The Murderer

The Murderer
BAB 36 - Misteri Kasus Pembunuhan Tunawisma (Revisi)


__ADS_3

Sampai hari ini, keberadaan bocah rumah kardus itu belum ditemukan oleh Citra. Dia seperti lenyap ditelan bumi, dan bukan hanya Anto, tapi beberapa penghuni kawasan kumuh itu juga ikut raib.


Citra mengetuk-ngetuk meja dengan pulpen, ia masih bingung dengan kasus para tunawisma ini. Belum terpecahkan tentang tewasnya kedua tunawisma kemarin, sekarang penduduk rumah kardus itu hilang.


Jenis tali yang dipakai menggantung kedua jasad kemarin sama persis, walau cara mereka digantung berbeda. Penyebab kematian mereka juga sama, lantas luka-luka yang ada di kaki mereka pun mirip, luka itu disebabkan oleh duri semak belukar.


"Komandan!" panggil Jaka. Suara Ipda Jaka itu membuat Citra tersentak.


"Ada apa, Jaka?"


"Siap! Ada tamu yang menunggu komandan di lobby depan," jawab Jaka.


Dahi Citra mengernyit heran, dia tidak sedang memiliki janji dengan siapa pun. Meskipun begitu, ia tetap menemuinya karena rasa penasaran. Betapa kagetnya Citra ketika tahu siapa yang ada di lobby dan sedang berdiri memunggunginya.


"Mau apa kamu ke sini!?" tanya Citra ketus.


Christian mengacungkan sebuah paper bag berwarna pink, membuat alis Citra naik sebelah. "Dari mama," ujarnya sembari mengulurkan benda yang dipegangnya itu.


Dengan kasar Citra mengambil paper bag tadi. Sejak kapan mamaku jadi mamanya! Ia menggerutu dalam hati.


"Tunggu apa lagi?"


Pria itu hanya tersenyum menanggapi sikap ketus Citra. "Jangan lupa makan siang kata mama," katanya.


"Tolong berhenti panggil mamaku seolah itu adalah mama kamu!" Dia tidak menanggapi kesewotan Citra dan tetap saja tersenyum kemudian pamit pergi.


Citra pun berjalan kembali ke ruangannya sembari menelpon mamanya. Kenapa harus pria itu yang disuruh mengantarkan makan siang untuknya.


"Ma, kenapa mama suruh laki-laki itu datang ke kantorku?" Citra memprotes ulah mamanya yang menyuruh Christian ke kantor.


"Kebetulan dia dalam perjalanan ke kantor barunya. Dia ditugaskan di kejaksaan Manggala," jelas Rita kepada Citra.


"Mama ...."


Beberapa orang yang ia lewati sibuk kasak-kusuk, Citra terkenal sebagai orang yang tegas. Baru kali ini mereka melihat sisi manja dari inspektur divisi satreskrim itu.


Dengan kasar ia membanting pintu ruang kerjanya. Haris dan Jaka saling memberi kode dengan dagu.


"Ternyata Iptu Citra punya sisi manis, ya?" bisik Haris.


"Sshhtt, mau kena damprat sama Iptu Citra kamu?" balas Jaka. Mereka tertawa bersama.

__ADS_1


Di dalam ruangan, Citra duduk termenung. Benak wanita berwajah oriental itu hanya berisi tentang Anto, Anto dan Anto. Kemana anak kecil itu hilang bersama penduduk kawasan kumuh yang lain?


"Haris, ikut saya!" perintah Citra pada Haris.


Dengan sigap pria ini berdiri dan memberi hormat pada komandannya, dan mengekor di belakang Citra dengan tatapan penuh tanya ke arah Jaka. Rekannya itu hanya mengendikkan bahu sambil tersenyum.


Haris, polisi berpangkat inspektur dua ini bisa dibilang tampan, wajahnya yang khas darah campuran, dengan alis tebal dan mata elang yang sayu. Baru beberapa hari bergabung di polres Manggala, sudah banyak polwan yang mengidolakannya.


Mereka berjalan beriringan, beberapa pasang mata menatap mereka dengan tatapan iri. Citra juga merupakan polwan idola di Polres ini, darah Indonesia-Cina membuat wajahnya khas oriental. Dengan hidung mancung yang mungil, bibir tipis yang hanya diberi pulasan lip balm saja tanpa riasan sedikit pun.


Citra selalu terlihat menarik meskipun hanya mengenakan t-shirt polos berwarna hitam dan di lapisi jaket dinasnya. Ia tidak memberikan kunci mobil kepada Haris seperti kemarin, Citra sedang ingin mengemudi sendiri.


"Pasang sabuk pengamanmu!" tegas Citra. Kakinya pun mulai menginjak pedal gas yang membuat mobil itu melaju meninggalkan pelataran parkir polres Manggala.


"Komandan, apa Anda tidak terlalu terobsesi dengan kasus ini?" tanya Haris pelan.


Citra tidak mengalihkan pandangannya. "Semua kasus itu sama pentingnya, jangan karena korban seorang tunawisma, pengemis, gelandangan atau orang miskin, lalu kita membiarkan begitu saja," sahut Citra.


"Sumpah kita ketika menjadi seorang abdi negara, bukankah untuk melayani masyarakat? Lantas masyarakat seperti apa yang harus kita layani ketika seorang tuna wisma jadi korban, kita harus tutup mata? Apakah kaum elit saja yang berhak di sebut masyarakat?" lanjut Citra dengan nada sinis.


Pria di sampingnya itu terdiam, dia tidak menyangka komandannya itu memiliki pemikiran idealis yang bijak. Haris kembali menatap lurus ke jalanan yang mulai terik oleh panas matahari. Rush milik Citra kembali parkir di ujung jalan masuk kawasan kumuh kali Antara.


