The Murderer

The Murderer
BAB 28 - Jasad Pasangan Psikiater (Revisi)


__ADS_3

Kaki Faisal lemas — dia kemudian setengah berlari dan naik kembali ke gudang, dengan tangan gemetar ia lalu menghubungi Citra. Pemandangan di dalam ruang bawah tanah itu membuatnya tidak mampu bergerak.


Cukup lama ia menunggu hingga suara sirene terdengar dari luar rumah, kilatan lampu strobo terlihat dari jendela yang berdebu itu. Faisal hanya bisa terduduk di lantai sembari bersandar ke dinding gudang yang penuh debu, kakinya sama sekali tidak bisa dia gerakkan, tubuhnya pun terus gemetar mengingat isi ruangan itu.


Citra melihat Faisal dengan tatapan khawatir. "Are you ok?" Ia bertanya sembari memegang bahu Faisal.


Faisal hanya mengangguk lemas dan menunjuk jalanan masuk ke ruang bawah tanah, dari lubang di lantai itu, tercium aroma menyengat seperti formalin. Citra bersama Banyu Aji masuk ke dalam dan ditemani beberapa petugas forensik tanpa Bara, karena dokter andalan mereka itu masih meringkuk di sel tahanan kejaksaan.


Mereka menuruni satu persatu anak tangga sampai tiba di dasar, ternyata ruangan tersebut cukup sempit untuk tujuh orang dewasa seperti mereka. Cahaya senter memecah kegelapannya, ketika senter salah satu petugas forensik menyinari sudut ruangan—


Tangan Citra menutup mulutnya dan memekik tertahan melihat pemandangan yang ada di sana. Sepasang pria dan wanita yang terduduk kaku di sudut ruangan, mereka sepertinya sudah cukup lama tewas, kemudian tubuh mereka diawetkan dengan formalin.


Ada bekas goresan panjang terlihat jelas di leher jasad si pria, kemudian jeratan tali pada leher si wanita, Citra mendekati kedua jasad tersebut dan membalik telapak tangan mereka. Tepat seperti dugaannya, sebuah salib terbalik ada di sana, ia meminta pihak forensik membalik jasad yang sudah kaku itu.


Mazmur 5:6


(5-7) Engkau membinasakan orang-orang yang berkata bohong, TUHAN jijik melihat penumpah darah dan penipu.


Amsal 12:2


Orang baik dikenan TUHAN, tetapi si penipu dihukum-Nya.


Lagi-lagi dugaannya benar, mereka juga merupakan korban pembunuhan psikopat itu. Sudah dipastikan pria dan wanita ini adalah Agustina dan James, pemilik rumah yang dikira warga sekitar pindah entah kemana. Citra, Banyu Aji beserta tim mereka kembali ke atas, dan menemukan Faisal yang masih pucat, baru kali ini dia begitu ketakutan melihat mayat.


"Sal!" tegur Banyu Aji mengguncang bahu Faisal dan membuatnya tersentak, ia menengadah sehingga kedua atasannya itu bisa melihat wajah Faisal yang pias.


"Me—mereka—"


Karena khawatir Faisal tidak bisa berkonsentrasi, Citra memintanya pulang saja. Namun Faisal menolak, dia pun tidak mengerti kenapa mayat itu seolah menjadi momok mengerikan untuknya, padahal bukan sekali atau dua kali dia melihat jenazah, bahkan yang paling hancur sekalipun. Namun, tidak pernah dia merasa setakut ini.


Setelah berhasil menguasai diri, Faisal bangkit dari duduknya, dia mulai ikut menyisir seisi rumah berlantai dua itu dan membuka ruangan demi ruangan. Faisal merasa tiap sudut rumah ini tidak asing baginya.


"Bu Citra!" seorang petugas forensik memanggilnya, "Kedua jasad itu memiliki luka menganga di kepala, sepertinya mereka juga sempat dipukul oleh benda tumpul," lanjutnya menjelaskan.


