The Rival Beside Me

The Rival Beside Me
Sebuah Keputusan


__ADS_3

Hari berikutnya Lala terlihat bimbang dengan keputusannya, antara lanjut atau bertahan. Dia bolak balik memandang ruangan Direktur. Terlihat, Bangkit sedang sibuk dengan semua pekerjaannya. Lala melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 10.15. Fokus Lala menjadi berkurang karena teringat cerita Sani.


Lala masih berharap Bangkit bisa mengingatnya. Namun sepertinya itu harapan kecil. Tiba-tiba teleponnya berdering.


" Untuk pertemuan dengan Pak Dimas hari. Tolong Kamu atur ulang. Kita akan pergi memantau proyek. Pak Dimas sudah menyetujuinya." Titah Bangkit.


" Baik Pak. Lalu bagaimana rapat dengan tim pemasaran? Apakah dicancel juga?"


" Batalkan saja. "


" Baik Pak."


Setelah percakapan Lala dengan Bangkit selesai. Lala segera menyiapkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk memantau proyek. Sedangkan Bangkit terlihat keluar dari ruangannya.


Lala langsung mengikutinya menuju lift. Mereka pun hanya berdua didalam lift. Walaupun akhir-akhir ini Mereka sering berdua didalam lift. Namun mengingat cerita Sani. Lala tampak tidak nyaman. Lift terbuka tepat dilantai dasar basement parkiran gedung. Bangkit langsung menyalakan mobilnya. Lala seperti biasa duduk disebelahnya.


Bangkit melepas pedal rem, melajukan mobilnya pelan-pelan. Melirik ke kanan dan ke kiri. Sebelum akhirnya belok kiri dan meninggalkan area gedung kantor.


Suasana masih hening. Tiada percakapan sama sekali.Hiruk pikuknya kota pun terdengar lebih nyaring dari biasanya. Bangkit menoleh ke arah wanita disampingnya.


" Apa ada yang salah denganku?" Bangkit mencairkan suasana dingin diantara Mereka berdua.


" Tidak ada Pak." Lala menundukkan kepalanya.


" Tapi kenapa Kamu lebih pendiam hari ini?"


" Saya ada niatan mengundurkan diri dari perusahaan Pak." Tiba-tiba Lala mengeluarkan unek-uneknya yang mengganjal dari tadi malam.


" Apa Kamu sudah mendapatkan pekerjaan yang lebih baik?" Bangkit berusaha terlihat santai walaupun Dia aslinya terkejut.


" Bukan itu. Saya mau mendirikan usaha sendiri."


" Kamu masih bisa sambil bekerja disini." Sarannya.


" Tapi Saya butuh kefokusan dalam usaha." Lala mencoba mencari alasan lain.


" Kamu hanya mencari alasan. Apa karena Aku yang mirip dengannya?"


" Tidak. "


Lala langsung menggelengkan kepala.


" Dia sudah masa lalu. Dan tetap hanya masa lalu." Jelas Lala.


" Kalau begitu berbicaralah dengan Pak David. Aku hanya penggantinya sementara." Tutur Bangkit.


" Bukannya Anda calon menantunya?"


Bangkit langsung menoleh ke arah Lala.


" Iya." Bangkit menganggukkan kepalanya. Dia mendadak terlihat kesal dengan pembicaraan yang terjadi.


Tiba-tiba Bangkit mengerem mendadak. Terlihat mobil didepannya tengah mendadak berhenti. Lala terkejut. Sedangkan Bangkit terlihat memegang keningnya. Sekilas bayangan kabur terlihat dalam benaknya.


Dia merasa sedikit pusing.


" Anda kenapa Pak?"


" Saya merasa pusing saja."


" Kalau begitu biar Saya yang menyetir." Lala menawarkan diri untuk menyetir.


Bangkit meminggirkan mobilnya. Lala berusaha tenang dan mengambil alih posisi menyetirnya.


Berkali-kali Lala menoleh. Jelas rasa khawatir terlihat diraut wajahnya. Bangkit masih memegang keningnya.

__ADS_1


" Apa tidak sebaiknya Anda ke dokter saja?" Saran Lala.


" Tidak usah. Kita langsung ke lokasi saja." Tutur Bangkit.


Tidak lama kemudian, Mereka sampai ditempat yang dituju. Bangkit terlihat sudah mendingan. Dia keluar dari mobil. Pak Rido selaku ketua penanggung jawab proyek langsung menyambutnya.


" Silahkan Pak." Pak Rido membimbing Kami.


Setengah jam kemudian, Mereka selesai mengecek semua bangunan proyek yang baru dimulai. Berkeliling disepanjang lokasi pembangunan proyek.


Setelah selesai Mereka kembali ke kantor. Bangkit sudah bisa menyetir kembali. Suasana hening. Tidak ada percakapan sama sekali.


" Apa Dia begitu penting bagimu?" Tiba-tiba Bangkit bertanya dikeheningan Mereka.


" Tidak juga." Jawab Lala berbohong.


" Bagaimana kalau Aku orang yang Kamu maksud?"


Pertanyaan Bangkit membuat Lala syok.


" Aku sudah tidak peduli."Tutur Lala. Lala teringat Bangkit adalah calon menantunya Pak David.


" Kenapa begitu?"


" Karena Kita sudah mempunyai jalan masing-masing." Tutur Lala mencoba tetap tegar.


