
Citra berhasil membuktikan bahwa Bara tidak bersalah, dia berhasil memperoleh rekaman CCTV yang luput dari penyidik dan rekaman tersebut bisa membantu Bara membuktikan alibinya.
Hari ini akhirnya Bara resmi dibebaskan tak bersyarat. Citra menjemput Bara sendiri, dia masih penasaran dengan apa yang dokter ini katakan sewaktu masih di dalam tahanan.
Citra melirik Bara yang duduk di jok samping dirinya, rasa penasaran akan ucapan pria ini beberapa waktu lalu memaksa dia bertanya dalam perjalanan, "Apa kamu yakin dia Bumi?"
"Sudah aku katakan padamu kemarin kalau aku belum yakin, tapi jika kamu tidak bertindak cepat, aku yakin akan jatuh korban lagi. Kalau bukan aku ... ya ... Pak Freddy."
Bara mengatakan hal tersebut sembari menatap lurus ke jalanan, dia seperti sedang memikirkan sesuatu. Di dalam kepala Bara saat ini — memori masa kecilnya terputar balik seolah proyektor film sedang me-rewind semua yang terjadi hingga dia berada di panti asuhan Benedict.
Perjalanan pulang setelah liburan sekolah Bara menjadi satu bencana bagi keluarganya. Mobil mereka mengalami kecelakaan karena rem yang blong dan mengakibatkan kedua orang tua Bara dalam kondisi kritis.
Anak laki-laki berusia tujuh tahun itu menatap tidak mengerti ke arah orang-orang berpakaian putih yang bolak-balik mendatangi ayah dan ibunya, sementara dia tidak boleh menemui mereka. Bara kecil masih belum paham dengan apa yang sedang terjadi. Kenapa kedua orang tuanya dipasangi begitu banyak kabel dan di samping ranjang mereka terdapat mesin-mesin aneh.
Suara biip panjang dari mesin yang ada di samping ibunya terdengar, dan membuat para dokter itu bergegas memberi pertolongan kembali, tapi akhirnya mereka menyerah dan hanya bisa menggeleng lemah. Tidak lama setelah itu — suara yang sama pun terdengar dari mesin di sisi kanan sang ayah, dokter-dokter itu juga mencoba menyelamatkan nyawa ayahnya — tapi gagal juga.
Pundak Bara ditepuk-tepuk oleh beberapa dokter yang ada di ruangan itu, salah seorang dokter wanita memeluknya dan mengusap punggung Bara. Sementara anak kecil ini masih belum mengerti jika kedua orang tuanya telah tiada.
Tubuh kedua orang tuanya tertutup kain putih, Bara terdiam, dia bingung melihat semua orang di ruangan itu memandang dengan tatapan iba padanya. Beberapa dari mereka berbisik-bisik, sembari melirik ke arahnya, mungkin mereka heran karena Bara sama sekali tidak menitikkan air mata. Dalam benak anak laki-laki ini — orang tuanya sedang tertidur karena sakit.
Manik mata bocah itu membaca papan nama gedung yang mirip dengan bangunan gereja di hadapannya. Panti asuhan Benedict, ia membaca papan nama itu dalam hati.
Karena tidak ada sanak saudara yang menjemput Bara — maka dengan terpaksa dia dititipkan di sebuah panti asuhan oleh petugas kepolisian. Meskipun banyak pertanyaan di benaknya, Bara kecil tetap mengikuti petugas polisi itu dalam diam.
"Bukankah panti asuhan hanya untuk anak-anak yang tidak memiliki orang tua?" tanya Bara tiba-tiba pada sang petugas yang mengantarnya.
Mendengar pertanyaan anak kecil yang sangat polos itu, wajah polisi ini mengiba, petugas ini mengelus puncak kepala Bara sembari tersenyum. Dengan lirih dia terpaksa berbohong kepada Bara, "Orang tua Bara-kan masih sakit. Jadi ... Bara tinggal di sini dulu sampai ayah dan ibu sembuh. Ok?"
