
Ye Wu Shuang masih berbaring di tempat tidurnya yang nyaman. Dia memejamkan mata, berpura-pura tertidur untuk menyambut kedatangan para pembunuh yang mengincar kepalanya.
Tok Tok Tok!
Seorang pelayan wanita mengetuk pintu kamar Ye Wu Shuang, pelayan itu datang bersama seorang rekannya yang juga bekerja sebagai pelayan. Rekannya membuka pintu secara perlahan, mereka masuk ke dalam kamar dengan berhati-hati agar tidak mengeluarkan suara keributan.
Kedua pelayan tersebut datang mengantarkan makan malam dengan sebuah kotak kayu bertingkat. Di dalam kotak kayu berisi satu mangkuk nasi dengan beberapa jenis sayuran.
Setelah meletakkan semua makanan di atas meja, kedua pelayan tersebut keluar dan kembali menutup pintu kamar dengan perlahan-lahan.
Ye Wu Shuang membuka mata untuk sesaat, dia melirik ke samping, melihat ke atas meja yang kini dipenuhi oleh banyak makanan. Perutnya merasa kelaparan, namun dia menahan diri untuk tidak membuat musuhnya siaga.
Ye Wu Shuang kembali memejamkan mata sambil memasang pendengarannya yang tajam untuk mengetahui gerakan para pembunuh yang mulai mendekat.
Delapan orang pria menyusup masuk ke dalam kediaman Gu. Mereka dengan cepat mengetahui keberadaan kamar Ye Wu Shuang setelah mengikuti seorang pelayan yang ditugaskan untuk mengantarkan makan malam ke kamar tamu keluarga Gu.
"Sttt! Jangan berisik!" Bisik seorang pria berpakaian hitam dengan penutup wajah yang juga berwarna hitam.
Salah satu di antara para pria tersebut membuka pintu kamar. Keenam pria masuk ke dalam kamar, sementara dua pria lainnya hanya berdiri dan menjaga di luar pintu.
Salah satu dari pria yang dipanggil dengan nama Shan mendekati tempat tidur, dia mengeluarkan sebuah belati dan mulai mengayunkan pisau kecil dengan ujung yang tajam ke arah jantung Ye Wu Shuang.
Saat itu pula Ye Wu Shuang membuka mata dan menahan pisau belati yang menikam ke tubuhnya dengan kedua tangan. Ujung pisau berhenti tepat di pakaian Ye Wu Shuang yang berwarna merah muda. Dia tersenyum sinis sambil menatap kedua bola mata dari Shan sang pembunuh yang berusaha menusuk jantungnya.
"Hei! Apakah tidak ada yang pernah mengajarimu jika serangan diam-diam adalah perbuatan yang memalukan?" Sindir Ye Wu Shuang sembari merebut pisau belati dari tangan Shan.
Shan terkejut dan memundurkan langkahnya, namun sayangnya pisau belati miliknya kini telah berpindah tangan.
Ye Wu Shuang bangkit dan berdiri. Dia menatap sekeliling ruangan, memperhatikan dan menghitung jumlah musuh yang harus dia kalahkan dalam waktu secepatnya sebelum pemilik kediaman terganggu.
Belati di tangan Ye Wu Shuang kini berputar-putar, ia memainkan pisau tajam itu sambil menatap target pertama yang akan dia habisi dengan senjata milik Shan yang saat ini telah menjadi senjata miliknya.
__ADS_1
"Karena kau yang paling dekat, kau yang akan menemui Raja Neraka terlebih dulu." Gumam Ye Wu Shuang dengan senyuman sinis.
Syuttt!
Ye Wu Shuang melempar belati yang tadinya berputar cepat di tangannya. Belati terbang sambil berputar dan langsung menuju ke tempat pria yang menjadi target Ye Wu Shuang.
Pisau belati terus berputar dan terbang hingga menyayat daging dan pembuluh darah di leher pria tersebut. Belati itu kembali terbang dan berputar ke arah Ye Wu Shuang. Gadis muda itu menangkap belati dan kembali memainkan belati dengan jari jemarinya.
Aaakkkk!
Pria itu memegangi lehernya dengan kedua tangan, tak lama kemudian darah menyeruak dari sayatan ujung pisau yang dilemparkan oleh Ye Wu Shuang.
Brukkk!
Pria itu terjatuh dan menghembuskan napas terakhirnya dengan mata yang terbuka lebar.
Kelima rekan dari pria tersebut membelalakkan mata, seakan tidak mempercayai apa yang baru saja mereka lihat.
