The Phoenix

The Phoenix
Episode 10. Hitam dan putih


__ADS_3

"Ya ampun...!" Seru beberapa gadis muda sambil menutup mulut mereka dengan telapak tangan.


Ye Wu Shuang di depan mereka tampak sangat menyedihkan. Wajahnya terlihat kurus seakan hanya menyisakan tulang yang terbalut kulit. Darah keluar sudut bibirnya, membuat sebagian pakaian Ye Wu Shuang bernoda darah.


Tubuh kurus kering yang terbaring di atas jerami membuat wanita itu seperti pengemis yang tidak memiliki sanak saudara. Pakaian yang dia kenakan bernoda darah dipenuhi kotoran lumpur dan tanah, membuat para bangsawan berpikir jika Ye Wu Shuang sudah banyak mengalami penganiayaan yang tidak bisa dibayangkan oleh mereka.


"Keterlaluan! Benar-benar keterlaluan! Aku tidak tahan lagi melihat ini semua!" Tegas wanita paruh baya di barisan paling depan.


"Nuo Li, Nuo'er, bawa Nona Ye Wu Shuang ke dalam kereta kuda. Jika keluarga Ye tidak sanggup menjaga seorang gadis muda, aku yang akan menjaganya!" Bentak wanita tersebut dengan suara meninggi.


Ye Wu Ching sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya saat ini. Dia tidak menyangka jika Ye Wu Shuang sungguh berada di dalam gubuknya.


"Bagaimana wanita ini bisa kembali ke sini? Bukankah dia seharusnya sudah mati di dalam hutan kabut?" Tanya Ye Wu Ching dalam hati.


Ye Wu Shuang menatap mata Ye Wu Ching yang juga sedang menatapnya dengan mata membesar. Diam-diam dia menyeringai, mengejek gadis di depannya dengan kemenangan yang dia peroleh dari hasil rekayasa, meskipun tidak semuanya adalah kebohongan.


Beberapa saat sebelum Yin Qiu membawa para bangsawan masuk, Ye Wu Shuang mengambil sebuah arang dari lantai untuk digunakan sebagai make up. Dia mengambar garis tulang pipinya agar terlihat tegas, sehingga para tamu yang dia undang secara tidak langsung itu melihatnya dengan tatapan simpati dan belas kasihan.


Para bangsawan kembali bergosip dengan perasaan iba dan kasihan terhadap Ye Wu Shuang. Sebagian menatap kesal dan marah ke arah Ye Wu Ching namun mereka tidak berani menegurnya secara langsung.


"Kasihan sekali Nona Ye Wu Shuang, dia disiksa di dalam rumahnya sendiri."


"Tidak disangka, keluarga Ye yang terkenal baik hati dan dermawan ternyata tega menyiksa darah dagingnya sendiri.


"Ck... Ck... Lihat wajah Nona itu, sepertinya yang dikatakan oleh pelayan tadi memang benar. Nona Ye Wu Shuang tidak mendapatkan makanan yang layak di rumahnya sendiri.

__ADS_1


"Kurus bagaikan tengkorak hidup. Sungguh membuat sedih hati orang-orang yang melihatnya. Tetapi kenapa keluarganya malah acuh tak acuh?"


Kedua pelayan berpakaian hijau muda maju ke depan, mendekati Ye Wu Shuang dengan hati-hati.


"Tidak boleh!"


Ye Wu Ching mendekat, menghadang di depan kedua pelayan.


"Nyonya Gu, saya tidak akan mengizinkan anda untuk membawa Kakak pergi!"


Wanita paruh baya itu mengerutkan kedua alisnya, wajahnya yang marah kini merah padam karena darahnya terasa mendidih.


"Sebaiknya kau menyingkir, atau aku akan membawa kasus ini ke hadapan Yang Mulia Kaisar!" Ancam Nyonya Gu dengan suara lantang.


Nyali Ye Wu Ching langsung menciut begitu mendengar nama Kaisar. Wanita itu memundurkan langkahnya, menyingkir dari hadapan kedua pelayan Nyonya Gu dengan tatapan kesal dan geram. Meskipun marah dan tidak rela, dia tidak bisa melakukan apa-apa karena Nyonya Gu adalah bibi dari Kaisar saat ini.


"Ayo bubar, aku mual berada di sini terlama lama."


"Aku juga ingin segera pergi dari tempat ini!"


"Tempat ini seharusnya dihancurkan saja!"


"Ck... Mereka benar-benar tidak memiliki hati nurani. Bisa-bisanya membiarkan seorang Nona bangsawan hidup di tempat seperti ini."


"Aku bahkan hampir mati hanya dengan mencium bau sampah di sini."

__ADS_1


Para bangsawan berkeluh kesah dengan keadaan gubuk yang menjadi tempat tinggal Ye Wu Shuang. Mereka semakin jijik terhadap kepala keluarga Ye yang memperlakukan anak gadisnya seperti itu.


Ming Luo Xi, tunangan dari Ye Wu Shuang hanya menatap dingin tanpa berkata-kata. Sejak awal, dia mengetahui jika gadis itu selalu diperlukan dengan tidak adil di dalam kediaman Ye. Namun dia tidak peduli dengan semua itu, karena gadis yang di inginkan oleh Ming Luo Xi adalah Ye Wu Ching, wanita yang terkenal dengan kecantikan dan bakatnya.


Tetapi, saat ini pandangan Ming Luo Xi terhadap Ye Wu Ching juga sudah berubah. Dia bukan lagi wanita yang di inginkan oleh pria itu. Ming Luo Xi mengikuti para bangsawan lain, dia berjalan keluar dari kediaman Ye tanpa mempedulikan Ye Wu Ching yang terus memanggilnya.


"Kak Luo Xi!" panggil Ye Wu Ching dengan suara menjerit namun tetap di abaikan oleh pria itu.


"Ye Wu Shuang, seharusnya kau mati saja di hutan! Dasar wanita jalaang pembawa sial!"


"Aaaaakkkhhhh!!!" Teriaknya kesal dan marah, mengeluarkan semua emosi yang sejak tadi dia sembunyikan.


Seekor burung terbang melintas di udara, burjng tersebut mengeluarkan lendir hitam putih yang beraroma menyengat dan mematikan.


"Plukkk!"


Lendir hitam putih itu terjatuh tepat di atas kepala Ye Wu Ching.


"Apa itu?" Tanya gadis itu sambil meraih pucuk kepalanya.


Ye Wu Ching melihat lendir hitam dengan sedikit krim putih di jarinya. Karena penasaran, dia mencoba mengendus aroma lendir tersebut dengan kedua lubang hidungnya.


"Kotoran burung?" Pikir Ye Wu Ching yang sedang loading sesaat.


"AAAAAAKKKKKKHHHHHHH! BURUNG SIALAN!"

__ADS_1


^^^BERSAMBUNG...^^^


__ADS_2