The Murderer

The Murderer
BAB 47 - Rahasia Dendam Masa Lalu


__ADS_3

*Sirine mobil polisi dan ambulance membangunkan Jaka yang tadi tertidur di dalam mobil. Dia terkejut mendapati di sekelilingnya sudah penuh mobil patroli.


Jaka turun dari mobil, mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi. Kemunculan Jaka yang acak-acakan membuat rekan-rekannya tak terkecuali Haris terkejut.


“Jaka! Kau dari mana saja?” Pertanyaan yang sama dengan yang komandannya tanyakan meluncur dari bibir Haris. Jaka mengangkat tangan mengisyaratkan agar Haris tidak bertanya tentang dirinya dan dia meminta penjelasan apa yang sedang terjadi di rumah komandan mereka.


Haris menggaruk kepalanya dengan kikuk, dia hanya menunjuk ke arah gudang. Melihat arah yang ditunjuk Haris, pandangan Jaka pun beralih ke gudang itu. Dia melihat bocah kecil yang pernah komandannya bawa ke kantor itu tergantung tak bernyawa di sana.


Kaki Jaka limbung, dia mundur beberapa langkah hingga nyaris terjatuh, kalau saja Haris tidak menopangnya.


“Orang itu benar-benar sinting, psikopat gila! Bisa-bisanya dia membunuh bocah kecil tidak berdosa.” Makian itu seolah Jaka tujukan kepada angin, karena mereka tidak tahu siapa pelaku pembunuhan Anto.


“Dokter itu ... Dokter Hendrawan! Pasti dia bersama pelakunya!” seru Jaka, mengingat tugas mengerikan yang diberikan pelaku itu kepada Dokter Hendrawan.


“Tidak mungkin, dia sekarang berada di dalam sel. Dokter Hendrawan menyerahkan dirinya kemarin.” Haris menepis dugaan Jaka tentang dokter tua tersebut.


Sejenak Jaka termangu, dia seperti berusaha mengingat detail yang terjadi ketika dia disandera oleh psikopat itu beberapa hari lalu. Wajah orang gila itu tertutup riasan tebal, tapi ada sesuatu di pipinya seperti bekas luka bakar.


“Orang itu memiliki luka bakar di pipinya, aku yakin itu!” Ucapan Jaka membuat Citra dan Haris serempak menoleh ke arahnya.


Citra yang sedari tadi masih terduduk lemas di atas kursi makan pun berdiri dan menghampiri Jaka. Dia ingin mengetahui detail dari pelaku yang mungkin juga membunuh Anto.


Sebelum Jaka sempat menjelaskan tentang si pelaku, Bara muncul dengan beberapa lembar kertas di tangannya.


“Sorry, aku langsung meluncur ke sini saat tahu ada kasus yang terjadi di sini,” ujarnya sembari memasang sarung tangan karet yang selalu dia bawa ke mana-mana. Dia meletakkan kertas-kertas tadi di atas meja kemudian menghampiri Rianti.


Bara melihat iba pada bocah malang tersebut, baru saja bocah ini merasakan indahnya memiliki keluarga sebaik Citra, sekarang dia harus meregang nyawa tanpa tahu kesalahan apa yang telah ia perbuat. Ternyata benar-benar ada orang berhati dingin di dunia ini.


Wajah Anto menyiratkan ketakutan dan kesakitan, kenapa harus menyiksa bocah ini? Tubuh kecil itu penuh luka lebam, sepertinya Anto berusaha melawan penjahat yang melukainya. Itulah kenapa rumah Citra sedikit berantakan.


“Apa mungkin Anto sempat melihat sosok psikopat itu?” Haris menanyakan satu kemungkinan pada komandannya.


Citra hanya mampu menggeleng lemah, ia tidak tahu apa salah bocah itu sampai pelaku tega melakukan ini semua. Rumah Citra kini sudah diberi garis kuning polisi, untuk sementara dia akan tinggal di apartemen Rianti dan Jaka tinggal bersama Haris.


