
Pak Sanjaya mulai menjalankan rencananya. Salah satunya adalah mencegah Bangkit untuk mengklaim warisan yang didapatkannya dari Kakeknya. Tidak hanya itu, Pak Sanjaya akan memblokir semua rekening dan kartu kredit milik Bangkit. Ini adalah konsekuensi yang didapatkan Bangkit karena sudah berani membantah Ayahnya.
Sementara itu,
Begitu keluar dari rumah, Bangkit memilih tinggal di Apartemennya. Hari ini, Bangkit janjian sarapan bersama dengan Lala. Mereka janjian bertemu diperpustakaan kampus Mereka dahulu. Begitu selesai kerja, Lala langsung menuju kampus Mereka dulu.
Lala menyelusuri setiap koridor kampus hingga sampai perpustakaan. Dia pun berjalan dan mengarahkan pandangannya ke setiap lorong buku. Hingga melihat seorang Bangkit berdiri seraya sedang membaca buku. Namun spontan matanya langsung tertuju ke Lala begitu Lala muncul dihadapannya.
" Kau sudah datang?" Tanya Bangkit.
" Iya, tapi ngomong-ngomong kenapa Andra mengintrogasiku hari ini?" Tanya Lala tho the point.
“Aku meninggalkan rumahku." Ucap Bangkit.
“Kenapa? Apa Ayahmu menentangnya?” tanya Lala terkejut.
“Ayah berkata jika Kita ingin menikah, harap melakukannya di luar. Ini adalah keputusanku. Mari kita memiliki anak segera setelah menikah, lalu Ayah akan menarik gencatan senjatanya sehingga dia bisa melihat cucunya, yang mustahil akan Dia dapatkan dari Andra.” Jelas Bangkit membuat Lala langsung membulatkan kedua bola matanya.
“Jadi ini maksud dari ucapannya kemarin untuk membawa Kau dan hidup denganmu."Ucap Lala.
“Jangan mengkhawatirkan apapun, Kita akan menikah, hidup bahagia, memiliki anak. Aku akan bekerja keras. Jangan membuat wajah seperti itu." bujuk Bangkit.
“Aku bukan sedih karena itu. Aku adalah penyebab seorang Ayah dan Anak memutuskan hubungan Mereka, apakah Aku bisa tertawa sekarang?” Tanya Lala.
“Aku bisa membujuk Ayahku lagi, tapi Aku tidak ingin melakukannya.”Ujar Bangkit.
“Bagaimana dengan menghadiri pernikahan? Kau mengatakan akan mendapatkan persetujuannya?” Tanya Lala.
“Aku berpikir itu akan memakan banyak waktu, Aku mencoba meyakinkannya melalui logika, tetapi Ayahku tidak mendengarkannya dan terus saja gusar.” ucap Bangkit berusaha menenangkan Lala.
" Sudahlah, Ayo Kita makan dulu." Ajak Bangkit.
Bangkit mengajak Lala ke kantin, kantin yang sama dimana dulu Mereka bagaikan tom and jerry saat kuliah.
" Bagaimana kalau Kita tinggal dirumah sederhana dan meninggalkan apartemen masing-masing?" Ucap Lala tiba-tiba.
" Kenapa begitu?"
" Kita harus bisa tunjukkan, kalau Kita bisa hidup tanpa materi kemewahan seperti prasangka Ayahmu. Bagaimana Ayahmu akan simpati, jika Kita hidup dalam kemewahan?
Jelas Dia akan berpikir Aku hanya mengincar kekayaan darimu saja."
Bangkit terlihat memikirkan ucapan Lala.
__ADS_1
Usai menghabiskan makanan, Bangkit tiba-tiba berucap jika dirinya ingin mengakui sesuatu pada Lala.
"Apa Kau masih ingat saat dulu Aku selalu usil padamu, hingga membuat kesalahpahaman diantara Kau dan Dimas?"
" Aku ingat. Kau selalu membuatku kesal."
" Disaat mendengar Kau jadian sama Dimas, Aku rasanya marah. Karena disitu Aku sadar Aku mempunyai perasaan terhadapmu. Tapi Kau tidak mempercayainya." Jelas Bangkit.
" Bagaimana Aku bisa mempercayaimu dulu. Kau selalu usil dengan semua candaanmu."
Mereka sama-sama tertawa ketika mengingat hal-hal konyol yang pernah Mereka lakukan dulu.
" Oya, Saat Kau menghilang itu bagaimana ceritanya? Dan kenapa Kau menghindariku?"
