
Beruntung neneknya tidak melihat pertengkaran Mereka. Andra mengejar Lala. Namun Lala tidak memperdulikan dan langsung naik taxi. Sedangkan Bangkit masuk kembali ke acara. Dia duduk dan meminum segelas jus.
Pikirannya tiba-tiba menjadi kacau. Dia sesekali melihat sekitar. Semuanya sedang sibuk dengan kesibukan masing-masing.
Dia benar-benar merasa sendiri ditengah keramaian acara keluarganya.
' Calon tunangan? Apa maksud Andra?' Bangkit masih memutar otak dengan kata-kata Andra. Gelojak hatinya tiba-tiba menjadi panas.
Devina datang dan menghampirinya.
" Oya, Aku ingin segera menikah." Ucap Devina.
" Selamat." Bangkit terlihat datar mendengarnya.
" Kenapa respon Kamu seperti itu? Kita kan sudah bertunangan."
" Tapi Kita tidak seperti layaknya pasangan tunangan. " Tutur Bangkit.
" Apa maksudmu? Keluarga Kita sudah saling menyetujui." Jelas Devina.
"Maka dari itu, Kita hanya perantara barter bisnis keluarga." Jelas Bangkit.
" Aku benar-benar tidak bisa melanjutkan pertunangan Kita." Tambah Bangkit semakin membuat Devina emosi.
" Kamu, Kenapa seperti itu?" Devina terkejut.
Bangkit terdiam, posisi menerima pertunangan waktu itu karena kondisi neneknya dan keluarganya. Dan Saat itu Dia tidak mengingat siapa jati dirinya yang sebenarnya. Sedangkan Andra jelas-jelas menolak. Dan mau tidak mau, keluarganya , membohonginya bahwa Devina kekasihnya sejak SMA.
“Aku sudah mengingat semuanya.” Kata Bangkit blak-blakkan.
" Apa maksudmu?" Devina terlihat syok.
__ADS_1
" Kalian semua mempermainkan dan membohongiku." Ucap Bangkit dan lalu beranjak meninggalkan Devina yang terlihat syok.
...***...
Keluar dari taxi, Lala langsung menghempaskan tasnya ke sebuah sofa begitu saja. Raut wajahnya terlihat sangat lelah. Tekanan hidup semakin membuat Lala tak bisa menghentikan air matanya. Rasa emosi bercampur jadi satu. Perlahan Lala menangis dalam diam.
" Tuhan, Kumohon jangan uji hamba melebihi batas kemampuan. " Ucap Lala.
Ia terduduk didepan jendela kamarnya. Kenangan-kenangan masa silam kembali terputar dalam bayangannya. Belum lagi Ayahnya masih dirumah sakit.
" Aku tidak bisa melarikan diri lagi. Aku harus hadapi kerasnya kehidupan ini." Tiba-tiba Lala merasa mempunyai semangat baru dalam dirinya.
Dering hp tiba-tiba memecahkan lamunannya. Terlihat sebuah nama yang tidak asing baginya.
Lala terlihat bimbang. Namun akhirnya Ia mengangkat telepon tersebut.
" Selamat malam, Ada yang bisa Saya bantu?"
" Aku tidak punya banyak waktu. To the points saja." Jawab Lala.
" Ok. Aku mau tanya, Apa maksud Kak Andra dengan Kau sebagai tunangannya."
" Tanya sendiri sama kakakmu itu. Aku lelah dengan Kalian semua!" Lala emosi dan menutup teleponnya.
" Buat emosi dan tambah bad mood saja."
Lala melempar hpnya ke ranjang. Tangannya memegang kening. Berkali-kali Ia terlihat memutar otaknya.
" Bagaimana caranya Aku terlihat dari Mereka selain resign?"
Lala mondar mandir seperti setrikaan.
__ADS_1
Sedangkan pikirannya benar-benar bekerja keras, untuk mencari solusi dalam kehidupannya. Namun Lala tidak mampu berpikir. Ia merasa benar-benar buntu dengan semua permasalahan yang melanda dalam hidupnya.
" Kepalaku sakit memikirkan ini semua."
Lala tidak mau memikirkan lagi. Ia langsung meraih sebuah handuk dan masuk ke kamar mandi. Air hangat membuatnya sedikit rileks.
Kurang lebih dua puluh menit, Lala baru keluar dari kamar mandi. Wajahnya terlihat lebih segar.
Lala memakai sebuah piyama berwarna biru. Dia langsung menuju ke dapur dan membuat secangkir teh hangat. Lalu kembali lagi ke dalam kamarnya.
Handphonenya kembali berdering. Kali ini Ia hanya diam terpaku. Dan membiarkan saja.
Tiba-tiba sebuah bel berbunyi.
" Siapa pula ini malam-malam bertamu. Seperti tidak ada hari lain saja." Gerutu Lala.
Lala berjalan keluar dari kamarnya dan menuju ke ruang tamu. Ia membuka pintunya. Sosok yang benar-benar tidak Ia sangka. Bangkit mendatangi tempatnya.
" Dimana Andra?" Tanya Bangkit to the points.
" Mana Kutahu, Tapi Bagaimana Kau tahu tempat ini?"
Bangkit hanya menatap datar dan terlihat kesal.
" Sani? " Lala langsung menebaknya.
" Iya." Bangkit menganggukkan kepala.
" Tapi maaf, Ini sudah malam."
" Aku akan pergi. Aku hanya ingin memastikan Kau baik-baik saja. " Ucap Bangkit dan langsung berbalik meninggalkan tempat Lala tanpa sepatah kata lagi.
__ADS_1
...To be continued...