
Seorang pria dewasa yang berumur 25 tahun, terlihat sedang tertidur di hamparan pada rumput yang luas. Pria itu memakai pakaian kuno yang khas seperti dalam cerita novel fantasi timur, ia juga terlihat memakai sebuah jubah yang berwarna hitam dengan pola berwarna putih yang indah tergambar di jubah tersebut.
Kedua mata dari pria itu mulai berkedut pelan, sepertinya ia sebentar lagi akan terbangun. Dan benar saja, tidak lama kemudian, ia pun membuka matanya dengan lebar.
Pria itu segera bangun dan merubah posisinya, yang sebelumnya terlentang, menjadi duduk dengan posisi bersila.
Nafas dari pria itu terengah - ngeah, seolah ia habis mengalami mimpi buruk. Ia melihat kesekitarnya yang tampak sangat asing baginya, kepalanya dipenuhi dengan kebingungan yang tidak bisa ia jelaskan.
'dimana aku?' batin pria itu dengan penuh kebingungan dalam kepalanya.
Pria itu bangkit berdiri, sekali lagi ia melihat ke sekelilingnya yang tampak sangat asing baginya. Ia mencoba untuk mengingat kembali momen terakhir yang bisa ia ingat. Tiba - tiba, pria itu merasa sakit yang luar biasa dalam kepalanya.
Ingatan tentang kehidupan yang selama ini ia jalani, mulai mengalir dengan sangat deras di dalam kepalanya. Ia pun perlahan kembali mengingat tentang siapa dirinya, dan bagaimana ia bisa berakhir di tempat seperti ini.
'ini! Aku telah berhasil memasuki Alam Semesta Utama!' batin pria itu terkejut.
Ternyata, pria itu adalah Raja Alam Semesta, Eleanor Baker.
Sang Raja telah berhasil sampai ke salah satu dari 12 Alam Semesta Utama, namun tampaknya ia tidak mengetahui, di Alam Semesta yang mana dirinya sekarang berada.
'aku berhasil! Sekarang di tempat ini, aku bisa berkembang tanpa batas! Tetapi, apa yang terjadi dengan tubuhku?' batin Eleanor bertanya - tanya.
Eleanor baru menyadari, bahwa seluruh tubuhnya, kini telah berubah total. Mulai dari rambut panjang yang sebelumnya ia miliki, kini berubah menjadi pendek, dan yang paling terlihat jelas dalam perubahan dirinya adalah ia terlihat seperti pria yang baru berumur 25 tahun.
'ini! Tubuhku kembali seperti pada saat aku masih berumur 25 tahun?!' batin Eleanor terkejut.
Menyadari hal itu, Eleanor segera memeriksa ke seluruh bagian tubuhnya. Lalu, Ia menghembuskan nafas panjang.
'untung saja kekuatan ku masih seperti semula.' batin Eleanor merasa lega.
Tiba - tiba saja, Eleanor merasakan hawa membunuh yang sangat kuat datang dari arah belakangnya. Bayangan yang sangat besar, terlihat menutupi Eleanor dari sinar Matahari. Eleanor segera mendongakan kepalanya keatas, lalu ia melihat sesuatu.
"hah?"
hanya ada satu kata itu yang keluar dari mulut Eleanor, ketika melihat sesuatu yang sangat besar tepat berdiri di atasnya.
-
Sementara itu, di belahan tempat yang lain. Di ruang angkasa yang penuh dengan bintang yang bersinar terang.
Sosok humanoid yang terbungkus oleh jubah berwarna putih, terlihat melayang di ruang hampa. Jubah itu dengan sendirinya terbuka, dan menampilkan sosok tersebut yang ternyata adalah Evaine Rein.
Evaine Rein membuka matanya, ia bisa melihat, sekarang dirinya sedang berada di luar ruang angkasa yang bebas.
'jadi begitu, sepertinya aku telah berhasil sampai ke - 12 Alam Semesta Utama, tapi aku tidak mengetahuinya, sekarang ada di Alam Semesta yang mana?' batin Evaine Rein bertanya - tanya.
Tiba - tiba, terlihat dengan sangat cepat, ada sekilas cahaya yang menghampiri Evaine Rein. Dan ternyata, itu adalah sosok Makhluk Humanoid yang memiliki tubuh seperti manusia dewasa.