" Oh itu, Ayahku posisi sedang terkendala dengan finance perusahaan. Mau tidak mau Dia menerima tawaran sahabatnya yang ingin membantunya. Namun dengan syarat perjodohan. Kau tahu, disitu Andra menolak keras. Dan Aku juga otomatis menolak. Lalu Aku pergi keluar dari rumah. Dan Kau seperti terlihat khawatir terhadapku. Namun Aku kondisi sedang labil. Aku malah terasa marah, setiap menerima perhatian darimu.
Lalu seperti yang Kau lihat, Aku hilang ingatan karena balapan itu dan kuliah diuar negeri. Dan terjebak dengan perjodohan itu." Cerita Bangkit panjang lebar seperti koran harian pagi.
Lala terlihat mengerti dan memahami kondisi Bangkit yang menjauh darinya saat itu.
" Lalu bagaimana Devina? Apa Dia baik-baik saja setelah Kau putuskan?"
" Kenapa Kau khawatir terhadapnya."
" Aku hanya kasihan, Kita sama-sama wanita."
Lala langsung meminum jus alpukat kesukaannya.
" Kau sendiri, bagaimana dengan Dimas mu itu? Apa Kau masih berhubungan dengannya?"
" Tentu saja Aku masih berhubungan dengannya."
" What!"Bangkit menatap tajam Lala.
" Dalam hal pekerjaan maksudku. Aku sudah mempertegas padanya, hanya bisa sekedar sahabat." Ucap Lala membuat Bangkit terlihat lega.
Mereka menghabiskan sisa waktu untuk bertemu dosen-dosen Mereka dahulu, lalu membaca buku kembali diperpustakaan hingga sore hari.
...***...
Lala masih sibuk dengan semua pekerjaannya, ketika sebuah telepon berdering nyaring diruangannya.
" Hallo, "
__ADS_1
" Hallo Ibu, Ada yang ingin bertemu dengan Anda." Ucap Lina selaku sekretarisnya.
" Ok. Suruh masuk ruangan." Titah Lala.
" Ok.Ibu."
Tidak selang lama terlihat seorang separuh baya mengetuk pintu ruangan Lala.
" Silahkan masuk." Ucap Lala.
Namun Lala terkejut begitu melihat sosok Pak David beserta istrinya muncul dihadapannya. Semua ini membuat pikiran Lala kemana-mana. Mengingat Dia mengundurkan diri tanpa berpamitan dengan Pak David. Atau Dia penyebab kandasnya pertunangan putri Pak David dengan Bangkit. Semua itu berputar-putar dipikiran Lala.
" Silahkan duduk!" Lala langsung mempersilahkan Mereka duduk.
" Ada apa Anda menemui Saya Pak?"
" Begini La, sebelumnya minta maaf karena begitu lama Kami baru mengetahuinya." Jelas Pak David membuat Lala tidak mengerti.
Sedangkan istri Pak David hanya terdiam dan memandang Lala penuh dengan kesedihan.
" Maksudnya Pak?"
" Kau tahu Devina. Dia habis kecelakaan dan membutuhkan donor darah."
" Innalilahi." Lala terlihat syok mendengarnya.
" Tapi Alhamdulillah sudah melewati masa kritisnya." Jelas Pak David.
" Alhamdulillah kalau begitu. Maaf jika mungkin semua itu gara-gara Saya, pertunangan putri Bapak menjadi kandas." Ucap Lala merasa bersalah.
" Tidak, itu bukan salahmu. Itu salahku juga yang telah memaksakan kehendak sebagai orang tua. Namun yang ingin kusampaikan bukan itu. Tapi tentang Kau La."
" Saya? Maksud Anda? " Lala benar-benar bingung dan tidak mengerti.
" Kau adalah putri kandung Kami." Jelas Pak David bagaikan kabar hoax disiang bolong.
Lala terdiam dan terpaku. Dia antara percaya dan tidak percaya dengan ucapan Pak David. Semua itu seperti mimpi baginya.
" Apakah Anda yakin?" Tanya Lala memastikan kembali.
" Saya sudah menyelusurinya dan jelas-jelas Kau putri Kami La. Rumah sakit telah salah menaruh nama, Sehingga Kalian tertukar. " Jelas Pak David masih membuat Lala terkejut dengan semua ini.
" Kalau Kau masih tidak percaya, Kita bisa cek DNA. Kau benar-benar putri kandung Kami atau bukan." Tambah Pak David meyakinkan Lala yang masih terlihat ragu dan tidak percaya dengan kenyataan yang sangat mendadak baginya.
__ADS_1
Lala pun menyetujui tes DNA untuk membuktikan tentang kebenaran itu. Mereka pergi ke rumah sakit terdekat.
To be continued