The Murderer

The Murderer
BAB 37 - Bocah yang Tenggelam (Revisi)


__ADS_3

Bocah itu terseok-seok, ia berusaha untuk mencari tempat persembunyian. Tubuh mungilnya gemetaran.


Cahaya senter terlihat samar dari balik semak tempat ia bersembunyi. Suara gemerisik dedaunan kering yang diinjak terdengar semakin mendekat. Bocah itu semakin mengekeret dan memeluk erat lututnya, dia gemetaran.


Kesempatan yang ia gunakan untuk kabur, belum cukup menyelamatkan dirinya dari kejaran preman-preman itu bersama anjing pemburunya. Suara gonggongan anjing semakin membuat keringat dingin mengucur deras di dahi bocah itu.


Dengan susah payah, ia membiasakan diri untuk melihat dalam kegelapan hutan pinus itu. Udara dingin menembus kulit dan menusuk tulang-tulang kecilnya. Ia berusaha mencari celah untuk segera menjauh dari tempat ini sebelum anjing-anjing itu menemukan dia.


Telinga kecil bocah ini menangkap suara gemericik air yang samar, kalau dia beruntung, ada sungai di dekat hutan ini dan ia berharap kalau sungai itu benar-benar ada. Jika airnya tidak cukup deras, ia bisa berenang ke hulu.


Perlahan kakinya bergerak. Sebisa mungkin ia tidak mengeluarkan suara yang memancing anjing-anjing itu ke arahnya.


Sial! Ia tanpa sengaja menginjak sebuah ranting kering yang mengeluarkan suara berderak cukup keras, anjing-anjing pemburu dengan insting dan juga telinga yang tajam segera berlari ke arah suara itu. Bocah ini pun terpaksa berlari sekuat tenaga yang ia punya.


Berbekal keyakinan pada telinganya, ia mengikuti suara air yang semakin lama semakin jelas terdengar. Tepat saat preman-preman itu semakin dekat bersama anjing pemburunya, sebuah sungai besar dengan air yang cukup deras ada di depan mata sang bocah.


"Berhenti kamu!" perintah salah satu preman itu. Sang bocah tidak ingin tertangkap lagi. Jadi, ia memilih untuk melompat di aliran sungai yang deras itu.


Tubuh mungil anak berusia sembilan tahun itu berusaha bertahan di tengah derasnya arus. Akhirnya ia lelah dan membiarkan air membawa tubuh mungilnya entah dalam keadaan hidup atau mati.


----------------


Mobil Nissan Juke putih Haris berhenti di sebuah rumah sakit. Sejak komandannya mencari anak gelandangan bernama Anto itu, ia mulai membuat sketsa dan menyebarkannya.


Sebuah rumah sakit yang kebetulan ia beri sketsa bocah itu, menghubunginya siang ini. Karena sesosok mayat anak gelandangan dengan ciri-ciri seperti di sketsa ditemukan tewas di sebuah puing gedung bioskop tua.


Haris tidak tahu menahu soal wajah Anto, jadi ia mengajak sang komandan untuk datang bersamanya ke rumah sakit.


"Ada seorang ibu yang menemukan anak ini tergeletak di belakang gedung tua kawasan Raflesia. Ketika dibawa ia masih bernyawa. Namun kami tidak mampu menyelamatkan dirinya yang sepertinya keracunan obat-obatan," jelas seorang dokter yang mengantar mereka ke kamar jenazah.


Kaki Citra seperti memijak tanah yang lunak, dia tidak mampu berjalan dengan tegak, tapi langkahnya terburu-buru. Beberapa kali ia nyaris jatuh.


Anto baginya bukan sekedar saksi, sebab dia dan bocah itu sama-sama tidak diinginkan orang tua kandung mereka. Hanya nasib Citra lebih baik, karena diangkat anak oleh keluarga Hutabarat.


