The Phoenix

The Phoenix
Episode 8. Kediaman Ye part2


__ADS_3

"Brakkk!"


Wanita itu menabrak meja yang berada paling dekat dengan pintu masuk. Kedua tamu yang duduk di kursi segera berdiri dan membantu wanita yang terlihat dalam kondisi mengenaskan di depan mereka.


"Hei, gadis muda! Kau baik-baik saja?" tanya salah seorang pria yang memapahnya.


Wanita itu langsung menangis histeris, air mengalir deras dari kedua sudut matanya. Suara tangisan gadis muda itu terdengar dari lantai satu hingga ke lantai tiga restoran, mengundang rasa penasaran para tamu di sana. Semua mata tertuju ke arah wanita tersebut.


"Tolong selamatkan Nona saya! Tolong!" lirih wanita itu dengan tangisan yang semakin deras.


Pria di sebelah kembali bertanya kepadanya. "Apa yang terjadi? Nona anda kenapa?"


"Nona saya hampir mati kelaparan dan di siksa setiap hari. Tolong! Tolong keluarkan Nona saya dari rumah itu!"


Beberapa tamu tampak mengasihani wanita tersebut. Mereka berdiri dari tempat duduk lalu berjalan mendekati wanita yang sedang menangis dengan sangat pilunya di tempat mereka menikmati makanan.


"Siapa Nona yang kamu layani?" tanya seorang wanita paruh baya yang baru saja mendekat.


"Nona Ye! Nona Pertama di keluarga Ye!"


Begitu mendengar panggilan "Nona Ye", Ye Wu Ching yang sedang menggoda Pangeran pertama segera berdiri dari tempat duduk. Wanita itu tertegun sesaat sambil menatap ke arah pintu masuk.


Kedua pangeran yang duduk bersama Ye Wu Ching tampak kebingungan karena wanita itu tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya.


"Nona Ye, ada apa?" tanya Pangeran Kedua seraya menatap wajah Ye Wu Ching yang tampak gugup.


"Ti... Tidak ada apa-apa. Saya hanya sedikit terkejut dengan ucapan dari pelayan di sana." sahut Ye Wu Ching dengan suara yang terbata-bata.


Kedua pangeran ikut menatap ke arah pelayan wanita yang berdiri di dekat meja paling depan.


"Apa yang terjadi dengan Nona Ye?" tanya wanita paruh baya yang berdiri di samping pelayan wanita.


"Nona saya dikurung dan tidak diberikan makanan selama beberapa hari. Saya tidak tega melihat Nona sangat menderita karena kelaparan, jadi saya memberikan makanan kepada Nona secara diam-diam. Hiks..." ucap pelayan wanita sambil sesenggukan. Dia kemudian melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Tapi saya ketahuan memberi makanan kepada Nona sehingga Tuan rumah memberi hukuman cambuk sambil berlutut di atas pecahan kaca. Hiks... Saya tidak apa-apa dihukum, tapi saya tidak bisa melihat Nona terus menerus menerima perlakuan kasar dan kejam dari keluarganya sendiri. Hiks... Hikss....!"


Wanita paruh baya berjalan mendekat dan mengeluarkan sebuah sapu tangan. Dia menghapus air mata di wajah pelayan wanita.


"Kasihan sekali Nona yang kamu layani. Jika boleh saya tahu, kamu bekerja di kediaman Ye yang mana?" tanyanya dengan wajah penasaran.


"Kediaman Ye, yang menjabat sebagai Tabib Kerajaan!" sahut pelayan wanita.


Para tamu restoran terkejut dengan jawaban yang diberikan oleh pelayan wanita. Mereka tampak tidak mempercayai ucapan dari wanita itu, sebab Tuan dan Nyonya Ye terkenal sebagai bangsawan yang memiliki sifat baik dan penyayang.


"Tolong! Nona ku sudah hampir mencapai batasnya. Kumohon pada kalian para bangsawan yang baik hati dan dermawan. Tolong selamatkan nyawa Nona ku!"


Para bangsawan mulai mendiskusikan hal ini bersama teman semejanya.


"Bukankah mereka bilang Nona Ye menghilang ya? Mengapa pelayan ini berkata hal yang berbeda?"


"Mungkin ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh keluarga Ye?"


"Jika yang dikatakan oleh pelayan ini memang benar, bukankah sebaiknya kita pergi menyelamatkan Nona muda itu?"


