The Rival Beside Me

The Rival Beside Me
Meeting


__ADS_3

Pagi-pagi Lala menghentikan sebuah taxi. Dia naik taxi untuk menuju ke tempat kerjanya.


Begitu sampai, Dia langsung berjalan menyelusuri resepsionis, finger print dan lalu masuk lift naik kelantai 4. Tak selang lama Lala keluar dari lift.


Dia melihat sekitar, terasa heboh.


Tidak seperti biasanya. Khususnya karyawati perusahaan. Mereka setengah berbisik-bisik dan membuatnya penasaran.


Lala melihat Vira yang dulu satu divisi dengannya baru datang . Dia pun sedikit berlari dan mensejajarkan jalannya dengan Lala. Vira terlihat terkejut dan menoleh kearah Lala.


" Kenapa semua karyawan berbeda dari biasanya?" Vira penasaran.


" Entahlah. Aku juga baru datang." Lala terlihat penasaran juga.


Lala terus berjalan sampai ke ruangannya. Dan menaruh tasnya diatas meja kerjanya. Lala duduk seraya mengalihkan pandangannya ke arah ruangan Pak David, selaku utama Direktur diperusahaan saat ini. Terlihat ruangan masih kosong. Jelas Pak David belum datang. Lala kembali fokus dan memulai pekerjaannya.


Tak selang lama Pak David datang. Dia pun berdiri untuk menyapanya seperti biasa.


" Pagi Pak."


" Pagi." Ucap Beliau membalas sapaan Lala.


" Oya La. Untuk sebulan ini Aku  ada urusan di luar negeri. Jadi semua jadwalku Aku wakilkan ke putra sahabatku. Kebetulan,Dia baru pulang dari Amerika. Jadi sekalian belajar dan magang dahulu disini. Nanti Kau jelaskan saja semua jadwalku itu padanya. " Jelas Pak David.


" Ok Pak Saya mengerti." Lala kembali duduk.


'Seperti apa putra sahabatnya itu? Semoga saja Dia mudah di ajak bekerja sama dan baik seperti Pak David.'Harap Lala dalam hatinya.


Lala kembali fokus bekerja.


" Selamat siang Nona. Apa ada Pak David diruangan?" Suara bass itu membuat Lala mendongakkan wajahnya.


Lala terkejut bukan main. Orang yang masih Dia rindukan selama ini, sekarang muncul didepannya secara tiba-tiba. Sungguh keajaiban baginya.


Tentunya penampilannya sekarang sudah berbeda. Dia terkesan lebih dewasa dengan kacamatanya itu. Tapi wajahnya jelas masih seperti dulu, hanya sedikit perubahan di pipinya yang tidak lagi tembem dan kelihatan lebih tirus. Serta stylenya yang seperti orang barat.


" Bangkit?" Lala tidak terlalu yakin dan memastikannya.


Bangkit terlihat bingung. Wanita didepannya sepertinya mengenalinya.


" Iya benar. Apa ada Pak David diruangannya?"


Lala terdiam sejenak. Bangkit sepertinya tidak mengenalinya. Benar-benar tidak mengenalinya sama sekali.


" Nona Shabila?" Tanya Bangkit membuat Lala langsung tersadar dari pemikirannya.


" Oya maaf, Silahkan masuk saja. Sepertinya Pak David sudah menunggu." Jelas Lala langsung mempersilahkan Bangkit masuk.


" Terima kasih Nona Shabila." Bangkit berjalan ke ruangan Pak David.


" Sama-sama." Lala masih memandangnya, Antara percaya dan tidak percaya.


Lala garuk-garuk kepala sendiri. Menatap dengan tatapan penasaran.

__ADS_1


' Bagaimana bisa Bangkit tidak mengenalinya.


" Apa Aku berhalusinasi?" Lala menyubit tangannya sendiri dan jelas sakit.


'Aiiish! Aku benar-benar tidak bisa konsentrasi bekerja kalau seperti ini.' Pikir Lala.


Pak David dan Bangkit terlihat keluar dari ruangan. Seperti biasa Pak David tersenyum pada Lala. Begitu juga Bangkit tersenyum ramah. Lala membalas tersenyum melihat Mereka.


Lala masih tidak percaya dengan apa yang Dia lihat.


" La , Apa Kau tak ingin makan siang?" Vera terlihat menghampirinya.


Lala melirik jam tangannya, Ternyata sudah waktunya istirahat.


" Ayo! " Ajak Vera.


" Bentar Ve." Lala beranjak dari tempat duduknya setelah membereskan semua dokumen yang berserakan diatas mejanya.


Mereka berjalan menuju kantin perusahaan. Dan lalu antri untuk mengambil makanan yang sudah disediakan khusus buat karyawan. Mereka memandang keseluruh penjuru. Akhirnya Mereka menemukan tempat duduk yang masih kosong.


