The Rival Beside Me

The Rival Beside Me
Kekhawatiran


__ADS_3

Dimas menatap Lala.


" Kamu yakin?"


Lala menganggukkan kepala.


" Kalau Kamu butuh bantuan, bilang saja padaku." Ucap Dimas.


"Aku harap Kita bisa bersama lagi seperti dulu. Tanpa ada kesalahpahaman kembali." Tambah Dimas masih berharap.


" Maaf Dim, Tapi Aku hanya bisa sebatas teman." Jelas Lala to the point dan lalu berpamitan dengan Dimas.


Dimas hanya bisa memandang Lala pergi begitu saja dengan rasa kecewa


...***...


Lala memukul pelan kepalanya dengan bolpoint. Lala mengetik sebuah surat resign. Namun bayangan Bangkit masih menghantuinya. Getaran ponsel mengalihkan perhatian Lala.


Lala hendak mematikan ponselnya. Namun saat melihat nama orang yang memanggilnya, Dia pun memutuskan untuk menjawabnya.


" Akhirnya Kamu menjawab." Suara Sani.


" Aku sedang sibuk menulis surat resign. Ada apa?"


" Ibuku mau berinvestasi kalau Kamu memang berniat usaha sendiri. Katanya Kamu mengingatkan dengan putri adiknya yang hilang." Jelas Sani.


" Benarkah?"


" Iya La. Nanti Aku yang uruskan soal pendanaan."


Lala terlihat kembali bersemangat. Bagaimanapun juga itu nafas segar untuk Lala.


Lala memanjangkan lehernya, mengintip ruangan Bangkit berada. Bangkit terlihat sudah sibuk. Lala buru-buru menyelesaikan surat resignnya.


Tiba-tiba telepon kantor berdering.


" Bawa dokumen yang telah kemarin diketik ulang." Titah Bangkit.


" Ok Pak!"


Lala langsung membawakan dokumen yang Bangkit maksud. Lala mengetok pintu ruangan dahulu.


" Masuk!"


" Maaf Pak, Ini dokumen yang Anda inginkan." Lala menyodorkan sebuah dokumen kepada Bangkit.


" Duduklah dulu." Titahnya. Segaris senyum muncul diwajah Bangkit.


Lala duduk didepan Bangkit. Dia menatap Bangkit yang sedang serius membaca dokumen itu. Bangkit terlihat jauh lebih dewasa. Kejahilan masa-masa dulu sudah tidak terlihat lagi diraut wajahnya yang maskulin tersebut.


" Anggaran yang sudah disusun. Menurut Saya ini sudah sesuai. Jadi sepertinya sudah ok. Oya tentang niat pengunduran diri Kamu. Pak David menawarkan sebuah kenaikan jabatan Direktur disalah satu cabangnya. Apakah Kamu tidak tertarik?" Bangkit menatap Lala dengan serius.


" Maaf Pak. Ini sudah keputusan Saya." Jawab Lala.

__ADS_1


" Sayang sekali. Padahal Saya berharap Kita bisa bersaing untuk kedua kalinya." Ucap Bangkit.


" Maksudnya Pak?"


" Tidak ada." Bangkit tersenyum masam. Ada sesuatu yang Dia sembunyikan diraut wajahnya.


" Kalau tidak ada sesuatu yang penting lagi. Saya pamit keluar. Untuk menyelesaikan sisa-sisa pekerjaan Saya."


Lala beranjak dari tempat duduknya. Dan melangkahkan kaki keluar dari ruangan.


Namun tiba-tiba sebuah tangan menahannya.


Lala menoleh bingung.


" Kumohon bertahanlah dulu! Bantu Aku mengingat semuanya!" Jelas Bangkit membuat Lala bingung dan syok.


" Apa maksudnya?"


" Aku sudah sedikit mengingatnya. Kenangan-kenangan dulu sebelum kejadian itu terjadi. Aku cedera saat jatuh. Dan lupa ingatan sementara. Kemunculanmu dalam hidupku, memulihkan ingatanku sedikit demi sedikit. Jadi bantulah Aku untuk mengingatnya, sebenarnya siapa Aku." Jelas Bangkit.


" Aku tidak bisa membantu. Aku bukan siapa-siapa. Maaf." Lala menolaknya dan melepaskan tangannya.


" Aku tidak percaya padamu. Kamu mencoba menjauhiku itu yang kurasakan saat ini."


Lala menghela nafas panjang.


" Aku benar-benar tidak mengenalmu Pak." Lala tidak ingin berurusan dengan Bangkit lagi. Baginya jalan kehidupan Mereka sudah berbeda.


" Benarkah? Kalau begitu tatap mataku." Bangkit langsung memegang kedua pundak Lala.


" Tidak akan! Sebelum Kamu jujur padaku. Sebenarnya siapa Aku sebenarnya?" Bangkit terlihat memaksakan diri.


Bangkit memandang Lala dengan tatapan mengintimidasi.


" Anda adalah atasan Saya. " Jelas Lala penuh penekanan.