Faisal naik ke lantai dua, sebuah ruangan di ujung lorong itu menarik perhatiannya. Dia terus berjalan dan mencapai ruangan dengan pintu lebar tersebut, dengan sekali gerakan — pintu tersebut terbuka.


Lagi-lagi Faisal dibuat syok dengan pemandangan yang ada di ruangan itu, beberapa alat mengerikan, rantai-rantai panjang dengan borgol tebal di ujungnya, juga sebuah alat pasung untuk tangan dan kaki. Kemudian dinding kusam itu — dinding tersebut penuh dengan lukisan-lukisan aneh yang sangat mengerikan.

__ADS_1


Dinding itu juga dipenuhi cat merah seperti darah yang sudah berubah menjadi merah kecoklatan, Faisal mengelilingi ruangan itu. Beberapa buku tentang DID serta beberapa sisa lilin aroma terapi yang tampak sudah terbakar setengah.


Kaki Faisal melangkah mundur dan membentur sebuah lemari besar, ia berbalik ke belakang kemudian membuka lemari tersebut, ia menemukan beberapa map yang berisi file di dalamnya dan masing-masing map berisi data dengan nama orang yang berbeda.


Charles, pria tiga puluh enam tahun, impulsif dan tidak memiliki empati.


Senja, anak perempuan berusia delapan tahun, ceria, manja dan pemarah.


Gabriel. Anak laki-laki berusia sepuluh tahun, pendiam, penyayang dan penuh empati.


Debora. Wanita berusia empat puluh tahun, penyabar, selalu berdoa dan lembut.


Bumi. Tumbuh dari pribadi introvert, menjadi sosiopat, pendiam dan tidak memiliki emosi.


Satu map lagi kosong, hanya berisi semacam resep, obat yang kemungkinan adalah obat anti depresan. Faisal membawa file-file tersebut kepada Citra dan ketika membaca file-file itu — dia pun akhirnya paham, mungkin psikopat yang mereka hadapi ini memiliki kepribadian ganda.


Mereka membawa file tersebut sebagai salah satu barang bukti. Faisal pun meminta forensik untuk memeriksa ruangan tempat ia menemukan file tersebut, betapa mengejutkannya ketika setelah disemprot cairan luminol, ada banyak bercak darah yang membentuk garis lurus hingga ke gudang.


Dugaan sementara, kedua psikiater ini di serang dengan benda tumpul di ruangan ini lalu di seret ke bawah. Forensik masih mencari senjata pembunuhnya, kemudian mereka tertarik pada sebuah alat pasung yang terbuat dari kayu.


Penyelidikan di rumah ini pun mereka akhiri. Jasad yang diawetkan itu pun di bawa oleh ambulance rumah sakit Bhayangkara. Di luar rumah, orang-orang lingkungan itu sudah sibuk berkerumun, mereka jadi ketakutan mengingat mayat itu sudah berbulan-bulan lamanya.


Kehebohan itu ternyata disaksikan diam-diam oleh pengendara SUV tadi. Dia kembali menghubungi seseorang dari ponselnya.


"Dokumen itu di luar rencana .... Jika mereka menemukan dokumen-dokumen tersebut — akan sangat berbahaya ... baik, saya akan mengatur semua."


...----------------...


Labfor tanpa Bara seperti rumah duka, seorang dokter pengganti wanita sedang memeriksa kondisi mayat itu. Rianti, wanita berusia tiga puluh tahun, ahli forensik dan spesialis toksikologi.


"Jasad ini diperkirakan meninggal sejak enam atau tujuh bulan yang lalu," jelasnya.


"Apakah itu setelah peristiwa pembunuhan suster Grace atau sebelumnya?" Citra bertanya-tanya sendiri.