Dia mengambil ponsel untuk menghubungi kedua orang tuanya dan mengabarkan tewasnya Anto pada mereka. Namun, tidak satu pun yang menjawab panggilannya. Citra pikir papa dan mamanya mungkin sedang sibuk atau ada acara*.


...----------------...

__ADS_1


Medan


*Baretta M9 yang sudah dipasangi alat peredam itu ditodongkan ke kepala seorang wanita. Moncong besi dingin itu menempel ketat di pelipisnya.


Rita berlutut dengan tangan terikat di belakang, begitu pula dengan Adi, suaminya. Mereka tidak mengerti kenapa Evelyn melakukan ini. Padahal mereka sahabat karib sejak lama.


“Eve, a—apa yang kau lakukan?” Rita mencoba bicara pada wanita yang merupakan sahabat mereka sejak kuliah itu.


Evelyn hanya tersenyum sinis, dia memainkan ujung rambut Rita. Dengan setengah berbisik dia berkata, “Kalian memiliki hutang masa lalu padaku.”


“Hu—hutang apa?” Kali ini Adi bertanya karena baik dia maupun istrinya tidak mengerti apa yang sedang Evelyn bicarakan.


Wanita itu tidak menjawab, dia terusik dengan bunyi ponsel keduanya yang tidak mau berhenti. Dia meraih benda berisik itu dan melihat nama Citra tertera di layar ponsel milik Rita.


“Itu pa—pasti Citra. Dia akan cu—curiga jika tidak kami jawab panggilannya.” Adi masih mencoba bernegosiasi dengan Evelyn meski ia tahu itu percuma.


“Dulu, saat aku membutuhkan bantuan, kalian pun mengabaikan diriku.” Evelyn mematikan ponsel kedua sanderanya.


“Apa maksudmu?” Rita semakin tidak mengerti.


Adi dan Rita berusaha mengingat jelas peristiwa masa lalu itu, tapi gagal. Melihat keduanya tidak berhasil mengingatnya, Evelyn mulai mengingatkan mereka kembali.


Hari itu adalah hari mereka selesai menjalani ujian mid semester. Untuk menghilangkan rasa penat, Adi dan Darius mengajak Rita dan Evelyn untuk camping di tempat wisata yang terletak di pinggiran kota.


Mereka akhirnya berangkat menuju ke sana pagi-pagi sekali keesokan harinya. Hanya karena tidak enak menolak ajakan sahabatnya, Rita yang sedang kurang sehat memaksa diri untuk ikut berkemah. Apalagi ujian kemarin benar-benar menguras otaknya.


Saat tiba di perkemahan yang sebenarnya itu adalah destinasi wisata dan tempat itu memiliki cottage. Namun, mereka juga menyediakan area untuk para pecinta alam mendirikan tenda. Kali ini mereka memilih untuk berkemah saja.


Ketika mendirikan tenda, tiba-tiba kepala Rita yang memang tidak sehat itu terasa pusing dan ia nyaris saja jatuh pingsan. Adi yang merasa bertanggung jawab karena memaksa mereka ke sini, segera membawa Rita ke klinik yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat itu.


Namun Evelyn merengek ingin ikut dengan mereka. Dia merasa tidak nyaman tinggal berdua dengan Darius.


“Aku ikut kalian, ya,” pinta Evelyn. Adi dan Rita saling bertukar pandang, mereka tidak mungkin mengajak Evelyn dengan berboncengan. Karena mereka berempat ke lokasi ini dengan mengendarai motor, mereka berdua berboncengan sedangkan Evelyn membonceng Darius.


“Kamu tunggu di sini saja, bagaimana bisa kita berboncengan tiga? Kecuali Darius juga mau ikut.” Adi berusaha memberi pengertian pada Evelyn.


