The Murderer

The Murderer
BAB 50 - Kotak Pandora


__ADS_3

Citra membaca file lama kasus beku pembunuhan tunawisma yang pernah ia tangani dulu. Dia memperhatikan tali yang pelaku gunakan untuk menggantung jasad korbannya.


“Tali kekang anjing yang sama. Dia mungkin sedang melakukan uji coba pada korbannya yang pertama.” Dia bergumam sembari membaca lembar demi lembar berkas penyidikan lama itu.


“Cara pemotongan tangannya masih kasar dan serampangan. Mungkin dia melakukannya sendiri ....”


Suara pintu geser yang dibuka menghentikan monolog Citra, dia menoleh. Dito sudah bersandar di bibir pintu sambil bersedekap, dia menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Citra yang duduk bersila di lantai alih-alih duduk di atas kursi.


“Apa kau sedang berpiknik atau semacamnya?” sindir Dito, dia berdecak tidak mengerti dengan mantan rekannya itu.


“Kau tahu? Jika komandan tahu kau ada di ruangan ini, aku bisa kena surat peringatan.” Dito mengingatkan Citra tentang posisinya, tapi wanita itu tidak peduli.


Citra menunjuk kotak yang berisi beberapa barang bukti kasus itu, “Kasus di Manggala dan kasus beku ini, berkaitan. Tunawisma ini, adalah kelinci percobaan psikopat itu.”


Kali ini Dito menjadi tertarik dengan penuturan Citra, dia tahu jika wanita ini sedang menyelidiki kasus pembunuhan berantai di kota Manggala. Namun, yang tidak ia mengerti adalah kenapa Citra bisa menyimpulkan kalau kasusnya berkaitan dengan kasus beku di Mandalanusa ini.


“Jasad-jasad tunawisma yang menjadi korban itu juga digantung dengan jenis tali yang sama persis. Tali kekang anjing pemburu.”


Raut wajah Dito tiba-tiba berubah, sepertinya dia menyadari sesuatu. “Aku ingat, suami Dokter Evelyn suka memelihara berbagai macam anjing pemburu. Jangan-jangan ... kau tidak berpikir jika pelakunya salah satu dari keluarga Dokter Evelyn, 'kan?”


“Ingat! Christian anak mereka adalah seorang jaksa. Kabarnya dia dipindahkan ke kotamu.” Dito berusaha membantah kecurigaan Citra.


“Intinya aku yakin mereka berhubungan dengan kasus-kasus ini. Bukan berarti aku menuduh mereka, tapi bisa jadi, kotak pandora kasus ini ada di salah satu dari mereka.”


Melihat Citra yang sepertinya enggan beranjak dari ruangan berkas ini, Dito pun memaksa wanita ini bangkit dan segera keluar dari ruangan itu. Mereka bisa terkena masalah jika komandannya tahu dia membiarkan polisi dari yuridiksi lain, masuk ke ruang dokumen ini.


Citra mengekor di belakang Dito dengan terpaksa, sebenarnya masih ada yang ingin ia cari di sana. Namun, dia juga tidak ingin Dito terkena masalah.

__ADS_1


Ponsel Citra ternyata sudah terisi daya penuh ketika mereka tiba di ruangan Dito. Tanpa buang waktu, Citra menyalakan benda berbentuk persegi panjang pipih itu. Beberapa notifikasi masuk.


“Haris ... Bara ... Christian?” Dahi Citra berkerut saat melihat notifikasi dari buronannya itu muncul juga di layar.


Dia pun membuka pesan yang berisi satu pesan teks dan satu pesan suara tersebut.


[Christian : Aku membuka kotak pandora masa laluku.] Pesan teks yang dikirim oleh pria ini menimbulkan tanda tanya besar dalam benak Citra.


[Aku meminta Bara menyelidiki tentang ikatan darahmu dengan papaku, papa tiriku, eh, bukan—papa angkatku, ingatanku selama ini dimanipulasi oleh keluarga Evelyn. Namaku Gerald, aku dulu juga anak panti asuhan Benedict sama seperti mendiang Raka, aku bukan Christian.]


Citra memperbaiki posisi duduknya untuk mendengar kelanjutan voice note dari Gerald itu.


