
Divisi Reskrim mengawali pagi dengan beberapa laporan penemuan mayat tak dikenal lagi. Bukan hanya satu, kali ini pelaku seperti sedang mengolok-olok polisi yang lambat menemukan dirinya.
Potongan tubuh manusia terpencar di tiga titik yang berbeda. Citra dan Haris terpaksa membagi tugas untuk penyelidikan.
Citra mematung melihat jasad tidak utuh yang tergantung di kawasan Akasia tersebut. Apakah ini kasus yang berbeda? Pelaku ini begitu brutal. Dahi Citra mengernyit, yang mengejutkan dia adalah Christian ada di sana bersama beberapa petugas forensik.
“Apa yang kau lakukan di sini?” Nada suara Citra sedikit meninggi ketika bertanya pada kenalannya tersebut.
Bukan segera menjawab, dia malah tersenyum lebar. “Aku jaksa yang akan menangani kasus ini, kuharap kau dan juga tim yang kau pimpin bisa bekerja dengan baik!”
Terdengar jelas sindiran dan penekanan dalam nada bicara Christian, tapi Citra berpura-pura tidak mendengar. Ia kembali fokus dengan korban yang tidak utuh ini. Dia mendekati Rianti yang sedang fokus dengan TKP, sesekali kepala dokter wanita ini menggeleng pelan, seolah dia merasakan penderitaan korban.
“Tali kekang anjing itu sama, hanya saja ... modusnya kali ini lebih sadis dan malah terbilang sangat sadis.”
Menanggapi penuturan Rianti, Citra terdiam. Tubuh tanpa kepala, tangan dan kaki itu digantung menggunakan tali kekang anjing seperti kasus sebelumnya, pertanyaannya adalah apakah ini peniru ataukah pelakunya semakin menggila?
“Apa Bara ada di TKP tempat Haris berada?” Citra bertanya sambil menggigit ujung pulpennya.
“Bara masih di rumah sakit, dia sedang menyelidiki sesuatu.”
Citra tertawa kecil, sepertinya Bara sudah tertular sifat penasarannya. Dia mau jadi detektif? Dia melanjutkan memeriksa TKP dan meninggalkan Rianti dengan jasad serta potongan tubuh itu.
Kaki Citra menginjak sesuatu, benda berbentuk kotak terbuat dari kulit, itu terlihat seperti dompet. Citra menunduk untuk memungut benda yang sudah agak lusuh karena terkena noda tanah.
Ketika ia membuka dompet tersebut, kaki Citra tiba-tiba menjadi lemas. Dia seperti tidak bisa berdiri dengan tegak.
“Ja—Jaka .... ini dompet Jaka,” lirih ia bergumam entah kepada siapa. Ponsel di dalam saku celana Citra bergetar, tangannya merogoh saku dan mengambil benda pipih tersebut. Haris.
“Halo, lapor, Ndan! Saya menemukan lencana Jaka di dekat jasad yang ada di sini. Jasadnya sangat mengenaskan.”
Limbung. Kepala Citra terasa pening, apakah dia sudah kehilangan lagi rekan satu timnya seperti dulu?
__ADS_1
Christian melihat Citra yang terhuyung langsung berlari ke arahnya dan menopang wanita itu. Tersadar jika pria yang sangat ia benci sedang menopangnya, Citra menepis tangan Christian dengan kasar dan mendatangi Rianti.
“Aku menemukan ini.” Citra menyodorkan dompet yang ia temukan barusan. Dompet itu Rianti terima dengan raut penuh tanya, apalagi melihat Citra yang pucat dan seperti linglung.
“Ada apa?” Rasa penasaran Rianti tidak bisa dibendung lagi, tapi hanya kebisuan yang ia dapat sebagai jawaban.
Akhirnya dia menggantungkan kameranya dan membuka benda kotak yang tadi disodorkan. Rianti memekik tertahan sembari menutup mulutnya dengan sebelah tangan ketika melihat kartu penduduk pemilik dompet itu.
“Jaka ....” lirih Rianti. Dia mengenal pria pemilik dompet ini walaupun tidak dekat, tapi dia tahu kalau orang itu adalah bawahan Citra.
Jenazah korban pembunuhan itupun dibawa ke rumah sakit. Sementara Citra masih membeku ditemani oleh Christian dan Rianti.
