The Murderer

The Murderer
BAB 30 - Sang Psikopat (Revisi)


__ADS_3

Tim kepolisian tiba di depan puing panti asuhan yang menjadi awal mula peristiwa berdarah ini. Mereka pun segera mengepung wilayah tersebut dan menuju ke gudang untuk menyelamatkan Walikota Manggala yang sedang disandera oleh dua psikopat.


Citra merangsek masuk ke dalam gudang, tapi— tempat itu kosong, dia pun menyisir tiap sudut ruangan tersebut tiap inchi dengan hati-hati. Tiba-tiba, seorang petugas menemukan sebuah pintu tanpa kenop di antara dua rak besar dan petugas tersebut mendorong pintu itu sehingga memperlihatkan jalanan seperti lorong sempit yang gelap dan hanya cukup dilalui satu orang dewasa.


Mereka memasuki lorong tersebut dengan berbaris, Citra berada paling depan di dalam barisan dengan senjata yang mengacung siaga dan juga senter di tangannya.


Di ujung lorong, sebuah cahaya temaram mulai nampak, Citra memerintahkan bawahannya untuk berhati-hati. Dia melangkah maju perlahan dan yang pertama ia lihat adalah dua orang pria dengan posisi memunggungi lorong sempit tersebut, serta sosok Pak Freddy yang terikat di sebuah bangku.


Citra menodongkan senjatanya dan berteriak, "Jangan bergerak!"


Dua orang pria tadi tersentak, salah satu diantaranya yang langsung mengalungkan lengan dan menodongkan pistol di kepala Pak Freddy. Citra tidak percaya dengan penglihatannya, dia sedikit limbung melihat sosok yang menodong kepala Walikota mereka dengan senjata itu.


"Iptu Banyu Aji! Apa yang sedang Anda lakukan!?" Citra membentak Banyu Aji, rekan kerjanya yang berasal dari Polda Manggala tersebut.


Banyu Aji tidak menggubris Citra, dia malah menempelkan senjata dingin itu di pelipis Pak Freddy. "Tetap di sana dan letakkan senjata kalian atau aku akan meledakkan kepala bajingan munafik ini!"


Penculik yang mengenakan busana serba hitam itu berjalan pelan ke arah Citra dengan mengacungkan belati berjenis sangkur. Namun, gerakan pria tersebut sedikit aneh, dia seperti sedang berusaha menahan tangan kirinya untuk bergerak.


Apakah salah satu kepribadian orang ini berusaha melawan pribadi jahatnya? Citra bertanya-tanya dalam hati sembari bergeser sedikit demi sedikit mencari celah untuk menyerang Banyu Aji.


"Komandan, cepat pergi dari sini! Di sini berbahaya!" Suara itu ... Citra mengenali suara Faisal.


Dengan nekat Citra mendekati sosok penculik tersebut dan menarik maskernya, kaki Citra terasa lemas melihat orang itu adalah bawahannya. "Fa—faisal?"


Citra limbung, tubuh gemetar dan tangannya ikut lemas, hingga senjata yang ia pegang terjatuh dari genggaman. Dengan sigap penculik tadi meraih senjata Citra dan tidak disangka ia menembakkan peluru ke arah Banyu Aji tapi meleset.


Hal tersebut membuat Banyu Aji murka dan dia pun menembakkan senjatanya ke kepala Faisal atau Charles. Pria tersebut tumbang seketika tepat di depan kaki Citra.


"Aarrggghhh!" Citra ikut kehilangan kendali melihat Faisal telentang tak bernyawa di hadapannya. Dia mengambil senjata dari tangan Faisal yang jatuh bersimbah darah, kemudian menembak kepala Banyu Aji. Namun Banyu Aji juga berhasil menarik pelatuk senjatanya sebelum akhirnya dia juga jatuh bersimbah darah.


Timah panas itu mengenai dada Citra, adegan tembak-menembak itu menewaskan kedua psikopat itu dan membuat inspektur wanita ini dalam keadaan kritis.


Siapa sangka ternyata selama ini mereka berdua saling bekerja sama, Banyu Aji membantu Charles si alter jahat membersihkan TKP sisa pembunuhannya. Pantas saja, kancing manset yang ditemukan di dekat jasad Angelica tidak asing bagi Citra. Jaket angkatan tersebut hanya diberikan kepada mereka yang memiliki poin tinggi dalam ujian menembak, Citra baru ingat dalam perjalanan jika Banyu Aji adalah salah satunya.

__ADS_1


...----------------...


Faisal adalah alter dari Bumi yang merupakan anak angkat kedua psikiater James dan Agustina, dan belakangan di ketahui kalau pisau bedah milik ayah Bara dicuri ketika berada di ruang penyimpanan barang bukti oleh Banyu Aji.


