
Sinar matahari membangunkan Citra, ia mengintip dari balik matanya yang masih didera kantuk berat. Dia bisa melihat dengan samar mamanya sedang membuka tirai jendela.
"Kapan anak ini berubah menjadi wanita feminim? Rambutnya saja yang panjang, tapi kelakuannya masih seperti anak laki-laki!" gerutunya pelan sembari membereskan beberapa barang Citra yang berserakan.
Citra tersenyum sembunyi-sembunyi, dia tahu sang mama sangat menyayanginya. Walau ia bukan lahir dari rahim wanita itu, tapi kasih sayangnya terasa jauh lebih besar dari seorang mama kandung.
Dia perlahan turun dan berjingkat di belakang Rita. Citra melingkarkan tangan di pinggang mamanya, wanita berusia awal enam puluhan itu terkejut.
"Pagi, Ma," sapa Citra dengan suara serak. Rita menoleh kaget. Dia memukul pelan lengan Citra yang melingkar erat di pinggangnya.
"Kamu mau bikin mama jantungan?" protes Rita kesal.
Anak yang sudah dia rawat hingga tumbuh menjadi wanita tangguh ini hanya tersenyum dan semakin mempererat pelukannya. Dia membiarkan Citra seperti itu untuk beberapa saat. Sejak ia bertugas di Manggala, mereka sama sekali tidak memiliki waktu untuk bercengkrama.
"Sampai kapan kamu mau terus sendirian, Nak?" tanya Rita sembari memegang putri kesayangannya itu.
Air muka Citra berubah masam. Ia sudah menduga ke arah mana percakapan mamanya itu. Pasti akan ada pembahasan mengenai pernikahan. Mengingat usianya yang sudah hampir masuk 37 tahun itu.
"Citra ... kodrat wanita itu ...."
"Ma, aku ada apel pagi, aku siap-siap dulu ya, Ma," potong Citra. Ia cepat-cepat masuk ke kamar mandi tanpa memperdulikan teriakan mamanya.
Alhasil Rita hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak perempuannya itu. Selesai mandi, Citra siap-siap untuk ke kantor. Apalagi sekarang sudah pukul tujuh, dia bisa terlambat untuk apel pagi. Ketika hendak sarapan, ia bertabrakan dengan Christian.
"Kamu nginep di sini!?" tanya Citra tidak terima. Belum sempat Christian menjawab, Citra sudah mendengus dan meninggalkannya ke ruang makan.
"Ma! Kenapa laki-laki itu menginap di rumah ini? Apa nanti yang tetangga katakan?" rajuk Citra kesal. Mamanya hanya tersenyum, Pak Adi mengelus kepala putri angkatnya itu.
"Christian menginap di hotel. Hanya saja, papa suruh dia datang untuk sarapan bersama," jawab Pak Adi.
"Tetap saja, kenapa harus ada laki-laki ini di dalam rumahku!" Sisi keras Citra tidak pernah terlihat jika di hadapan kedua orang tuanya. Kecuali mereka sedang memperdebatkan masalah perbedaan prinsip hidup.
Tanpa banyak bicara, Citra mengambil sepotong roti dan pergi sambil menggigitnya. Ia bahkan tidak berpamitan dengan kedua orang tuanya.
Dalam perjalanan ia menggerutu sendiri. Kasus gelandangan kemarin, pagi ini Pak Warsita menyuruhnya untuk melaporkan sebagai kasus bunuh diri.
Toh, ia tidak memiliki sanak keluarga yang akan meminta kasusnya diusut, lalu semalam orang tuanya membawa laki-laki untuk dikenalkan pada dia. Citra menginjak pedal gas dalam-dalam dan melajukan mobilnya dengan sedikit ngebut, tidak seperti Citra yang biasanya. Suasana hati wanita ini sedang buruk.
Ponsel yang terjepit di dasboard depan itu bergetar. Sebuah nomer tak dikenal muncul di layar.
"Halo ...."
"Komandan, ada mayat gelandangan yang ditemukan lagi tergantung. Kali ini di toilet umum dekat pasar yang sedang di renovasi!" Suara Haris terdengar dari sambungan telepon.
