The Murderer

The Murderer
BAB 51 - Twins


__ADS_3

Penyelidikan tentang kasus pembunuhan orang tua angkatnya mulai dilaksanakan. Satu per satu orang yang dekat dengan dia mati, hal tersebut membuat Citra merasa trauma dan paranoid.


Matanya melirik Dito yang sedang mengemudi, dia takut jika pria baik ini ikut terluka karena terlibat dengannya. Haris, Bara, Rianti, Jaka, siapa lagi yang akan pelaku bunuh?


Kasus tunawisma itupun belum selesai dan sekarang dia harus dihadapkan dengan kematian kedua orang tuanya. Rekaman cctv di dalam rumah mereka rusak, itu membuat Citra heran. Papa angkatnya itu termasuk orang yang disiplin, jika tahu cctv-nya rusak, maka dia akan segera memanggil tukang servis untuk memperbaiki.


“Rekaman cctv terakhir, dua orang berbaju hitam masuk ke dalam rumahmu.” Dito menyodorkan beberapa lembar foto hasil rekaman kamera pengintai yang terpasang di depan pintu rumahnya.


“Pak Adi itu ... bukannya mendiang papamu orang yang sangat disiplin?” tanya Dito kemudian. Citra hanya mengangguk tipis.


“Lantas, kenapa beliau membiarkan cctv bagian dalam rumah kalian rusak?” Pertanyaan yang dilontarkan Dito adalah pertanyaan yang juga sedang berkecamuk di dalam pikiran Citra.


Mereka menelusuri jejak Adi Hutabarat dan Rita sebelum mereka tewas mengenaskan. Semua petunjuk yang ada sangat samar, tapi satu yang pasti petunjuk-petunjuk itu berporos pada satu nama yaitu Evelyn.


Hanya saja, orang yang memegang kunci jawaban atas pertanyaan di dalam kepala mereka itu, hilang bagai ditelan bumi. Begitu pula untuk kasus pembunuhan tunawisma di Manggala, pasti Evelyn juga terlibat di dalamnya.


Mobil Dito berhenti di depan bangunan rumah sakit swasta G. “Ini salah satu rumah sakit tempat Dokter Evelyn praktek,” ujarnya sembari melepas seat belt-nya.


Dia mengekor di belakang Dito, sejak dulu pria ini memang selalu bisa diandalkan. Pembawaannya tenang, tapi selalu cekatan dalam menyelidiki kasus, Dito adalah satu-satunya yang bisa mengerti Citra.


Lobby rumah sakit itu cukup ramai, Dito menuju ke bagian informasi untuk menanyakan jadwal praktek Dokter Evelyn. Seorang perempuan muda yang mengenakan seragam hijau itu tersenyum pada mereka.


“Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?”


Dito mengeluarkan lencana polisinya. “Kami ingin mengetahui apakah hari ini ada jadwal praktek Dokter Evelyn?”


Raut wajah petugas informasi berubah menjadi bingung. “Dokter Evelyn sudah lama resign dari rumah sakit ini. Mungkin sekitar satu bulan yang lalu.”


Penjelasan bagian informasi itu membuat Citra dan Dito saling bertukar pandang. Satu-satunya tempat yang mereka harap bisa menemukan Evelyn menjadi pupus. Akhirnya, mereka berdua pun kembali ke kantor dengan tangan kosong.


Mereka berusaha mencari jejak digital Evelyn, mencari sosial media milik wanita tersebut, berharap bisa menemukan orang yang dekat dengannya. Evelyn benar-benar seperti hantu, dia tidak memiliki akun sosial media sama sekali.


“Penyelidikan kita mengalami jalan buntu, lagi dan lagi.” Citra mengeluh dengan nada putus asa.


“Ini baru hari kedua, ke mana semangat seorang Citra?”

__ADS_1


“Aku ....”


“Iptu Dito! Ke ruangan saya sekarang!” Suara keras Komandan Norman membuat Citra tidak meneruskan ucapannya.


Dito dan Citra serempak memberi hormat pada kepala divisi reskrim Mandalanusa itu. Dengan memberi sedikit isyarat pada Citra, Dito pun mengikuti langkah komandannya.


Merasa curiga dan tahu tabiat Komandan Norman, Citra pun mengekor diam-diam di belakang mereka. Beruntung karena pintu ruangan itu tidak tertutup rapat, sehingga suara dari dalam bisa terdengar samar di luar.


“Kenapa kau malah membantu Citra menyelidiki Dokter Evelyn!? Kau tahu sedang berurusan dengan siapa, 'kan?” Nada suara Komandan Norman langsung meninggi pada Dito yang hanya bisa tertunduk.


“Pimpinan sudah memutuskan kasus ini adalah pembunuhan dan bunuh diri. Mendiang Pak Adi membunuh istrinya kemu ....”


Citra merangsek masuk mendengar ucapan dari komandan Dito yang tidak masuk akal itu. “Omong kosong apa ini!”