[Evelyn menggunakan diriku untuk menutupi jati diri Christian yang sebenarnya. Pria dengan luka bakar di wajah, dan selama ini diakui Evelyn sebagai keponakan Darius, suami barunya, papa kandungmu. Maaf karena aku terpaksa membuatmu tidak nyaman kemarin, aku membutuhkan benda yang memiliki sampel DNA-mu.]


Manik mata Citra membulat mendengar jika pria itu ternyata mengambil sampel DNA-nya diam-diam dan dia juga mengetahui tentang orang yang Evelyn sebut sebagai papa kandungnya.


Pesan suara itu terputus. Raut wajah Citra menegang saat mendengar voice note yang dikirim oleh Christian alias Gerald. Dia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh pria itu.


[Haris : Jasad Christian ditemukan tergantung di bekas klinik terbengkalai di luar kota Manggala. Pergelangan tangan dan kakinya hilang.] Lagi-lagi pesan teks yang cukup membuat Citra terkejut kini ia terima dari Haris.


Itu artinya pria itu tidak berbohong jika dia diserang oleh orang asing.


[Bara : Jika kau sudah kembali, temui aku di rumah sakit!] Kali ini pesan singkat dari Bara yang ia baca, membuat dia merasa penasaran. Citra benar-benar merasa bingung, dia duduk di kursi, tangannya memijat pelipis yang tiba terasa berdenyut kencang. Ada rahasia apa sebenarny


Entah kenapa sejak awal pelaku ini seperti sedang mempermainkan dia atau memang mengincar dirinya.


...----------------...

__ADS_1


Strobo mobil patroli itu masih menyala meskipun tanpa suara sirine. Beberapa mobil patroli dan dua mobil van milik forensik serta satu ambulance, terparkir di halaman gedung terbengkalai bekas klinik.


Jasad yang dibiarkan tergantung bebas itu seolah sengaja pelaku buat sebagai pajangan seni. Luka menganga di bagian pinggang dan dada, serta bagian paha yang dibalut kain kasa itu juga terluka. Haris terkejut ketika melihat siapa jasad tersebut.


“Komandan harus mengetahui hal ini.” Dia bergumam sembari mengetik pesan teks untuk komandannya yang sedang berada di Mandalanusa, Medan sekarang ini.


Para petugas forensik itu menurunkan jasad pria yang ternyata adalah Christian. Haris memandang iba pada teman dekat komandannya tersebut. Memang mereka hanya sekali bertemu, meski Christian terlihat angkuh, sebenarnya pria itu cukup ramah.


Sudah bisa dipastikan jika kematian Christian disebabkan oleh luka tusukan di bagian belakang tubuhnya yang menembus hingga jantung.


“Luka ini ... sepertinya pelaku menggunakan pisau jenis bayonet atau sangkur.” Bara bergumam pada Haris sembari mengambil foto TKP.


Dia masih sambil berkeliling dan melangkah hati-hati, dia melanjutkan ucapannya, “Sangkur berjenis SOG Seal berukuran panjang tiga puluh satu sentimeter. Apa pelakunya seorang army atau orang biasa yang ahli menggunakan pisau jenis ini?”


Haris mengernyitkan dahi, dia mengekor di belakang dokter forensik itu dengan perasaan excited karena ketajaman penilaian Bara. Hebat, hanya dengan melihat sekilas luka itu, Dokter Bara bisa menebak jenis senjata tajam apa yang digunakan pelaku. Dia memuji Bara dalam hati.


Kaki Haris tak sengaja menendang benda berbentuk persegi panjang di lantai. Ternyata itu adalah sebuah ponsel dengan layar yang sudah retak.


“Dokter Bara ....”


“Bara, cukup panggil aku dengan sebutan Bara!” tegas Bara saat Haris memanggil dia dengan Dokter Bara.


Namun, Haris tidak menghiraukan protes Bara itu dan mengacungkan ponsel tadi dengan tangan yang dilapisi kaos tangan. Bara mendekat dan mengambil benda tersebut.


Ponsel itu dia masukkan ke dalam plastik bening barang bukti. “Apa ini milik Christian? Semoga data-data di dalamnya masih bisa dipulihkan.”


Melihat kondisi layarnya yang rusak parah, mereka hanya bisa berharap pada bagian IT untuk memulihkan data-data di dalam ponsel itu. Jika memang benda tersebut adalah milik Christian, siapa tahu ada petunjuk yang bisa menuntun penyelidikan pada pelaku.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2