The Rival Beside Me

The Rival Beside Me
Makan malam


__ADS_3

Lala bersiap-siap menemui Ayahnya Bangkit. Sesaat sebelum kepergiannya, Sani datang berkunjung untuk melihat kondisi Lala dan menanyai seputar rencana pernikahan Lala dengan Bangkit. Lala menceritakan semuanya. Dan Lala menambahkan jika Dia akan menemui Ayah Bangkit. Sani yang pernah bertemu dengan Ayah Bangkit, memberitahu Lala jika tak mudah untuk meluluhkan hati Pak Sanjaya. Ayah Bangkit bisa saja tersenyum tetapi berbeda jauh dengan tatapan matanya yang sangat tajam.


Ucapan Sani benar adanya, Lala juga sudah bisa menebak sebelumnya apa yang akan terjadi saat dirinya bertemu dengan calon mertuanya tersebut. Ayah Bangkit memang menyambutnya dengan baik, tapi kata-katanya mampu menusuk hati siapapun yang mendengarnya.


Saat Lala datang, Pak Sanjaya sedang makan sore. Beliau meminta Lala untuk menjelaskan seperti apa Bangkit baginya dan tetap melanjutkan makannya. Dimana-mana tidak sopan kan, kalau seseorang datang bertamu si tuan rumah justru mengabaikannya. Pak Sanjaya benar-benar terlihat angkuh didepan Lala. Beliau berusaha terkesan buruk dihadapan Lala. Sama sekali berbeda dengan Neneknya Bangkit yaitu Bu Ratih yang selalu ramah.


“Bagiku, Dia seperti anak tujuh tahun yang nakal. Orang tua yang membesarkan anak-anak mengatakan ketika seorang anak berumur tujuh tahun, Mereka akan melakukan hal-hal yang dibenci orang tuanya. Tetapi karena kenakalan anak Mereka. Apa mereka akan membenci anak Mereka sendiri? Ini adalah cinta dan benci untuk Kita, tetapi sekarang kebencian seseorang akan hilang dan yang tersisa hanyalah cinta.” jawab Lala panjang lebar.


“Apa karena Dia mengatakan ingin menikah?” tanya Ayah Bangkit dan tetap fokus pada makanannya.


“Tidak masalah jika Kami tidak menikah, bila pada akhirnya hubungannya dengan kedua orang tuanya akan baik-baik saja." Jawab Lala.


“Bagaimana dengan kesediaanmu membiarkan Dia pergi?” Tanya Ayah Bangkit.


“Aku sudah melakukannya tapi Aku gagal." Jelas Lala mengingat Dia selalu berusaha menjauhkan Bangkit dari kehidupannya.


“Lalu kamu ingin mengikuti kemauannya sekarang? Apa Kamu berpikir ini semua demi kebaikan orang yang Kamu sukai? Dari yang Aku lihat, Kamu bertindak seperti Kamu tidak bisa menang dari Bangkit dan menarik diri ke belakang dan membiarkan Dia maju ke depan.”


“Aku percaya Anda bisa membujuknya jauh lebih baik daripada Aku. Sejujurnya Aku sudah menyerah. Jika Anda bisa mendapatkan Dia memutuskan rencananya untuk menikah denganku sekarang, maka Saya akan mundur. Aku berjanji." Jawab Lala tidak ingin berdebat.


“Apa kamu akan mengatakan hal ini kepadanya?”


“Aku tidak memberitahunya, jika Anda meminta Saya bertemu hari ini." Jawab Lala.


“Baiklah, jika Kamu ingin menikah maka itu harus. Jika kamu mengatakan menyukainya bahkan ketika Dia melakukan sesuatu yang jelek, maka Aku akan memberikan Bangkit kepadamu. Jadi lanjutkan dan bawa Dia tinggal bersamamu. Aku sudah mengatakan apa yang Aku ingin katakan, silahkan pergi. Jujur, Aku lebih menyukai Kamu datang ke rumah Kami sebagai karyawati yang dapat penghargaan karena prestasi, daripada sebagai menantu. Aku sudah mendengar juga tentang keluargamu. Terima kasih banyak telah meluangkan waktu untuk bertemu." Jelas Pak Sanjaya mengakhiri percakapan.


Lala pamit pulang, Namun merasa ada yang aneh dengan persetujuan Pak Sanjaya untuk rencana pernikahan Mereka. Bagaimana Pak Sanjaya dengan mudahnya menyetujui rencana pernikahan Mereka. Namun kata-katanya terkesan ambigu untuk diartikan setuju


...***...


Di tempat lain Bangkit sendiri sedang menghabiskan waktu dengan teman-temannya. Dia menemui Eko dan Yohanes. Saat Yohanes sibuk mengumumkan rencana pernikahan yang akan digelar beberapa bulan lagi, Bangkit berucap jika mungkin saja dirinyalah yang pertama kali akan menikah.


