apa maksudnya." jawab wanita itu.


"sepertinya jika aku bertanya lagi tentang siapa yang memaksamu, kau pasti tidak mengetahuinya?" tanya sang Demigod.


Wanita itu hanya tersenyum tipis ketika mendengar perkataan yang dilontarkan oleh sang Demigod. Lalu, ia berkata.


"kau salah… aku mengetahuinya."


Mendengar itu, sang Demigod hanya terdiam. Perkataan itu tidak membuatnya terkejut sedikitpun, karena ia mengetahui, apapun yang terkait dengan musnahnya Ras Demigod, itu adalah hal yang absurd, yang bahkan dengan kekuatannya sendiri, ia tidak bisa melakukan apapun.


Justru yang terjadi malah sebaliknya, melihat raut wajah yang ditunjukan oleh sang Demigod tidak berubah sedikitpun, membuat wanita itu merasa sangat terkejut.


"kau masih tetap tenang bahkan setelah tebakanmu salah? Itu tidak seperti yang kudengar dari perilaku seorang Demigod yang penuh dengan kebanggaan." kata wanita itu.


"itu hanya sebuah tebakan yang salah, tidak ada yang perlu dibesarkan dari hal itu. Entah kenapa aku tidak bisa melihat masa depan, ataupun pergi ke masa lalu yang ada kaitannya dengan Ras Demigod, sama seperti saat ini, Karena itu kau pasti sudah mengetahuinya kan? Tentang Ras Demigod. Karena itu lah aku tidak bisa menebak apa yang akan kau katakan, karena kau memiliki keterkaitan dengan hal itu sendiri." kata sang Demigod.


"kau tidak perlu menjelaskannya sampai sedetail itu." kata wanita tersebut.


"tidak, aku harus menjelaskannya, karena pembaca nanti tidak akan mengerti." jelas sang Demigod.


"pembaca? Apa maksudmu?" tanya wanita itu penasaran.


"bagaimanapun juga, banyak yang tidak kamu ketahui soal Dunia ini. Jadi apa kau masih berpikir untuk menghalangi ku?" tanya sang Demigod.


"aku sebenarnya tidak ingin menjadi orang yang menghalangimu. Tapi sekarang aku tidak bisa melakukan apapun, aku hanya jiwa yang dikendalikan oleh Makhluk lain." jelas wanita itu.


"kalau begitu, tidak ada yang perlu aku katakan lagi. Apa kau memiliki kekuatan untuk menghalangiku? Yah, meskipun kau punya itu tidak akan berguna." kata sang Demigod.


"tunggu dulu, sebelum itu. Apa kau tidak penasaran dengan sosok yang berada di balik semua kejadian ini?" tanya wanita itu.


"kau bisa mengatakannya." kata sang Demigod.


"semua itu adalah ulah dari True God." jelas wanita itu.


Mendengar perkataan itu, membuat kepala sang Demigod tiba - tiba merasa sangat sakit, dan tampaknya juga, ada sesuatu dalam kepalanya yang secara mendadak tiba - tiba muncul kembali.


Melihat raut wajah sang Demigod yang berubah, wanita itu merasa sedikit senang, akhirnya ia bisa menunjukan sesuatu yang membuat sang Demigod terkejut.


"kali ini respon mu terlihat sedikit berbeda, itu membuatku senang. Tapi, apa kau tidak mengetahui apapun tentang True God?" tanya wanita itu.


"itu tidak ada hubungannya denganmu. Tapi aku berterima kasih padamu, berkat mu, ingatan yang sebelumnya hilang, kini telah kembali. Sekarang aku tahu, kenapa semua ini bisa terjadi." kata sang Demigod.


"aku senang jika aku bisa membantumu." kata wanita itu sambil tersenyum tipis.


"sepertinya sudah tidak ada lagi yang mau kau katakan. Kalau begitu, aku harap kita bisa bertemu kembali di tempat yang lebih baik." kata sang Demigod.


Wanita itu tersenyum tipis, lalu, ia memejamkan kedua matanya.