Kemudian, mereka menggunakan pisau bedah milik ayah Bara tersebut untuk mengaburkan penyelidikan, sementara senjata sesungguhnya adalah pisau bedah milik Agustina yang ternyata dulu pernah menjadi seorang obgyn (ahli kandungan) tapi dipecat karena kasus praktek aborsi ilegal.


Banyu Aji adalah sahabat Faisal semasa kuliah, mereka memiliki latar belakang kelam yang sama dari panti asuhan Benedict dengan cerita berbeda. Banyu Aji dijual oleh Pendeta Ebenaizer kepada pelaku human trafficking dan sempat mengalami penyiksaan sebelum akhirnya ia ditolong oleh seorang datuk kaya baik hati di Malaysia.


Ia disekolahkan sampai ia SMA di Kuala Lumpur, tapi etika lulus — ia memilih melanjutkan studinya di Indonesia. Banyu Aji pulang dengan membawa dendam dan bertekad untuk membalas semua penderitaan masa kecilnya kepada para pengurus panti tersebut.


Dia pun bertemu Faisal di sebuah universitas, awalnya — persahabatan dengan Faisal perlahan membuat dendam Banyu Aji menguap. Namun, ketika ia mengetahui sosok Faisal yang sebenarnya, dendam kesumat dalam hati Banyu Aji kembali lagi dan bahkan menjadi lebih besar setelah mendengar cerita pilu dari kepribadian asli Faisal, yaitu Bumi.


Semakin akrab dirinya dengan Faisal, ia memiliki kesempatan masuk ke dalam kehidupan sahabatnya ini, dia semakin terkejut ketika diajak berkunjung ke rumah Faisal yang bisa dikatakan cukup mewah itu. Bukan bagaimana mewahnya rumah Faisal yang membuat dia terkejut, melainkan ketika ia mengetahui siapa orang tua angkat Faisal atau Bumi.


Masih segar dalam ingatan Banyu Aji ketika disekap oleh Pendeta Ebenaizer sebelum ia di bawa ke Johor. Seorang wanita muda tampak kesakitan di atas ranjang bekas rumah sakit yang kotor, ia bisa melihat seorang dokter wanita yang kini ia kenal sebagai ibu angkat sahabatnya itu, sedang melakukan sesuatu kepada wanita muda malang tersebut.


Tidak lama kemudian, sebongkah daging berwarna merah tampak berpindah ke genggaman dokter wanita tadi, Banyu Aji yang masih kecil, tidak mengerti apa-apa. Hingga saat ia dewasa, ia sadar — psikiater hanya kedok bagi Agustin dan James, mereka menjalankan praktek aborsi ilegal untuk menutupi praktek prostitusi anak di bawah umur panti asuhan ini.


"Tante, apakah tante pernah merawat anak-anak yang mengalami kekerasan di masa kecil mereka?" tanya Banyu Aji kepada Agustina, ketika diminta makan malam bersama keluarga Faisal.


Wanita itu melirik Banyu Aji dengan tatapan sinis. "Tergantung, Tante sering menjalankan pemeriksaan sukarela untuk anak-anak jalanan dan juga yatim piatu."


"Bagaimana pendapat tante tentang anak yatim piatu yang dijual kepada orang dengan dalih adopsi, lalu anak tersebut mengalami kekerasan?" Banyu Aji bertanya lagi tanpa rasa bersalah dengan santai, seolah dia tidak tahu borok kedua orang ini. Kerja sosial? Cih! sungutnya dalam hati.


Kali ini James pun menatap teman anaknya itu dengan tatapan sedikit emosi. Dia sudah tidak menyukai Banyu Aji, sejak pemuda ini sering kali ia pergoki mengamati tiap sudut rumahnya.


"Itu sudah nasib mereka, menjadi anak yatim piatu berarti tidak ada yang melindungi. Seharusnya anak itu bersyukur, jika ada yang mau mengadopsinya, meskipun orang tua angkatnya itu kasar — mereka harus bisa menerimanya. Atau mungkin anak itulah yang harus bersikap lebih baik agar tidak mendapat perlakuan kasar dari orang tua angkatnya." Jawaban sinis Agustina itu membuat darah Banyu Aji mendidih dan melirik pasangan psikiater gadungan itu dengan sinis.


Persahabatan mereka semakin erat ketika Banyu Aji lolos menjadi seorang polisi, prestasinya yang cemerlang membuat dia langsung ditempatkan di Polda Manggala. Melihat keberhasilan Banyu Aji — Faisal pun memutuskan untuk ikut jejaknya, meskipun harus melalui perdebatan sengit dengan kedua orang tua angkatnya.


Suatu hari, Banyu Aji menemukan Faisal tidak seperti biasa, dia lebih pemarah dan kasar. Di sanalah dia tahu jika sahabatnya itu memiliki satu alter yang dipenuhi dendam seperti dia.


Charles, dia kasar, impulsif dan tidak mengenal belas kasihan. Saat alter itu muncul, maka Agustina dan James akan mengurung Faisal di sebuah ruangan lalu memasungnya.

