The Murderer

The Murderer
BAB 32 - The Hanging Beggar (Revisi)


__ADS_3

Iptu Citra akhirnya kembali bertugas. Setelah tragedi yang terjadi beberapa waktu lalu. Ia memarkir rush miliknya di tempat biasa, tapi parkiran di samping mobilnya tidak lagi terisi avanza Faisal.


Iris hazel Citra melirik parkiran kosong tersebut, kemudian ia membenamkan sejenak wajahnya di kemudi mobil, berusaha menata perasaan.


Wanita yang dulu di kenal dengan potongan rambut pixie cut ini, sekarang sudah sedikit berubah karena rambut Citra sudah agak memanjang sehingga ia bisa mengikatnya sedikit ke belakang. Meskipun tanpa riasan, ia tetap saja seorang detektif yang cantik.


Citra turun dari mobil dan mulai melangkah masuk ke dalam kantor, beberapa petugas yang tanpa sengaja berpapasan dengannya sempat menyapa. Tidak dapat dipungkiri, jika kasus kemarin melambungkan nama tim Citra di kepolisian.


"Selamat datang kembali, Bu!" seru bawahannya serempak tepat ketika ia membuka pintu.


"Terima kasih." Seperti biasa Citra tetap bersikap tegas dan berwibawa, meskipun di dalam hatinya itu masih menyimpan kesedihan.


Dia melihat pita dan ucapan selamat datang yang sengaja mereka tempelkan untuk penyambutan dirinya, hal itu membuat kesedihan Citra sedikit memudar. Namun ketika dia memandang kursi Faisal yang kosong, dia kembali merasa hampa.


"Semoga kursi ini akan kosong selamanya," lirih Citra sembari memegang kursi Faisal.


Anak buah Citra pun kembali bekerja lagi, sebenarnya ia masih belum pulih benar. Andrian pun masih menyarankan dia untuk mengambil cuti dua sampai tiga hari lagi, tapi semakin ia berdiam diri, semakin kenangan dari tragedi itu menyiksanya. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia berharap tidak akan ada lagi kasus yang harus membuat rekan atau koleganya tewas.


Bukan hanya terapi fisik yang dijalani oleh Citra, ia pun rutin mengunjungi psikiater yang direkomendasikan oleh Rianti rekan kerja Bara, sekaligus resmi menggantikan Bara karena sedang cuti untuk sementara.


Kasus Pria Tangan Tuhan itu selalu membuatnya mengalami mimpi buruk yang berulang, terkadang ia merasa sedang melihat sosok Faisal menatapnya dengan sorot mata sedih dan sakit.


Suara ketukan pintu membuat lamunannya buyar.


"Masuk!" Citra mempersilahkan orang itu untuk masuk. Seorang petugas polisi masuk dengan membawa sebuah berkas.


"Lapor! Maaf bu, ini berkas anggota baru yang akan menggantikan posisi Ipda Faisal." Petugas itu melaporkan tentang petugas baru pengganti mendiang Faisal.


Raut wajah Citra berubah, ia tidak berharap bisa menggantikan Faisal secepat ini. "Letakkan saja di meja!"


"Siap! Saya permisi dulu, Bu."


Petugas tadi pun keluar dari ruang kerja Citra. Dengan enggan dia meraih map kuning yang ada di atas meja.


"Haris Bramantyo." Matanya terus membaca berkas berisi data diri calon anggota baru itu. Belum selesai ia membaca seluruh dokumen tersebut, sampai suara gemerisik handy talkie di meja mengusiknya.


"Telah ditemukan sesosok mayat yang tergantung di jalan Akasia! Perhatian pada seluruh unit! Sekali lagi! Telah ditemukan sesosok mayat tergantung di jalan Akasia!"


Citra meletakkan berkas yang belum selesai ia baca itu dan bergegas pergi ke TKP bersama beberapa anggotanya. Tak lama kemudian rush-nya bersama satu mobil van kepolisian sudah meluncur di jalanan kota Manggala.


Seperti biasa di TKP terbuka akan selalu ramai dengan kerumunan warga yang ingin tahu. Citra dan anggotanya akhirnya bisa menerobos kerumunan itu dan mereka terkesiap melihat pemandangan yang ada.