Tubuhnya dengan perlahan berubah menjadi butiran debu, lalu tersapu oleh angin yang berlalu. Ia menghilang, dan kembali ke tempat dimana seharusnya ia berada.


Sang Demigod berjalan pelan ke arah pohon besar itu. Setelah cukup dekat dengan pohon itu, ia meletakan telapak tangan kanannya di pohon itu, lalu sang Demigod memejamkan kedua matanya.

__ADS_1


Sang Demigod bisa merasakan, ada aura yang familiar di dalam pohon ini.


Semakin dalam ia menelusuri pohon itu, ia semakin mendapatkan gambaran tentang pohon apa ini sebenarnya.


Gambaran tentang Ras Demigod mulai muncul satu persatu dalam kepalanya.


Sang Demigod membuka kedua matanya, ia melihat ke arah pohon ini dengan datar.


"sekarang, semuanya serahkan saja kepadaku, karena akulah yang menjadi penyebabnya. Aku akan membalaskan dendam kalian semua, para True God bajingan itu, untuk kedua kalinya, aku akan menghajar mereka."


Sang Demigod berbalik membelakangi pohon itu, ia berjalan perlahan menjauh dari pohon tersebut. Di saat bersamaan, dengan langkah kaki dari sang Demigod, pohon itu perlahan mati, lalu menghilang.


Sang Demigod menghentikan langkahnya.


"kekuatan kalian akan aku manfaatkan sebaik mungkin, dan tentu saja aku akan menggunakannya untuk melawan mereka. Aku pasti akan menghabisi para True God sialan itu." kata sang Demigod dengan tatapan mata yang tajam.


[ Misi telah berhasil diselesaikan, segel ketiga telah diangkat. ]


'ditambah dengan apa yang aku dapatkan dari mereka, sekarang kekuatan yang aku miliki telah kembali sebanyak 70%. Masih belum cukup, bahkan jika kekuatan yang aku miliki kembali seperti semula, itu tidak akan cukup untuk mengalahkan mereka, aku butuh kekuatan lebih.' batin sang Demigod.


Musuh yang akan dilawan oleh sang Demigod, adalah keberadaan puncak dari segala kekuatan, itu tidak akan cukup jika hanya mengandalkan kekuatan Demigod saja, itu akan membutuhkan kekuatan yang jauh lebih besar dari Demigod.


Tentu saja itu akan sangat susah untuk mendapatkannya. Meskipun begitu, sang Demigod akan menggunakan segala cara untuk mendapatkan kekuatan itu.


'apa misi selanjutnya? Aku harus cepat.'


-


Di tempat Eleanor Baker berada.


Eleanor terbang menyusuri daratan yang tak berujung. Entah sudah berapa lama ia terbang, ia pun tidak mengingatnya, yang pasti itu sudah sangat lama sekali.


Melewati ratusan pergantian siang dan malam, tanpa henti Eleanor terus mencari ujung dari dataran tersebut.


Selama terbang ia tidak pernah bertemu dengan Makhluk yang bisa diajak bicara, dan hal itu membuatnya sangat frustasi.


'aku sudah muak dengan tempat ini. Entah sudah terbang berapa lama, tapi aku tidak pernah menemukan ujungnya, sialan. Apa aku hancurkan saja tempat ini? Sepertinya menarik.' batin Eleanor bersemangat.


Untuk mengusir kebosanannya, Eleanor mencoba untuk menghancurkan seluruh bagian dari daratan tak berujung itu.


Di atas langit, terlihat sebuah energi yang sangat kuat berwarna merah, membentuk sebuah lingkaran sihir yang sangat besar.


Tiba - tiba saja, entah datang dari mana, terdengar perkataan yang menggema di sekitar tempat itu.


"sebelumnya aku dikejutkan dengan energi kuat yang datang dari arah yang jauh. Ternyata itu berasal dari mu." kata suara tersebut.


Eleanor yang menyadari ada kehadiran lain di sekitarnya, ia pun melihat ke arah bawah, dan menemukan sosok Makhluk misterius yang mengeluarkan aura kuat.


