The Rival Beside Me

The Rival Beside Me
Sebuah rasa dan keyakinan


__ADS_3

" Wah, bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan?" Keluh Lala didalam ruangan kerjanya.


Lala mondar mandir diruangannya. Secara Dia belum bisa membayangkan bagaimana menghadapi Bangkit seperti dulu lagi. Semua terasa sudah sangat berbeda sejak Bangkit muncul kembali.


Tiba-tiba telepon ruangannya berdering.


" Hallo, Ada yang bisa Saya bantu?" Tanya Lala.


" Hallo La, ini Andra. Aku tahu Kamu mungkin saat ini sedang bahagia karena Adikku menggantikanku di Kantor. Tapi kalau Kamu berani mendekati Dia. Aku tidak segan-segan akan menyingkirkan Kamu atau Dia." Ancam Andra membuat Lala terkejut


" Apa maksudmu?"


" Tentu Kamu harus mengetahui bahwa adikku saat ini telah sembuh dan mengingatmu kembali. Namun, jangan lupa Aku menginginkan dirimu juga La. Jadi jaga jaraknya dengannya. Kalau Kamu tidak ingin terjadi apa-apa dengan Bangkit lagi." Jelas Andra langsung menutup teleponnya.


Pintu ruangan terbuka , membuat Lala tambah terkejut.


" Sorry, Aku lupa mengetuk pintu karena buru-buru." Jelas Bangkit seraya membawa sebuah dokumen.


Lala masih memegang gagang telepon kantor dan tertunduk bisu. Bangkit segera mendapatkan firasat kurang baik.


" Apa Andra mengancammu?"

__ADS_1


Lala terdiam.


" Jujurlah padaku La. Aku sudah mengingat semuanya. Aku tidak ingin kehilanganmu lagi."


" Andra ingin menyingkirkan Kamu atau diriku kalau..."


Bangkit langsung meraih tangan Lala dan menggenggam erat tangannya.


" Percayalah padaku La. Itu semua tidak akan terjadi."


"Tapi..."


" Aku mencintaimu La. Sejak kuliah semester pertama Aku sudah menyukaimu. Aku usil karena mencari perhatianmu. Tapi ternyata itu membuatmu membenciku. Aku mengakui perasaanku tapi Kamu malah menganggapku bercanda. Dan berkencan dengan Dimas. Aku akui dulu pengecut dalam mengatasi perasaanku. Jadi sekarang percayalah padaku. Aku akan berusaha melindungimu dari semuanya bahkan dari Andra." Jelas Bangkit akhirnya mengakui semuanya.


" Aku lelah. Sejak lulus kuliah Aku ingin menjauhimu. Tapi kenapa Kamu selalu mengelilingi kehidupanku?" Lala berdiri tertunduk, air matanya jatuh menetes. Dia tercenung dalam kebimbangan dan kesedihan.


" Karena Aku mencintaimu. Jadi mungkin jalan takdirku terus menemukanmu." Bangkit mendekati Lala. Lalu Dia memegang lebih erat tangan Lala. Keduanya saling bertatapan. Air mata yang membasahi kedua pipi Lala diusapnya dengan lembut.


" Kita sudah cukup dewasa. Mari Kita arungi bersama hari esok yang penuh kebahagiaan dan tantangan." Bangkit merengkuh kepala Lala , lalu mendekapnya ke dalam dada.


Untuk seperkian detik, Lala merasa ada sandaran untuk hatinya yang telah lama hilang. Sesuatu kekuatan baru yang didapat kembali setelah kepergian Ibunya.

__ADS_1


" Bagaimana dengan tunanganmu." Lala teringat akan Devina.


" Aku telah memutuskannya."


" Tapi, bukankah itu akan membuat malu keluargamu."


" Aku tidak peduli. Semua ini hanya tergantung kepadamu La. Kalau kamu bersedia bersamaku. Semua persoalanku bisa Kuatasi. Percayalah."


" Bagaimana kalau kedua orang tuamu tidak setuju Kita bersama?"


" Tinggal tekadku dan tekadmu saja La."


Bangkit melepaskan pelukannya. Ditatapnya dalam-dalam wajah Lala. Seolah-olah dengan tatapannya itu, Bangkit ingin memberikan kekuatan kepada Lala untuk mempunyai keberanian bersama.


" Berjuanglah untuk kebahagiaan Kita." Pinta Bangkit berusaha meyakinkan Lala bahwa semua akan bisa dilewati Bersama.


Lala menganggukan kepala.


" Aku sangat mencintaimu La."


" Aku juga mencintaimu." balas Lala malu. Rasanya keras hatinya selama ini telah luluh dengan sebuah ungkapan dan keyakinan yang Bangkit berikan untuknya.

__ADS_1


To be Continued


__ADS_2