
Berdasarkan keterangan Dokter Hendrawan yang kini ditahan karena secara tidak langsung mengakui dirinya sebagai kaki tangan, Citra meminta surat perintah penggeledahan untuk Christian.
Hari ini, mereka sudah mengantongi surat tersebut. Dalam perjalanan menuju apartemen Christian, kata-kata pria tua itu selalu terngiang.
“Christian adalah anak yang tidak diinginkan, Evelyn adalah putri kandungku. Dia mengandung setelah diperkosa oleh beberapa gelandangan yang mabuk ketika pulang kuliah.”
Artikel tahun 2017 itu apakah Christian yang melakukan semua pembunuhan itu? Kepala Citra terasa begitu pening memikirkan kasus kali ini.
Rush hitam Citra masuk ke pelataran parkir, ia seperti dejavu ketika melihat gedung tinggi berlantai dua puluh itu. Dulu, dia juga kesini untuk menggeledah unit milik Faisal. Sekarang, ia harus kembali menggeledah apartemen yang sama di unit yang berbeda.
Penggeledahan itu berlangsung cukup lama. Namun, tidak satupun bukti yang mereka temukan.
Di tengah penyelidikan, seseorang seperti mengintip dari celah pintu yang terbuka. Citra menyadari hal tersebut dan lari mengejar orang tadi. Orang itu lebih dulu masuk ke dalam lift, sehingga memaksa Citra turun lewat tangga darurat agar bisa mengejarnya.
Orang itu lebih dulu tiba ke parkiran yang ada di basemen, dengan sigap Citra menarik jaket parka yang dikenakan orang tersebut ketika akan masuk ke mobilnya. Perkelahian pun tidak terelakkan.
Beberapa kali dia mendapati orang ini seperti sengaja menghindar agar serangannya tidak mengenai Citra. Namun, Citra tidak mau lengah, dia pun berhasil memelintir tangan orang tersebut ke belakang untuk menarik masker yang menutupi wajahnya. Betapa terkejutnya Citra, ketika ia berhasil menarik masker penutup wajah itu.
“Christian!” pekik wanita ini ketika melihat orang yang dia kejar adalah terduga pelaku pembunuhan berantai itu.
Melihat Citra yang lengah pria itu langsung menjegal kaki calon tunangannya dan masuk ke dalam mobil, lalu melajukan camri hitam metallic itu dengan kecepatan tinggi. Tanpa pikir panjang, Citra memanggil Haris dengan walkie talkie dan meminta bawahannya meng-handle penggeledahan, sementara dirinya akan mengejar Christian.
Sedan camri di depannya melaju dengan kencang, memaksa Citra untuk menginjak pedal gas semakin dalam. Lalu lintas yang padat membuat ia kesulitan melakukan pengejaran, sementara sedan hitam itu begitu lincah melewati celah-celah kemacetan. Citra pun kehilangan jejak.
Dia menepikan kuda besi itu. Citra memukul kemudinya dengan kesal kemudian menghubungi bagian satlantas untuk membantu dia menemukan mobil Christian tersebut.
Kenapa dia harus melarikan diri? Pelarian Christian itu membuat rasa curiga Citra semakin kuat. Dia menekan nomer ponsel pria itu, seperti dugaannya ponsel Christian tidak aktif.
__ADS_1
“Mama, pasti mama tahu tentang pria brengsek itu!” Citra memutuskan untuk menghubungi Rita, mama angkatnya. Nada sambung itu terus berbunyi tanpa ada yang menjawab panggilannya.
Setelah berkali-kali menghubungi mamanya dan tidak berhasil, Citra memilih untuk kembali ke apartemen Christian. Haris ternyata sudah selesai menggeledahnya dan tidak menemukan apapun.
“Komandan, kami hanya menemukan ini.” Haris menyodorkan selembar foto, di dalamnya ada gambar seorang wanita yang Citra kenal sebagai Evelyn bersama anak laki-laki dan itu sudah pasti Christian, tapi dia seperti memiliki luka bakar di pipinya.
Apakah ini Christian? Batin Citra bertanya-tanya, dia merasa harus secepatnya menyelidiki kasus ini. Ekor mata Citra melihat secarik kertas memo di atas meja Christian.
Dia meraih kertas memo tersebut, “God's Hand.” Citra seperti pernah membaca nama ini, tapi dia lupa di mana. Dia mengantongi memo itu kemudian menyusul rekan-rekannya yang sudah lebih dulu turun ke lobby.