Akhirnya mereka sampai ke kamar jenazah. Dokter tadi menarik sebuah laci pendingin mayat. Tangan Citra gemetar ketika akan membuka kantongan berwarna kuning itu.


Saat kantong jenazah tersebut terbuka, air mata menggenang di pelupuk mata Citra. Kakinya terasa lemas, tapi hatinya cukup senang karena jenazah itu bukanlah Anto.


"Ini bukan Anto." Citra berkata lega.


"Syukurlah, Ndan!" sahut Haris.


Mereka bertiga keluar dari kamar jenazah tadi. Saat baru saja akan berjalan kembali ke lobby rumah sakit, beberapa perawat tampak berlarian di koridor dengan panik.

__ADS_1


"Siapkan ruang operasi! Ada anak yang ditemukan terapung di sungai dan dalam keadaan kritis!" Salah seorang dari mereka berseru pada temannya yang lain.


Citra, Haris dan dokter itu ikut berlari ke arah yang dituju perawat-perawat tersebut. Bukan main terkejutnya Citra saat melihat siapa yang terbaring di ranjang rumah sakit itu. Anto!


"Di—dia anak yang kami cari-cari selama ini! Tolong selamatkan dia dokter!" ujar Citra sembari ikut mendorong ranjang Anto dengan panik.


Dia dan Haris terpaksa menunggu di depan ruang operasi. Banyaknya air yang masuk ke dalam paru-paru Anto membuat bocah itu berada di ambang hidup dan mati.


Nyaris tiga jam mereka menunggu, tim dokter yang menangani Anto pun keluar. Mereka menjelaskan pada Citra dan Haris tentang kondisi bocah itu yang masih kritis.


"Boleh kami rujuk ke rumah sakit S di Manggala dokter?" tanya Citra.


"Boleh saja, namun Anda harus menunggu beberapa hari," jawab dokter itu.


Citra mengangguk senang. Ia bisa mempercayakan Anto pada dokter Andrian. Jarinya mengusap layar ponsel dan menghubungi dokter yang dulu pernah merawatnya setelah tertembak peluru Banyu Aji.


"Halo, dokter Andrian ...."


"Panggil aku Andrian, sudah berkali-kali aku katakan kita seumuran!" Terdengar nada kesal dari seberang telepon.


"Oke, sorry. Andrian, aku akan membawa seorang anak yang terkena edema paru karena tenggelam dan tidak sadarkan diri. Kamu bisa membantu kami menyiapkan perawatan anak itu?" tanya Citra.


"Tidak masalah, kapan kalian akan membawanya ke sini?" Andrian balik bertanya.


Tiga hari kemudian


Ambulance membawa tubuh kecil Anto yang masih tidak sadarkan diri pindah ke rumah sakit S di kota Manggala. Di sana sudah menanti dokter Andrian sang ahli anastesi.


"Anak hebat, bisa bertahan hidup dalam kondisi seperti ini," puji Andrian.


"Tolong selamatkan dia!" pinta Citra. Andrian tidak pernah melihat sisi rapuh polisi wanita ini. Bahkan ketika ia adu tembak dengan rekannya yang merupakan tersangka pembunuhan berantai, dia tidak terlalu bersedih.


"Memangnya anak ini keluargamu?" tanya Andrian penasaran.


"Bukan. Tapi dia sama denganku dibuang oleh orang tua yang tidak bertanggung jawab, hanya saja aku dibuang ke panti asuhan bersama Raka. Sedangkan anak ini dibuang benar-benar di tempat pembuangan sampah ...." Citra menjelaskan asal-usul Anto.


"Dia bisa hidup sampai sebesar ini, karena kasih sayang sesama gelandangan dan orang terbuang di kawasan kumuh kali Antara," imbuh Citra.


Hati Andrian terenyuh, dia juga seorang yatim piatu. Mata dokter itu terus memandangi wajah teduh Anto yang sedang tidur panjang. Setelah menyerahkan Anto kepada Andrian, Citra meminta Haris memerintahkan seorang anggota menjaganya.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Andrian penasaran.