Sosok yang kini sedang berdiri di hadapan Evaine Rein, memiliki kulit berwarna hitam gelap, serta di kulitnya itu, terdapat banyak ukiran tato yang berwarna emas. Makhluk itu memiliki rambut pendek yang berwarna putih terang seperti cahaya matahari, ia memakai pakaian yang ketat berwarna hitam pekat, dengan pola yang indah berwarna emas di bajunya.
Makhluk itu juga memakai sebuah jubah berwarna putih, yang memiliki ukiran pola berwarna emas di jubahnya.
"ohh, sepertinya kita kedatangan tamu baru." kata Makhluk itu dengan santai.
"siapa kau?" tanya Evaine Rein.
__ADS_1
Makhluk itu mengayunkan tangan kanannya ke arah dada kirinya, lalu, ia bergerak sedikit membungkuk ke depan, dan setelah itu memperkenalkan dirinya.
"perkenalkan, namaku Kinnard Davenport, atau kau bisa memanggilku sebagai, God Of Divine Light." kata Makhluk itu dengan santai.
"ohh begitu. Kalau tidak ada yang mau kau katakan lagi, aku akan pergi." kata Evaine Rein sambil memalingkan tubuhnya.
Kinnard yang melihat respon tidak ramah dari Evaine Rein, hanya tersenyum tipis, dan berkata.
"kau tidak punya informasi tentang apapun sekarang, bagaimana caramu bepergian tanpa adanya seorang pemandu?" tanya Kinnard dengan santai.
Evaine Rein yang sebelumnya hendak pergi meninggalkan Kinnard, ia terdiam untuk sejenak, lalu menengok ke arah Kinnard, dan berkata.
"siapa yang bilang aku butuh pemandu? Aku mempunyai seseorang yang bisa lebih diandalkan daripada kau." kata Evaine Rein dengan tegas.
"ohh, benarkah? Baguslah kalau begitu, aku tidak perlu berlama - lama lagi, tadi itu hanya sekedar omong kosong saja. Mari kita bertarung dengan sengit." kata Kinnard sambil tersenyum lebar.
Kinnard memancarkan energi yang sangat kuat dari seluruh tubuhnya, sepertinya ia sudah tidak tahan lagi ingin bertarung melawan Evaine Rein. Evaine Rein tidak mau tinggal diam saja melihat itu, ia juga segera mengeluarkan aura yang sangat kuat dari seluruh tubuhnya
"akhirnya kau menunjukan niatmu yang sebenarnya, jika kau mau bertarung, aku akan melayaninya dengan senang hati." kata Evaine Rein sambil tersenyum tipis.
"tidak buruk, untuk seukuran Makhluk yang baru tiba di Alam Semesta Utama." kata Kinnard mengamati Evaine Rein.
"tidak usah banyak bicara lagi, majulah!" kata Evaine Rein dengan tegas.
Menanggapi perkataan itu, Kinnard hanya tersenyum tipis. Lalu, Kinnard membentuk sebuah pedang cahaya yang sangat kuat, dengan jumlah tujuh pedang.
Pedang - pedang cahaya itu melayang di belakang tubuh Kinnard. Masing - masing dari pedang itu, mengandung kekuatan tersendiri yang unik.
Melihat itu, Evaine Rein bersiap mengambil posisi untuk menyerang, ia mengepalkan kedua tangannya, energi yang sangat kuat berkumpul di kedua tangannya dalam jumlah yang sangat besar. Kini, masing - masing dari kedua belah pihak, telah siap untuk bertarung.
-
Genangan, serta percikan darah terlihat begitu mengerikan tersebar di sekitaran sang Raja. Meskipun begitu, tampaknya tidak ada setetes pun noda darah yang menempel di bajunya.
"jangan mentang - mentang memiliki tubuh yang besar, kau bisa berbuat sesukamu." kata Eleanor meninggalkan tempatnya.
Beberapa waktu sebelumnya.
Eleanor mendongakan kepalanya ke arah langit, ia melihat sosok seekor harimau yang sangat besar, dengan mulut yang penuh dengan air liur berdiri di atasnya.