"Share lokasinya!" perintahnya.
__ADS_1
Sambungan telepon itu terputus dan sebuah lokasi dikirim oleh Haris dari pesan.
Citra memutar arah mobilnya menuju lokasi yang dikirimkan tadi. Ia menyalakan lampu strobo-nya untuk mempermudah ia melewati jalanan yang mulai padat karena jam kerja.
Mobilnya berhenti di depan sebuah bangunan yang masih di renovasi dan sudah dikerumuni warga. Citra langsung masuk ke dalam toilet umum tersebut dengan menerobos garis kuning polisi yang sudah terpasang di sana.
"Lapor, Ndan! Korban seorang wanita, seorang gelandangan tanpa identitas!" Jaka melaporkan kepada Citra.
"Digantung setelah tewas. Ia tewas di tenggelamkan, sepertinya di bak itu dan apa kamu tahu? Tangannya mungkin dipotong dalam keadaan hidup," jelas Rianti muncul dari belakang jasad itu.
Dia mencubit lengan Citra. "Bara benar, kamu itu seperti membawa kutukan kematian!" gerutunya.
Citra mencebik. Ia mendekati wanita tua malang yang tergantung tak bernyawa tersebut, kali ini ia digantung bukan pada bagian leher. Namun, tangan yang sudah dipotong itu diikat naik ke atas.
"Waktu kematian sekitar tengah malam tadi," ujar Rianti.
Citra mengerutkan dahinya. Lagi-lagi korbannya adalah seorang gelandangan. Apakah Pak Kepala masih akan menyuruhku menutup kasus ini? Sudah dua korban yang jatuh.
"Ndan! Apa ini kasus pembunuhan berantai?" tanya Jaka.
"Karena tali ini, jenisnya sama dengan tali yang digunakan untuk menggantung pengemis tua kemarin. Mustahil jika itu adalah sebuah kebetulan." Haris menimpali pertanyaan Jaka.
Rianti menatap Citra. "Apa ini? Kamu membawa kutukan kasus pembunuhan berantai lagi?" sindir Rianti sarkas.
Dia menyerahkan TKP kepada forensik dan Jaka. Citra terpaksa mengajak Haris untuk kembali ke kawasan kumuh rumah kardus kemarin. Entah kenapa ia memiliki firasat bahwa wanita itu adalah Bu Maryam.
Mobilnya berhenti di ujung jalan masuk pemukiman kumuh itu.
"Kenapa kita ke sini lagi komandan?" tanya Haris heran.
Citra melirik galak ke arah Haris, ia berjalan dengan cepat menyusuri jalanan yang becek dan penuh dengan sampah. Haris berusaha mengimbangi langkah komandannya sambil menutup hidung dengan masker, karena bau busuk sampah yang menyengat di sana.
Kawasan itu lebih sunyi dari kemarin, hanya ada beberapa orang yang mengais sampah sembari sesekali melirik mereka dengan lirikan waspada.
Citra menghampiri salah satu pria setengah baya yang sedang mengais sampah itu. Ia menunjukkan foto wanita yang ditemukan di toilet umum itu, pria tersebut hanya menggeleng tidak tahu. Begitu juga para gelandangan lain yang ia tanyai.
"Aku baru melihat mereka di sini, aku akan mencari anak kecil yang bernama Anto. Dia pasti tahu wanita ini siapa, kamu terus cari informasi ke orang-orang yang kamu temui di sini! Dan satu hal lagi, tolong bersikaplah lebih ramah, mereka juga manusia seperti kita, hanya saja hidup mereka kurang beruntung!" perintah Citra pada Haris.
Ia lalu meninggalkan Haris dan pergi menyusuri seluruh kawasan itu untuk mencari Anto, tapi nihil. Ia bahkan tidak menemukan orang-orang yang ia temui di sini kemarin, rumah-rumah kardus mereka sudah kosong.
...----------------...
Anto berjalan dengan riang memasuki kawasan pemukiman kumuh itu dengan sekantong burger di tangannya. Dia bermaksud untuk memakannya nanti bersama nenek Maryam. Sesampainya di sana, ia melihat beberapa orang sedang menggiring penghuni kawasan ini menuju ujung jalan yang berlawanan dengan mobil para polisi tadi.
