The Rival Beside Me

The Rival Beside Me
Tabir di balik Masa Lalu


__ADS_3

Lala berhenti dan menoleh kearah Bangkit.


" Ada apa Pak?" Tanya Lala terkejut seraya melepaskan tangan Bangkit yang sedang menahannya.


Bangkit pun bingung sendiri dengan sikapnya. Antara bingung dan spontan sudah tidak bisa membedakannya saat ini.


" Hmm.., bisakah Kau membatalkan pertemuan kita dengan Horizon?" Bangkit langsung mengalihkan pembicaraan.


" Apa? Kita tidak bisa seenaknya membatalkan sepihak seperti itu Pak." Protes Lala membuat Bangkit kecewa.


" Aku sungguh ada kepentingan mendadak tepat jam itu." Keluh Bangkit membuat Lala bingung.


" Kalau begitu biarkan Saya saja yang menemui. Beliau sahabatku jadi tidak masalah jika Aku saja yang menemuinya." Ujar Lala menawarkan solusi terbaik. Namun terbaik bagi Lala. Faktanya tidak terbaik bagi Bangkit


' Tidak. Kalau Dia sendiri, Berarti mereka berduaan. Oh No!!!' Pikir Bangkit spontan tiba-tiba merasa tidak rela.


" Tidak jadi, sepertinya Kita bersama saja. Aku akan menunda kepentinganku." Ucap Bangkit buru-buru.


Lala pun langsung menatap Bangkit penuh selidik.


" Kenapa? Apa Kau masih ingin diruanganku?" Tanya Bangkit mengalihkan mata Lala yang mulai mencurigainya.


" Kau... Bangkit sahabat kampusku?" Ucap Lala yakin.


Bangkit pun langsung tertawa.


" Iya Saya Bangkit siapa lagi. Tapi atasanmu. Bukan teman kampusmu." Jelas Bangkit.


" Sepertinya Kau rindu berat dengan sahabatmu itu. Atau jangan -jangan Dia sahabat yang membuatmu jatuh cinta?" Bangkit menggoda Lala.


Lala terdiam.


" Apakah itu benar?"


" Jadi Dia mirip denganku? Dari nama dan wajah juga?"


Lagi-lagi Lala hanya mendengus kesal. Semuanya sungguh tidak logika baginya.


Kata-kata Bangkit jelas langsung membuat Lala terkejut.


Lala pun langsung buru-buru meninggalkan ruangan Bangkit.


Daripada dirinya gila mendengar kata-kata aneh dari atasannya itu.


Bangkit terlihat langsung lega begitu Lala sudah keluar dari ruangannya.


Namun Bangkit masih frustasi.


" Apa Aku mempunyai kembaran?" Bangkit bertanya-tanya sendiri.


Bolak balik Dia menekan remote control jendela ruangannya, seraya melihat Lala yang sedang sibuk dengan kerjaannya.


Lala mengetik dokumen seraya pikirannya melayang-layang tidak jelas.


' Ini sungguh aneh. Kenapa tiba-tiba Dia ingin membatalkan meetingnya dengan horizon? Tapi menolak tawaranku.'Pikir Lala.


Jelas-jelas ini membuat Lala semakin penasaran.


...***...


Seorang wanita dengan senyuman lebarnya kembali dari USA diam-diam.


" I am coming ." Ucap Devina seraya menarik kopernya.

__ADS_1


Dia pun langsung menelepon Bangkit. Namun berkali-kali teleponnya tak ada respon.


Bangkit hanya memandang hampa dering hpnya. Pikirannya jelas sudah teralihkan ke Lala. Bahkan Bangkit merasa tak berharap bertemu wanita yang selalu mengisi hari-harinya saat di USA itu. Padahal jelas Devina itu kekasihnya sekarang. Tapi hatinya kini benar-benar  hampa. Iya, sepertinya Bangkit hanya main-main saja dengan Devina selama ini. Seorang wanita yang dijodohkan oleh Ayahnya.


Lala tidak sengaja melihat ke arah ruangan Direktur. Terlihat jelas jendela ruangan terbuka dan atasannya itu sedang memandang ke arahnya. Bangkit yang langsung tersadar dari lamunannya, seketika menutup kembali jendela ruangannya.


"Oh My God. Apa Dia melihatku?" Bangkit ketakutan sendiri. Dia pun langsung kembali fokus ke kerjaannya.


Selang beberapa jam, setelah selesai meeting dengan investor, waktu pun menunjukkan pukul 10.00. Lala menemani Bangkit ke Horizon Group.


Selama perjalanan, Bangkit terlihat lebih memilih diam. Dia takut berbuat aneh-aneh lagi atau membuat Lala curiga. Dan jelas gawat kalau sampai Lala mengetahui Dia sedang tertarik padanya . Bisa-bisa Lala akan langsung menjauhinya. Dia tidak ingin itu terjadi.


Lala pun melirik kearah Bangkit. Dia penasaran dengan senyuman Bangkit yang tiba-tiba tiada angin, tiada badai dan tiada hujan  muncul begitu saja.


" Apa ada yang salah dengan penampilanku?" Tanya Lala membuat Bangkit tersadar dari lamunannya.


Bangkit langsung memandang Lala dari rambut hingga ujung kaki. Dan jelas membuat Lala menyerngitkan dahinya.


" Tidak ada." Bangkit menggelengkan kepalanya.


" Lalu mengapa Bapak tiba-tiba tersenyum sendiri?" Tanya Lala penasaran.


Bangkit langsung memutar otaknya, mencari alasan tepat untuk menjawabnya.