Dia dan Haris turun. Mereka melihat beberapa mobil dan alat berat sudah berada di kawasan itu, pasti ini milik perusahaan Arthasena. Perusahaan keluarga mendiang Valentino yang juga menjadi korban kasus 'Pria Tangan Tuhan'.


"Saya juga tidak yakin apa yang akan kita cari di dalam. Lebih baik kita coba fokus dengan rekaman cctv yang mungkin bisa memberi petunjuk."


"Siap, Ndan!"


Mereka berdua mulai berpencar. Citra menyelidiki di jalur ia pernah bertemu dengan Anto malam itu, warung tenda yang ada di sudut jalan tempat ia membelikan Anto burger, tampaknya buka 24 jam. Mungkin salah satu talent warung itu tahu sesuatu.


"Selamat siang!" sapa Citra pada seorang gadis manis yang sedang mengatur bahan-bahan di kontainer warung tenda itu.


"Siang, ada yang bisa saya bantu?" tanya gadis itu ramah.


"Apa warung ini buka 24 jam?" tanya Citra. Gadis tersebut mengangguk.


"Saya Iptu Citra dari Satreskrim Polres Manggala."


"Jessica, panggil saja Jessi," ujar gadis tadi balas memperkenalkan diri.


Citra menunjuk kawasan kumuh yang sedang di bongkar. "Kamu pernah lihat anak kecil dari pemukiman itu? Tingginya sekitar 110 sentimeter, rambutnya ikal kemerahan dan giginya juga hitam tidak terawat."

__ADS_1


Jessi tampak menautkan alis. Dia lalu bertanya, "Apa mungkin anak yang selalu duduk menanti orang membuang sisa makanan di sebelah sana? Namanya Anto bukan?"


Mata Citra berbinar. "Iya, nama anak itu Anto."


Wajah Jessi berubah sedih. "Saya sudah beberapa hari ini juga menunggunya, untuk memberikan baju bekas adik saya yang sudah tidak terpakai. Hanya saja, dia tidak muncul-muncul."


"Apalagi, tempat itu sudah akan digusur. Kira-kira pindah ke mana ya, dia?" lanjut Jessi.


Harapan kedua perempuan ini pupus karena sama-sama tidak tahu keberadaan bocah itu. Citra kemudian teringat terowongan bekas proyek rel waktu itu. Tanpa pamit Citra berlari kembali ke mobilnya, dia menghubungi Haris agar segera kembali juga.


"Si—siap, Ndan! Saya sedang menyalin sebuah rekaman cctv yg mungkin bisa jadi petunjuk!"


Tak lama kemudian mereka kembali meluncur dengan Rush hitam itu menuju kawasan Akasia. Citra menginjak pedal gas lebih dalam, dia memilih lewat jalan tol yang bebas kemacetan. Haris hanya bisa memejamkan mata sambil berdoa duduk di atas mobil yang sedang meluncur dengan kecepatan tinggi itu.


Sebuah terowongan gelap tampak di hadapan mereka. Citra segera turun dan mencari bapak tua perokok kemarin, ternyata bapak tua itu masih ada di sana.


"Pak, Bapak masih kenal saya?" sapa Citra.


Mata tuanya menatap sekilas wajah Citra dari dekat. "Kamu yang bawa-bawa foto mayat pak tua flyover itu, 'kan?" tanyanya. Citra mengangguk.


"Apakah bapak kenal wanita ini?" Kali ini Citra menunjukkan foto jasad yang ditemukan di toilet umum beberapa waktu lalu.


Wajah Pak Tua itu berubah sedih dan ketakutan. "I—ini Maryam, wanita loper koran di flyover. Me—mereka ... tidak mungkin! A—pakah pak tua kemarin juga kehilangan tangannya?"


Kali ini raut wajah Citra yang berubah. "Bagaimana Bapak tahu hal itu?" Dia membuang muka dan mengusir Citra. Tubuhnya gemetar ketakutan, seolah ada hal yang mengerikan yang ia ingat.


"Pergilah. Pulang sana! Jangan datang kemari lagi!" hardiknya. Ia lalu menutupi wajahnya dengan sarung lusuh yang dia kenakan.


"Pak, Bapak tahu sesuatu tentang kasus ini bukan?" desak Citra.


"Pergi! Aku tidak ingin berurusan dengan si gila berdarah dingin itu!" bentaknya masih dengan tubuh dan suara gemetar.


Citra tidak ingin menyerah, namun kondisi bapak tua ini sedang tidak memungkinkan untuk dimintai keterangan. Ia memutuskan untuk kembali lagi nanti, di dalam otak Citra muncul berbagai macam pertanyaan.


Apa mungkin ada kasus lama yang melibatkan gelandangan juga? Batinnya berkecamuk.


Ia meminta Haris mengemudi karena dia akan sibuk dengan mencari berita-berita kriminal lama di ponselnya. Jari-jemarinya terus mengusap layar pipih itu dengan gelisah. Matanya membaca tiap headline judul yang muncul di pencarian, beberapa artikel menarik perhatian Citra.


Pembunuhan seorang gelandangan di kota Mandalanusa, korban kehilangan kedua kakinya.


Satu lagi korban gelandangan ditemukan digantung dengan kedua kaki terpotong.

__ADS_1


Kedua artikel itu terbit pada tahun 2017. Apa berita ini berkaitan dengan kasus yang sedang mereka hadapi? Orang yang sama ataukah peniru? Tanda tanya besar muncul dalam benak Citra.


...****************...


__ADS_2