Dengan sangat cepat, tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, harimau itu segera membuka mulutnya dengan sangat lebar, ia hendak menerkam mangsanya, yang mana itu adalah Eleanor sendiri. Eleanor tidak bergerak dari tempatnya, tapi justru malah sebaliknya, ia menatap harimau itu dengan tajam.
Tiba - tiba saja, tubuh harimau itu meledak dengan sangat keras. Tubuh harimau itu hancur berhamburan di sekitar tempat itu, bau amis yang pekat, tercium sangat kuat dari darah harimau yang berhamburan di tempat tersebut. Sepertinya juga, bau darah yang sangat kuat itu, memancing beberapa Makhluk Buas lainnya datang.
'ku pikir setelah sampai disini semuanya akan berbeda, tapi sepertinya sama saja, bagaimana bisa ada harimau di tempat ini? Yah, tidak bisa kupungkiri, kekuatan harimau itu sangat hebat jika di 3 alam.' batin Raja Alam Semesta melihat tubuh serta genangan darah dari harimau yang telah ia bunuh. Ia pun pergi meninggalkan tempat itu.
-
Kembali di tempat Evaine Rein berada.
Pedang cahaya milik Kinnard, mulai bergerak dengan sangat cepat menuju Evaine Rein. Melihat serangan yang datang padanya, Evaine Rein bersiap menahan serangan tersebut.
Kemudian, salah satu dari pedang cahaya milik Kinnard, mulai menyerang Evaine Rein dengan gerakan menusuk. Setelah itu, dengan sangat cepat, pedang cahaya lainnya bergerak menyerang Evaine Rein dengan gerakan menebas.
Dua gerakan itu berhasil di tangkis dengan gampang oleh Evaine Rein, tapi serangan itu tampaknya sedikit meninggalkan luka gores di tangan Evaine Rein.
__ADS_1
Kedua pedang cahaya yang sebelumnya menyerang Evaine Rein, telah berhenti menyerang, lalu Kinnard berkata.
"dua serangan tadi hanyalah pemanasan, setelah itu kau tidak akan bisa lagi untuk melawannya." kata Kinnard sambil tersenyum tipis.
"apa memangnya yang bisa dilakukan oleh pedang yang hanya bisa menggores kulit ku? Serangan mu itu terlalu lemah." kata Evaine Rein memprovokasi.
Kinnard membalas perkataan itu dengan menyerang Evaine Rein menggunakan ketujuh pedangnya sekaligus.
Pedang Kinnard menyerang Evaine Rein dengan sangat ganas, masing - masing dari pedangnya, memiliki gerakan yang berbeda - beda.
Satu pedangnya menebas, satu pedang menusuk, satu pedang bergerak dengan cepat secara acak, satu pedang bergerak dengan zigzag, satu pedangnya berputar dengan sangat cepat seperti gasing, satu pedang menyerang secara vertikal dengan serangan menusuk, dan satu pedang lagi menghilang dan tiba - tiba muncul lalu menyerang Evaine Rein.
Pedang - pedang itu melakukan gerakan tersebut secara acak, dan tidak berurutan, jadi akan sangat mustahil untuk menebak pedang mana yang selanjutnya akan maju menyerang dengan gerakan yang berbeda setiap waktunya.
Meskipun terlihat sangat mustahil bagi Evaine Rein untuk menghindarinya, tapi sepertinya Evaine Rein terlihat dengan sangat mudah menghadapi gerakan ketujuh pedang itu.
Pedang - pedang itu terus dengan sangat cepat menyerang Evaine Rein tanpa henti, tapi Evaine Rein tidak tampak kesusahan melawan serangan pedang yang datang padanya.
'Makhluk ini cukup hebat untuk melawan salah satu teknik andalanku, tapi sayang ini hanya sebuah permulaan, ini hanyalah satu awalan dari teknik yang sebenarnya.' batin Kinnard tersenyum tipis melihat Evaine Rein dengan lihai menghindari setiap serangan pedang yang dirinya lancarkan.
Ternyata ini hanyalah gerakan awal, dari teknik yang sebenarnya digunakan oleh Kinnard.
