The Phoenix

The Phoenix
Episode 7. Kediaman Ye


__ADS_3

Yin Qiu merasa geram dan marah mendengar ucapan dari para manusia yang menghina Ye Wu Shuang. Karena kemarahannya yang tidak terkontrol, rubah putih tanpa sengaja memanggil angin topan.


Tak hanya berhenti sampai di sana, langit yang cerah mulai gelap. Awan hitam datang dengan cepat dan menutupi sinar matahari yang menerangi daratan. Para manusia yang berkumpul di depan gerbang segera berlari, kabur dari tempat yang menyeramkan dan membuat mereka merinding ketakutan.


Ye Wu Shuang berjalan melewati pintu gerbang bersama Pai Hu. Yin Qiu pun melompat turun dan mendarat di pundak Ye Wu Shuang.


"Terima kasih!" ucap Ye Wu Shuang sembari mengelus bulu Yin Qiu.


Yin Qiu masih memasang ekspresi kesal. Dia sangat marah karena ucapan dari manusia-manusia tadi. "Bolehkah aku membunuh mereka semua?" tanya rubah putih dengan tatapan serius.


Pai Hu mengangguk menyetujui ide Yin Qiu, dia juga merasa marah setelah mendengar obrolan dari para manusia itu.


"Hei, kalian berdua! Jangan membuat masalah untukku!" ucap Ye Wu Shuang yang masih melanjutkan perjalanan.


Beberapa saat kemudian, Ye Wu Shuang tiba di pintu gerbang kediaman Ye. Dia menatap lama tempat itu sambil memikirkan apa yang akan dia lakukan setelah kembali ke dalam rumah besar itu.


Dalam ingatannya, Ye Wu Shuang selalu diperlakukan dengan kasar oleh para pelayan dan juga penjaga di dalam kediaman. Gadis itu memutuskan untuk masuk secara diam-diam tanpa mengundang perhatian orang-orang di kediaman Ye.


"Yin Qiu, Pai Hu, kita akan masuk dari tembok belakang!"


Pai Hu merasa heran, dia pun bertanya kepada gadis di sampingnya. "Kenapa kita tidak masuk lewat pintu depan"


Ye Wu Shuang menyeringai, tapi senyuman licik di wajahnya sama sekali tidak memudarkan kecantikan gadis itu.


"Bukankah mereka mengatakan aku kabur dari kediaman dan pergi bersama seorang pelayan? Ayo kita tampar wajah mereka semua dengan drama baru!" jawab Ye Wu Shuang dengan kedua sudut bibir yang terangkat.


Ye Wu Shuang dan kedua binatang mistis melompat dari dinding, mereka turun dan mendarat tepat di samping kamar Ye Wu Shuang.


Sekarang, ketiganya berdiri di depan kamar tersebut. Ketiganya memasang wajah lesu dan tak bersemangat. Dan alasan di balik sikap mereka adalah karena kamar Ye Wu Shuang yang tampak seperti sebuah kandang dari pada kamar manusia.


Sebuah gubuk yang terbuat dari kayu dengan atap jerami menjadi pemandangan di depan mereka saat ini. Pintu gubuk pun hanya terbuat dari jerami kering yang diikat dan disatukan.


Sesaat kemudian, amarah Yin Qiu meledak-ledak. Bulu-bulu di tubuhnya berdiri tegak bagaikan landak yang sedang mengamuk dengan duri-duri di tubuhnya yang siap menembak.


"Akan ku bunuh semua manusia di dunia ini!" geram Yin Qiu dengan mata yang berapi-api.


Begitu pula dengan Pai Hu yang tubuhnya mulai bercahaya, menandakan dirinya akan segera kembali ke bentuk Harimau putih dengan ukuran raksasa.


"Kalian berdua, hentikan! Jangan mengacaukan rencanaku!" perintah Ye Wu Shuang dengan tatapan tajam.

__ADS_1


Kedua makhluk itu segera diam dan meredakan emosi mereka. Yin Qiu melompat turun dari pundak Ye Wu Shuang, dia berjalan masuk ke dalam gubuk yang menjadi kamar pemimpinnya.


"Ckk... Ckk... Kamarku bahkan lebih bagus dari kandang ini!" gerutu rubah putih dengan bibir yang manyun.


Pai Hu pun melangkah masuk melewati pintu jerami yang hampir roboh. Dia mengamati sekeliling ruangan dengan mata yang berkaca-kaca.


"Pai Hu!" seru Yin Qiu dari depan.


Pai Hu menatap Yin Qiu yang sedang melihatnya dengan tatapan keheranan.


"Huft..." suara hembusan napas Pai Hu terdengar di dalam gubuk.


"Kau menangis?" tanya Yin Qiu penasaran.


Pai Hu pun mengangguk dengan cepat, dia memang ingin menangis karena sedih melihat kondisi kamar yang ditempati oleh pemimpinnya.


"Kau ini kan laki-laki! Kenapa malah menangis!" sindir Yin Qiu yang membuang tatapannya ke samping dinding kayu.


"Memangnya laki-laki kenapa? Laki-laki juga punya hati! Mengapa laki-laki tidak boleh menangis? Huhhh!" sahut Pai Hu dengan nada ketus.