Sebuah ketokan pintu ruangan, membuat Bangkit resflek langsung melepaskan kedua tangannya dari pundak Lala. Lala langsung spontan keluar dari ruangan.


Terlihat Pak Randy selaku Bagian personalia.


" Maaf mengganggu, Saya mau melaporkan hasil wawancara hari ini." Jelas Pak Randy masih terdengar samar-samar ditelinga Lala.


" Apa sudah dapat kriteria yang memenuhi syarat?"


" Belum Pak. Pak David biasanya cenderung memilih sekretaris yang sesuai dengan kinerjanya. Seperti Mba Lala, Pak David sudah mengetahui kemampuan Mba Lala dalam mengatasi masalah Dia pintar. Dia juga orang yang kompeten dan bertanggung jawab dalam bekerja." Puji Pak Randy.


Bangkit terlihat manggut-manggut kepala tanda mengakuinya juga. Pak Randy keluar dari ruangan setelaj melaporkan hasil wawancara hari ini.


Bangkit mengalihkan pandangannya ke arah jendela ruangannya. Dia mengambil remote dan membuka jendelanya. Terlihat Lala sedang sibuk dalam pekerjaannya. Pandangannya fokus ke layar laptopnya. Dan sesekali melihat dokumen yang masih menumpuk.


' Kenapa dalam ingatanku hanya ada wajahnya yang ceria dan kesal. Sebenarnya siapa Lala dalam kehidupanku?' Bangkit melamun. Dia bingung dengan dirinya sendiri semenjak bertemu dengan Lala. Ingatan-ingatan itu perlahan muncul satu per satu tanpa disadari.


Bangkit bertanya dengan dirinya sendiri. Dia terlihat melamun. Namun Vira salah satu temannya Lala datang menghampiri. Bangkit spontan langsung menutup jendela ruangannya.

__ADS_1


" Akhirnya selesai juga." Lala meregangkan tangan untuk melenturkan otot-ototnya yang hampir seharian mengetik.


" Lala?" Panggil Vira. Lala terlonjak lalu menatap Vira.


" Iya kenapa Vir?"


" Apa benar kata Lilin, Kamu mau mengundurkan diri?"


Lala mengangguk. Vira terlihat sedih.


" Kamu tega. Siapa yang akan menemani Aku makan di kantin." Keluh Vira.


Lala menatap sendu sahabatnya itu.


" Nanti kalau Aku sukses menjalankan usahaku. Kamu Kupanggil sebagai asistenku." Ucap Lala sambil tertawa.


" Serius? Jangan bercanda Kamu La. Apalagi PHP." Gerutu Vira.


" Serius lah. Ya sudah yah, Aku mau menyerahkan dokumen-dokumen yang sudah selesai. Dan surat pengunduran diri ini." Jelas Lala langsung beranjak dari tempat duduknya.


" Ok dah. Sampai jumpa nanti." Ucap Vira dan berlalu dari hadapan Lala.


Lala melangkahkan kaki menuju ruangan Bangkit. Seperti biasa, Dia mengetok pintu dahulu.


" Masuk." Sahut Bangkit dibalik kemeja kerjanya sebagai tanda mempersilahkan.


" Ini dokumen-dokumen yang telah Saya selesaikan. Serta Surat Pengunduran diri Saya." Jelas Lala to the point.


" Hmmm. Bagaimana kalau Saya belum bisa mengabulkan pengunduran diri Kamu saat ini."


Lala langsung terkejut mendengarnya.


" Bagaimana bisa. Pengunduran diri itu hak Saya." Jawab Lala tidak terima.


" Apa Kamu tidak pernah membaca Surat Perjanjian Kontrak Karyawan di Perusahaan ini." Bangkit menatap Lala dengan tatapan kesal.


" Tapi itu tetap hak Saya." Lala tidak mau mengalah.


Bangkit beranjak dari tempat duduknya. Dia memutari meja. Dan langsung mendekati Lala. Bangkit terlihat sangat penasaran dengan Lala dimasa lalunya.


Lala mau beranjak dari tempat duduknya. Namun Bangkit sudah terlanjur menguncinya tepat dihadapannya. Bangkit mendekatkan wajahnya. Melihat dengan seksama dan menyelami kedua bola mata Lala. Lala langsung memalingkan wajahnya.


" Apa dulu Kita sedekat ini? Kenapa wajahmu memenuhi semua memori masa laluku." Tanya Bangkit penasaran.


" Tidak. Tidak pernah. Bahkan Kamu adalah musuhku. Sainganku dalam segala hal."Jelas Lala ketus.


Bangkit langsung tertawa.


" Bagaimana bisa Aku menjadi musuhmu? Sainganmu? Kamu terlalu manis untuk itu semua." Bangkit masih tidak percaya.


Bangkit masih mendekatkan wajahnya. Dan tangannya mengunci dikanan dan kiri pegangan kursi yang Lala duduki.


Lala masih memalingkan wajahnya. Hingga segarnya aroma shampo tercium dihidung Bangkit. Detak jantung Lala mendadak berdebar, membangunkan sisa cinta yang sudah hampir berhasil Dia punahkan.

__ADS_1


To be Continued


__ADS_2