
Bella masih belum ditemukan, ini adalah hari kedua menghilangnya gadis resepsionis itu, sedangkan Angelica juga masih dalam keadaan syok akibat trauma sehingga model itu masih tidak bisa diajak berkomunikasi, bahkan psikiater pun mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengannya.
Pintu pagar rumah mungil itu — masih terkunci, rush hitam nampak terparkir di halaman rumah tersebut. Ini adalah rumah kediaman Iptu Citra, pemilik rumah itu masih tidur pulas karena kelelahan, sementara ponselnya terus berdering.
Ia berusaha membuka matanya, kepalanya masih terasa sangat pening. Sejak menangani kasus ini, ia hanya punya waktu sebentar untuk istirahat, bahkan perutnya hanya diisi beberapa gelas kopi.
Tangan Citra meraba nakas di samping ranjang, berusaha meraih ponsel yang terus berdering. Begitu dia bisa meraih benda pipih tersebut, ia membuka kunci layarnya dan melihat puluhan panggilan tak terjawab dari Faisal.
Ia pun menghubungi kembali bawahannya itu. "Halo ... apa!? Harian Mentari .... Oke, saya ke kantor sekarang!" Citra langsung memperbaiki posisinya dan duduk di tepian ranjang, ia kemudian segera bersiap-siap menuju kantor.
Persis seperti ketakutannya, Harian Mentari adalah media cetak yang menghalalkan segala cara untuk memperoleh berita terpanas. Merekalah yang pertama membuka identitas jasad Valentino Arthasena sebelum pihak berwajib mengadakan konferensi pers.
"Itu bisa membahayakan nyawa Bella jika pembunuhnya membaca koran ...." gumam Citra gusar. Ia menginjak pedal gas dalam-dalam sehingga rush-nya melaju dengan kencang.
Tak disangka, begitu cepat Pak Yusuf mendapat jawaban atas rasa penasarannya kemarin. Citra menggerutu sepanjang perjalanan, karena awak media sering kali membuat penyelidikan mereka kacau.
"Seharusnya mereka saja yang jadi polisi jika mampu menemukan informasi secepat ini!" Citra terus mengomel, apalagi jalanan Manggala begitu padat saat ini.
"Kepala polisi mencari komandan, tidak biasanya Anda terlambat, Ndan," ujar Faisal heran. Iris hazel itu melirik jam dinding kantor, ternyata sudah pukul sepuluh pagi, baru kali ini dia datang terlambat ke kantor.
Inspektur wanita ini langsung menuju ruangan kepala polisi, dan di sana ternyata sudah menunggu Pak Kepala bersama seorang petugas polisi yang belum pernah ia lihat di kantor ini.
"Silahkan duduk!" perintah Kepala Polisi.
"Siap, Pak!" jawab Citra sembari memberi hormat. Dia kemudian duduk berhadapan dengan petugas polisi asing itu, meskipun asing, ia merasa pernah melihatnya tapi entah kapan dan di mana.
"Inspektur Citra, perkenalkan ini Inspektur Banyu Aji dari Polda. Dia akan mengambil alih kasus kalian mulai hari ini!" tegas Kepala Polisi itu kepada Citra.
Mata Citra membelalak, ia tidak terima kerja kerasnya bersama tim harus ia serahkan begitu saja kepada orang ini. "Kami sudah bekerja keras untuk kasus ini, Anda tidak bisa seenaknya memutuskan seperti itu, Pak!" protes Citra kesal.
"Ini sudah menjadi keputusan para petinggi! Kerja keras apa? Sampai sekarang pun kasus ini masih abu-abu! Sudah berapa kali kamu kehilangan saksi matamu, 'kan?!" hardik kepala polisi itu.
Citra hanya menunduk, ia tidak membantah karena memang kenyataannya mereka kehilangan Bella sekarang. "Ta—tapi, Pak, penyelidikan kami ...."
"Kami tetap harus bekerja sama dengan tim Iptu Citra, mereka yang mengetahui seluk-beluk kasus ini sejak awal dan kami membutuhkan bantuan mereka," potong Iptu Banyu Aji.
Bibir Citra mencibir, ia membenamkan jemari di sela-sela rambut pendeknya. Orang itu terlihat sedang berusaha sok bijaksana.
"Baiklah! Iptu Citra, kamu wajib melaporkan tiap perkembangan penyelidikan tim kamu kepada inspektur Banyu Aji!" perintah atasannya itu lagi.
"Siap, Pak," jawabnya pelan.
Ia sungguh tidak rela kasus ini ada campur tangan pihak lain, karena ini tentang panti asuhan Benedict. Panti asuhan di mana ia terpaksa berpisah dengan saudara kembarnya yang tewas karena dirudung.
__ADS_1
"Kita belum berkenalan resmi," ujar Banyu Aji sok akrab ketika sudah berada di luar ruangan, "Saya Banyu Aji."
Uluran tangan pria berusia tiga puluh delapan tahun itu disambut dingin oleh Citra. "Citra, Citra Deborah," balasnya singkat. Dia sama sekali tidak ingin akrab dengan pria ini.
Banyu Aji tersenyum simpul melihat ketusnya wanita yang sedang berjalan di sampingnya ini, mereka berjalan dalam diam. "Bagaimana perkembangan penyelidikan kalian?" Banyu berusaha memecah kesunyian antara mereka.
