
Sinar mentari perlahan masuk dari sela-sela jendela kamar Lala. Lala langsung terbangun begitu sinar mentari mengenai kelopak matanya yang masih terpejam. Perlahan Lala membuka matanya. Dia langsung mengarah kesebuah jam dinding.
" Oh my God !!!"
Lala langsung berlari ke kamar mandi.
" Aiish kenapa bisa Aku lupa menyalakan alarm tadi malam." Gerutunya.
Lala mandi kilat. Tanpa pikir panjang Dia langsung bersiap-siap ke kantor. Dan tanpa sarapan Dia langsung menuju garasi mobilnya.
Kecepatan di atas standar membuatnya seperti sedang balapan liar.
" Pakai acara lampu merah segala lagi." Gerutu Lala. Lampu merah membuatnya sedikit emosi.
Dilain tempat, Bangkit turun dari mobilnya. Dia terlihat tersenyum bahagia. Bangkit melangkahkan kaki menuju ruangannya. Dengan senyum yang terus mengembang. Bangkit sesekali tidak lupa menyapa karyawan dan karyawati lainnya. Tetapi senyuman pagi ini bukannya tanpa alasan. Jelas senyuman itu sebuah senyuman khusus dari dasar hatinya. Entah mengapa akhir-akhir ini hatinya sangat bergembira. Beda halnya waktu di USA.
Wajah Bangkit tiba-tiba berubah. Dia terlihat terkejut. Dan melirik jam tangannya.
"Hmmm."
Sekretarisnya belum datang. Bangkit akhirnya berjalan melewati meja kerja Lala dan masuk keruangan kerjanya. Bangkit langsung menarik kursi kebesarannya, seraya mengecek dokumen-dokumen perusahaan yang belum sepenuhnya Dia pahami.
Berkali-kali Bangkit memandang ke arah meja kerja Lala. Namun sosok yang Dia tunggu belum datang juga.
Dengan terburu-buru Lala absen dan langsung masuk lift menuju lantai empat. Berkali-kali Lala melirik jam tangannya. Dan Dia sungguh khawatir. Lima belas menit bukanlah waktu yang sedikit dalam perusahaan ini.Dia takut bukan kepalang saat sampai meja kerjanya. Terlihat dengan jelas Bangkit sudah sibuk dengan kerjaannya.
Dan tiba-tiba teleponnya berdering.
" Nona Shabila, Anda tahu sudah jam berapa ini?" Tanya Bangkit.
" Maaf Bangkit. Maksud Saya Pak Jay. Maksud Saya Pak Bangkit. Saya terlambat." Ucap Lala gelagapan tidak jelas.
Ingin rasanya Bangkit tertawa. Apalagi namanya disebut semua.
" Bangkit?" Tanya Bangkit memastikan.
" Maaf, Saya salah ucap." Lala lagi-lagi meminta maaf.
__ADS_1
Dalam hati Lala membodoh-bodohkan diri sendiri. Karena telah keceplosan menyebut nama secara langsung.
" Keruanganku sekarang!!! Bawa schedule hari ini beserta dokumen-dokumen yang diperlukan!!!" Perintah Bangkit dan langsung menutup teleponnya.
Lala pun langsung mengambil
Schedule hari ini beserta dokumen yang Bangkit maksud.
Dengan hati-hati Lala mengetuk pintu ruangan Direktur.
Terlihat Bangkit mempersilahkan masuk.
" Selamat pagi Pak." Sapa Lala.
" Selamat Pagi. Dan sudah kubilang panggil saja Bangkit seperti tadi." Bangkit mengingatkan Lala.
" Maaf, sepertinya kalau dikantor Saya tidak bisa seenak itu memanggil Anda dengan tidak formal." Ucap Lala menolak permintaan Bangkit, seraya menyerahkan dokumen yang diminta. Hal itu tentu membuat Bangkit sedikit kecewa. Karena terkesan seperti ada dinding pemisah antara Dia dengan Lala. Bangkit pun langsung membuka jadwal hari ini.
Jadwal yang full, Membuat
Bangkit langsungĀ memutarkan bola matanya. Sepertinya Dia langsung pusing melihat jadwalnya hari ini. Dan langsung memandang ke arah Lala. Berharap pusingnya berangsur hilang dan jadi semangat kembali seperti tadi pagi.
" Benar Pak. Apa ada masalah?" Lala bingung dengan pertanyaan Bangkit yang sepertinya langsung down, begitu melihat jadwal full hari ini.