Semakin cepat waktu berlalu, semakin cepat pula pedang - pedang itu bergerak. Evaine Rein akhirnya menyadari sesuatu selama pertarungan itu.
'satu pedang yang menyerang dengan zigzag, itu untuk menuntun ku ke arah pergerakan yang ia mau, dua pedang yang bergerak secara acak dan berputar, itu untuk memecah konsentrasi ku dalam bertarung, dua pedang yang menyerang dengan menusuk dan menebas, itu untuk pengalihan, dan dua pedang lagi yang menyerang menusuk secara vertikal, dan menghilang, lalu muncul secara tiba - tiba, itu adalah gerakan untuk mengeksekusi, gerakan - gerakan itu dilakukan dengan sangat cepat, serta tidak beraturan. Membuatnya menjadi sangat mustahil untuk memprediksi serangan yang datang selanjutnya, tapi itu tidak berlaku untuk ku, karena aku bisa melihat sedikit ke masa depan!' batin Evaine Rein.
Ternyata, selama pertarungan ini berlangsung, Evaine Rein sudah tahu pedang mana dan gerakan menyerang seperti apa yang akan datang padanya.
Pantas saja, meskipun dia terlihat sangat kewalahan menghadapi ketujuh pedang itu, tapi pedang - pedang itu tidak ada satupun yang mengenai tubuh Evaine Rein, sepertinya itu hanyalah untuk pengalihan semata.
Membuat musuh seolah terkecoh dengan ketidakmampuannya, itulah yang sedang dilakukan oleh Evaine Rein.
Melihat ketujuh pedang yang ia gunakan tidak bisa mengenai tubuh Evaine Rein, membuat Kinnard merasa sangat heran.
'seharusnya ia tidak bisa bergerak selihai itu, gerakan ketujuh pedang itu sangatlah mustahil untuk diprediksi karena setiap waktunya, pedang - pedang cahaya itu akan melakukan gerakan yang berbeda, dan tidak beraturan. Teknik apa yang ia gunakan? Apa jangan - jangan?!' batin Kinnard menyadari sesuatu.
Kinnard tersenyum tipis, sepertinya ia telah menyadari trik apa yang dilakukan oleh Evaine Rein. Evaine Rein melihat sekilas ke arah Kinnard yang tampak mengerutkan wajahnya.
'sepertinya dia telah menyadarinya.' batin Evaine Rein setelah melihat raut wajah yang ditunjukkan oleh Kinnard.
'aku tidak tahu teknik apa yang ia gunakan, namun sepertinya, ia bisa mengintip beberapa waktu ke masa depan, tapi sejauh mana Makhluk itu bisa melihatnya? Kalaupun benar begitu, maka aku akan menyerang ke fase selanjutnya.' batin Kinnard hendak melakukan sesuatu.
Pedang - pedang itu secara bersamaan, berhenti menyerang Evaine Rein. Melihat itu, Evaine Rein berkata pada Kinnard.
"apa kau telah menyadari kalau serangan pedang mu ini tidak berguna? Dan akan seterusnya begitu, bersiaplah, kali ini adalah giliranku untuk menyerang." kata Evaine Rein dengan tegas.
Mendengar itu Kinnard hanya tersenyum tipis, dan berkata.
"kau tidak akan bisa menyerang ku, karena kau akan mati sebelum bisa melakukannya." balas Kinnard sambil memunculkan pedang cahaya lain yang tidak terhitung jumlahnya.
Ujung dari semua pedang cahaya itu mengarah pada Evaine Rein, tapi itu tidak membuat sedikitpun Evaine Rein gentar.
"jika kau pikir dengan menambah jumlah pedang akan bisa membunuhku, maka kau salah besar. Sebanyak apapun pedang yang kau gunakan, itu tidak akan membuat perubahan apapun." kata Evaine Rein sambil tersenyum tipis.
"perubahan itu belum terlihat sekarang, tapi itu akan terlihat nanti saat tubuhmu terpotong olehnya." kata Kinnard dengan tegas.
__ADS_1
"mari kita lihat, apakah padang lemahmu itu bisa memotong tubuhku?" kata Evaine Rein sambil tersenyum tipis.
Suasana semakin tegang, kini pertarungan keduanya telah memasuki pertarungan yang sebenarnya.