
Ye Wu Shuang melompati jendela kamar yang terbuka dan segera mengejar pria yang sedang mengintipnya. Pria tersebut ternyata hanya berdiri mematung, menunggu Ye Wu Shuang mendatanginya dengan sebuah belati yang kini menempel di lehernya.
"Siapa kau? Kenapa kau mengawasiku?" Tanya Ye Wu Shuang dengan wajah menyelidik.
Pria berbaju putih dengan sebagian wajah yang tertutup topeng iblis itu masih berdiri tegak tanpa rasa takut meskipun besi dingin kini siap membelah lehernya.
Ye Wu Shuang menatap kedua mata pria itu, hatinya terganggu begitu melihat mata emas yang dimiliki oleh pria di depannya.
"Siapa kau? Jawab Aku!" Ucapnya lagi sambil mengeratkan genggaman pisau belatinya.
Pria itu menyeringai sinis namun tersirat kesedihan di kedua bola matanya yang indah dan bersinar.
"Dia tidak mengingatku. Entah ini suatu keberuntungan atau kesedihan, aku berharap hubungan kami bisa kembali lagi seperti dulu. Wu Shuang... Aku selalu menunggumu."
Pria misterius itu mengayunkan tangan kanannya ke udara, waktu pun berhenti berjalan. Daun kering yang melayang terjatuh turut berhenti di udara, air embun yang menetes juga berhenti bergerak.
"Aku senang kau melupakan masa lalu yang menyedihkan itu, tapi aku juga sedih karena kau sudah melupakan kenangan kita selama ribuan tahun bersama di nirwana. Aku, Long Chen, pasti akam merebut hatimu lagi. Aku akan menebus semua kesalahanku dan mencintaimu sampai akhir dunia."
Long Chen membawa Ye Wu Shuang kembali ke kamar, dia menurunkan Ye Wu Shuang di atas ranjang lalu pergi dari tempat itu. Waktu pun kembali berjalan. Daun yang melayang kini terjatuh ke bawah, air embun yang berhenti bergerak pun kini meresap masuk di pori-pori tanah di bawahnya.
Ye Wu Shuang tersadar, namun ia kebingungan karena tiba-tiba saja dia sudah berada di dalam kamarnya lagi.
"Bukankah aku tadi mengejar seorang penyusup? Kapan aku kembali ke kamar? Di mana penyusup itu?" Batin Ye Wu Shuang.
Tabib Shi menatap Ye Wu Shuang dengan wajah penasaran.
"Nona Ye, apa yang sedang anda pikirkan?" Tanya pria muda itu sambil berbalik badan dan meletakkan mangkuk kosong di atas meja.
"Tiga orang!" Ucap Ye Wu Shuang sambil menajamkan pendengarannya.
"Hahh?" Tanya Tabib Shi dengan wajah kebingungan.
Ye Wu Shuang menatap tajam Tabib Shi, dia mengecilkan volume suaranya lalu berkata kepada dokter muda itu.
"Ada tiga orang yang menuju kemari. Kau tahu apa yang harus kau katakan, kan?"
__ADS_1
"Saya paham, anda bisa percaya kepada saya." Ucap Tabib Shi sambil menganggukkan kepala.
Ye Wu Shuang berbaring dan menarik selimutnya, menutupi tubuhnya agar terlihat masih beristirahat dengan tubuh yang lemah. Wajahnya yang cerah kini terlihat murung dan kusam setelah memperbaiki sedikit ekspresi di wajah cantiknya.
Tok Tok Tok!
Seorang pelayan mengetuk pintu, ia membuka pintu ketika mendengar jawaban dari Tabib Shi.
"Nona Ye, bagaimana keadaanmu hari ini?" Tanya Nyonya Gu setelah melangkah masuk ke dalam kamar.
Dua pelayan wanita menemani Nyonya Gu, keduanya berparas cantik dan masih sangat belia. Salah satu di antaranya menarik kursi mendekati ranjang.
"Silakan duduk Nyonya!" Ucap pelayan tersebut sambil menunduk.
"Terimakasih. Kalian boleh keluar!" Perintah Nyonya Gu agar dia bisa berbicara berdua dengan Ye Wu Shuang.
"Baik Nyonya." Jawab kedua pelayan secara bersamaan.
Kedua pelayan berjalan keluar dari ruangan, namun Tabin Shi masih berada di dalam kamar. Nyonya Gu menoleh, menatap pria muda itu dengan tatapan isyarat. Dia mengerti dan menundukkan kepala sebelum mengikuti langkah kedua pelayan.
"Nona Ye, tolong jawab pertanyaan saya dengan jujur. Apa benar, keluargamu telah menyiksamu selama bertahun-tahun?"