"akhirnya aku menemukan sesuatu yang menarik." kata Eleanor.


Eleanor pun membatalkan lingkaran sihir miliknya. Lalu, ia turun dan menghampiri sosok itu, posisinya sekarang berhadapan dengan sosok tersebut.


Eleanor mengamati ke setiap detail dari diri makhluk di hadapannya ini. Berwujud humanoid, memakai pakaian serba putih, pada wajahnya memakai sebuah topeng berwarna putih, dan memiliki rambut yang panjang bergelombang berwarna putih.


Untuk tinggi dan besarnya sendiri, ia terlihat seperti manusia dewasa pada umumnya. Setelah selesai mengamati sosok itu, Eleanor mulai angkat bicara.


"apa kau malaikat? Kau terlihat sangat mirip dengan mereka." tanya Eleanor.


"tidak, aku bukan makhluk yang seperti itu. Ngomong - ngomong kekuatan mu cukup hebat untuk menghancurkan area seluas itu." kata Makhluk tersebut.


Perkataan Makhluk itu mengacu pada Eleanor yang sebelumnya melenyapkan sebuah hutan yang sangat luas.


"tidak juga, seharusnya semua Makhluk di tempat ini bisa melakukan hal seperti itu, tak terkecuali dirimu. Ngomong - ngomong apa kau Makhluk yang tinggal di tempat ini?" tanya Eleanor penasaran.


"tidak, aku bukan Makhluk sini. Aku disini hanya untuk singgah sementara, dan juga jangan panggil aku Makhluk atau lainnya, aku juga mempunyai namaku sendiri." jelas Makhluk itu.


Eleanor hanya menatap datar Makhluk di hadapannya ini.


"mohon maaf, tapi aku sama sekali tidak tertarik dengan namamu itu, jadi tolong jangan sebutkan." kata Eleanor sambil memejamkan kedua matanya.


"jahatnya, kau tidak akan pernah memiliki teman jika perilakumu seperti ini." kata Makhluk itu.


"aku tidak peduli, memangnya apa yang kamu tahu tentang diriku? Kau tidak tahu apapun tentangku." kata Eleanor dengan kedua matanya yang menatap tajam ke arah Makhluk itu.

__ADS_1


Makhluk itu hanya terdiam mendengar perkataan Eleanor. Lalu, ia tiba - tiba mendongakan kepalanya ke atas langit.


Angin bertiup dengan sangat kencang, awan gelap mulai berkumpul di atas langit. Langit perlahan mulai gelap, sampai pada akhirnya, kegelapan yang sangat pekat menutupi seluruh daratan tak berujung itu.


"apa - apaan itu?" kata Eleanor melihat penampakan yang mengerikan di atas langit.


Mata yang sangat besar, berwarna merah terang, terlihat dari balik awan yang penuh dengan kegelapan. Terlihat dari pancaran aura yang mata itu tunjukan, mengandung kebencian yang sangat kuat.


Eleanor menengok ke arah Makhluk yang berada di sampingnya.


"apa itu ulahmu? " tanya Eleanor.


"sulit untuk menjelaskannya, tapi sepertinya dia marah padaku." jelas Makhluk itu.


"terus apa lagi yang kau tunggu, melihat dari kekuatan yang kau miliki, kau cukup mampu untuk menghadapinya." kata Eleanor.


"bukan itu masalahnya. Memang aku bisa saja untuk melawannya, tapi Makhluk itu, dia mempunyai banyak sekali sekutu di belakangnya." jelas Makhluk itu.


"sekutu? Apa maksudmu?" tanya Eleanor penasaran.


"Alam Semesta ini sangatlah luas, ada banyak sekali Makhluk - Makhluk kuat yang terpencar di segala penjuru Dunia. Ada kalanya mereka semua berkumpul demi tujuan masing - masing, dan tujuan mereka kali ini adalah sebuah Artefak yang sangat kuat." jelas Makhluk itu.


"biar aku tebak, apa kau mencurinya dari mereka?" kata Eleanor.