" Saya hanya merasa bahagia."


Lala mengangguk-anggukkan kepalanya. Tidak selang lama Mereka sampai di gedung Horizon Group.


" Selamat Siang, Bisa bertemu dengan Pak Dimas?" Lala langsung to the point ke bagian resepsionis.


" AXI Group?" Resepsionis memastikan kedatangan Mereka.


" Iya Benar."


Dimas sudah menunggu Mereka. Senyum mengembang karena Dia tahu Lala yang akan datang. Dia masih mengingat kenangan masa lalu itu. Lala terlihat tersenyum begitu memasuki ruangan meeting, diikuti Bangkit dibelakangnya


" Selamat datang di ..." Dimas terlihat terkejut dan sedikit kecewa.


" Bangkit?" Dimas masih mengingat jelas wajah penuh arogan dikampus dulu.


" Iya benar, Anda Dimas?" Bangkit mengakuinya.


" Iya. Jadi selama ini Kalian bersama?" Dimas salah paham kembali.


" Tidak, ini panjang ceritanya. Dan Pak Bangkit lain lulusan kampus Kita. Beliau lulusan Harvard Universitas." Jelas Lala membuat Dimas bingung.


Bangkit sendiri terlihat bingung. Dia merasa dua manusia didepannya tidak begitu asing baginya. Namun Dia benar-benar tidak ingat apa-apa tentang Mereka.


" Jadi. Ini bukan Bangkit dikampus Kita?"Dimas memastikan kembali.


" Bukan Pak Dimas." Lala sok formal.


Dimas masih terlihat bingung. Namun akhirnya Mereka membahas kerja sama tentang proyek apartement yang mau Mereka bangun dipinggiran sebuah Kota dekat pantai.


Meeting memakan waktu jam satu jam. Dan Mereka deal bekerja sama. Dimas terlihat masih sangat penasaran.


Selama perjalanan, Lala terlihat diam membisu. Sedangkan Bangkit bertanya-tanya dengan dirinya sendiri. Kenapa dua orang merasa Dia teman kampusnya. Bangkit mengingat-ngingat masa lalunya. Namun Dia sendiri benar-benar tidak mengingat apa-apa kecuali tentang kuliahnya di Harvard University. Dan perjodohannya dengan Devina saat semester 3.


Jam 4 sore Mereka sampai dikantor.


" Terima kasih." Lala langsung turun dan menuju ke tempat kerjanya. Membereskan dokumen-dokumen yang masih berantakan.


Sani terlihat meneleponnya.

__ADS_1


" Iya San. Ada apa?"


" Kamu sedang apa?"


" Aku masih dikantor. Kenapa?"


" Ada sesuatu yang ingin kuceritakan. "


" Cerita tentang apa San?"


" Bangkit. Ternyata dulu Dia menghilang karena terjatuh saat balapan liar dan menyebabkan hilang ingatan. Lalu sama Ayahnya dipindahkan kuliah ke luar negeri biar Dia melupakan hobinya tersebut."Jelas Sani panjang lebar.


Lala langsung terkejut.


' Pantas saja Dia tidak mengingatku sama sekali.' Pikir Lala.


" Kamu dapat info sari siapa?"


" Eko."


" Kenapa Dia tidak cerita padaku?"


" Dia takut Kamu kepikiran dan mengganggu skripsimu."


Lala langsung terduduk lemas. Dia benar-benar merasa bodoh. Bagaimana bisa semua menjadi seperti ini. Lala langsung beranjak dari duduknya. Dia tidak ingin menambah masalah dengan tetap duduk diruang sekretaris. Bisa-bisa Lala menghampiri Bangkit dan memaksa Dia untuk mengingatnya. Begitu melihat jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Lala langsung absen pulang. Dan meminta Sani untuk betemu dan cerita lebih detail.


Lala menuju basemen parkiran.


" Bagaimana bisa, pekerjaanku selalu berhubungan dengannya." Lala langsung terlihat down.


Tidak lama kemudian. Lala dan Sani bertemu disebuah kedai kopi langganan Mereka.


" Kau kenapa pucat seperti itu?"


Lala langsung duduk lemas.


" Cerita bagaimana kronologinya?"


" Jadi kemarin, Aku tidak sengaja bertemu Eko. Dia tanya tentangmu. Lalu Aku teringat tentang Bangkit. Aku tanya lah tentang Dia juga. Lalu Dia cerita kenapa Bangkit tiba-tiba keluar negeri."


" Aku mau ke kantor lagi."


" Ngapain?"


" Mengemasi barang-barangku dikerjaan."


Sani terkejut.


"Kamu mau resign?"


Lagi-lagi Lala menganggukkan kepalanya.


" Gila. Kamu mau keluar dari perusahaan bonafit seperti itu?"


" Itu bukan masalah. Aku bisa kerja ditempat lain." Lala mengalihkan pandangan ke luar kaca jendela mobil.


" Bangkit yang Kamu ceritakan, sekarang Dia yang menggantikan posisi Direktur diperusahaan tempatku bekerja San."


" Kok bisa?" Sani terlihat sangat terkejut.


" Panjang ceritanya.Dan Dia benar-benar tidak mengingatku sama sekali." Jelas Lala.


Pikirannya benar-benar berkecambuk. Dia merindukannya. Namun disisi lain, waktunya sudah berubah. Mereka bukan Mereka yang dahulu. Mereka bukan lagi rival dikampus seperti dulu. Sekarang Mereka hanya sebatas rekan kerja. Lala menghela nafas panjang. Sesak rasanya mengingat itu semua.

__ADS_1


To be Continued.


__ADS_2