The Murderer

The Murderer
BAB 48 - Evelyn yang Misterius


__ADS_3

Belum habis duka kehilangan Anto kemarin, hari ini Citra mendapat badai yang memporak porandakan hidupnya. Telepon dari kepolisian Medan, mengabarkan jika kedua orang tuanya ditemukan tewas dengan luka tembak di kepala mereka.


Citra pun segera terbang ke Medan untuk melihat jasad kedua orang tua angkatnya. Dia tidak mengerti siapa yang membunuh dan apa sebab mereka terbunuh. Selama ini, setahu dia papa dan mamanya tidak pernah berbuat jahat pada orang lain.


Taksi online itu berhenti di depan rumah yang cukup besar, di sana garis polisi sudah malang-melintang mengelilingi rumah tersebut. Citra mengangkat naik garis kuning itu dan menerobos masuk ke dalam.


“Apa yang sedang kau lakukan di sini?” Dito, mantan rekan satu divisinya dulu, terkejut melihat dia ada di situ.


“Di mana jasad orang tuaku!?” Citra sedikit emosi karena seolah-olah kehadirannya mengganggu para polisi itu.


Dito merasa bersalah dengan pertanyaannya. Polisi berwajah bulat dengan postur tubuh lebih mirip binaragawan itu menunjuk ke arah petugas berbaju putih dari forensik. Mereka nampak serius mengolah TKP, itu karena Adi Hutabarat termasuk salah satu petinggi TNI di Medan.


Karena tidak sabar dengan kinerja mereka yang lambat di matanya, Citra pun kemudian memutuskan untuk ikut mengolah TKP. Ikut campurnya Citra ditentang keras oleh Dito, karena menurut pria itu, bisa membuat penyelidikan kacau.


Merasakan kejanggalan tentang kematian papa dan mamanya, Citra menghubungi Pak Warsita agar memberi dia izin untuk ikut menyelidiki peristiwa ini. Entah kenapa, dia yakin jika kasus ini berhubungan erat dengan kasus para tunawisma itu.


Setelah melalui perdebatan yang sengit, atasannya itu pun memberi izin Citra bergabung di sana selama satu minggu. Di sela-sela ia menyisir rumah orang tuanya, suara mobil berhenti terdengar di luar kemudian di susul dengan keributan kecil. Karena penasaran, Citra pun keluar.


“Tante Evelyn?” Citra heran melihat mama Christian itu ada di sini, dia seperti sudah bersiap-siap menghadiri pemakaman dengan busana serba hitam.


Sorot mata wanita itu menyiratkan kesedihan yang mendalam. Dia masih berusaha menerobos garis polisi tersebut. ”Citra, siapa yang tega melakukan ini pada papa dan mama kamu?” ratapnya.


Ekor mata Citra melirik Evelyn dengan curiga, dia memang perfeksionis, tapi bukan seorang aktris. Sekilas senyum tipis bisa Citra lihat di sudut bibir wanita itu. Evelyn memeluknya.


Bibir tipis berpoleskan lipstik berwarna merah darah itu membisikkan sesuatu yang membuat Citra limbung. “Rahasia yang membuat seorang wanita menjadi menarik. Temukan rahasia tentang asal-usulmu dan mendiang saudara kembarmu.”


Citra mematung, terkejut jika Evelyn tahu tentang Raka. Hubungan dirinya dengan Raka sama sekali tidak tercium media, lantas kenapa Evelyn bisa mengetahui hal tersebut?


“Ah, ya. Papa kandungmu masih hidup.” Lagi-lagi sebuah kejutan dibisikkan oleh Evelyn padanya.

__ADS_1


Kaki Citra pun akhirnya tidak mampu berdiri tegak. Dia benar-benar lemas. Tubuhnya oleng dan pandangannya mulai menghitam, ia jatuh.


...----------------...


Mata Citra terasa silau, sekelilingnya penuh dengan suasana putih. Dia terbatuk-batuk hingga seseorang menyodorkan segelas air putih untuknya.


“Minum dulu!” Dito membantu Citra duduk di ranjangnya.


Citra meneguk air di dalam gelas itu sedikit demi sedikit. Dia memandang Dito dan bertanya, “Ke mana wanita tadi yang datang ke rumah orang tuaku?”


“Dokter Evelyn? Dia sudah pulang, tadi dia ikut mengantar dirimu ke sini,” tutur Dito sembari meletakkan gelas tadi di atas nakas.


“Selidiki orang itu, dia pasti tahu tentang kematian orang tuaku! Entah dia pelakunya atau dia kaki tangan pelaku.”


Dito mengernyitkan dahinya, “Apa perlu aku panggilkan dokter untukmu?” Terdengar jelas rasa cemas dalam nada bicara Dito.