Selama perjalanan kembali ke kantor, di dalam pikirannya terus saja terbayang nama God's Hand. Tiba-tiba dia memutar kendaraannya menuju rumah sakit Bhayangkara, dia rasa Bara dan Rianti mengingat hal ini.
Sesampainya di sana, Citra tidak menemukan Bara di mana pun, hanya ada Rianti di ruangan laboratoriumnya.
“Eh, ada apa? Tumben ke sini tanpa kabar.” Rianti terkejut melihat dia yang tiba-tiba muncul di situ.
“Bara di mana?” Citra tidak menjawab pertanyaan Rianti dan langsung mencari Bara. Rianti mengangkat bahu, sepertinya dia juga tidak tahu ke mana dokter gila itu pergi.
Dia kemudian menggebrak meja membuat Citra terlonjak kaget. “Situs, situs balas dendam yang menjadi awal kasus Pria Tangan Tuhan itu!”
Citra menjentikkan jarinya, “Kau benar! Situs itu, situs yang menyesatkan Banyu Aji dan Andre.” Apa hubungan situs itu dengan Christian? Pertanyaan itu muncul dalam benak Citra.
“Kenapa, Cit?” Jiwa penasaran Rianti terusik.
“Thank you so much, Rianti. You're the best!”Tanpa menjawab pertanyaan dan menghiraukan protes Rianti, dia meninggalkan laboratorium itu.
Langkahnya ia percepat agar segera bisa kembali ke kantor untuk memulai penyelidikan dari awal lagi. Ketika dia sedang menuju basemen, seseorang menarik tangannya dan membekap mulutnya.
__ADS_1
Mata Citra terbelalak saat melihat Jaka yang berdiri di hadapannya dengan keadaan yang kacau. Yang membuat dia semakin kaget adalah, sebelah tangan Jaka dibalut kain seadanya, warna kecoklatan pada kain itu menunjukkan kalau lukanya sudah lumayan lama.
“Ka—kau dari mana saja?” bisik Citra geram, setelah Jaka melepaskan tangannya dari mulut Citra.
“Panjang ceritanya komandan. Aku berhasil sampai di sini saja, sudah beruntung,” lirih Jaka, dia menyandarkan punggungnya di dinding. Wajahnya tampak begitu lelah.
Citra mengajak Jaka untuk masuk ke dalam rumah sakit, tapi dia menolak. Dia merasa tidak aman jika dirawat di rumah sakit. Jadi, Citra memutuskan untuk membawa Jaka ke rumahnya kemudian meminta Andrian memeriksa luka Jaka nanti.
“Bagaimana kau bisa terluka parah seperti ini?” Citra bertanya pada Jaka yang duduk bersandar di jok belakang.
Jaka menatap jalanan dari jendela di sampingnya, “Saya menyelidiki Dokter Hendrawan dan berakhir disandera oleh orang gila yang memakai riasan joker.”
“Lantas lukamu?”
“Dia bukan hanya gila, tapi seorang psikopat. Orang itu memiliki hobi aneh, memburu gelandangan kemudian mengoleksi tangan dan kaki mereka.” Suara Jaka terdengar bergetar penuh kengerian, “orang itu mengurung saya, kemudian memotong tangan saya untuk membuat kepolisian kalang kabut jika DNA saya ditemukan pada salah satu tangan yang di mutilasi kemarin.”
Entah karena lelah, menahan sakit atau memang Jaka benar-benar lemah, dia jatuh tertidur di jok belakang. Sesekali Citra melirik spion untuk memperhatikan anak buahnya itu.
Dari kejauhan Citra melihat pintu pagar rumahnya terbuka. Tidak mungkin Anto lupa menutup pagar, gumamnya dalam hati. Citra memarkir mobilnya, pintu rumahnya juga nampak terbuka lebar, kali ini Citra mendadak merasa cemas.
Jaka ia tinggalkan dulu di dalam mobil dan bergegas turun. Rumahnya sedikit berantakan, dia menemukan bercak darah di lantai membentuk garis lurus menuju gudang belakang.
Langkah Citra gemetar, dia tidak berani membayangkan kemungkinan yang terjadi di dalam rumahnya. Perlahan dia membuka gudang kecil di dekat dapur.
“Aaaarggghhhh!” Citra terduduk lemas melihat jasad Anto tergantung di dalam gudang tanpa tangan dan kaki.
Tangannya masih gemetar saat dia menekan nomer Haris untuk meminta bantuan. Citra hanya bisa memandangi jasad bocah itu sampai rekan-rekannya datang bersama petugas forensik.
__ADS_1
Apa ini perbuatan Christian? Apa salah bocah ini? Citra meratapi Anto dalam hati.
...****************...