Bangkit menghentikan mobilnya tepat didepan gedung perusahaan. Belum sempat buka pintu. Devina langsung berlari dan menghambur memeluknya.


" Oh, My Baby. I miss you so much."


Lala yang melihat dan mengerti situasinya langsung pamit permisi.


" Saya duluan Pak."


" Itu sekretarismu? Cantik juga." Celoteh Devina.


Suara samar-samar masih terdengar ditelinga Lala. Lala langsung menuju lift dan menekan angka 4. Suasana kantor jadi semakin heboh.


Jelas karena kedatangan Devina.


Pintu lift terbuka. Lala langsung menuju meja kerjanya. Selang beberapa menit terlihat Bangkit dan Devina berjalan bersama menuju ruangan Direktur. Bangkit berbalik ke Lala.


" Oya, Tolong ketik ulang semuanya." Titah Bangkit seraya memberikan beberapa lembar dokumen dari proyek tadi.


" Baik Pak." Lala segera mengambil dokumen ditangan Bangkit dan langsung mengerjakannya.


Tak terasa, Senja sore pun datang. Lala merapikan meja kerjanya. Sedangkan Bangkit dan Devina masih ada didalam ruangan.


Tepat saat Lala mau pulang, Bangkit dan Devina keluar dari ruangan. Bangkit tersenyum ramah kepada Lala. Sedangkan Devina memandang Lala dengan tatapan sinis.


" Sudah mau pulang?" Tanya Bangkit.


Lala mengangguk. " Iya Pak?"


Bangkit dan Devina berjalan menuju arah lift. Begitu juga Lala. Dan lift terbuka.


" Masuklah!" Pinta Bangkit membuat Lala sungkan karena ada Devina.


" Tidak usah malu-malu begitu." Ucap Devina dengan nada sinisnya.


Begitu masuk lift. Lala langsung menekan tombol berangka 01. Lala berdiri dibelakang Bangkit dan Devina. Selama dilift, Lala


Saat lift berhenti dilantai satu, Lala langsung pamit untuk pergi terlebih dahulu menuju mobilnya. Lala keluar dari gedung kantornya untuk mencapai jalan raya.


Lala melirik jam tangannya sudah menunjukkan angka 16.30. Dia teringat ingin menemui Sani kembali. Pikirannya masih kacau.

__ADS_1


Fokus menyetirnya berkurang, Lala teringat akan Bangkit kembali. Tiba-tiba dering hpny berbunyi. Dimas terlihat menelponnya.


" Hallo Dim, Ada apa?"


" Bisa bertemu sekarang?"


" Apa ada yang penting?"


" Iya ini soal kerjaan." Jelas Dimas.


" Ok. Bertemu dimana?"


" Kedai kopi dekat kampus dulu."


"Ok.Sip." Lala menyetujuinya.


Lala langsung memutar balik arah. Dia menuju kedai kopi dekat kampusnya dulu.


" Lala!" Panggil Dimas yang ternyata sudah menunggunya.


Dimas tertegun melihat Lala yang terlihat rapi dan cantik dengan baju kerjanya. Jantung Dimas berdebar. Dia mengingat masa-masa dulu saat Lala masih menjadi kekasihnya. Sebelum kesalah pahaman bermunculan diantara Mereka. Tidak bisa Dimas pungkiri, Lala masih mengisi ruang dihatinya selama ini.


Tidak mudah menyingkirkan cintanya untuk Lala begitu saja.


Lala tersenyum ramah seraya langsung duduk.


" Jadi ini tentang proyek? Apa ada masalah dengan proyek yang sudah dimulai?" Lala to the point.


" Maaf, Bukan masalah proyek. Tapi masalah pribadi. Sebenarnya ada apa dengan Bangkit?" Tanya Dimas panjang lebar.


Lala terlihat diam. Dia kecewa kenapa Dimas pakai acara membohonginya. Padahal Lala berusaha tidak ingin membahasnya.


" Sebenarnya Aku tidak tahu apa-apa Dim. Kami bekerja ditempat yang sama. Semua itu hanya kebetulan semata selama dua Minggu ini. Dia menggantikan Pak David."Jelas Lala.


" Maksudnya?"


" Pak David keluar Negeri sebulan ini."


" Apa kaitannya Dia dengan Pak David? Kenapa Dia tidak membantu Ayahnya saja?"


" Dia calon menantunya Pak David." Jelas Lala.


Dimas terlihat terkejut.


" Benarkah?"


Lala mengangguk. Dimas menatap Lala.


" Tapi kenapa Bangkit tidak mengingat Kita semua?"


" Aku kurang tahu Dim." Lala berusaha tidak cerita soal Bangkit, seperti yang telah diceritakan Sani.


" Apakah Kamu nyaman bekerja disana?"


" Aku berniat mengundurkan diri."


Dimas terdiam sejenak.


" Kalau begitu bagaimana kalau Kau bekerja dikantorku. Kebetulan lagi butuh sekretaris juga."Jelas Dimas.


Lala terlihat mempertimbangkan.


" Maaf Dim, Terima kasih atas tawarannya. Namun Aku ingin mendirikan usaha sendiri." Jelas Lala membuat Dimas kecewa. Padahal Lala sendiri masih bingung. Namun impiannya mempunyai usaha sendiri sejak lama Dia inginkan. Mungkin semua ini jalan kehidupannya.


To be Continued

__ADS_1


__ADS_2