Ye Wu Shuang tersenyum dengan lembut, dia mengambil dan menggengam tangan dari Nyonya Gu.
"Tolong panggil saya dengan nama Wu Shuang. Nyonya Gu adalah penyelamat saya, tentu saja saya akan menjawab semua pertanyaan Nyonya Gu dengan sejujur-jujurnya."
"Wu Shuang, tolong jawab aku. Jika mereka benar-benar menyiksamu, aku akan meminta keadilan kepada Kaisar agar memberi mereka hukuman yang setimpal atas perbuatan kejam mereka."
Ye Wu Shuang merasa terharu dengan kebaikan yang diberikan oleh Nyonya Gu terhadapnya. Dia bahkan tidak mengenal wanita itu namun kebaikannya sudah menghangatkan hati Ye Wu Shuang yang dingin.
"Saya baik-baik saja sekarang. Bagaimana pun sikap mereka, mereka masih keluarga saya. Tolong Nyonya Gu jangan menyulitkan mereka."
Nyonya Gu salah paham dengan ucapan Ye Wu Shuang, dia mengira jika nona muda di depannya sedang berbaik hati membela keluarganya, namun di dalam hati, Ye Wu Shuang sedang berpikir ribuan cara untuk membalas dendam dari pemilik tubuhnya yang asli.
"Terlalu mudah jika mereka di hukum begitu saja, aku akan membuat mereka hidup tersiksa hingga meminta kematian!"
__ADS_1
"Aku akan mengikuti keinginanmu. Tapi, Wu shuang... Apa kamu berencana untuk kembali lagi ke sana?"
Wu Shuang menggelengkan kepala. "Tidak, saya akan kembali ke kediaman Ye."
"Itu akan sedikit sulit karena kamu masih seorang gadis muda yang belum menikah. Satu-satunya cara untuk meninggalkan kediaman Ye adalah dengan menikah atau..."
Nyonya Gu berpikir sesaat sebelum melanjutkan ucapannya.
"Atau kamu mau menjadi anak angkat di keluarga Gu."
"Menjadi anak angkat?" Ulang Ye Wu Shuang dengan wajah keheranan.
Nyonya Gu mengangguk, "Jika kamu setuju untjk menjadi anak angkat di kediaman ini, aku akan pergi ke istana untuk meminta persetujuan dari Yang Mulia Kaisar. Mereka tidak akan bisa menolak jika aku memiliki titah kaisar."
"Aku perlu memahami dan berlatih hingga menjadi kuat dan mampu berpijak dengan kedua kaki ku sendiri. Namun sebelum menjadi yang terkuat, aku memerlukan dukungan dari seseorang yang memiliki kekuasaan. Dan wanita di depanku ini sepertinya memiliki latar belakang yang tidak biasa. Aku... akan menerima tawarannya." batin Ye Wu Shuang.
"Wu Shuang sangat berterimakasih atas kebaikan dari Nyonya Gu. Wu Shuang pasti akan membalas semua kebaikan anda."
Mendengar jawaban dari Ye Wu Shuang, Nyonya Gu tersenyum lega. Dia menepuk pelan punggung telapak tangan Ye Wu Shuang sambil mengangguk-angguk.
"Wu Shuang masih perlu banyak istirahat, aku akan meninggalkan kamar ini agar kamu bisa beristirahat dengan baik. Cepatlah pulih dan kita akan merayakan pesta untuk menyambut kedatangan Wu Shuang di keluarga Gu." Ucap wanita paruh baya itu dengan senyuman bahagia.
"Meskipun aku tidak tahu mengapa dia bersikap sangat baik kepadaku, aku yakin jika dia memang tulus ingin menolongku, menolong wanita muda yang terlihat mengenaskan di depannya. Sayangnya wanita menyedihkan ini sudah meninggal, dan aku... Aku hanyalah arwah yang merasuki tubuh wanita malang ini." Batin Ye Wu Shuang.
Istana Putra Mahkota
Long Chen duduk di atas kursinya yang terbuat dari emas. Dia menatap sebuah lukisan yang baru saja dia keluarkan dengan sihir.
Lukisan seorang wanita cantik dengan pakaian berwarna merah cerah. Wanita di dalam lukisan itu memiliki rambut hitam yang panjang dan kulit putih yang cerah. Dia menggenggam sebuah lampion dan berjalan sambil menengadahkan wajahnya, menatap ke arah langit sambil tersenyum bahagia.
"Wajah yang serupa dengan sifat yang sangat berbeda. Aku ingin menemuinya lagi..." Gumam Long Chen seraya menyentuh wajah wanita di dalam lukisan.
"Jika dulu aku tidak menusuk jantungmu, apakah kita akan hidup bahagia sekarang?"
__ADS_1
^^^BERSAMBUNG...^^^