The Murderer

The Murderer
BAB 40 - RYS Cafe (Revisi)


__ADS_3

Kompleks apartemen itu mengingatkan Citra pada sosok mendiang Faisal. Entah kenapa pria menyebalkan ini harus memilih Greenhouse sebagai tempat tinggalnya.


"Tempat ini dekat dengan kantor kejaksaan. Aku tidak harus bersusah payah terjebak kemacetan." Itulah jawaban Christian ketika Citra bertanya alasan ia memilih apartemen ini.


Yang membuat ia bersyukur, Christian akan tinggal di unit 1105 artinya bukan di lantai yang sama dengan mendiang rekannya dulu. Bagi Citra, Faisal tetap seorang rekan dan bawahan yang baik. Charles dan Banyu Aji-lah yang membuat Faisal menjadi seorang penjahat.


"Hei!" Christian menegur Citra yang melamun dan tidak beranjak keluar dari lift.


Citra tersentak, ia lalu keluar dari lift kemudian berjalan mengikuti pegawai pemasaran dan Christian. Mereka berhenti di depan sebuah apartemen bertipe alcove-lah yang pria ini pilih.


Setelah melihat-lihat unit tersebut, Christian melakukan transaksi dengan pihak manajemen. Sembari menunggu, Citra iseng browsing mengenai kopi kemasan bermerk 'KopiKu' itu. Sebuah artikel lama tentang minuman kemasan lokal itu muncul di laman pencarian.


KopiKu, kopi kemasan berkualitas, diproduksi oleh RYS Cafe


Lokasi : Jalan Andalusia Ruko Catalyst Blok C no.78, Manggala.


Citra menyimpan alamat itu. Berhubung mobil Christian baru dikirim dari Medan, hari ini Citra menjadi sopir pribadinya


"Aku harus ke sebuah tempat. Kamu mau ikut atau aku antar pulang?" tanya Citra.


Pria itu nampak berfikir sejenak. Ia mengusap dagunya ragu, namun kemudian berkata, "Aku ikut kamu saja."


Terdengar helaan napas kesal Citra. Mobil SUV itu melaju lambat di jalanan kota Manggala. Semalam hujan turun begitu deras, tapi matahari siang ini begitu terik. Ia berbelok ke sebuah kompleks ruko di jalan Andalusia.


Cukup lama ia berputar-putar mencari alamat RYS Cafe. Akhirnya dia menemukan sebuah cafe sederhana dengan design klasik yang lumayan ramai. Mobilnya parkir tepat di depan cafe itu, lalu dia turun dan Christian mengekor di belakang.


Seorang pelayan pria menghampiri Citra dengan senyum ramah. Nametag yang dia pakai tertulis nama Nando. "Selamat siang, Kak. Kakak mau pesan apa?"


Citra tidak menjawab, ia mengeluarkan tanda pengenalnya. Pelayan bernama Nando itu paham apa yang harus ia lakukan. Setelah mempersilahkan Citra dan Christian duduk, ia kemudian masuk ke dalam sebuah ruangan untuk memanggil manajer cafe itu.


Pria berperawakan tinggi, bertubuh tegap dan brewokan, tapi berpakaian sangat rapi itu mendatangi mereka berdua. Sangat jelas Citra melihat pria itu menatap tidak suka padanya. Dia menarik kursi di hadapan Citra kemudian duduk, dia pun mengambil sebatang cerutu dari kotak yang dia pegang lalu menyulutnya.


Masih dengan sorot tajam ia menatap Citra. Sepertinya orang ini sangat membenci polisi.

__ADS_1


"Maaf, saya Iptu Citra dari Polres." Citra mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri kepada manajer cafe tersebut.


"Baskara." Dengan nada dingin dia menyebut namanya dan menjabat tangan Citra.


Tidak ingin berbasa-basi dengan orang ini, ia pun segera menunjukkan foto botol yang ditemukan di dekat dua korban berbeda. Baskara meletakkan cerutunya di asbak, dia mengambil foto tersebut dengan tangan kekarnya. Dahinya mengkerut.


Diletakkannya kembali foto tersebut di atas meja. Jarinya kembali menjepit cerutu yang tadi ia simpan. "Ini memang pernah kami produksi di sini, tapi produksi itu berhenti beberapa tahun lalu. Barista yang meracik kopi ini mendapat beasiswa untuk belajar memasak di Inggris."


"Apa mungkin ada yang menirukan produknya?" tanya Citra, "atau dia sudah kembali dan memproduksi sendiri minuman ini?"


Baskara menghisap dalam-dalam cerutunya. Ia mengusap-usap jenggot yang lumayan tebal itu. "Kalau untuk peniru, saya bisa pastikan hundred percents impossible. Kami yang ada di sini saja tidak mampu membuat kopi dengan rasa yang sama."


"Jika pertanyaan tentang dia sudah kembali ke Indonesia atau belum, saya tidak tahu. Coba kalian tanya saja sama keluarganya. Tunggu—saya akan menuliskan alamat Arzan."


Ia melambaikan tangan pada salah satu pegawainya dan memberi isyarat untuk membawa secarik kertas juga pulpen. Tidak butuh waktu lama, Baskara sudah selesai menulis alamat manta baristanya. Sekali lagi dia menatap dingin ke arah mereka berdua.


