
Siang itu, Citra langsung melanjutkan penyelidikan ke terowongan flyover. Seperti informasi pak tua yang ia temui di terowongan bekas proyek rel kereta api tadi.
Panas terik matahari membuat dia agak kesulitan, bahkan penyejuk udara di mobil pun tidak mampu membantunya. Apalagi lalu lintas saat itu sangat padat. Dia memilih memarkir mobilnya di sebuah gedung perkantoran yang tak jauh dari sana, kemudian ia berjalan untuk menyusuri trotoar di sepanjang flyover itu.
Hatinya begitu teriris ketika melihat anak-anak kecil yang tertidur pulas di atas trotoar tanpa alas apapun. Mereka memegang kecrekan sederhana terbuat dari kayu dan tutup botol yang dipipihkan.
Seorang perempuan muda terlihat baru saja duduk di bibir trotoar dan matanya tampak menerawang jauh, entah apa yang sedang ia pikirkan. Citra mendekati perempuan muda tersebut dan ikut duduk di sampingnya.
"Selamat siang." Citra menyapanya sambil menyunggingkan segaris senyum hangat.
"Se—selamat siang," jawabnya. Terlihat dia sedikit terkejut karena ternyata ada orang yang duduk di sampingnya.
"Kenalkan, saya Iptu Citra dari kepolisian. Nama kamu siapa?"
Raut wajah perempuan itu berubah ketakutan saat mengetahui yang duduk di sampingnya adalah seorang polisi. Dia bergeser beberapa jengkal dari samping Citra.
"I—Intan," jawabnya sedikit gugup.
"Tenang, saya hanya ingin menanyakan beberapa hal." Citra berusaha menetralisir rasa takut yang tampak di wajah perempuan muda itu.
Dia kembali bergeser ke tempat semula dia duduk setelah yakin tidak ada ancaman dari Citra. Mereka terperangkap dalam kesunyian di tengah bisingnya suara lalu lalang kendaraan.
Citra pun akhirnya mengeluarkan foto jasad gelandangan tua kemarin dan menunjukkan kepada perempuan bernama Intan itu.
"Kamu kenal bapak tua ini?"
Iris matanya yang berwarna coklat susu itu membulat. Ia serta merta menutup mulutnya. "Pak Narto!" pekiknya pelan.
Alis Citra naik sebelah. "Kamu mengenalnya?"
Intan mengangguk. Ia menahan buliran bening yang sudah menggenang di pelupuk matanya. "Pak tua ini namanya Pak Narto. Dia sering tidur di trotoar sebelah sana kalau malam, orangnya baik. Pak Narto sering bercerita tentang anak-anaknya."
"Anak-anaknya?"
Perempuan itu mengangguk samar.
"Dia sering bercerita tentang anak-anaknya yang sudah sukses sekarang. Anak laki-lakinya itu seorang nahkoda kapal pesiar, lalu kedua anak perempuannya sudah menikah dengan pengusaha kaya," jelas Intan, matanya terlihat sangat kehilangan sosok yang bernama Pak Narto itu.
"Lantas kenapa Pak Narto jadi gelandangan?" Citra masih tidak bisa menalar penjelasan Intan.
__ADS_1
"Karena dia meninggalkan keluarganya untuk wanita lain yang ternyata hanya menipu, juga memanfaatkan uangnya saja. Sampai ketika ia bangkrut, istri mudanya pun pergi meninggalkannya dan menendangnya ke jalanan. Begitu dia selalu menceritakan kehidupannya pada kami."
Mendengar penjelasan Intan, Citra merasa kehilangan kata juga kehilangan petunjuk. Jika memang Pak Narto sebaik itu, lantas siapa yang membunuhnya?
"Ternyata Pak Narto adalah gelandangan yang disebut-sebut dalam berita." Intan sepertinya sangat kehilangan Pak Narto.
"Apa selama ini ada yang aneh dari Pak Narto? Atau ada yang membenci Pak Narto?" tanya Citra lagi.
Intan mengernyitkan dahi sehingga kedua alisnya yang tebal itu nyaris menyatu. Perempuan ini tidak cocok hidup di jalanan. Wajah Intan sebenarnya cantik, hanya saja tidak terawat.
"Saya tidak tahu apa ini bisa disebut aneh atau tidak. Beberapa hari sebelum dia menghilang, Pak Narto mengatakan pada kami, kalau dia akan segera memiliki uang yang banyak. Jika itu terjadi, ia akan membeli rumah yang cukup besar untuk menampung kami." Mata Intan berkaca-kaca saat dia menuturkan tentang cita-cita mendiang tunawisma itu.
"Uang? Dari mana?"
"Pak Narto tidak mengatakan apapun selain ada orang yang memberinya pekerjaan."
"Pekerjaan apa?"
Intan mengendikkan bahunya. "Coba Anda tanya dengan ibu Maryam, dia lebih dekat dengan Pak Narto."
"Di mana ibu itu?" Citra celingukan sejak tadi, tapi dia tidak menemukan wanita dengan ciri-ciri seperti yang gelandangan tua itu sebutkan.