Ruangan Reskrim yang biasa gaduh setiap hari, sekarang menjadi sunyi, masing-masing penghuninya berusaha menyibukkan diri dengan pekerjaan mereka. Semua dilakukan untuk menepis kenyataan hilangnya Jaka salah satu anggota Reskrim dan menepis dugaan dalam benak mereka jika salah satu jasad yang ditemukan tadi adalah dirinya.
Di dalam ruang kerjanya, Citra termenung. Dia sangat cemas menantikan hasil dari forensik, sebab kedua jasad itu masih belum bisa dikenali. Karena jasad itu hanya berupa potongan tubuh tanpa kepala, mereka harus bersabar menunggu hasil tes DNA yabg sedang dilakukan. Pengetesan DNA adalah satu-satunya jalan untuk bisa mengenali jasad tersebut.
“Komandan ....” Haris mengintip komandannya dari celah pintu. Melihat raut wajah yang lesu itu, Haris urung masuk. Namun ketika hendak menutup pintu kembali, Citra memanggilnya.
“A—anu, Ndan. Dokter Hendrawan ingin menemui Anda.” Mendengar nama itu disebut, Citra buru-buru beranjak dari tempat duduknya.
Di luar ruangan, dia bisa melihat seorang pria sedang memandangi papan buletin kepolisian yang penuh dengan poster orang-orang hilang, termasuk poster Jaka. Bawahannya itu sedang menyelidiki orang ini, lantas menghilang tanpa jejak dan kabar, kemudian di dekat jasad yang termutilasi pagi tadi ada dompet sang junior.
“Selamat sore, Dokter Hendrawan.” Pria itu menoleh ketika mendengar suara Citra.
“Sore. Saya ingin bersaksi tentang kasus pembunuhan para tunawisma itu.” Dahi Citra mengernyit tidak mengerti, ia seperti sedang diberi sebuah bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak.
Entah ini sebuah jebakan, ataukah titik terang untuk mereka menemukan pelaku sebenarnya. “Anda yakin akan hal itu? Karena saat Anda memberikan kesaksian palsu—”
“Saya yakin!” Dokter Hendrawan memotong ucapan Citra.
“Baik, kami akan mencatat kesaksian Anda.”
__ADS_1
Mereka pun menuju ruang interogasi bersama-sama setelah Citra memanggil Haris untuk menemaninya. Ruang berukuran dua kali empat itu hanya berisi satu buah meja, empat kursi dan satu tripod dengan kamera di atasnya.
“Yakin Anda akan bersaksi sendirian?”
Dokter Hendrawan mengangguk. Citra dan Haris pun mulai menanyakan perihal yang dokter ini ketahui tentang pembunuhan berantai para tunawisma tersebut.
“Saya yang bertugas untuk memotong bagian tubuh jasad-jasad itu ....” Sejenak pria tua ini seperti ragu untuk meneruskan keterangannya.
Ia menghela napas berat. Jemari yang mulai keriput itu mengetuk-ngetuk meja dan beberapa kali ia mengusap pelipisnya.
“Lantas?” Citra tidak sabar menunggu Dokter Hendrawan meneruskan ucapannya.
“Peristiwa terakhir, saya tidak sanggup mengikuti perintah kedua psikopat itu. Mereka benar-benar tidak waras!”
“Dua?”
“Ya, kedua orang itu menggila saat ini. Awalnya mereka hanya meminta saya memotong bagian tangan saja yang menurut mereka hanya digunakan untuk meminta, merampas atau mencuri oleh para gelandangan itu. Kemudian, mereka mulai menyuruhku memotong bagian kaki juga. Dua jasad terakhir, mata itu ... wajah kesakitan mereka dan teriakan mereka masih terngiang di kepalaku!”
Dokter Hendrawan menatap Citra dan Haris dengan sorot penuh kengerian, seolah baru saja melihat peristiwa yang sangat menakutkan. Ia mengacak-acak rambutnya yang sudah beruban itu.
“Jangan katakan jika Anda memutilasi mereka dalam keadaan hidup-hidup.” Kali ini Haris bersuara lirih, tiba-tiba ia merasakan kasus ini tidak akan mudah diselesaikan.
“Siapa pelakunya?”
Pria tua ini hanya membisu, dia malah menggigit-gigit kukunya karena cemas. Kakinya pun tidak berhenti mengetuk-ngetuk lantai.
“Pelakunya, Anda mengenal pelakunya?” Dokter Hendrawan mengangguk, nama Christian meluncur dari mulutnya.
Tubuh Citra lemas. Christian?
...****************...
__ADS_1
***Bersambung***