The Murderer

The Murderer
BAB 52 - Pulang


__ADS_3

Pesawat yang Citra tumpangi mendarat di bandara Manggala, seminggu tidaklah cukup untuk dia dan Dito memecahkan kasus kematian kedua orang tua angkatnya. Izin yang diberikan oleh Komandan Warsita pun sudah berakhir, apalagi Komandan Norman merasa Citra adalah pengganggu dalam penyelidikan hingga dia selalu berusaha membuat Citra cepat-cepat pulang ke Manggala.


Begitu menapakkan kaki di tanah Manggala, Citra langsung meminta Haris yang datang menjemputnya bersama Jaka untuk segera mengantarnya kepada Bara.


Rush miliknya yang dikemudikan oleh Haris melaju kencang seolah mereka sedang berpacu dengan waktu.


“Saya sangat terkejut saat mendapat laporan tentang mayat yang ditemukan tergantung di gedung kosong bekas klinik.” Haris memecah kesunyian di antara mereka bertiga di sela-sela kemacetan. “Terlebih ketika saya tahu jika jasad itu adalah ....”


“Christian?” potong Citra disambut anggukan tipis dari Haris.


“Dia bukan Christian, dia adalah Gerald. Anak Panti Asuhan Benedict yang diadopsi oleh pengusaha garmen dan keduanya meninggal karena kecelakaan mobil.” Citra menjelaskan identitas Christian yang sebenarnya pada Haris.


Jaka yang sudah lama berada di divisi Citra dan mengetahui pasti cerita di balik kasus Panti Asuhan Benedict. “Apa ini masih berhubungan dengan kasus Pria Tangan Tuhan itu?” tanya Jaka penasaran.


Citra menggeleng lemah. Dia sama sekali tidak tahu tentang apa dan bagaimana, kenapa dan siapa, yang ada dibalik semua peristiwa ini.


Saat ini Citra hanya ingin mendengar apa yang ingin Bara sampaikan padanya. Kemudian dia akan menemui Dokter Hendrawan, dia adalah ayah dari Evelyn, jadi paling tidak dia pasti mengetahui beberapa informasi tentang latar belakang semua kasus ini dan apa Evelyn berhubungan dengan situs God's Hand.


Akhirnya rush hitam mereka memasuki basemen rumah sakit Bhayangkara, setelah mobil itu berhenti dengan sempurna, Citra langsung turun tanpa menunggu kedua bawahannya itu.


Langkahnya yang setengah berlari menggema di lantai basemen dan entah berapa kali Citra nyaris menabrak beberapa perawat serta pasien yang ada di koridor. Dia langsung masuk ke ruangan Bara yang sedang tertidur dengan posisi duduk dan kepalanya direbahkan ke meja berbantal lengan.


“Bara.” Suara pelan Citra cukup membuat pria ini terlonjak kaget.


Bara mengucek mata, memastikan jika dia benar-benar sudah bangun dan tidak bermimpi. Setelah kesadarannya terkumpul dia merentangkan badan untuk meluruskan otot-otot tubuhnya.


“Kau sudah kembali?” tanya Bara sembari menguap. Dia berdiri dan meminta Citra duduk di sofa yang penuh dengan tumpukan berkas.


Mereka akhirnya duduk berhadap-hadapan, Citra memasang mimik wajah serius dan menatap tajam ke arah Bara.


“Apa kau tahu sesuatu tentang Christian?” Citra mengernyitkan dahi dan menaikkan alisnya sebelah.

__ADS_1


“Dia memintaku untuk mencocokkan DNA-mu dengan papa tirinya,” lanjut Bara, dia berdiri dan berjalan menuju meja kerjanya.


Terlihat dia sedang mengacak-acak isi laci mejanya seperti sedang mencari sesuatu. Bara pun kembali duduk di sofa dengan beberapa lembar kertas di tangannya kemudian menyodorkan kertas-kertas tersebut pada Citra.


Sekarang kertas-kertas tersebut sudah berpindah tangan kepada Citra. “Hanya ini?”


Bara mengangguk, dia menyandarkan punggungnya. “Hasilnya DNA kalian cocok. DNA-mu dengan papa tiri Christian, ken ....”


“Gerald, dia adalah Gerald. Bukan Christian.” Citra memotong ucapan Bara. Kata-kata yang dikeluarkan polisi wanita ini membuat Bara terkejut.


