
Bangkit menelepon Lala dan mengatakan akan tiba dalam waktu sepuluh menit untuk menjemputnya.
Bangkit mengajak Lala makan malam bersama. Percakapan mereka dimulai dengan cerita yang lucu misalnya tentang kehidupan saat Mereka masih kuliah dan beralih ke pembicaraan yang sedikit serius. Lala menceritakan tentang dirinya.
" Aku bukan anak kandung orang tuaku. Aku anak adopsi." Ucap Lala membuat Bangkit terkejut.
Bangkit mengatakan kepada Lala agar mereka merahasiakan tentang kelahiran Lala kepada ke dua orang tua Bangkit.
" Kau bisa merahasiakan itu kepada orang tuaku."
" Tidak. Aku akan mengatakan sejujurnya." Lala tidak setuju. Lala ingin mengungkapkan semuanya tentang dirinya dan tak ingin menutupi sesuatu pun.
" Jika Kau memang berpikir tidak sanggup untuk menghadapi dan melaluinya. Mundur sekarang tidak apa-apa." Ujar Lala
" Tidak La, Aku akan mengikuti semua keputusanmu." Jawab Bangkit berbalik tidak setuju dan akan mengikuti semua yang diinginkan Lala.
"Kau tidak mengganti pakaian? Kau tidak pulang?” tanya Lala begitu sadar dengan pakaian Bangkit yang masih sama saat terakhir bertemu di Kantor.
“ Aku menginap di Hotel. Agar Andra tidak menemukanku. Kita perlu membuat sebuah keputusan, sebelum Aku pulang ke rumah dan menghadapi keluargaku. Aku akan mengikuti apapun yang Kau katakan kecuali berpisah.” Jawab Bangkit.
“Bagaimana dengan orang tuamu?” tanya Lala.
“Apakah Mereka akan membunuhku karena Aku memilihmu? Aku pikir itu bisa diatasi."
“Apakah Aku terlalu bernilai sehingga Kau memutuskan tunangan dan jelas itu akan menyakiti hati orang tuamu?”Tanya Lala meyakinkan Bangkit.
“Orang tuaku, bahkan jika Mereka tidak memilikiku. Mereka masih memiliki Andra. Aku harus menemukan sendiri kehidupanku. Dulu Aku berpikir, Aku bisa hidup dengan semua kelebihanku, tapi itu hanya kesombonganku. Mungkin jika bukan karena mengenalmu, jika Aku tidak bertemu denganmu lagi, Aku akan tetap seperti itu. Aku menyadari bahwa cinta yang membuatku seperti itu. Jika Kau jatuh ke dalam air, Kau bisa berenang atau seseorang dapat menarikmu keluar, tetapi tidak ada cara untuk keluar dari lautan cinta, setelah Kau jatuh ke dalamnya. ” ucap Bangkit panjang lebar.
“Di dunia ini Kau tidak dapat menjamin apapun. Aku tidak pernah tahu jika akhirnya Aku menjadi begitu terikat dengan seorang pria bernama Bangkit.” ucap Lala.
“Itu benar, sesuatu yang bahkan Kau tidak bisa melihatnya ataupun itu benar, sesuatu yang bahkan Kau tidak bisa melihatnya ataupun menyentuhnya menguasaimu. Kau tidak bisa membebaskan diri darinya bahkan jika Kau mencobanya. Aku hanya akan menerima kehidupan yang kujalani. Aku kehilanganmu saat Aku hilang ingatan.Aku tahu Aku mencintaimu lebih dari cintamu padaku. Sehingga membawaku bertemu denganmu kembali.Namun Kau hidup dengan baik setelah kuliah dan Kau bahkan hampir terikat dengan Andra.” ucap Bangkit dan Lala seketika menyentuh bekas luka kecil di pelipis Bangkit.
Bangkit menggenggam tangan Lala erat.
"Aku kehilangan beratku dua kg dalam waktu seminggu saat mencoba menjauhimu. Dan Aku kehilangan berat badanku tiga kilo saat Aku mengingatmu kembali.” tambah Bangkit.
“Ini adalah alasan kenapa Aku membencimu. Jika Kau tidak menghilang dulu, Aku tidak akan mengetahui tentang rahasia kelahiranku.”
Ucap Lala mengingat Ibu tirinya yang sangat terobsesi dengan kekayaan.
__ADS_1
" Maaf, maaf Aku akan baik untukmu selamanya. Sejujurnya Aku dulu mencoba membuatmu jatuh hati kepadaku terlebih dahulu, tapi Aku menyukaimu lebih dan lebih. Dan semakin Aku melihatmu semakin Aku berpikir Aku tidak bisa denganmu karena keluargaku. Aku takut, itulah sebabnya Aku. Aku takut pada diriku sendiri. Aku menyukaimu sangat banyak tetapi ketika Aku memikirkan Kita tidak akan bisa bersatu. Aku menyerah dan mencoba menjauhimu dengan hobiku. Aku berpura-pura menjadi pria jahat agar Kau tidak menemuiku lagi, Aku menyembunyikan perasaan cintaku. Namun ternyata malah membuatku melupakanmu karena hobi bodohku itu. Aku tidak akan membuat keputusan bodoh seperti sebelumnya.” Jelas Bangkit panjang lebar.
