The Murderer

The Murderer
BAB 53 - Konspirasi


__ADS_3

Cerita Jaka membuat Citra merasa kasus ini semakin dekat menuju ke titik terang. Mengaitkan tentang Christian yang asli dengan pak tua di terowongan bekas proyek rel kereta itu. Mungkin ada alasan tersembunyi kenapa pelaku membunuh para tunawisma itu.


Roda mobil yang mereka tumpangi terus berputar menggilas aspal jalanan. Jingga mulai terlihat di ufuk barat, mereka berkendara kembali ke kantor. Jaka pun ikut juga ke kantor yang sudah lama tidak ia kunjungi.


Ketika sampai di kantor, Citra langsung dipanggil Pak Warsita untuk menghadap. Akhirnya dia meminta Haris mengambil berkas yang ada di atas mejanya untuk menyusun ulang peristiwa pembunuhan berantai yang ikut menewaskan Anto dan kedua orang tua angkat Citra.


Mata Jaka tertuju pada bingkai foto di atas meja komandannya. Dahinya mengernyit dan jarinya menunjuk ke arah bingkai foto tersebut. “Itu ... apa itu orang tua komandan?”


Haris yang sudah membuka pintu hendak keluar ruangan menoleh ke arah yang ditunjuk Jaka, dia mengangguk tipis. Bibir Jaka sedikit terbuka seperti ingin mengatakan sesuatu tapi urung dia katakan, tingkah aneh Jaka itu menarik perhatiannya.


“Ada masalah?”


Sejenak Jaka termangu, seperti ragu akan sesuatu lantas akhirnya dia menggeleng. Namun, ketika mereka sudah di luar ruang kerja Citra, Jaka menarik tangan Haris dan mengajaknya kembali ke dalam. Dia kembali mengamati foto tersebut.


“Orang ini ... pria ini mirip dengan orang yang menyekapku di dalam gudang dan dia juga yang memotong lenganku tanpa belas kasihan. Hanya saja, ada yang sedikit berbeda darinya ....”


Pintu yang tiba-tiba terbuka lebar dengan kasar mengejutkan mereka. Citra muncul dari balik pintu dan menatap Jaka dengan tatapan nanar.


“Kau bilang papaku yang menyekapmu, hah?” Dengan marah Citra mencengkeram kerah baju Jaka. “Papaku sudah meninggal, kenapa kau tega mengatakan hal seperti itu!”


“Te—tenang komandan. Saya hanya mengatakan mirip dan bu—bukan berarti itu adalah papa Anda.” Jaka berusaha menenangkan Citra.


Takut kalau akan terjadi keributan, Haris melerai mereka. Dia meminta komandannya untuk melepaskan cengkeramannya dari kerah baju Jaka. Haris memberi isyarat pada Jaka untuk keluar sebentar dari ruangan Citra.


“Jaka hanya mengatakan kemungkinan, bukan menuduh mendiang Pak Adi sebagai pelaku, Ndan.” Haris masih berusaha menenangkan Citra.


Emosi Citra sedikit menyurut, dia sadar jika sikapnya sungguh keterlaluan terhadap Jaka. Padahal mungkin ada informasi penting yang dia tahu tentang para pelaku. Dia pun meminta Haris memanggil Jaka ke ruangannya kembali.


“Maaf komandan, saya hanya merasa orang yang menyekap saya mirip dengan ayah Anda. Hanya saja ....” Jaka terlihat ragu melanjutkan ucapannya, iris mata coklat itu terus menatap foto yang ada di atas meja Citra.


“Hanya saja?” Haris menatap Jaka penasaran, dia tidak mengerti kenapa rekannya itu bisa mengatakan pelaku yang menyandera dia mirip dengan mendiang Pak Adi.


Jaka mengernyit, tangannya meraih foto tersebut. Dia menunjuk mata kiri Pak Adi. “Pria itu punya luka sayat di atas mata kirinya, tapi pria di dalam foto ini tidak.”

__ADS_1


Kali ini Citra mengernyit. “Luka sayat di atas mata kiri? Wajahnya mirip mendiang papaku?” Pertanyaan itu bernada mengambang, entah Citra sedang bertanya pada Jaka atau sedang memikirkan sesuatu yang terlintas dalam pikirannya.


Citra mengetuk-ngetuk meja dengan ujung jarinya, kebiasaan yang sulit dia hilangkan sejak kecil ketika dia merasa cemas. “Aku harus bertemu Komandan Warsita!”


Tanpa menunggu respon kedua anak buahnya, dia langsung keluar dan menuju ruangan komandannya. Citra yakin jika Komandan Warsita tahu sesuatu, karena dulu dia dan Komandan Norman yang menangani kasus kecelakaan mobil saudara kembar papanya.


Karena rasa kesal juga penasaran Citra kehilangan akal dan langsung menerobos masuk ke dalam ruangan Kepala Polisi itu. Namun sayangnya ruangan tersebut kosong.


Dia mencari sosok Bripda Baskara yang merupakan ajudan Komandan Warsita. Citra tidak kesulitan menemukan polisi berpangkat Brigadir Dua tersebut, sebab dia sedang berada di koridor bersama seorang petugas polisi lain.


“Bribda Baskara!” Citra memanggil juniornya itu dengan agak sedikit keras. Si pemilik nama pun menoleh lantas refleks memberi hormat pada Citra.


“Siap! Ada apa Iptu Citra?” Bripda Baskara keheranan melihat Kapten Tim A dari Divisi Reskrim ini mencari dirinya.