Dengan canggung Makhluk itu menjawab.


"i-iya, aku mencurinya di saat mereka semua teralihkan." kata Makhluk itu.


Eleanor menghembuskan nafas panjang.


"sekarang semuanya sudah jelas, itu salahmu karena mencurinya. Jika kau tidak mau menyusahkan dirimu sendiri, lalu, kenapa kau tidak kembalikan saja artefak itu?" kata Eleanor memancing.


"apa kau bercanda?! Artefak ini sangatlah kuat! Artefak ini bahkan bisa menulis ulang sebuah narasi!" kata Makhluk dengan nada yang tinggi.


Segera Makhluk itu menutup mulutnya, ia merasa telah mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya ia katakan. Eleanor yang melihat tingkah laku Makhluk itu, ia hanya tersenyum tipis.


"l-lupakan saja, itu hanya sekedar omong kosong." kata Makhluk itu.


"tenanglah, aku tidak akan mencurinya darimu. Aku tidak menginginkan Artefak itu, tapi aku sedikit penasaran dengan 'Narasi' yang kau bilang tadi." kata Eleanor.


"itu… sulit untuk menjelaskannya." kata Makhluk itu yang tiba - tiba terdiam.


Tiba - tiba saja, terasa sebuah getaran yang sangat hebat, yang mengguncang seluruh daratan tak berujung. Rupanya, sosok Makhluk yang matanya terlihat di atas langit itu, sedang mencoba untuk menghancurkan Dataran yang tak berujung ini.


"cepat kamu selesaikan Makhluk itu, sebelum sekutunya datang kemari. Kau bisa mengatasinya jika hanya ada satu." kata Eleanor.


"kau salah, mereka semua sudah berkumpul di tempat ini." kata Makhluk itu.


Di luar dari Daratan yang tak berujung, terlihat ada sekitar 30 Makhluk misterius yang sangat kuat, sedang mengelilingi tempat ini. Daratan yang tak berujung hanya terlihat sebesar bola basket di hadapan Makhluk - Makhluk ini.


Wujud dari Makhluk - Makhluk itu sangatlah menyeramkan, terlebih lagi mereka juga sangatlah kuat. Apa yang sebenarnya dicuri oleh Makhluk yang sedang bersama Eleanor ini?


Setelah mengamati kekuatan yang dimiliki oleh 30 Makhluk itu, Eleanor menengok ke arah Makhluk yang sedang bersamanya.


Dengan tatapan tajam Eleanor berkata.


"jangan pura - pura sok lemah begitu, kau pikir aku tidak mengetahuinya? Sudahi saja sandiwaramu ini." kata Eleanor.


Makhluk itu terdiam mendengar perkataan Eleanor, lalu ia tiba - tiba tertawa dengan sangat lantang.


"hahaha… aku pikir kau Makhluk bodoh yang mempercayai begitu saja apa yang kau lihat, namun sepertinya tidak begitu." kata Makhluk itu dengan santai.


Eleanor mengambil nafas panjang, lalu ia berkata.


"aku sudah menemui banyak sekali orang yang sepertimu, dan semuanya sama saja, mereka semua sangat lemah." kata Eleanor dengan ekspresi datar.


"sebaiknya kamu tidak meremehkanku, atau kau akan merasakan akibatnya." kata Makhluk itu dengan percaya diri.


Eleanor hanya terdiam, ia tidak mau lagi menanggapi perkataan dari Makhluk yang berada di dekatnya. Tanpa disadari oleh siapapun, tiba - tiba terjadi ledakan yang sangat dahsyat.


Ledakan itu menghancurkan Daratan tak berujung, beserta 30 Makhluk misterius dan Makhluk putih yang Eleanor temui.


Sementara itu, Eleanor sedang melayang, menyaksikan ledakan itu dari kejauhan.

__ADS_1


'sebelumnya aku sudah bilang, aku mau menghancurkan tempat itu.' batin Eleanor.


Setelah menyaksikan kembang api yang sangat meriah, Eleanor pun pergi menuju tempat lain.


__ADS_2