Dokter wanita itu melanjutkan pemeriksaannya, karena tidak ingin mengganggu pengganti Bara itu — Citra berpamitan kembali ke kantor. Namun di tengah perjalanan ia memutar arah mobilnya menuju tempat Bara ditahan.


"Apakah yang kamu ucapkan ketika interogasi semua jujur, Bar?" tanya Citra.

__ADS_1


Bara mencebik, "Baru kali ini kamu tanya itu kepadaku? Dan sudah berapa kali aku mengatakan kalau aku dijebak!" sindirnya.


"Lantas kenapa semua alat yang digunakan pembunuh itu, ada di apartmenmu?"


"Aku sendiri jarang pulang ke apartemen. Lagipula, aku terbiasa meninggalkan kunci apartemenku di bawah pot bunga," tuturnya lagi.


"Siapa saja yang mengetahui perihal kunci itu?" cecar Citra. Dia sekarang akan berusaha mencari bukti jika Bara tidak bersalah.


"Sebenarnya—"


Tubuh Bara condong ke depan dan membisikkan sesuatu kepada Citra, matanya membulat mendengar hal tersebut. Pria yang menggunakan baju tahanan itu kembali menegakkan posisi duduknya.


"Jika apa yang aku katakan itu benar, berarti tidak salah lagi, dia adalah Bumi!" tandasnya.


Citra limbung mengingat apa yang telah Bara bisikkan padanya barusan, dia menyebutkan nama seseorang yang tidak pernah Citra duga selama ini.


Sementara Citra sibuk dengan Bara, di tempat lain, Charles duduk sendirian di sebuah ruangan. Dia memandangi foto sang walikota, seringainya terlihat sangat mengerikan sekilas kelihatan jika ia akan kembali berusaha untuk membunuh Pak Freddy.


Kali ini dia tidak boleh gagal, dirinya dan Senja akan mengakhiri ini selamanya, kemudian mereka akan pergi membawa Bumi, Gabriel dan Debora. Ponsel di saku jaket Charles bergetar.


"Halo .... Ya, saya sudah tahu ... baik, kami akan mengakhiri ini tanpa melibatkan pimpinan komunitas." Charles mematikan ponselnya dan kembali menatap lurus ke cermin.


"Kak Charles, nanti Kak Bumi ikut sama kita, 'kan?"


Charles kembali bermonolog. Sebuah senyuman yang lebih mirip seringai itu tersungging di bibir pria ini. "Pasti! Mereka akan pergi bersama kita, nanti!"


Ia terus menatap ke arah cermin di hadapannya itu. Ruangan sempit berukuran dua kali tiga itu hanya berisi sebuah cermin dan jaket serta coat hitam yang biasa ia kenakan, dirinya beranjak dari tempatnya duduk dan keluar dari ruangan itu, dan ternyata ruangan tersebut adalah ruang kecil yang ada di balik sebuah lemari.


Tangannya meraih sebuah jaket berwarna hitam dengan bahan kanvas, ia mengangkat tinggi-tinggi jaket tersebut. Salah satu kancing di pergelangan tangannya hilang, tapi dia tidak memperdulikan hal tersebut. Setelah mengenakan jaketnya, ia mengambil sebuah topi yang tersimpan rapi di dalam sebuah kotak, lalu ia pun pergi.


......................


Sejak menemukan jenazah kedua psikiater itu, Faisal merasakan kengerian yang begitu kuat. Hari itu ia meminta cuti sehari kepada Citra, dirinya mungkin butuh sedikit istirahat.


Faisal merebahkan tubuhnya di atas ranjang, mencoba untuk menutup matanya tapi tidak berhasil. Ia pun duduk mengkhayal di tepian kasur, kemudian tubuhnya seolah bergerak sendiri tanpa di perintah dan menuju buffet di depan kamarnya yang memang jarang ia sentuh. Saat ia membuka lacinya, raut wajah Faisal menjadi pucat pasi, ia terduduk di lantai dengan tatapan kosong.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2