"Kalau ayah-ibu sudah sembuh — Bara bisa ketemu mereka, 'kan?" Bara mencecar petugas yang bersamanya, dia merasa pria dewasa ini sedang berbohong.
Mendengar pertanyaan tersebut, petugas ini hanya bisa tersenyum getir tanpa berani menjawab.
Tiga tahun sudah Bara tinggal di panti ini dan perlahan dia mulai paham jika kedua orang tuanya tidak akan pernah kembali. Bulan-bulan pertama ia mengalami kesulitan beradaptasi, tapi beberapa orang anak panti mampu menghiburnya.
Bumi, Senja dan Raka adalah anak-anak yang bisa menjadi sahabat Bara, mereka berempat selalu bermain bersama. Sampai peristiwa naas yang menimpa Senja terjadi, gadis kecil berusia delapan tahun itu meninggal karena demam yang disebabkan oleh infeksi pada organ vitalnya.
Sebulan setelah kematian Senja, seorang kerabat ayah Bara datang untuk menjemput dirinya, dia pun meninggalkan panti asuhan itu. Meninggalkan Bumi dan Raka, sejak saat itu — kabar terakhir yang ia dengar adalah meninggalnya Raka dan juga berita tentang kebakaran yang menghanguskan panti asuhan tersebut.
Hal unik yang Bara ingat tentang Bumi adalah anak itu memiliki tanda unik berwarna merah muda di bagian pinggangnya. Mungkin dia tidak bisa mengenali wajah Bumi saat ini — tapi tanda lahir itu, tidak akan pernah berubah kecuali Bumi melakukan operasi plastik.
"Bara ... Bara! Bara!" Citra memanggil Bara yang melamun berulang kali dan membuat Bara tersentak.
Rush Citra sudah terparkir di basemen rumah sakit tempatnya bekerja, karena Bara terbukti tidak bersalah dan hanya mengalami fitnah, rumah sakit tidak memecatnya dan mengijinkan dia bekerja kembali. Tidak ada rumah sakit forensik yang ingin kehilangan dokter penggila kerja dan kompeten seperti Bara.
Keduanya masuk ke dalam rumah sakit dan langsung menuju ke ruangan Bara. Citra sengaja merahasiakan kepulangan Bara pada rekan-rekannya — paling tidak sampai dia yakin kebenaran ucapan Bara di dalam tahanan kemarin.
"Welcome home dokter stranger." Dokter Rianti menyambut rekan sejawatnya itu.
__ADS_1
"Ternyata kamu yang menguasai singgasanaku selama aku tidak ada."
Rianti mengedip. "Kamu punya tamu yang sudah lama menunggu," ejek wanita cantik yang lebih cocok jadi model dibandingkan jadi dokter forensik itu.
Rianti bergeser sedikit dari sisi meja autopsi sehingga kedua jasad psikiater yang masih terbaring di sana itu terekspose oleh penglihatan Bara. Tanpa membuang waktu, Bara pun memasang sarung tangannya.
"Kamu tahu ... lidah mereka dipotong," ujar Rianti seperti anak kecil sedang memamerkan mainan barunya yang rusak.
Informasi Rianti itu membuat Citra terkesiap, tanda penghukuman untuk pengkhianat dan pendusta yang dilakukan oleh psikopat itu, sama seperti ketika dia menghukum Johan.
Sembari menatap kedua jasad tersebut, Rianti berkata lirih, "Pembunuh ini benar-benar sadis dan tidak waras."
"Cit, kamu bisa 'kan secepatnya menyelidiki hal itu?" tanya Bara.
Citra menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tapi dia harus menyelidiki hal yang Bara minta — untuk mencegah pembunuhan selanjutnya. Dia juga masih punya tugas menemukan sedan civic hitam milik psikopat itu.
...----------------...
Malam ini, Charles kembali menyelinap ke rumah sang walikota, karena besok adalah hari kematian Senja — adik Bumi, jadi mereka harus membuat mantan pendeta itu membayar dosanya yang tidak pernah ia pertanggung jawabkan selama dua puluh tahun.