“Komandan Warsita, apa kamu tahu kemana komandan pergi? Tadi pagi saya masih bertemu dengan beliau, tapi barusan ruangannya terlihat kosong.”


“Siap! Komandan sedang ada janji temu dengan koleganya.”


“Lantas, kamu tidak menemani beliau?”


Citra semakin curiga pada komandannya tersebut, tidak biasanya komandan pergi tanpa ajudannya.


...----------------...


Pinggiran Sungai Alehanua.


Seorang pria terlihat berdiri menghadap sungai yang alirannya menjadi cukup deras karena luapan air setelah hujan deras beberapa hari lalu. Di jarinya terselip rokok yang ujungnya membara dan hanya tinggal setengah saja.


Mobil Honda CRV hitam berhenti tidak jauh dari tempat pria tersebut berdiri. Aneh, dia sepertinya tidak terusik sama sekali dan seolah tahu jika seseorang akan datang. Setelah itu, menyusul Alphard putih yang parkir di sisi kanan CRV hitam tadi.


Kedua mobil mewah tersebut dikendarai oleh pria berusia pertengahan lima puluh tahunan. Salah satunya adalah Warsita, Kepala Polisi Polrestabes Manggala. Pria yang mengemudikan Alphard adalah Arthasena, pemilik perusahaan properti terbesar di Manggala sekaligus ayah angkat mendiang Valentino.


Mereka menghampiri pria yang sedang berdiri di pinggiran sungai Alehanua tersebut. “Bagaimana kesepakatan dengan Nyonya Evelyn?” Arthasena bertanya tanpa basa-basi padanya.

__ADS_1


“Mungkin keberadaanmu sudah diketahui oleh Citra, kau sangat ceroboh ketika menyandera polisi itu. Apalagi dia sampai bisa lolos dan kembali berkumpul dengan polisi keras kepala itu.” Warsita menimpali pertanyaan Arthasena sebelum pria itu menjawabnya.


Pria dengan perawakan tegap seperti veteran tentara itu menoleh ke arah Arthasena dan Warsita, dia ternyata adalah Adi, ayah angkat Citra yang sebenarnya. Wajah Adi bersih tanpa cacat sedikitpun.


Yudi Hutabarat, saudara kembar Adi yang juga seorang perwira angkatan darat sama seperti dirinya tapi ditugaskan di pelosok Papua menjadi angin segar bagi Adi. Dia dan Yudi terpisah karena perceraian orang tua mereka, Adi ikut dengan sang ibu, sedangkan Yudi ikut dengan ayah mereka.


Citra hanya pernah bertemu Yudi sekali ketika masih kecil, setelah itu Yudi yang memutuskan untuk menetap di Papua pun tidak pernah pulang ke Medan. Satu hal yang Citra kecil ingat tentang Yudi adalah luka sayat di atas kelopak mata tepat di bawah alis sebelah kirinya.


Semua yang terjadi dalam hidup Citra adalah skenario yang sudah Evelyn susun untuknya. Mulai dari adopsi, perundungan Raka di panti yang tidak pernah terungkap, tapi wanita ini tidak pernah menyangka jika memisahkan Raka dan Citra akan membuat gadis kecil pendiam itu menjadi seorang perwira polisi.


Adi membuang sisa puntung rokok yang dia pegang dan menginjaknya dengan kaki. Tatapannya nanar mengarah kepada dua pria yang jauh lebih muda dari dia itu.


“Kau tahu kenapa aku sengaja memberi petunjuk bocah itu lebih cepat? Itu semua karena aku ingin Evelyn lebih cepat mendapatkan mata dan jantung Citra untuk Darius.”


Warsita dan Arthasena saling bertukar tatap dan mendecih. “Aku tidak peduli dengan rencana omong kosong kalian. Yang aku mau proyek apartemen dan perumahan di wilayah Antara itu lancar. Aku tidak ingin kawasan elit yang akan kubangun nanti ada gelandangan berkeliaran.” Arthasena mencibir.


“Begitu juga denganku, aku hanya peduli dengan pembagian keuntungan dari bisnis kotor kalian. Itu jika kalian masih mau mendapat perlindunganku,” ujar Warsita sembari menepuk-nepuk bahu Adi.


Tangan Warsita ditepis oleh Adi, lantas ia mengeluarkan amplop coklat dari balik jaket yang dia kenakan dan melemparnya ke arah Warsita.


“Ini komisimu, lakukan yang terbaik untuk menutup kasus tunawisma itu!” Adi berbisik di telinga Warsita dengan nada mengancam.


Warsita mendorong tubuh kekar Adi, pria berusia enam puluh tahun itu masih tegap seperti saat dia masih menjadi perwira TNI.


“Selama ada ini, kasus itu tidak akan pernah terpecahkan. Kalian memang psikopat berdarah dingin. Berapa banyak lagi korban yang kalian inginkan untuk jantung dan mata anak Darius itu?”


Adi mencengkeram kerah baju Warsita. “Urus saja pekerjaanmu!”


Sebelum suasana memanas, Arthasena menarik Warsita untuk pergi dari sana. Ketika kedua mobil itu menjauh, Adi kembali menyulut lintingan nikotin dan menikmatinya di tepian sungai Alehanua.


“Citra akan kubuat menderita seperti Darius dan Vella membuat Evelyn menderita dulu.” Adi menggumam pada angin.


Ponselnya berdering, “Halo ... baik, kita mulai berburu lagi.”

__ADS_1


...****************...


__ADS_2