__ADS_1


Dua tahun sudah berlalu sejak mereka berdua resmi, menjadi polisi. Rahasia tentang penyakit Faisal itu hanya mereka berdua dan orang tuanya yang tahu, apalagi sejauh ini, dalam bertugas, kondisi mental Faisal stabil walau terkadang Bumi sesekali muncul ketika dia sedang menyelidiki satu kasus yang berkaitan dengan pelecehan seksual anak di bawah umur.


Sebelum mengenal Faisal, Banyu Aji terus mencari di mana para pengurus panti asuhan tersebut berada, karena saat tiba di Indonesia — hanya puing gedung itu yang ia temukan. Pencariannya terus mengantar dia bertemu dengan Faisal dan suatu hari dia pun mendengar kisah pilu Bumi.


Mendengar kisah tentang bagaimana adik Bumi dilecehkan oleh sang Pendeta serta tukang kebun panti, sampai gadis kecil itu pun meninggal dunia. Hal tersebut menimbulkan satu ide di benak Banyu Aji dan menghasut alter impulsif Bumi yaitu Charles untuk keluar membalas dendam.


Dia kemudian memberikan sebuah alamat kepada Charles yang ia peroleh dengan bantuan dari seseorang dan mengatakan itu adalah alamat suster Sandra di tahun pertama Faisal resmi menjadi petugas polisi.


Saat itulah pembunuhan balas dendam pertama terjadi. Kemudian mereka menjalankan rencana balas dendam yang telah disusun. Tentu saja Banyu Aji hanya bekerja sama dengan Charles, dia hanyalah polisi biasa saat sedang bertemu Faisal.


Banyu Aji yang mengirim dokumen tentang kematian Raka kepada Citra, dia juga yang mengatur pemesanan hotel Bluemoon dan menjebak Johan dengan memintanya menyewa sebuah SUV. Semua berjalan atas skenario Banyu Aji dan Charles menjadi eksekutornya. Alasan mereka menjebak Bara adalah, karena dia meninggalkan Bumi dan Raka di saat mereka berdua sedang rapuh kehilangan Senja.


Lalu kematian orang tua angkat Bumi, disebabkan karena mereka mendengar ia dan Charles sedang merencanakan pembunuhan suster Grace. Ternyata kedua psikiater itu sudah mencurigai bahwa anak mereka adalah pelaku pembunuhan suster Sandra. Karena Charles menjadi lebih aktif sejak Bumi bergaul dengan Banyu Aji, sosok Faisal hanya muncul di saat ia harus bekerja.


......................


Sehari sebelum peristiwa saling tembak.


Kedua rekannya tiba-tiba hilang dan tidak masuk kantor, Citra mencari Faisal ke apartemennya. Namun tidak ada seorang pun di sana, kemudian dia pun mencoba menghubungi Banyu Aji, tapi — ponsel pria itu sedang berada di luar jangkauan.


Kasus penculikan sang walikota menghebohkan seisi kota Manggala. Bagaimana tidak, Freddy dikenal sebagai walikota yang bersih dan baik hati, begitu banyak bantuan ia berikan kepada warga miskin kota ini, padahal mereka tidak tahu borok pria yang dielu-elukan itu. Hilangnya sang Walikota seperti membawa duka bagi seluruh kota.


Bara sudah memastikan jika Faisal adalah Bumi, dan berbekal surat penggeledahan — Citra menerobos, masuk apartemen Faisal dengan bantuan pihak keamanan.


Citra menggeledah tiap sudut apartemen yang tidak begitu besar ini, semua tampak biasa saja. Ia pun menemukan jaket yang sama dengan miliknya dengan motif kancing yang berbeda. Dirinya sama sekali tidak tahu jika Faisal juga merupakan ahli menembak, sebab pangkat pria itu satu tingkat lebih rendah di bawah Citra.


Ia menyingkap semua baju di lemari build in milik Faisal, pandangan Citra tertuju pada kenop pintu yang tersembunyi di balik baju-baju tersebut. Ia membuka pintu itu dan menemukan ruangan kecil tanpa perabotan ada di balik pintu itu, hanya ada satu cermin besar serta coat hanger yang terletak di sudut ruangan tepat di samping cermin tersebut.


Citra menemukan saklar lampu, ketika lampu neon berukuran lima watt itu menyala. Matanya terbelalak kaget ketika menemukan dinding yang penuh dengan foto-foto korban pembunuhan, termasuk foto dia dan juga Bara.


Tubuhnya pun oleng ketika menghadapi kenyataan jika pelaku yang mereka buru selama ini begitu dekat dengan dia, ia tidak ingin mempercayai bahwa psikopat sadis itu adalah Faisal — rekan satu timnya. Namun bukti-bukti yang ada di depan dia saat ini, memaksanya untuk segera meminta surat penangkapan bagi Inspektur Dua dari divisinya tersebut.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2