Jendela ruang kerja Pak Freddy atau mantan pendeta Ebenaizer yang selalu terbuka, mempermudah Charles masuk ke dalam. Ketika walikota tersebut menyadari kehadiran orang asing di ruangannya, semua sudah terlambat, karena dengan cekatan Charles membekap Pak Freddy dengan kain yang sudah diberi obat penenang.
Charles mengetahui beberapa titik buta rumah ini, karena salah satu dari mereka sering mengamatinya. Tubuh atletis Charles dengan mudah membopong tubuh renta Pak Freddy dan memasukkan ke dalam bagasi civic hitamnya.
Sedan hitam itu melaju santai melewati lorong dan gang-gang kecil untuk menghindari jalan raya, si pengemudi berkendara sembari bersenandung ringan seolah ia tidak sedang membawa Pak Walikota yang tengah pingsan di dalam bagasi mobilnya. Di jari Charles pun terjepit lintingan nikotin yang ia hisap dalam-dalam.
Charles mendudukkan Pak Freddy di bangku yang sudah lama ia siapkan, dia menutup wajah Walikota itu dengan sebuah kantong kain hitam. Kemudian ia mengalungkan seutas tambang yang terikat tepat di atas kepala Pak Freddy.
Setelah yakin posisi orang itu aman, dia menarik bangku lain dan duduk di hadapannya sembari menunggu pria tersebut tersadar. Dia bersiul, sementara tangannya tampak mengelap sebuah pisau bedah yang mengkilat, sampai kemudian pria dihadapan Charles itu menggeliat dan menunjukkan bahwa ia sudah sadar.
Mata Pak Freddy terbuka perlahan, tapi penglihatannya samar karena kepalanya tertutup. Dia berusaha memberontak — tapi dia menyadari ketika ia bergerak lehernya seperti terjerat seutas tali.
Charles tertawa sinis, dengan nada mengejek ia bertanya, "Bagaimana rasanya jika berada di dalam posisi tidak mampu melawan, Bapak Walikota yang terhormat?"
"Masih ingatkah kau dengan gadis kecil tak berdaya yang kau gagahi bersama tukang kebut bejat bernama Johan, sampai gadis kecil tak berdosa itu akhirnya meninggal?!" Charles berbisik dengan nada geram di telinga Pak Freddy
"Jangan ... jangan pegang Senja Pak Pendeta!" tiba-tiba Charles merengek seperti saat Senja meminta belas kasihan pada pimpinan panti asuhan itu dulu.
Tubuh Walikota ini gemetar, dia sama sekali tidak menyangka jika perbuatannya di masa lalu akan melahirkan monster gila seperti ini. Jika saja ia tidak tergoda hawa nafsu melihat kecantikan anak gadis berusia delapan tahun itu dulu, seandainya dia tidak merusak kehormatan gadis kecil itu, semua penyesalan ada di dalam benak mantan pimpinan panti tersebut.
"Apa mau mu?!" tanya Pak Freddy geram, dia masih saja mencoba melawan monster berwujud manusia di hadapannya.
"Kau sedang tidak dalam posisi bisa bernegosiasi pak walikota!" Kali ini Charles benar-benar marah dengan sikap angkuh dan tidak berdosa dari Freddy E. Yosef ini.
"Aku ingin bermain sedikit denganmu, seperti dulu kau sering mempermainkan kami. Sekarang aku akan memberimu kesempatan untuk melarikan diri — jika kau berhasil, maka serahkan aku ke pihak berwajib, tapi — jika kau gagal, kau harus meminta ampunan pada Senja di alam sana!" Bibir Charles terus meracau sembari melepas ikatan di kaki Pak Freddy dan juga lilitan tali di lehernya.
Charles kemudian membiarkan pria tua itu melarikan diri. Namun ikatan tangan Pak Freddy dan kepalanya yang masih di tutup membuat pria ini kesulitan menentukan arah. Sesekali kakinya terbentur dan nyaris jatuh di halaman yang tak terawat itu.