"Maaf mengganggu! Saya Ye Wu Ching, adik dari Ye Wu Shuang yang sedang kalian perbincangkan."


Ye Wu Ching mengalihkan pandangan ke pelayan wanita. Dia berjalan mendekati pelayan tersebut lalu berkata dengan wajah tegas.


"Saya tidak mengenal pelayan ini. Dia berbohong mengenai Kakak saya yang disiksa dan tidak diberikan makanan!"


"Nona kedua, bagaimana bisa anda berkata seperti itu? Saya Yin Qiu, Yin Qiu yang sudah bekerja 10 tahun di kediaman Ye. Saya selalu menemani Nona pertama, bagaimana mungkin anda tidak mengenal Yin Qiu." lirih rubah itu dengan suara terisak.


"Kau jangan berkata omong kosong!" bentak Ye Wu Ching kehabisan kesabaran.


"Ta... Tapi Yin Qiu berkata yang sebenarnya!" seru wanita pelayan sambil menghapus air matanya dengan sapu tangan yang diberikan oleh wanita paruh baya tadi.


"Kau akan diberi hukuman jika terus menciptakan kebohongan!" ancam Ye Wu Ching dengan membesarkan kedua bola matanya.

__ADS_1


Yin Qiu berpura-pura ketakutan, dia langsung berjongkok dan meringkuk di lantai. Air mata yang tadinya mengering kini mulai banjir kembali.


Wanita paruh baya yang sejak tadi merasa kasihan terhadap Yin Qiu turut menurunkan tubuhnya. Dia menepuk pelan pundak Yin Qiu lalu berkata dengan suara lembut.


"Aku akan menolong Nona yang kau layani jika memang apa yang kau katakan adalah kebenaran. Apa kau berani bersumpah jika Nona Pertama Ye memang berada di dalam kediaman Ye sekarang?"


Yin Qiu tersenyum girang dalam hati. Dia mengangkat wajahnya yang tertunduk, menatap wanita paruh baya di samping dengan mata yang berkaca-kaca.


"Yin Qiu bersumpah, Nona Pertama memang berada di dalam kediaman Ye. Tolong selamatkan Nona! Yin Qiu memohon kepada para bangsawan yang berbaik hati di sini!" ucap Yin Qiu seraya menundukkan sedikit kepalanya.


"Ah sial! Aku jadi harus menunduk di depan para manusia lemah ini!" umpat rubah putih dalam pikirannya.


"Mati kita pergi ke kediaman Ye untuk membuktikan kata-kata dari gadis muda ini!" perintah wanita paruh baya tersebut kepada kedua pelayannya.


Ye Wu Ching tidak berniat melarang mereka yang ingin datang dan menyelidiki kebenarannya di kediaman. Karena dia yakin bahwa Ye Wu Shuang telah meninggal di dalam hutan kabut setelah ia menyuruh pengurus Ma untuk mengurus Kakaknya yang selalu menjadi duri di mata Ye Wu Ching.


Kereta kuda tiba di depan pintu, wanita paruh baya naik ke atas kereta diikuti dengan Yin Qiu yang duduk di sebelahnya. Kereta pun berangkat menuju kediaman Ye.


Beberapa bangsawan yang penasaran turut ikut, mereka menaiki kereta kuda masing-masing lalu menuju ke kediaman Tabib kerajaan yang terkenal di Kekaisaran Ming.


Setibanya di depan pintu gerbang kediaman Ye, kedua penjaga pintu tampak terkejut melihat puluhan kereta kuda yang berhenti di depan mereka.


"Ada apa ini?" tanya Ah Zhu yang menjaga di pintu kiri.


Sementara penjaga pintu kanan yang bernama Shu Guo hanya menatap kereta kuda di depannya dengan mata yang membesar.


Yin Qiu turun lebih dulu dari kereta kuda, ia lalu membantu wanita paruh baya untuk menuruni anak tangga di kereta kuda.


"Buka pintunya!" perintah wanita paruh baya itu dengan suara berwibawa.


Kedua penjaga merasa tertekan dan ketakutan. Mereka segera membuka pintu gerbang tanpa berani membantah perintah dari wanita paruh baya.


"Ayo masuk!"

__ADS_1


^^^BERSAMBUNG...^^^


__ADS_2