" Tidak. Dan lain kali jangan terlambat lagi." Ucap Bangkit langsung membenarkan kacamatanya.
" Maaf kalau Saya tadi pagi terlambat. " Ucap Lala seraya menundukkan kepala dan lalu keluar dari ruangan Direktur.
" Kenapa Dia membuatku semakin aneh dan dilema." Ucap Bangkit begitu Lala keluar dari ruangan.
Masih ada waktu dua puluh menit sebelum meeting. Dia pun melihat-lihat baground orang-orang yang akan Dia temui hari ini. Dan seketika langsung terkejut begitu melihat foto atas nama Dimas. Ada yang aneh dalam pikirannya.
" CEO Horizon? " Bangkit membelalakan matanya.
" Sepertinya Dia tidak begitu asing. Tali dimana Aku bertemu dengannya? " Bangkit bertanya-tanya dalam hatinya. Dia menghela nafas panjang. Bagaimana juga Dia benar-benar pernah merasa pernah bertemu dengannya. Namun Dia benar-benar tidak menemukan jawaban itu. Begitu juga dengan Lala. Bangkit merasa sangat tidak asing.
Bangkit pun langsung mondar-mandir tidak jelas.
__ADS_1
'' Ini benar-benar menyebalkan. Aku benar-benar merasa frustasi." Gerutu Bangkit dan langsung terkejut karena terlihat Lala mengetuk pintu ruangannya.
" Masuklah." Ucap Bangkit langsung terdiam duduk kembali.
Lala pun langsung masuk dan menaruh segelas kopi rasa vanilla late yang paling tidak disukai Bangkit saat dikampus dahulu. Uji coba jelas yang Lala lakukan.Lala sangat penasaran dengan reaksi Bangkit.
" Bukankah Aku tidak meminta Kau membuatkan kopi untukku?" Tanya Bangkit to the point.
" Maaf. Biasanya Pak David selalu Saya buatkan setiap pagi walau Beliau tidak memintanya." Alasan Lala menutupi kebohongannya. Padahal jelas Dia juga tidak pernah membuatkan minuman kalau Pak David tidak menyuruhnya.
Bangkit pun heran, namun Dia berpikir mungkin itu termasuk tugasnya Lala sebagai seorang sekertaris.
" Apa masih ada yang ingin Kau sampaikan padaku?" Tanya Bangkit begitu masih melihat Lala ada diruangannya. Walaupun itu menguntungkan dirinya. Karena jelas Bangkit bisa melihat wajah Lala lebih lama. Wajah yang akhir-akhir ini membuatnya dilema.
" Hmmm. Apa Bapak tidak ingin meminumnya sekarang?"Tanya Lala sungguh penasaran dan membuat Bangkit langsung tertawa lepas.
" Jadi Kau masih berdiri disitu hanya ingin melihatku minum kopi ini?" Bangkit berpikir kelakuan Lala sungguh lucu baginya.
" Tidak. Siapa tahu langsung Bapak minum dan Saya langsung bisa menyingkirkan gelasnya. Lagian itu tidak begitu panas tapi hangat." Jelas Lala panjang lebar seperti memasarkan suatu produk kepada Bangkit.
Bangkit langsung teelihat menaikkan alisnya. Dan memandang sebuah cangkir kopi yang berbau vanilla late. Jelas Bangkit sangat hafal dengan baunya. Secara Dia memang pecinta kopi.
" Apa tidak ada rasa lainnya?" Tanya Bangkit seraya masih ragu untuk meminumnya.
" Tidak Pak. Sepertinya bagian cs belum membeli stok kopi dengan rasa lainnya." Jawab Lala berbohong. Padahal jelas stok full berbagai rasa.
Bangkit mengangguk-anggukkan kepalanya tanda Dia mempercayai kata-kata Lala.
Dengan santai Bangkit pun langsung mengambil secangkir kopi tersebut. Dan cepat-cepat meminumnya sampai habis.
Lala langsung terkejut melihatnya.
" Apa cara Anda meminum kopi seperti itu? Sungguh menakutkan." Lala terkesan mengejek. Karena jelas tidak biasanya orang meminum kopi dengan cara cepat seperti itu.
" Siapa? Aku?"Bangkit tidak mengerti ucapan Lala.
" Anda meminum kopi seperti meminum jamu pahitan." Ucap Lala seraya membereskan cangkir kopinya dan melangkah keluar dari ruangan Bangkit. Belum sempat Lala membuka pintu. Sebuah tangan menahannya.
__ADS_1
To be Continue.