"Kami sedang fokus mencari resepsionis apartemen Artha yang pernah kontak langsung dengan tersangka," jawab Citra sambil terus berjalan.
"Apa dia sudah pasti kontak langsung dengan si pelaku? Bukankah pembunuh itu lihai?" tanya Banyu.
Ia membukakan pintu ruangan untuk Citra. Wanita itu hanya mendengus kesal. "Formalitas seorang pria untuk wanita," ujarnya ringan.
"Saya masih bisa membuka pintu sendiri!" gerutu Citra, pria itu hanya tersenyum simpul. Citra tipikal wanita mandiri yang angkuh di matanya, tapi biasanya wanita seperti ini rapuh di dalam hati.
"Faisal! Kita rapat hari ini!" perintah Citra dengan nada kesal.
Bawahannya itu terlonjak kaget, ia lalu menyiapkan bahan-bahan rapat dan beberapa bukti baru yang mereka dapat. Ekor matanya sempat melirik ke arah pria dengan jaket kulit hitam di samping komandannya itu.
"Ndan, itu siapa?" bisik Faisal ketika Banyu sibuk melihat white board yang penuh dengan foto korban dan TKP.
"Iptu Banyu Aji, dari Polda," jawab Citra pendek.
Telinga Banyu seperti radar, suara berbisik Citra menyebut namanya mampu membuat ia menoleh ke arah mereka berdua. "Saya lupa memperkenalkan diri, nama saya Banyu Aji, panggil saja saya Banyu." Ia memperkenalkan diri pada tim A.
"Siap, Komandan!" sahut Faisal malu.
"Panggil saya Banyu saja," tukas Banyu Aji tersenyum.
"Baik, Pak Banyu!"
Mereka pun mulai membahas kasus ini, satu persatu mereka kulik kembali dari awal, apalagi kasus lama mengenai pembunuhan suster Sandra terkait benang merah dengan kasus-kasus yang sekarang sedang mereka tangani.
...----------------...
Gadis itu memberontak dari cengkraman tangan pria di sampingnya, dia berusaha meminta tolong pada pria tua yang baru saja melintas di sisi lain basemen itu, tapi sayangnya — pria itu hanya menoleh sembari tersenyum kepada mereka. Sepertinya ia mengira itu hanya pertengkaran biasa antar kekasih atau pasangan pengantin baru, dia pun berlalu dengan mobil Agya birunya.
"Jangan pergi!" teriaknya. Namun, teriakan gadis itu tidak terdengar sama sekali oleh sang pengemudi.
"Dasar perempuan tidak tahu diri!" pria itu menampar wajah mulus gadis itu, tanpa dia sangka jika cengkraman tangannya ikut lepas ketika ia emosi barusan.
Gadis itu mengambil kesempatan dan berlari ketakutan, berusaha mencari pertolongan, tapi basemen itu sepi. Matanya menatap lurus ke arah lift yang lumayan jauh di seberang tempatnya sekarang.
"Bellaaa, kamu mau main petak umpet sama Senja ya?" suaranya sedikit berubah seperti anak perempuan yang centil.
__ADS_1
"Ayo main petak umpet. Kalau kamu menang, kamu bebas. Kalau aku yang menang, teman kakakku akan membunuhmu!" serunya dengan suara melengking.
Gadis itu ternyata adalah Bella, ia sedang berusaha mencari tempat persembunyian. Ia berlari dengan posisi setengah berjongkok, berharap psikopat itu tidak melihatnya.
"I know you can hear me
Open up the door
I only want to play a little
Ding dong
You can't keep me waiting
It's already too late
For you to try and run away
I see you through the window
Our eyes are locked together
I can sense your horror
Though I'd like to see it closer ...."
Dia bersenandung dengan riang seperti anak kecil yang sedang bermain, langkahnya pun perlahan semakin dekat ke arah Bella. "Jika aku menemukanmu, Charles akan mengambil alih diriku. Lari! Lari dan sembunyi selagi kamu bisa!" ejeknya sambil tertawa.
Langkah kaki itu berhenti. Bella menggigit bagian bawah bibirnya, tubuhnya gemetar ketakutan dan saat ia akan beranjak dari tempatnya bersembunyi, tiba-tiba—
"Arrrggghhh!" Rambut panjangnya sudah ditarik dengan kuat dari belakang.
"I got you!" serunya kegirangan.
"Kau kira bisa lari dariku? Meskipun sejenak tadi Bumi menguasaiku, Senja mampu menidurkannya kembali!"
"Pengkhianat! Kau sama saja dengan mereka, temuilah para pendosa itu di neraka!"
Sebuah tambang mencekik erat leher Bella sampai ia kehabisan napas, pria itu pun mengeluarkan sebuah pisau kecil, mirip pisau bedah. Ia lalu menggores sebuah salib terbalik di balik telapak tangan Bella.
Ia menyeret Bella yang sudah tidak bernyawa sambil bersiul tenang. Dia memasukkan mayat Bella ke bagasi mobil Civic-nya, kemudian membawanya ke sebuah rumah jagal di pinggiran kota yang jarang beroperasi, milik Sang Walikota. Dia pun meninggalkan Bella dalam keadaan tergantung membentuk sebuah salib.
...****************...
__ADS_1