"Maaf SOP penyelidikan tidak boleh membocorkan informasi kepada pihak luar!" tegas Citra. "Cukup tolong aku untuk menjaga anak ini sampai dia sadar."

__ADS_1


Andrian mengendikkan bahu. "Untuk menjaganya aku akan berjanji, tapi memastikan kapan ia sadar, aku tidak berani. Karena kami belum memeriksa seluruh keadaannya. Jika dia mengalami mati otak karena tenggelam, hanya ada dua kemungkinan, Tuhan memberi keajaiban ataukah Tuhan mengutus malaikat mautNya,"


Citra memandang Anto yang masih tidak sadar itu dengan tatapan iba, ia memukul lengan Andrian pelan. Entah sejak kapan dirinya jadi sangat percaya dengan dokter yang pernah dia curigai sebagai tersangka itu.


"Aku percaya kamu!"


...----------------...


Sehari setelah Anto dipindahkan ke rumah sakit S, Citra, Jaka dan Haris menyelidiki sungai tempat bocah itu di temukan terdampar.


Pagi itu mereka menyusuri tepian sungai yang panjang, entah berapa kilometer Anto terseret arus sungai yang cukup deras. Sebuah mukjizat memang karena ia mampu bertahan hidup.


"Ndan, tidak ada yang aneh sejauh ini," ujar Jaka, di sampingnya Haris masih sibuk menyisir tepian sungai setapak demi setapak.


Citra memandang sekeliling yang merupakan tembok beton. Sempat terbersit di pikirannya kalau Anto sedang bermain dan terpeleset jatuh ke dalam sungai. Hanya saja, itu tidak bisa menjawab pertanyaan tentang kemana hilangnya penduduk kawasan kumuh tersebut.


Jarinya memijat pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut keras. Ada apa sebenarnya dengan para tunawisma itu? Apa yang membuat mereka jadi korban? Citra membatin sembari berjalan mencari petunjuk.


Dari kejauhan terlihat seorang bapak sedang memancing di pinggiran sungai itu. Citra mempercepat langkahnya.


"Selamat pagi, Pak," sapa Citra. Pria itu menoleh, ia memandang wanita yang menyapa dirinya itu dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Pagi," jawabnya pendek dan kembali konsentrasi pada alat pancingnya.


"Kami dari kepolisian. Apakah Bapak penduduk sekitar sini?" tanya Citra lagi.


Bapak itu hanya mengangguk.


"Beberapa hari yang lalu, ada seorang anak yang ditemukan terdampar di tepian sungai ini, apakah Bapak tahu?" Lagi-lagi pria berusia sekitar tujuh puluh tahunan itu hanya mengangguk.


Citra menghela napas, berusaha menahan emosi. Setidaknya jawablah dengan kata-kata! gerutunya dalam hati.


"Kira-kira sungai ini ujungnya ada di mana, ya, Pak?"


Dengan isyarat jari ia menunjuk arah barat. "Panjang sungai ini mungkin lima belas kilometer, anak kemarin pasti sudah meninggal karena terseret arus sejauh itu," tuturnya.


"Ujung sungai ini bercabang. Satu alirannya dari pegunungan Duampanua, satu lagi dari Alehanua," lanjut bapak tua itu.


Mereka bertiga saling bertukar pandang. Sepertinya kasus ini akan menjadi kasus yang panjang sebelum Anto sadarkan diri.


"Semoga saja bocah itu lekas siuman. Sehingga kita bisa mengetahui apa yang sedang terjadi," ucap Jaka.


Citra dan Haris hanya diam, kemudian mereka bertiga kembali ke tempat semula. Untuk sementara mereka memutuskan kembali ke kantor. Sedangkan Citra memilih mengunjungi Anto di rumah sakit.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2