Diam-diam bocah itu berbalik agar tidak ketahuan, ia berjalan secepat mungkin untuk mencapai mobil para polisi itu. Namun ....
__ADS_1
"Kamu mau ke mana anak kecil!?" sergah seorang pria yang menggunakan baju serba hitam dan memakai topeng.
Anto mundur beberapa langkah, mobil kakak polisi tadi sudah terlihat. Akan tetapi, tubuh mungilnya kalah dengan pria yang tadi menghadangnya. Pria itu membekap Anto kemudian membawanya pergi bersama gelandangan lain menuju sebuah mobil box yang bertuliskan Healthy Frozen Food.
Di dalam kontainer mobil itu mereka dibawa ke suatu tempat. Setelah sampai, mereka masing-masing diikat tangannya dan ditutup matanya, kemudian digiring untuk berjalan ke sebuah tempat. Tanpa terkecuali beberapa bocah termasuk Anto.
Mereka kemudian di kurung di sebuah kontainer besar yang sudah pasti sangat pengap. Karena berisi puluhan gelandangan yang tidur bertumpuk dan berjejer seperti sampah.
"Anto, kenapa kamu bisa dibawa, Nak?" desis seorang wanita dengan suara lemah, yang tidak lain adalah ibu Maryam.
"Nenek, Nek Maryam kenapa di sini?" bisik Anto.
Jari telunjuk Bu Maryam menempel di bibirnya. "Jangan banyak bicara, nanti kamu disiksa seperti anak itu!" bisiknya sambil menunjuk seorang anak yang tertidur dengan luka di sekujur tubuhnya.
Bocah itu menurut dan diam, tapi ia terus memandang sekeliling tempat itu. Berharap ada celah untuk kabur. Seperti mengerti pemikiran Anto, Bu Maryam membisikkan sesuatu pada si bocah.
"Kamu pura-pura sakit perut. Nanti nenek bantu kamu kabur dari sini, setelah itu lari yang jauh dan cari bantuan!" bisik Bu Maryam dan Anto pun mengangguk.
"Aargghh! Pe—perutku, aduhh!" Anto mengerang sambil memegangi perutnya.
Bu Maryam menggedor-gedor pintu kontainer itu dari dalam. Ia tahu penjaga di luar pintu itu hanya ada dua orang.
Penjaga itu masuk. "Kenapa kalian berisik!?" hardiknya.
"Ma—maaf a—nak itu perutnya sakit," ujar Bu Maryam terbata-bata sambil menunjuk ke arah Anto.
"Dasar sampah! Merepotkan saja!" Dia menarik baju Anto dan menyeretnya keluar. Mereka membawa bocah tersebut ke sebuah bangunan yang terletak tidak jauh dari kontainer tadi.
"Kalau saja kamu orang dewasa, bos besar pasti sudah memburu mu seperti hewan buruan!" bentak penjaga yang membawanya ke sana.
Ternyata bangunan itu seperti sebuah klinik. Baru saja ia masuk, aroma obat-obatan menyeruak dalam rongga hidung Anto. Ia masih pura-pura kesakitan, Anto pun di suruh berbaring di sebuah ranjang.
Bangunan tersebut terbuat dari bekas kontainer juga. Hanya saja, yang membedakan adalah bangunan itu memiliki jendela yang sudah di pasangi teralis.
Malam itu, ia melihat beberapa penjaga menggiring seorang wanita. Anto mengenali baju yang dikenakan wanita tersebut.
"Nenek Maryam ...." gumamnya sambil menatap Bu Maryam dari balik jendela. Setelah itu ia tidak tahu lagi apa yang terjadi dengan Bu Maryam.
Citra mencari tahu kemana penduduk rumah kardus itu. Bantaran kali Antara ini ternyata akan di bongkar dan didirikan sebuah apartemen mewah di atasnya. Lantas kemana mereka mengungsikan Anto dan gelandangan lainnya?
Pencariannya tidak membuahkan hasil. Anto masih tidak ditemukan.
...****************...
Bersambung...
__ADS_1