Dari mereka berempat, Evelyn adalah gadis yang manja, karena dia anak tunggal dari pasangan dokter ternama. Dia sendiri merupakan calon dokter. Setelah Evelyn mengerti, mereka pun meninggalkan dia bersama Darius.

__ADS_1


Hari sudah menjelang malam, tapi Rita dan Adi belum juga kembali. Evelyn menjadi cemas, dia tidak bisa tidur karena tidak terbiasa tidur di alam terbuka. Tiba-tiba bayangan hitam terlihat di luar tenda dan Darius muncul mengejutkan Evelyn.


“Kau tidak bisa tidur? Mau menyusul mereka?” tawar Darius padanya. Evelyn mengangguk, dia cemas dengan kondisi Rita.


Darius melirik arlojinya, “Masih pukul 7 malam, belum terlalu larut. Kita masih bisa menyusul mereka ke sana. Lagipula jaraknya tidak terlalu jauh.”


Evelyn memakai jaketnya, mereka pun pergi menyusul Rita dan Adi. Dalam perjalanan, Evelyn tidak banyak berbicara, sampai dia mendapati Darius berbelok ke arah yang berlawanan dengan arah kecamatan.


“Kita mau ke mana?” tanya Evelyn panik apalagi saat dia menyadari kawasan gudang sepi yang mereka masuki.


Darius menghentikan motornya. Kecemasan Evelyn pun terjadi, sejak awal Darius memiliki niat jahat padanya. Sudah berkali-kali dia menyatakan cinta pada Evelyn tapi ditolak, karena Evelyn ingin fokus pada kuliahnya.


Siapa sangka penolakan itu menimbulkan niat jahat di hati Darius. Malam itu, tanpa ada yang bisa menolongnya, kehormatan Evelyn direnggut oleh Darius dengan kejamnya. Tidak hanya itu saja, dia meninggalkan Evelyn yang pingsan di sana sendirian.


Beberapa gelandangan mabuk yang melihat seorang gadis terbaring tak berdaya pun mengambil kesempatan untuk menggagahinya. Keesokan paginya, Evelyn pun ditemukan seorang warga dalam keadaan pingsan dan dibawa ke rumah sakit.


Ingatan Evelyn kacau balau, dia hanya mengingat tentang para gelandangan kala itu dan tidak ingat tentang Darius sama sekali. Kasus pemerkosaan itu pun naik ke media dan membuat Dokter Hendrawan murka.


Dia tidak ingin nama baiknya tercoreng, sehingga dia memutuskan untuk pindah keluar negeri. Apalagi setelah peristiwa itu, Evelyn mengandung tanpa tahu siapa ayah dari anak yang dia kandung*.


Evelyn menarik napas panjang, dia menatap kembali ke arah Rita dan Adi. “Kau tahu? Siapa Citra sebenarnya?”


Rita menggeleng. Dia hanya tahu Citra adalah anak yatim piatu yang mereka angkat jadi anak.


“Dia anak Darius, aku yang membunuh istrinya dan membuat dia seolah bunuh diri dengan racun. Kemudian aku menculik anak mereka dan membuangnya di panti asuhan Benedict.” Penuturan Evelyn membuat Adi dan Rita terhenyak.


“Lantas apa tujuanmu!?” Adi pun hilang kesabaran akhirnya. Namun saat dia berusaha akan melawan, timah panas itu menembus pelipisnya dan membuat dia terkapar bersimbah darah.


“Tidaaakk!” Tangis Rita pecah melihat suaminya tersungkur meregang nyawa.


“Selamat tinggal, aku pastikan anak Darius akan sangat menderita, jika dia tidak segera menangkapku.”


Letusan kedua senjata api yang tidak terdengar karena alat peredam itu, akhirnya merenggut nyawa kedua orang tua angkat Citra. Apakah Citra mampu memecahkan teka-teki kasusnya dan mengantar dirinya bertemu dengan wanita kejam bernama Evelyn itu?


...****************...


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2