"Dengan siapa?" Tanya Eko penasaran.

__ADS_1


Bangkit menjawab dengan bangganya.


“ Lala."Teman-temannya jelas saja terkejut, bukannya Mereka bagai Tom and Jerry saat bertemu. Bagaimana bisa Mereka akan menikah.


" Kau pasti bercanda." Yohanes tidak percaya.


" Aku serius. " Ucap Bangkit penuh penekanan.


"Bagaimana dengan pertunanganmu itu?" Tanya Eko yang sudah tahu kalau Bangkit sudah bertunangan dengan Devina.


" Aku sudah membatalkannya begitu Aku sembuh dan mengingat semuanya."


" Baiklah, Sebagai sahabat Aku hanya bisa mendoakanmu. Semoga itu keputusan yang terbaik buat Kalian."


" Terima kasih." Jawab Bangkit.


Dan Mereka terlihat keluar dari cafe sekitar jam sepuluh malam.


Sedangkan dilain tempat. Ibu Hani selaku Ibunya Bangkit langsung menemui suaminya.


" Dia memang baik tapi asal usulnya sama sekali tidak bisa diterima."Jawab Pak Sanjaya


" Tapi kedua orang angkatnya telah membesarkannya dengan baik. Lala terlihat sangat sopan dalam pembawaan sebagai sebagai wanita, walaupun Dia hanya anak adopsi." Ibu Hani membelanya mengingat Bangkit terlihat jauh lebih baik saat bersama Lala.


Baru saja Pak Sanjaya akan menjawab, bunyi bel rumah berhasil menghentikan pembicaraan Mereka. Pembicaraan Mereka kembali berlanjut tetapi kali ini fokus pada Bangkit dan Ayahnya. 


" Ayah sudah bertemu dengan wanita idamanmu itu. Ayah rasa Dia tidak cocok untuk menjadi calon menantu Kita." Ucap Pak Sanjaya.


Namun Bangkit berusaha membujuk Ayahnya jika Lala adalah gadis yang baik. Dan Bangkit merasa tidak bisa hidup tanpa Lala.


" Ok Ayah setujui rencana menikahmu itu, tapi dengan syarat tinggalkan rumah ini." Ucap Pak Sanjaya membuat Bangkit dan Ibunya terkejut.


Bangkit menuju ke kamarnya dengan raut wajah kesal. Berselang beberapa menit kemudian Ibunya menyusul.

__ADS_1


" Apa Lala lebih penting dari orang tuamu?"


Tanya Ibunya yang merasa tidak tega kalau sampai Bangkit keluar dari rumah.


" Aku tidak mungkin hidup terus bersama dengan Kalian.Aku memiliki kehidupan sendiri dan pasti akan menikah. Tapi tidak mungkin Aku menikah dengan orang yang tidak kucintai seperti yang Kalian mau Ma. Tidak apa-apa Aku keluar dari rumah ini, yang penting Ayah sudah merestui." Ucap Bangkit menenangkan hati Ibunya.


Ibu Hani hanya terlihat pasrah dengan keputusan putranya tersebut. Dan keluar meninggalkan Bangkit yang sedang terlihat berpikir.


Bangkit menelepon Lala.


" Apa Kau habis bertemu dengan Ayahku?"


" Iya, Aku berniat memberitahumu saat Kita bertemu."


" Aku merindukanmu." Ucap Bangkit tiba-tiba.


"Kau kenapa?" Tanya Lala merasa ada yang aneh dengan ucapan Bangkit.


" Kau tahu kan, Kau segalanya bagiku." Tambah Bangkit.


" Iya Aku tahu." Jawab Lala masih tidak mengerti dengan ucapan Bangkit yang sepertinya sedang menutupi sesuatu.


Bangkit lalu mengucapkan selamat malam dan mematikan teleponnya ke Lala.


Dia terlihat langsung mulai membereskan barang-barangnya. Sepertinya keputusannya untuk menikahi Lala tak dapat diganggu gugat lagi. Lagipula Ayahnya juga masih memiliki Andra, yang jauh lebih disayanginya daripada dirinya.


Ibu Hani tentu saja sedih melihat Anak mereka pergi meninggalkan rumah. Dan suaminya tak berusaha mencegahnya ataupun merubah keputusannya.


" Ibu akan selalu merindukanmu." Ucap Ibu Hani seraya memeluk Bangkit.


Sebelum keluar Bangkit tidak lupa berpamitan dengan neneknya yang sampai saat ini selalu mendukungnya.


" Ingat , Nenek selalu mendukungmu. Nenek yakin nanti Ayahmu akan berubah pikiran." Ucap Neneknya.

__ADS_1


Bangkit hanya mengangguk dan memeluk neneknya.


To be continued


__ADS_2