Karena merasa tidak dihiraukan, Citra menarik paksa jarum infus yang menempel di pergelangan tangannya dan nekat untuk berusaha pergi. Dito menahan mantan rekan satu divisinya dulu itu. Akan jadi masalah besar, jika dia sampai mencari keributan dengan dokter ternama tersebut.


“Kasus ini akan kacau jika kau mencari masalah dengannya. Izin untuk kau bergabung dalam penyelidikan ini pasti dicabut,” imbuh Dito mengingatkan posisi Citra saat ini.


Akhirnya Citra mengalah, dia duduk kembali di tepian ranjang dengan perasaan kesal. Dia meninju matras tak bersalah itu, saat ini perasaan Citra sedang kacau balau. Bagaimana jika Evelyn melarikan diri? Tentang papa kandungku, dia tahu tentang pria yang selama ini Papa Adi dan Mama Rita tidak pernah ceritakan padaku, batin Citra berperang tentang Evelyn dan rasa penasaran pada sosok papa kandungnya.


Ponsel Citra bergetar, notifikasi pesan dari Haris muncul di layarnya.


Haris : Hasil autopsi Anto sudah keluar.


Citra : Bagaimana hasilnya?


Haris : Anto mati dicekik sebelum digantung, tidak ada tanda-tanda lain.

__ADS_1


Haris : Sepertinya dia sendiri yang membukakan pintu sang pelaku, Komandan.


Pesan singkat terakhir Haris membuat tanda tanya besar dalam benak Citra. Itu artinya, Anto mengenal orang tersebut. Apa itu Christian?


Citra menerawang memandang langit-langit bangsal IGD, begitu banyak tanda tanya tentang rahasia hidupnya yang bahkan dia sendiri tidak pernah tahu. Siapa sebenarnya orang yang disebut Evelyn itu sebagai papa kandungnya?


Melihat kondisi Citra yang sudah stabil, dokter pun memperbolehkan dia pulang. Tanpa menunda waktu lagi, Citra meminta Dito mengantar dirinya ke rumah Evelyn.


Rumah megah di kawasan perumahan elite kota Medan itu terlihat lengang. Land cruiser Dito hanya bisa berhenti di depan gerbang rumah tersebut. Gerbang tinggi itu terkunci dengan rantai dan gembok besar, seolah mengisyaratkan tidak ada satu pun penghuni yang tinggal di dalam.


Lingkungan perumahan elite adalah tempat yang paling Citra benci untuk melakukan penyelidikan. Karena warga di kawasan seperti ini biasanya tidak saling mengenal meskipun bertetangga dekat. Satu-satunya sumber informasi harapan mereka adalah asisten rumah tangga di sebelah rumah Evelyn.


Dito mencoba menekan interkom rumah tetangga Evelyn, tapi tidak mendapat respon. Hal ini membuat Citra sangat marah.


“Aku bilang juga apa! Kalau kau mendengar permintaanku, kita tidak akan kehilangan jejak seperti ini!” Citra berteriak pada Dito dengan marah, dia memukul pintu mobil dan membuat pria ini sangat terkejut.


“Kau pikir semudah itu menyentuh Dokter Evelyn? Dia terkenal bersih dan tanpa cela di mata masyarakat. Jika kita membuat masalah dengannya tanpa bukti, akan menjadi bumerang untuk kepolisian!” Dito menyanggah tegas ucapan penuh amarah Citra tadi.


Kata-kata Dito barusan, membuat Citra hanya bisa pasrah. Ucapannya memang benar, tanpa bukti, mereka sama saja menggali kuburan sendiri.


...----------------...


Kota Manggala.


Christian memarkir camri itu di tempat tersembunyi sebuah basemen gedung tua yang terlihat seperti bekas klinik. Dia cepat-cepat menutup mobilnya dan masuk ke dalam gedung gelap tersebut.


Langkah Christian sedikit diseret karena luka menganga bekas sayatan benda tajam di bagian pahanya. Darah di celananya pun sudah mengering, entah sudah berapa lama ia berkendara dengan luka yang sedemikian parah.


Dia duduk di lantai dan menyandarkan punggungnya pada dinding, kemudian membuka kotak P3K yang sempat dia ambil dari dalam mobil sebelum turun tadi. Perlahan dia mengucurkan cairan alkohol itu di atas lukanya yang menghadirkan sensasi perih.

__ADS_1


“Sial! Ternyata bajingan itu bekerja sama dengan kedua psikopat tersebut. Semoga, Dokter Hendrawan bisa selamat sampai mereka tertangkap,” lirih Christian sembari membalut lukanya dengan kain kasa dan mencoba memejamkan matanya sejenak.


...****************...


__ADS_2