__ADS_1
Ia tidak bisa berteriak dengan mulut masih dibekap lakban, hanya bisa terus berlari dan berlari. Letak panti asuhan ini berada cukup jauh dari kota, bangunan ini sengaja dibangun pada lokasi perbukitan, bahkan jarak dengan tempat pemukiman warga pun lumayan jauh, jadi — tidak heran jika semua kejadian buruk di panti ini, dengan mudah bisa disembunyikan.
Kaki tua itu telah lelah berlari, suasana malam yang gelap membuat dia semakin kesulitan. Pak Freddy berlindung di balik sebuah pohon pinus besar, dan berusaha melepas ikatan tangannya.
Suara gemerisik daun kering samar terdengar dari kejauhan, langkah kaki itu dibarengi dengan senandung yang kerap ia nyanyikan dulu ketika bermain petak umpet bersama anak-anak panti asuhannya.
"I know you can hear me
Open up the door
I only want to play a little
Ding dong
You can't keep me waiting
It's already too late
For you to try and run away
I see you through the window
Our eyes are locked together
I can sense your horror
Though I'd like to see it closer."
Langkah kaki itu semakin lama semakin dekat, Pak Freddy memutuskan untuk lari lagi dan mencari tempat persembunyian lain sembari masih berusaha melepaskan ikatan tangannya.
Berhasil! Ia berseru dalam hati karena berhasil melepas ikatannya. Dia juga melepas kain yang menutupi kepalanya itu dan kembali berlari menuju arah jalan setapak.
Matanya memicing melihat sebuah cahaya dari kejauhan. Cahaya lampu mobil! Ia pun melambaikan tangannya meminta pertolongan, akhirnya mobil tersebut mendekat dan Pak Freddy bisa bernapas lega karena ia merasa aman sekarang. Saat ini, dia hanya harus meminta orang ini untuk mengantarnya ke kantor polisi.
Wajah Pak Freddy semakin gembira ketika pintu mobil itu terbuka dan melihat si pengemudi adalah Banyu Aji. Dia pun menceritakan kronologi penculikannya.
Banyu Aji mengangguk mengerti, dia lalu meminta Pak Freddy mengantar dia ke sana, ke lokasi tempat Walikota ini disekap dan Pajero putih itu pun berhenti di belakang sebuah civic hitam. Dengan dalih tidak begitu mengenal tempat tersebut — Banyu Aji meminta Pak Freddy ikut turun dan dia menjamin keselamatan Walikota ini.
Setibanya di gudang tempat dirinya tadi disekap — mereka berdua melihat seorang pria yang mengenakan masker hitam, anehnya dia sama sekali tidak terkejut melihat kedatangan Banyu Aji. Di luar dugaan sorot mata orang itu malah berbinar senang dan melepas maskernya.
"Sampai kapan kau akan terus bermain-main seperti anak kecil!? Bagaimana jika tadi orang lain yang menemukannya, hah?" Banyu Aji menghardik Charles yang cengar-cengir sembari menggaruk pipinya dengan punggung pisau di tangannya.
Charles tertawa lebar, dia berujar ringan pada Banyu Aji, "Aku tahu kamu sedang dalam perjalanan kesini, jadi aku bermain-main sejenak dengannya."
Banyu Aji mendengus kesal, dia kemudian mendorong Pak Freddy ke arah Charles. Sang Walikota terlihat sangat tidak berdaya, apalagi dia syok melihat siapa sesungguhnya dalang dari peristiwa pembunuhan berantai tersebut. Dia tidak menyangka sosok di balik nama 'Pria Tangan Tuhan' yang diburu kepolisian.
Keterlibatan Banyu Aji pun membuat Pak Freddy lemas. Dia pun pasrah kembali terikat di bangku semula, tempat dia duduk ketika pertama kali dibawa oleh si penculik.
__ADS_1
...****************...