
Brukkk!
Brukkk!
Brukkk!
Para pembunuh terpental begitu menyentuh batas yang dibuat oleh Yin Qiu dan Pai Hu. Sementara kedua pembunuh yang berjaga di luar terkejut dan berniat menerobos masuk ke dalam kamar.
Ye Wu Shuang menatap ke arah pintu, ia melihat bayangan kedua pembunuh tersebut dari balik pintu.
"Yin Qiu, ada dua tikus di luar. Biarkan mereka masuk!" Perintah Ye Wu Shuang dengan senyum menyeringai di wajahnya yang cantik dan menawan.
Yin Qiu menjetikkan jari.
Dalam sekejab, pintu terbuka dan kedua pembunuh yang berjaga di luar terjatuh saat hendak mendobrak pintu yang tadinya tidak bisa dibuka.
"Selamat bergabung dengan boneka latihanku!" Kata sambutan yang dilontarkan Ye Wu Shuang untuk menyambut kedua tamu yang menerobos ke dalam kamar.
Pisau tajam di tangan Ye Wu Shuang kembali berputar, wajahnya yang cantik kini tampak seperti malaikat maut. Dia berjalan mendekati para pembunuh dengan terus memainkan pisau belati di jari jemarinya.
"Siluman...!" Ucap salah satu pria dengan suara yang bergetar ketakutan. "Tidak, kalian itu makhluk apa?" Tanyanya lagi sambil memundurkan langkah kakinya.
"Lawan aku jika kau masih ingin hidup!" Ucap Ye Wu Shuang sebelum melemparkan pisau ke udara.
Tranggg!
Sehelai daun membentur pisau belati yang dilemparkan oleh Ye Wu Shuang.
Daun kecil itu melesat masuk melalui jendela kamar. Yin Qiu dan Pai Hu sedikit bergetar saat merasakan aura pembunuh yang berasal dari daun yang menghentikan pisau belati Ye Wu Shuang.
Daun mungil itu masih melayang dan terbang mengitari leher para pembunuh. Dalam hitungan detik, semua pembunuh terjatuh dengan kondisi leher yang tersayat benda tipis segar berwarna hijau tersebut.
Daun masih melayang di udara, dan kini mengarah ke arah Ye Wu Shuang yang berdiri menatap keluar jendela.
"Nona!" Teriak Yin Qiu dan Pai Hu secara bersamaan ketika melihat daun itu mendekati Ye Wu Shuang.
__ADS_1
Awalnya mereka mengira daun itu akan melukai Ye Wu Shuang, namun ternyata daun yang melayang itu berhenti melesat dan terjatuh tepat ketika menyentuh bibir merah Ye Wu Shuang yang mengatup dengan rapat.
Samar-samar, Ye Wu Shuang melihat sosok seorang pria berbaju putih. Rambut perak pria tersebut sangat mengeluarkan cahaya keemasan karena pantulan sinar rembulan.
Pria tersebut tersenyum ketika mata mereka saling bertatapan. Ye Wu Shuang berlari menuju keluar jendela, hendak mengejar pria misterius itu. Namun Yin Qiu dengan cepat menarik dan menahan tangan Ye Wu Shuang.
"Dia berbahaya!" Ucap Yin Qiu sambil menggelengkan kepala.
Melihat wajah serius Yin Qiu, Ye Wu Shuang mengurungkan niatnya. Dia menatap punggung pria tersebut hingga menghilang di balik gelapnya malam.
Ye Wu Shuang berbalik, dia menatap mayat-mayat berserakan yang berada di lantai.
"Bereskan semua sampah ini!" Perintahnya kepada Yin Qiu dan Pai Hu.
"Baik, Nona!" Jawab keduanya bersamaan.
Yin Qiu dan Pai Hu memindahkan semua mayat pembunuh dengan sihir. Sementara Ye Wu Shuang duduk di atas tempat tidur sambil memikirkan bola mata berwarna emas dari pria yang berhasil menerobos sihir pertahanan yang di buat oleh Yin Qiu dan Pai Hu.
"Siapa dia? Dia terlihat tidak asing. Tapi aku tidak bisa melihat wajahnya yang tertutup topeng itu." Pikir Ye Wu Shuang.
"Aku sangat beruntung memiliki kalian di sisiku!" Gumam Ye Wu Shuang tanpa sadar.