" Vera. Apa Kau tahu tentang putra sahabatnya Pak David?"


Lala penasaran.


" Kurang begitu tahu. Tapi kabarnya Dia lulusan dari salah satu Universitas di Amerika. Dan calon menantu Pak David." Jelas Vera penasaran membuat Lala langsung tersedak


"  Benarkah?"


Lala memikirkan ulang masa lalu itu. Pertama,Bangkit ke USA tanpa bilang apapun padanya. Sedangkan itu sangat terkesan mendadak. Ada yang janggal. Sebenarnya apa yang terjadi waktu itu. Apa telah terjadi sesuatu pada Bangkit. Dan sekarang Bangkit hilang ingatan atau benar-benar melupakannya?


' Itu seperti drama saja.' Lala menggelengkan kepalanya.


'Sepertinya  Aku kebanyakan menonton drama.' Pikir Lala membuang pikiran negatifnya.


" Apa Kau tak selera makan La?" Vera melihat makanan Lala masih banyak.


" Tidak. Sepertinya Aku tidak terlalu lapar." Ucap Lala mendadak hilang selera makannya.


Vera tertawa karena Lala terlihat tidak seperti biasanya.


" Kau tidak seperti biasanya. Apa Kau salah minum obat?" Vera meledek selera makan Lala kali ini.


" Tidak. Aku hanya salah posisi tidur saja sepertinya." Ucap Lala seenaknya.


Vera langsung melongo dan tepuk jidat.


...***...


Hari ini Pak David sudah terbang ke Luar Negeri. Semua jadwal digantikan oleh Bangkit.


"Nona Shabila. Ikut Aku!" Tiba-tiba Bangkit muncul dan mengajaknya keluar. Jelas itu berkaitan dengan meeting.


Entah mengapa, hati Lala saat ini terasa tidak normal. Perasaannya sedikit tidak nyaman. Apalagi mengingat Bangkit adalah calon menantunya Pak David.

__ADS_1


Bangkit terlihat fokus menyetir sambil sesekali melirik Lala yang sedang kelihatan gelisah.


Bangkit hanya menyunggingkan bibirnya membentuk sebuah senyuman.


Pertemuan dengan seorang investor tidak terlalu lama. Hanya satu jam, membuat Mereka kembali lagi ke kantor. Tak ada pembicaraan penting atau konyol diantara Bangkit dan Lala. Mereka terlihat sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00, membuat Lala langsung  membereskan semua dokumen yang masih berantakan dimejanya.


Begitu sudah rapi, Lala langsung menuju lift. Turun ke lantai dasar dan absen finger. Lala melangkah menuju depan kantor. Dia menunggu Sani menjemputnya.


" Nona Shabila? " Suara spontan Bangkit. 


Lala sedikit terkejut dengan suara yang tidak asing lagi baginya. Dia langsung menoleh ke belakang.


Lala terpaksa menghentikan langkahnya. Dia melihat Bangkit yang berlari-lari kecil menghampirinya. Detak jantung Lala yang sebelumnya normal, Kini mulai abnormal kembali melihat Bangkit semakin mendekatinya.


" Apa Anda akan langsung pulang?"Tanya Bangkit penasaran.


" Iya Pak."


Lala terlihat masih sedikit ragu dalam menyapanya.


" Bagaimana kalau kita makan dahulu. Agar kita lebih akrab sebagai patner bisnis." Ajak Bangkit.


Sedangkan Lala terlihat diam sejenak, sebelum akhirnya menyetujuinya.


"Ok."


Terpaksa Lala masuk ke mobil Bangkit. Mereka terlihat menuju restoran yang tak jauh dari kantor.


" Jadi Kau sudah lama menjadi sekretaris Pak David? " Tanya Bangkit seraya menarik sebuah tempat duduk.


"Belum, Baru dua bulan Pak." Jawab Lala dan langsung duduk.


" Sebelumnya Saya di divisi lain." Tambah Lala.


Tidak lama seorang waitrees menghampiri mereka. Tanpa Bangkit sadari. Bangkit memesan makanan kesukaan Lala,tanpa bertanya dulu dengannya.Lala langsung terlihat semakin penasaran.


" Oya Kau lulusan Universitas mana? " Tanya Bangkit mengalihkan pembicaraan.


" Nona Shabila."


Lala langsung tersadar dari lamunannya.


" Putra Utama University."


" Kenapa Kau tak meneruskan kuliah diluar negeri?Bahasa Inggrismu cukup bagus." Bangkit terlihat sangat penasaran dengan kehidupan Lala.


"Aku tidak bisa jauh dari keluarga." Lala terlihat hanya menjawab seperlunya.


Tak selang lama pesanan datang. Dan mereka terlihat memulai menyantap makanan.


To be Continued

__ADS_1


__ADS_2