“Syukurlah, Kau melihatnya itu sebagai hal yang bodoh sekarang. Aku benar-benar tidak menyukai hobimu dulu itu. Itu sangat berbahaya.” Ucap Lala.
Bangkit menganggukkan kepala, menyetujui ucapan Lala.
“ Aku biasanya tidak pernah ingat dengan mimpiku, tapi saat Andra membawamu. Aku mempunyai firasat mimpi dimana Kamu berjalan menuju tebing."
“Jadi Kau berubah berani?” tanya Lala.
" Nenek mendukungku."
“Jadi apa sekarang? Apa kamu berpikir orang tuamu akan membiarkanmu juga seperti nenekmu?”
“Aku sudah dewasa sekarang, Aku akan mengurus semuanya. Apa yang kamu inginkan padaku sekarang? Menjadi rival, kekasih atau seorang suami?” tanya Bangkit dan tak membiarkan tangan Lala lepas dari genggamannya.
“Bagaimana Aku bisa menjadikan putra pillar grup seorang suami?” Tanya Lala.
" Itu tidak sulit, Kau hanya perlu jawab Iya."
Lala bingung mendengar ucapan Bangkit. Sedangkan Bangkit melepas genggaman tangannya dan meraih sesuatu didalam sakunya.
" Kau serius?" Tanya Lala.
" Aku sangat serius."
" Secepat ini?" Lala tidak percaya.
" Aku tidak ingin membuang-buang waktu lagi untuk bersamamu La. Kita sudah cukup saling mengenal sebelumnya." Jelas Bangkit.
" Iya."
" Kau menerima lamaranku?"
Lala menganggukan kepala. Dan Bangkit memasang sebuah cincin dijari manis tangan kiri Lala.
" Terima kasih."
" Sama-sama."
__ADS_1
...***...
Hari berikutnya Lala sudah menunaikan tugasnya untuk memberitahukan mengenai rencana yang sudah dibuatnya bersama Bangkit pada orang tuanya tentang pernikahan.
" Kau benar-benar anak yang berbakti." Puji Ibu tirinya. Sedangkan Lala menghela nafas panjang, mengingat Ibunya terlihat sangat antusias dengan kabar itu.
Sedangkan kedua orang tua Bangkit terkejut, Bangkit langsung menuju ke inti masalah.
“Aku ingin menikah.” ucap Bangkit dan membuat Ibunya tertawa bahagia. Akhirnya setelah menunggu sekian lama, putranya tersebut memutuskan menikah. Tetapi ekspresi Ayahnya berbanding terbalik dengan ekspresi istriya. Ayahnya menunjukkan raut wajah panik, Secara Dia tahu kalau Bangkit sudah memutuskan tunangannya dengan Devina. Ayahnya sudah bisa menebak apa yang akan diucapkan putranya tersebut.
Dan benar saja, Ayahnya seketika menolak terlebih ketika menyebutkan nama calon istrinya yang sudah dikenalnya dan diselidiki latar belakangnya jauh-jauh hari. Ayahnya tidak mungkin menikahkan putranya dengan seorang gadis biasa dan Strata sosial keluarga Mereka tidak sama.
Bangkit berucap jika informasi Ayahnya salah besar. Orang tua Lala sekarang ini adalah bukan orang tua kandungnya. Dia anak adopsi.
“ Aku mengetahui apa yang Ayah rasakan. Pada awalnya Aku juga berpikir untuk menjauhi dan melupakannya dengan hobiku. Hingga Aku hilang ingatan karena itu. Aku bertemu dengan gadis lainnya, tetapi takdir membawaku bertemu dengannya lagi. Dan Aku tetap tidak bisa melupakannya. Sekali saja, Aku mohon sekali saja Ayah memahamiku.” pinta Bangkit kepada Ayahnya.
“Jadi dia adalah anak adopsi? Kau memutuskan tunangan dengan Devina dan memilihnya.” ucap Ayahnya berusaha menahan amarah.
“Dia lebih baik dari Devina Ayah.”
“Kau...” Ayahnya tidak bisa lagi menahan amarahnya dan hampir saja melempari Bangkit dengan apapun yang ada disekitarnya. Jika saja istrinya tak segera menahannya.
" Bangkit! Tinggalkan Ayahmu dulu biar tenang." Pinta Ibunya menyuruh putranya menghindar dahulu.
Bangkit beranjak dan meninggalkan ruangan Ayahnya.
Ayah Bangkit berucap pada istrinya.
" Dosa apa yang sudah Kulakukan di masa lalu sehingga putranya membuatnya dalam kondisi seperti ini? Bangkit berani mengkhianatinya dan Andra hidup dengan kebebasannya."
" Jangan banyak berpikir. Tenang dulu. Kita temui gadis itu. Dia terlihat baik. Aku melihat Dia saat Andra memperkenalkan pada Nenek." Istrinya berusaha menenangkan suaminya.
" Andra?"
" Iya waktu itu Andra yang memperkenalkan pada nenek." Ucap Istrinya
" Andra? Bangkit? Apa Mereka bersaing?" Tanya Ayahnya Bangkit semakin terkejut.
...To be continued...
__ADS_1