"Korban seorang pengemis tuna wisma. Identitasnya tidak di ketahui. Dugaan mati lemas karena tercekik, lantas kedua pergelangan tangannya hilang," jelas Rianti yang sudah lebih dulu ada di sana.


"Informasi lain?"


Rianti menggeleng. "Setelah autopsi mungkin kita akan dapat informasi tambahan."


Citra mendekat ke arah korban yang masih dalam posisi menggantung di dahan pohon itu. Ia memperhatikan tali yang digunakan untuk menggantung pengemis tuna wisma tersebut.


"Tali nylon berukuran sekitar 1,5 milimeter. Biasanya tali ini banyak digunakan oleh pemilik anjing pemburu," Citra bergumam dan menggaruk pelipisnya dengan bagian belakang pulpen sembari memandang Rianti.


"Yes, you are right!" Rianti membenarkan dengan semangat ucapan Citra barusan.

__ADS_1


"Tidak ada orang yang bisa membuat simpul tanpa kedua tangannya," imbuhnya.


Citra terus memperhatikan ketika jasad itu diturunkan.


"Bekas tali di lehernya yang membentuk lingkaran tidak terputus dan mendatar, lalu posisi jeratan yang pas terletak pada tengah leher. Tanpa adanya bekas perlawanan ada dua kemungkinan, pengemis ini dibius lalu di bunuh dengan cara menggantungnya begini, atau ...."


"Atau dia digantung setelah mati di bunuh?" sambung Citra.


Rianti menjentikkan jarinya. "Correct!"


"Lantas apa motif orang sampai membunuh pengemis tua seperti ini?"


"Pembersihan!" Suara seorang pria membuat Rianti dan Citra serempak menoleh ke arahnya.


Pria berwajah maskulin dengan dagu yang ditumbuhi jenggot halus itu berjongkok di samping Citra.


"Pembunuhnya seperti ingin melakukan pembersihan pada tuna wisma. Mungkin dia adalah orang yang sangat membenci gelandangan." Dia terus saja menyerocos tanpa mempedulikan kedua wanita yang sedang menatapnya dengan sorot mata kebingungan.


Citra dan Rianti saling bertukar pandang. Mungkin pertanyaan di benak mereka sama. Siapa pria yang tiba-tiba muncul ini?


"Tu—tunggu! Kamu siapa? Kenapa bisa masuk ke TKP!?"


"Siap! Perkenalkan saya Ipda Haris yang baru bertugas hari ini!" ujarnya sambil berdiri dan memberi hormat pada Citra.


Rianti menyikut lengan Citra. "Apa bawahan kamu selalu cakep-cakep seperti ini, Cit?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun pada Haris.


"Kamu yang menggantikan posisi Ipda Faisal?" tanya Citra dengan suara sedikit lirih.


"Siap! Saya komandan!" jawabnya bersemangat.


"Saya akan menyelidiki kasus ini sendiri. Kamu dan yang lain silahkan kembali ke kantor!" perintahnya pada Haris.


Namun yang orang yang ia ajak bicara masih serius mengamati jasad tuna wisma itu. Jarinya mengusap-usap dagu yang ditumbuhi jenggot halus itu.


"Ipda Haris!" tegur Citra kesal.


"Siap, Ndan!" jawab Haris terkejut.


"Kamu dan yang lain kembali saja dulu ke kantor. Saya akan menyisir tempat ini sendiri!" ia mengulangi perintahnya tadi.


Wajah Haris menyiratkan ketidaksetujuan atas perintah Citra.


"Ta—tapi, komandan—"


"Ini perintah!"


"Siap."


Citra melihat punggung Haris menjauh dari TKP. Langkah bawahannya itu terlihat sangat lesu, dirinya hanya benar-benar tidak ingin kejadian yang dulu terulang kembali.


----------------


Berita tentang penemuan jasad pengemis tanpa identitas itu mulai naik ke media cetak dan elektronik. Namun, karena yang tewas 'hanyalah' seorang pengemis, hanya segelintir orang saja yang perduli.

__ADS_1


Kaki Citra berjalan menyusuri terowongan yang terbengkalai yang dekat dengan jalan Akasia. Terowongan itu dulunya bekas proyek rel kereta api yang gagal.