“Apa Komandan akan menutup kasus pembunuhan orang tuaku ini seperti dulu menutup kasus tunawisma itu!? Ingat! Orang tua saya bukan orang semacam itu!” Citra tanpa sadar meneriaki polisi yang pangkatnya lebih tinggi daripada dia.


“Jaga sikapmu, Iptu Citra!” Komandan Norman balik meneriaki Citra karena tersinggung saat tahu ternyata dia sedang mencuri dengar percakapan mereka.


“Berapa banyak?” Kali ini Citra tidak mampu mengendalikan diri. Dia menyindir sarkas mantan atasannya itu.


Komandan Norman mengerti arah pertanyaan Citra hal itu membuat pria ini benar-benar naik pitam. Ia menggebrak meja dan matanya menatap nanar ke arah Citra.


“Komandan, ka—kami permisi dulu.” Dengan cepat Dito menarik Citra keluar dari ruangan Komandan Norman.


Setengah menyeret wanita keras kepala ini, Dito mengomel. “Kau pikir kau sedang berada di mana? Apa kau sudah gila?”


Citra menepis cengkeraman tangan Dito dan mendengus kesal. Dia sudah menduga, kecurigaannya terhadap korupsi mantan komandannya itu semakin kuat. Siapa sebenarnya sosok Evelyn? Batin Citra bertanya-tanya.


...----------------...


Dua hari sebelum jasad Christian alias Gerald ditemukan.


“Halo ... kenapa kau tahu hal ini?” Bara mengetuk-ngetuk mejanya dengan ujung pulpen. Entah dia sedang menghubungi siapa sehingga wajahnya terlihat begitu serius.


“Hmmm, hasilnya cocok. Bisa kita bertemu lusa? Aku juga butuh penjelasanmu tentang hal ini.”

__ADS_1


Percakapan telepon itu pun berakhir, Bara memandangi layar ponselnya dengan tatapan kosong. Rangkaian huruf yang membentuk nama Christian berulang kali ia baca.


Tangan Bara meraih amplop coklat yang sedari tadi tergeletak di meja. Amplop itu berisi informasi yang mampu membuat dirinya terkejut.


Christian tiba-tiba muncul di ruangan Bara. Jaksa itu meminta hal yang aneh, dengan menyerahkan beberapa helai rambut, juga sikat gigi bekas.


“Ini milik Citra,” ujarnya saat menyodorkan sikat gigi bekas yang ia bawa.


“Ini milik papaku, Darius.” Kali ini dia menyorong beberapa helai rambut yang terbungkus plastik kecil.


Bara menaikkan alisnya tidak mengerti. “What for?”


Terlihat jaksa itu menarik napas panjang, dia seperti ragu untuk menjelaskan maksud dan tujuannya menemui Bara. Manik mata Bara menatap lekat pada Christian, dia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dan menyilangkan kedua tangan di dada, menunggu penjelasan orang ini.


“Tolong, cocokkan DNA mereka berdua!” pinta Christian pada Bara.


Hari ini hasil tes yang diminta Christian sudah keluar dan ketika Bara membaca hasil tersebut, dia sangat terkejut. Sebenarnya dia akan menyerahkan dokumen ini segera pada jaksa itu, tapi dia masih harus mengerjakan sesuatu.


Tanpa Bara sadari, menunda untuk memberikan hasil tes DNA tersebut pada Christian, akan membuat pria itu celaka.


...----------------...


Sebuah villa di pegunungan Mandalanusa.


Pria dengan baju serba hitam dan terbuat dari bahan kulit sintetis itu melangkah masuk ke dalam villa yang bisa dikatakan mewah tersebut. Di dalam ruang tamu, duduk seorang wanita serta seorang pria paruh baya dan juga pria muda dengan luka bakar di wajahnya.


Wanita tersebut tersenyum, sedangkan pria paruh baya itu hanya duduk diam dan mematung. Pria berbaju hitam-hitam itu melemparkan amplop coklat yang ia bawa ke meja.


“Kerja bagus.” Wanita itu mengambil amplop coklat berisi dokumen hasil tes DNA Citra dan Darius.


Setumpuk uang kertas pecahan seratus ribuan, diserahkan pria muda tadi untuknya. Dia melepas masker yang menutupi wajahnya.


“Itu upah atas kerjamu yang bagus, Adi. Sayangnya Rita dan Yudi, saudara kembarmu sudah tiada, jujur saja, aku baru bertemu dengan orang sekejam dirimu. Mampu mengorbankan istri dan saudara kembar sendiri hanya untukku.”


Evelyn membelai wajah Adi Hutabarat dengan tangannya yang halus.

__ADS_1


“Aku tidak bisa membayangkan, betapa terkejutnya Citra ketika mendapati kenyataan jika papa yang sangat ia hormati adalah sang pemburu tunawisma yang ia cari selama ini.”


...****************...


__ADS_2