“What do you mean?”


Citra diam, dia sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri ketika membaca hasil tes DNA itu. Dia pikir selama ini dirinya dan Raka itu adalah anak yatim piatu yang memang tidak memiliki orang tua.


Kertas itu ia letakkan di atas meja. “Aku pergi dulu, ada hal yang harus aku konfirmasikan kepada Dokter Hendrawan.”


“Ta—tapi ....”


Dia mendapati Jaka dan Haris yang sedang merokok di sudut basemen dekat pintu darurat. Citra memberi isyarat pada mereka untuk masuk ke dalam mobil.


Mereka kembali meluncur dengan rush itu membelah jalanan Manggala yang mulai sore, menuju ke tempat Dokter Hendrawan ditahan. Begitu mobil berhenti, Citra langsung melompat turun dan berlari ke gedung tempat para tahanan itu berada.


Dokter Hendrawan sudah mengakui dirinya sebagai kaki tangan pembunuh tunawisma itu, apakah Christian yang dia maksud sama dengan Christian yang Citra kenal selama ini?


Begitu melihat dokter tua itu dibawa oleh sipir penjara, Citra segera mengeluarkan foto Christian alias Gerald dan memperlihatkan pada Dokter Hendrawan.


Alis pria tua ini tampak berkerut heran, dia lalu bertanya, “Siapa orang ini?”


“Ini adalah Christian, 'kan?” desak Citra melihat wajah pria itu yang kebingungan.


Di luar dugaan dia malah menggeleng. “Ini adalah jaksa yang kata Evelyn tinggal bersama mereka sejak kecil, karena orang tuanya meninggal dalam kecelakaan.”

__ADS_1


“Christian memiliki luka bakar di wajahnya dan aku yang menyebabkan luka itu sebelum meninggalkan anak dan cucuku sendirian di Mandalanusa dulu.”


Citra terduduk lemas. Selama ini dia mencurigai orang yang salah dan Gerald pasti mati dalam penyesalan.


“Hubungan antara aku dan Evelyn tidaklah baik, aku sengaja meninggalkan mereka karena rasa benci, bersalah dan marah. Akhirnya ....” Cerita tentang masa lalu Evelyn dan Dokter Hendrawan mulai mengalir.


“Aku mendengar dia menikah lagi dengan mantan kekasihnya yang bernama Darius ketika Christian masih remaja. Namun, tidak lama aku mendengar jika Darius melarikan diri dari Evelyn.” Dokter Hendrawan menutup ceritanya.


“Lantas kenapa Christian ... ah, bukan, jaksa itu mengatakan jika pria bersama Darius itu ada bersama Evelyn?”


Dokter Hendrawan menghela napas panjang, “Evelyn menemukan persembunyian Darius yang berubah menjadi gelandangan di terowongan bekas proyek rel kereta yang gagal.”


Citra terkesiap, apakah pak tua yang dia temui itu adalah Darius? Citra semakin tidak mengerti dengan cerita hidupnya, tubuhnya pun oleng.


Setelah selesai mendapat keterangan dari Dokter Hendrawan, dia kembali ke mobil dengan langkah lunglai. Melihat hal itu, Haris dan Jaka segera menghampiri Citra.


“Ada apa komandan?” Haris dan Jaka kompak bertanya. Sementara dia hanya bisa berpegang pada bahu Haris tanpa berkata-kata.


Di dalam mobil, Citra mengatur napas, kemudian menoleh ke arah Jaka yang pernah disandera oleh pelaku. “Kau ingat orang yang menyanderamu kemarin?”


“Saya ingat hanya tiga orang, yang satu adalah Dokter Hendrawan ... dua lainnya saya tidak melihat wajah mereka. Pria dengan luka bakar di wajahnya itu menggunakan riasan wajah tebal seperti Joker, sedangkan yang lain menggunakan masker.”


“Hanya saja ....” Jaka menggantung ucapannya, terlihat jelas di wajahnya satu keraguan besar. Kali ini Haris urung menyalakan mesin mobil karena penasaran.


Mereka berdua menatap Jaka, memintanya untuk meneruskan ucapannya.


“Saya seperti pernah mengenal pria bermasker itu, tapi entah di mana dan saya merasa tidak asing dengannya. Mungkin usia pria tersebut hampir sama dengan usia orang tua kita.”


Pikiran Citra langsung tertuju pada Darius.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2