Kertas berisikan alamat itu sudah dikantongi Citra. Sekarang ia memutuskan untuk mengantar Christian pulang lebih dulu, kemudian mengunjungi Anto, lalu mendatangi alamat yang diberikan Baskara tadi.


Jalanan Manggala cukup padat di saat siang menjelang sore begini. Itulah kenapa ia kesal saat pria di sampingnya itu bersikeras untuk ikut dengannya. Seharusnya jika tadi ia sudah mengantarkan Christian pulang, paling tidak ia bisa langsung mengunjungi Anto tanpa terjebak kemacetan seperti ini.


Setibanya di rumah sakit, Citra segera menemui Andrian untuk mengetahui perkembangan Anto, bocah malang itu. "Andrian, bagaimana keadaan Anto?" Dokter yang sedang membaca buku di ruangannya itu terkejut melihat Citra yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.


Dia menutup buku yang ia baca barusan dan mencopot kacamatanya. "Untung saja jantungku kuat, kalau tidak—aku sudah pingsan terkena serangan jantung karena kaget!"


Citra hanya tersenyum menanggapi gerutuan Andrian, dia duduk di sofa ruangan kerja dokter itu. Ruangan ini jauh lebih layak daripada ruangan Bara si dokter forensik gila itu. Apalagi sejak ia ditugaskan di daerah konflik selama beberapa bulan, ia semakin gila kerja.


Andrian pindah duduk di dekat Citra, di tangannya ada berkas kesehatan yang entah milik siapa.


"Bocah itu, masa kritisnya sudah lama lewat. Tinggal pemulihannya saja, tapi ... apa tidak sebaiknya kita mencarikan panti asuhan untuk dia?"


Mendengar Andrian menyebut panti asuhan, Citra merasa tidak nyaman. Rentetan pembunuhan kemarin berawal dari panti asuhan tempat dia diadopsi dan tempat ia juga kehilangan saudara kembarnya. Melihat raut wajah wanita ini, Andrian menutup mulutnya.


"Kapan dia bisa keluar dari rumah sakit?" tanya Citra mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Mungkin seminggu lagi dia sudah boleh pulang. Cit, kamu harus pikirkan usulanku tadi. Jika Anto kembali ke jalanan, mungkin dia akan jadi target lagi." Andrian berkata dengan lirih.


Citra tertegun.


Ucapan pria ini sangat tepat. Mereka mungkin berpikir kalau anak kecil yang terseret arus itu tidak mungkin selamat. Namun bagaimana jika mereka melihat dia di jalanan lagi?


Andrian bangkit dari duduknya. Ia mengajak Citra ke kamar Anto. "Ayo, aku temani kamu menjenguk superboy itu, sekalian aku akan memeriksa perkembangannya."


Mereka keluar dari ruang kerja Andrian dan menyusuri koridor rumah sakit dalam sunyi. Hanya sesekali terdengar para perawat yang menyapa Andrian.


Wajah sumringah Anto terlihat ketika pintu ruang rawat inap itu dibuka. Citra memang meminta Andrian untuk menempatkan Anto di ruang kelas satu, biaya akan dia tanggung pribadi. Senyum di bibir bocah yang masih terlihat pucat itu mengembang.


Anto sudah tidak menggunakan alat bantu pernapasan lagi. Kabel-kabel yang menempel di tubuhnya kemarin pun sudah dilepas, hanya tersisa selang infus yang masih menempel di tangan.


"Kakak polisi," sapa Anto dengan suara masih lemah. Citra mengusap kepala bocah itu. Dia menarik bangku di bawah ranjang dan duduk.


"Gimana keadaan kamu?"


"Superboy kuat, kata Pak Dokter itu," tutur Anto lugu sambil menunjuk ke arah Andrian.


Mata Citra melirik geli ke arah Andrian yang hanya mengendikkan bahu.


"Anto, seminggu lagi kakak jemput kamu. Kata dokter Andrian kami sudah boleh pulang." Citra menggantung ucapannya, ia termenung sejenak. Jika saja tangannya tidak disentuh Anto, mungkin ia masih melamun.


"Kak ...."


"Eh iya, nanti kamu tinggal di panti asuhan dulu. Kalau semua sudah beres, nanti kakak jemput kamu dan kamu tinggal sama kakak," lanjut Citra.


Andrian terkesiap. Ia tidak menyangka, wanita yang di kenal garang di divisinya itu ternyata memiliki sisi lembut.


Anto terdiam dan terlihat bimbang, mungkin akan sulit baginya yang terbiasa hidup di kerasnya jalanan, kemudian masuk ke sebuah yayasan. Akan tetapi, janji Citra untuk menjemputnya kembali, meruntuhkan rasa ragu itu. Ia pun akhirnya mengangguk setuju.


Senyum kedua orang dewasa ini mengembang. Dengan segera Andrian menghubungi panti asuhan tempat ia pernah dirawat, ia percaya pengurus panti Kasih Bunda bisa merawat Anto dengan baik. Citra mengacak-acak rambut bocah yang masih lemah itu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2