Kedua ekor binatang itu terus bertengkar dan adu mulut. Sementara Ye Wu Shuang masih sibuk memikirkan cara untuk membalas keluarga Ye atas perbuatan mereka yang semena-mena dan menindas pemilik tubuhnya selama puluhan tahun.


Ye Wu Shuang menatap pecahan cangkir di atas meja batu. Terlihat jelas jika cangkir itu adalah cangkir yang di gunakan oleh pemilik tubuhnya.


Ye Wu Shuang mengalihkan tatapannya ke atas tempat tidur. Dia melihat sehelai kain tipis yang dibuat dengan menjahit beberapa kain perca, terdapat lubang-lubang di kain tersebut.


"Selimut yang sudah berlubang dan terbuat dari kain sisa! Ck... Menyedihkan!" sambung wanita itu berkeluh kesah dalam hati.


Ye Wu Shuang menurunkan tubuhnya, dia duduk di kursi yang juga terbuat dari batu yang telah usang dengan banyak retakan di atasnya.


"Pai Hu, Yin Qiu!" panggilnya dengan suara tegas.


Kedua makhluk gaib itu segera mendekat dan berdiri di depan Ye Wu Shuang.


"Pai Hu di sini!" ucap harimau putih.


"Yin Qiu datang!" sahut rubah berekor sembilan.


Ye Wu Shuang tersenyum licik, dia menatap Pai Hu dan Yin Qiu secara bergantian kemudian berkata kepada mereka.

__ADS_1


"Aku punya tugas untuk kalian!"


Beberapa saat kemudian


Pusat kota, di dalam sebuah restoran mewah. Meja dan kursi yang berjumlah ratusan buah telah terisi penuh dengan pengunjung yang terlihat seperti bangsawan yang kaya raya. Beberapa orang duduk bergunjing tentang putri dari keluarga Ye yang menghilang satu malam tanpa berkabar.


Di sudut ruangan, terdapat sebuah meja yang hanya di duduki oleh 2 orang pria. Mereka duduk menikmati makanan dan minuman yang menjadi menu nomor satu di restoran.


Setelah menghabiskan makanan yang tersaji di atas meja, kedua pria itu mendengar kata-kata makian dan gunjingan yang ditujukan kepada Ye Wu Shuang.


"Kakak pertama, untung saja kakak membatalkan pertunangan terlebih dulu. Ye Wu Shuang, wanita itu benar-benar tidak layak menjadi permaisuri Kakak." ucap pria berbaju biru dengan wajah yang memperlihatkan ketidaksukaannya terhadap Ye Wu Shuang.


"Tentu saja aku tidak sebodoh itu untuk menikah dengan sampah yang tidak berguna itu! Dia bahkan tidak memiliki inti kekuatan, lalu untuk apa aku menikahinya? Lebih baik aku menikah dengan adiknya yang merupakan wanita tercantik dan berbakat!" sahut pria yang duduk di samping pria berbaju biru.


Seorang wanita cantik masuk ke dalam restoran. Wanita itu memakai pakaian yang sangat mewah dengan sebuah kipas di tangan kirinya. Dia mengamati seluruh ruangan di dalam restoran untuk mencari meja kosong.


Dua pelayan mengikuti langkah wanita cantik itu, dia berjalan ke dalam ruangan dengan langkah yang lemah gemulai. Wajahnya menyunggingkan senyuman manis nan menggoda yang membuat para pria terpikat seketika.


"Kak, Lihat! Wanita yang sedang Kakak bicarakan juga berada di sini!" seru pria berbaju biru.


Ye Wu Ching, adik perempuan dari Ye Wu Shuang yang selalu menjadi pusat perhatian ke mana oun wanita itu melangkah.


"Nona Wu Ching!" sapa pria itu yang lalu berdiri dari kursinya.


"Hormat saya kepada Pangeran pertama dan Pengeran kedua!" sapa Ye Wu Ching dengan menundukkan sedikit kepalanya.


"Lihat, itu Nona kedua dari keluarga Ye. Wanita tercantik di Kekaisaran Ming." ucap seorang pria berbaju hitam.


"Kecantikan Nona Kedua Ye memang tiada duanya." sahut pria berkepala botak.


"Nona Kedua Ye terlihat serasi sekali dengan Pangeran Pertama. Sangat disayangkan Pangeran Pertama malah bertunangan dengan Putri tertua keluarga Ye yang disebut-sebut sebagai sampah tak berguna." ucap seorang wanita muda.


"Tapi kabarnya, Nona itu menghilang!" tambah pria di sebelahnya.


"Bukan menghilang, tapi kabur dengan seorang pelayan!" bisik pria botak.


Ketika mereka sedang seru berbincang dan bergosip, seorang wanita muda berlari masuk ke dalam restoran dengan penampilan yang mengenaskan.


"Tolong...! Tolongggg!" teriak wanita muda tersebut sambil sesekali menghapus darah di wajahnya yang mengalir turun dari atas kepala.

__ADS_1


"Brakkk!"


^^^BERSAMBUNG...^^^


__ADS_2