Ye Wu Shuang menyeringai, kelima pria tersebut langsung bergidik ngeri saat melihat mata tajam Ye Wu Shuang yang seakan bisa membunuh mereka hanya dengan satu tatapan.
"Kakak pertama, berhati-hatilah! Dia bukanlah sampah seperti yang dirumorkan di luar sana." Ucap seorang pria yang bernama Du Su.
Shan mengangguk mengerti. Dia tentu tahu apa yang terjadi karena telah melihat dengan kedua matanya sendiri.
Ye Wu Shuang kembali membidik targetnya, pisau tajam yang masih berputar-putar mengelilingi jari-jemarinya membuat para pembunuh merinding.
"Kau yang kedua, karena kau terlalu banyak berbicara!" Ujar Ye Wu Shuang sambil menatap mata Du Su.
Pisau kembali terbang menuju leher Du Su. Pria itu panik, kedua bola matanya bergetar dan tubuhnya kaku untuk sesaat. Pisau pun berhasil merobek kulit dan pembuluh darah di leher pria tersebut. Dia terjatuh dan tersungkur dengan darah yang bercucuran.
Keempat pria yang tersisa di dalam kamar segera memundurkan langkah kaki mereka, berusaha menjauh dari Ye Wu Shuang yang saat ini tampak seperti malaikat pencabut nyawa.
__ADS_1
Melihat nyali yang menciut dari para pembunuh yang mengincar nyawanya, Ye Wu Shuang tertawa geli. Wajahnya terlihat kesal dengan mata yang meremehkan para pria di hadapannya.
"Ckkk! Ternyata hanya pria lemah yang dikirim untuk membunuhku. Aku menjadi penasaran, seberapa tidak bergunanya pemilik tubuh asli ini hingga mereka mengirim para badut ini untuk mengganggu waktu makan malamku?!" Kesal Ye Wu Shuang dalam pikiran.
Selagi dia berkeluh kesah dengan hati yang marah, Yin Qiu melompat masuk ke dalam kamar melalui jendela. Yin Qiu saat ini masih berada dalam bentuk rubah putih yang lucu.
Ye Wu Shuang menyambut Yin Qiu dengan senyuman hangat, sementara ke empat pria pembunuh malah terkejut dengan kehadiran Yin Qiu yang datang secara tiba-tiba.
"Ternyata hanya seekor rubah!" Gumam Shan sambil menenangkan diri dari rasa terkejutnya.
Yin Qiu menoleh dan menatap para pria berbaju hitam. Dia menurunkan pandangannya, melihat ke lantai, tempat berbaring dua pria bersimbah darah yang sudah tak lagi bernyawa. Yin Qiu kembali menaikkan pandangannya, dia melihat dan mengawasi gerak gerik dari para pembunuh di sana.
Menyadari jika keberadaan pembunuh di sana bertujuan untuk membunuh nona yang dia layani, kemarahan Yin Qiu naik hingga hampir meledakkan seluruh kediaman Gu. Beruntung Pai Hu tiba lebih cepat dan segera menghentikan Yin Qiu yang baru saja mengeluarkan sihir kehancuran dari kedua matanya.
"Kita tidak boleh mencelakai manusia yang tinggal di kediaman ini!" Ucap Pai Hu melalui telepati.
Yin Qiu menyimpan kembali sihirnya meskipun darahnya masih terasa mendidih. Dia menatap Ye Wu Shuang, menyelidiki keadaan nona muda itu. Setelah memastikan jika Ye Wu Shuang baik-baik saja, rubah putih itu kembali tenang.
Ye Wu Shuang tersenyum manis melihat kemarahan Yin Qiu, dia senang karena rubah itu marah demi dirinya.
"Tenanglah, mereka ini datang untuk menjadi boneka latihanku. Yin Qiu, Pai Hu, tutupi sekeliling ruangan dan jangan biarkan ada orang yang datang dan aku juga tidak mau ada yang keluar dari ruangan ini! Mari kita mulai latihan yang sesungguhnya."
"Baik, Nona Phoenix!" Jawab keduanya secara serentak sambil menundukkan kepala.
Ye Wu Shuang menajamkan tatapan matanya, ia menoleh ke arah para pembunuh yang masih berdiri dengan bola mata yang bergetar.
"Mereka bukan manusia!" Ucap salah satu pembunuh yang merinding saat menatap mata Yin Qiu.
"Siluman atau hantu atau makhluk gaib yang bergentayangan, aku tidak ingin berurusan dengan mereka!" Sahut pembunuh yang lain.
"Ayo kabur!" Ajak rekan pembunuh yang paling dekat dengan pintu keluar.
__ADS_1
^^^BERSAMBUNG...^^^