Yin Qiu dan Pai Hu mendengar gumaman dari Nona di depannya. Mereka senang karena itu adalah pertama kalinya Phoenix Agung memberikan pujian.
Selama hidupnya, Phoenix Agung tidak membutuhkan bantuan dari makhluk lain karena dirinya adalah yang terhebat dan pemilik sihir paling kuat di dunia. Namun sejak dilahirkan kembali, Phoenix Agung yang mereka kenal seperti sosok makhluk lain yang sering meminta bantuan dan bersikap ramah terhadap siapapun, selama orang itu tidak menjadi musuhnya.
Yin Qiu yang awalnya datang dengan wujud seekor rubah putih kini berubah menjadi seorang wanita cantik dengan rambut putih yang panjang.
"Yin Qiu, bisakah kau mengubah warna rambutmu menjadi hitam?" Tanya Ye Wu Shuang karena dia penasaran dengan sosok pria yang baru saja dilihatnya.
Sekilas, pria itu mirip dengan seseorang yang pernah dia lihat namun warna rambut mereka sangat berbeda.
Yin Qiu tersenyum dengan anggun namun sombong, dengan gayanya yang menggemaskan, dia menjawab pertanyaan dari Ye Wu Shuang. "Tentu saja, itu hal yang sangat mudah bagi kami."
__ADS_1
Yin Qiu menjentikkan jari tangan, rambut putihnya berubah menjadi warna hitam dalam sekejap mata. Melihat hal itu, Ye Wu Shuang semakin yakin jika pria tersebut adalah pria yang dia temui di hutan.
"Matanya berwarna emas!" Gumam Ye Wu Shuang.
"Apa?" Tanya Yin Qiu dan Pai Hu secara bersamaan.
Ye Wu Shuang tersadar jika dirinya baru saja mengeluarkan isi hatinya. "Bukan apa-apa. Aku hanya memikirkan sesuatu yang membuatku penasaran." Ucapnya sambil berjalan menuju ke meja makan.
"Bagaimana bisa makanan di sini baik-baik saja tanpa percikan darah?" Tanya Ye Wu Shuang ketika melihat sekeliling meja yang masih bersih dengan makanan yang terhidang rapi di atasnya.
"Saya membuat sihir perlindungan agar makanan Nona Phoenix tidak kotor." Jawab Yin Qiu seraya menaikkan dagunya.
"Ayo puji aku, aku ini rubah yang pintar." Ucap Yin Qiu dalam hati, berharap agar dirinya dipuji oleh Ye Wu Shuang.
"Terimakasih sudah melakukan itu untukku. Tapi... Bisakah kalian memanaskan makanan ini? Semuanya sudah dingin dan sedikit mengeras." Keluh Nona Muda itu dengan wajah kesal.
Yin Qiu dan Pai Hu saling bertatapan selama beberapa saat.
"Bukankah Nona Phoenix tidak suka makanan panas?" Ucap Yin Qiu melalui telepati.
Pai Hu menggaruk kepalanya, dia mengingat jelas jika pemimpin mereka dulunya sangat membenci makanan panas karena dirinya adalah seekor phoenix api yang membenci hawa panas.
"Mungkin Nona Phoenix berubah karena kehilangan ingatan masa lalunya. Ayo panaskan makanan ini!" Ucap Pai Hu melalui telepati kepada Yin Qiu.
Yin Qiu mengangguk menuruti saran Pai Hu. Manusia rubah itu kembali menjentikkan jari dan semua makanan di atas meja langsung hangat kembali seperti saat di antar ke kamar.
"Kalian seperti microwave yang praktis ya!" Ucap Ye Wu Shuang yang dirinya sendiri tidak tahu apakah itu sebuah pujian atau makian.
Yin Qiu dan Pai Hu menggelengkan kepala karena mereka tidak mengerti arti kata dari microwave. Namun keduanya hanya diam sembari menunggu Ye Wu Shuang menyelesaikan makan malamnya.
Sementara itu, di sebuah ruangan mewah. Seorang pria baru saja mengganti pakaian dan membuka topeng di wajahnya. Pria itu berjalan ke arah jendela yang berada di sudut ruangan, dia menatap keluar jendela sambil mendongakkan kepalanya.
"Akhirnya aku menemukanmu, Phoenix yang terlahir kembali!"
^^^BERSAMBUNG...^^^
__ADS_1