Beberapa tuna wisma tampak tidur beralaskan kardus. Aroma di dalam terowongan itu sangatlah tidak sedap. Sama seperti aroma tempat pembuangan sampah.


Seorang tuna wisma yang bisa dikatakan masih muda namun berpenampilan lusuh, ia mendekati Citra. Mulutnya berbau alkohol.


"Beri saya sedikit uang!" bentaknya.


Citra tidak menghiraukan gelandangan itu. Ia terus menyusuri terowongan tanpa tahu apa yang dia cari di sini sebetulnya. Gelandangan tadi rupanya tidak terima karena tidak diacuhkan oleh Citra. Tangan hitam legamnya mencengkeram bahu wanita itu dari belakang.


Dengan sigap Citra berputar dan memelintir tangan gelandangan tadi ke belakang.


"Saya dari kepolisian, jika kamu tidak ingin ditangkap, jaga sikapmu!" perintah Citra.


Gelandangan itu pun surut. Setelah yakin lawannya menyerah, Citra melepaskan cengkeramannya.


"Kamu kenal bapak tua ini?" tanya Citra menunjukkan foto jasad pengemis tua kemarin.


Matanya menyipit. Ia sejurus kemudian menggeleng. Lalu menunjuk seorang gelandangan tua di sudut terowongan.


"Coba tanya sama pak tua yang di sana!" katanya dengan nada sedikit ketus.


Citra pun menuju arah yang ditunjuk oleh gelandangan tadi. Setibanya di ujung terowongan, ia melihat seorang bapak tua dengan baju compang-camping sedang duduk bersandar sembari menghisap rokok yang hanya tinggal setengah batang.


Dengan hati-hati Citra menyapa pria tua tersebut, "Selamat siang."


Pak tua itu hanya melirik dia sekilas, kemudian kembali asyik dengan rokoknya.


"Maaf, saya ingin bertanya mengenai orang ini, apakah Anda mengenalnya?" tanya Citra langsung tanpa menunggu respon bapak tua itu.


Lagi-lagi dia tidak mengacuhkan Citra. Ia terus saja menghisap rokoknya yang sudah benar-benar hampir habis.


Melihat reaksi pak tua itu, Citra dengan tenang mengeluarkan sebungkus rokok yang sudah dia hisap beberapa batang dan diberikannya kepada bapak tua tadi.


Melihat rokok dengan merk yang tidak mungkin bisa ia beli, pak tua itu langsung mengambilnya.


"Coba aku lihat foto tadi," pintanya sembari menyulut gulungan nikotin itu. Dahinya mengkerut, semakin menambah keriput di wajahnya saat melihat foto yang disodorkan oleh Citra. Ia seperti berpikir keras.


"Ini Pak Tua Flyover. Kami memanggilnya seperti itu, karena dia lebih sering berada di terowongan flyover untuk mengemis," jawabnya dengan yakin.


"Keluarganya?"


Bapak tua ini terkekeh sampai batuk-batuk. "Kamu mau menghina kami, nyonya? Apakah orang seperti kami ini terlihat memiliki keluarga?" Nada sinis terdengar jelas dari pertanyaannya.


"Kami hidup dari sampah, makan dari sampah, kalau bukan mati diburu, dibunuh, kami pasti akan mati kelaparan ..." lanjut Pak tua itu dengan kalimat sarkas juga menohok.


Ia seolah menyalahkan pemerintah yang sering menganggap masyarakat miskin itu adalah sampah. Apalagi para kaum elit.


"Kenapa pak tua itu gantung diri?" Pak tua ini bertanya penasaran, dengan tatapan mengambang.


Citra hanya tersenyum. Dia lalu berpamitan setelah memberi selembar uang lima puluh ribuan untuk pak tua itu.


"Coba kau cari wanita tua bernama Maryam di flyover! Dia seorang penjual koran! Mungkin dia tahu tentang pak tua itu!" teriak gelandangan tua itu ketika Citra sudah agak jauh darinya.

__ADS_1


"Maryam, loper koran,flyover," gumam Citra sambil mencatat di sebuah agenda kecil milik Faisal.


Bersambung....


__ADS_2