Citra mencatat alamat ibu tersebut di dalam agenda kecilnya. Sesungguhnya, dia paling malas mencatat dalam buku, lebih praktis jika langsung dalam digital memo di ponsel. Akan tetapi, Faisal sering mengatakan kalau digital bisa hilang kapan saja karena virus, sedangkan catatan manual hanya akan hilang jika dibakar.
Rush hitam itu kembali meluncur menyusuri jalanan Manggala sampai ke pinggiran kota. Ada sebuah selokan besar bernama Kali Antara, di tepian kali itu banyak berdiri gubuk-gubuk liar yang sesungguhnya tidak layak huni.
Aroma busuk sampah dari kali itu membuat Citra refleks menaikkan maskernya. Beberapa pasang mata menyambut kedatangannya dengan Tatapan tidak ramah di lingkungan itu. Beberapa anak kecil pun lari ketika melihat Citra datang, sementara orang-orang dewasa ada yang cepat-cepat masuk ke dalam gubuk. Ada juga yang menatapnya dengan sorot mengancam.
Citra menahan seorang ibu yang terlihat akan menghindar. "Maaf, Bu! Saya hanya ingin mencari seseorang yang tinggal di sini."
Ibu tadi menoleh ke arahnya dengan pandangan tidak nyaman. "Apa ibu kenal dengan Bu Maryam?" tanya Citra.
Tidak ada jawaban, dia hanya menatap petugas polisi ini dari atas sampai bawah. Seakan Citra adalah ancaman yang harus dihindari.
"I—itu rumahnya, tapi dia tidak pulang sejak tadi malam, mungkin sedang berjualan di flyover," ujarnya gugup sambil menunjuk sebuah gubuk yang sangat reyot.
"Terima kasih banyak informasinya."
Citra mendekat ke arah gubuk yang ditunjuk oleh ibu tadi. Lingkungan ini sangat tidak sehat. Tidak ada air bersih, aroma busuk sampah yang tercium di tiap sudut.
__ADS_1
Sesekali ia melirik ke arah anak-anak yang bersembunyi ketakutan di belakang para orang tua. Mereka sangat kurus, sudah pasti asupan gizi yang mereka peroleh sangat kurang.
Pemerintah memang sibuk memperkaya diri mereka dan koloninya saja! Citra menggerutu dalam hati.
Ia tiba di depan gubuk yang tidak memiliki pintu itu. Bentuknya sangat tidak layak huni, hanya terbuat dari potongan-potongan kardus. Kiri-kanannya pun penuh tumpukan sampah. Gubuk itu jelas kosong.
"Kemana Bu Maryam?" Ia bertanya-tanya sendiri.
Ujung jaketnya terasa ditarik-tarik pelan dari belakang. Citra menoleh, seorang anak laki-laki yang sepertinya berusia lima tahun tampak memegang ujung jaket Citra. Ia menggigit-gigit kuku ibu jarinya.
"Kakak cari nenek Maryam?" tanya anak itu lugu.
Citra mengangguk.
"Tadi malam nenek Maryam pulang, tapi ... dia buru-buru pergi dan membawa beberapa barangnya," papar anak itu.
Mendengar penuturan lugu anak ini, Citra jadi tertarik. Ia berjongkok di depannya dan mengusap lembut kepala anak itu.
"Nama kamu siapa?" tanya Citra.
"Anto," jawabnya pendek.
Citra tersenyum. "Anto, kamu tahu nenek Maryam kemana?"
Ada tatapan ragu tersirat di dalam iris mata hitam sayu itu. Ia menunjuk arah seberang kali Antara.
"Dia ke sana lalu naik ke sebuah mobil box, bersama orang tinggi-besar." Suara Anto terdengar pelan, mungkin dia masih waspada dengan Citra.
Alis Citra bertaut mendengar penjelasan Anto, dalam benaknya berkecamuk beberapa pertanyaan, apakah itu sebuah penculikan? Ataukah Bu Maryam pergi dengan keinginannya sendiri?
"Terima kasih. Kamu anak pintar, di mAna orang tua kamu?" Anto tersenyum lebar, memamerkan giginya yang kuning karena tidak terawat.
"Sama-sama, Kak. Orang tua Anto tidak tahu kemana, Anto dirawat oleh orang-orang disini. Katanya mereka menemukan Anto di tumpukan sampah. Nanti kalau Anto besar, ingin jadi polisi juga seperti kakak!" serunya.
Desir haru menyeruak ke dalam hati Citra. Ia merasa sangat beruntung, tidak terlantar seperti Anto. Walau ia sempat dibesarkan di panti asuhan, kehilangan saudara kandungnya, kehilangan kakak angkatnya, tapi ia dihujani kasih sayang yang begitu banyak oleh orang tua angkatnya.
Citra meninggalkan kawasan kumuh itu dan kembali ke kantor untuk apel sore. Di dalam benaknya masih terbayang senyum ceria anak gelandangan bernama Anto tadi. Semoga anak itu tumbuh menjadi anak yang baik, doa Citra dalam hati untuk bocah manis itu.
...****************...
__ADS_1