The Rival Beside Me

The Rival Beside Me
Sebuah Tujuan


__ADS_3

Visual


Bangkit Sanjaya Dewantara



Shabila Anastasya



Andra Sanjaya Pratama



Devina Davidson



Dimas Saputra Atmajaya



" Kau telah mengingat semuanya?" Dimas penasaran.


" Aku mengingatnya atau tidak, Itu tidak penting bagimu." Bangkit terlihat emosi.


" Ok. Dulu Aku memang cemburu dengan Kamu dengan Lala. Jadi Aku sengaja memanasinya. Namun ternyata Lala salah paham dan menjauhiku."


" Berarti Lala wanita pintar dan cerdas."


" Apa maksudmu?" Tanya Dimas terlihat kesal.


" Kamu tidak pantas untuknya." Jelas Bangkit penuh penekanan.


" Lalu, Apa Kamu merasa pantas untuknya sekarang?" Tanya Dimas balik. Dia terlihat tidak mau mengalah.


" Itu bukan urusanmu Dim. Kamu benar-benar salah menemuiku hari ini."


Perdebatan Mereka terhenti. Devina tiba-tiba masuk tanpa permisi. Dia menatap Dimas dengan tatapan tajam.


" Keluar! " Tanpa basa-basi Devina mengusir Dimas.


Dimas langsung beranjak dan melangkahkan kaki keluar dari ruangan. Devina langsung menutup pintu dan berbalik.


" Jadi Kamu akhir-akhir ini sangat berubah karena gadis itu?" Tuduh Devina.


" Kamu mendengarkam pembicaraan Kami?"


Devina menganggukkan kepala.

__ADS_1


Flash back


Saat dikantor, Bangkit tiba-tiba pingsan dan dibawa ke rumah sakit. Saat sadar, Dia diberitahu kalau ada penggumpalan darah di bagian otak dan harus dioperasi kalau tidak ingin akibatnya fatal. Saat pulang ke apartemen. Pria berkacamata tersebut telah ditunggu oleh kakaknya dan menyuruhnya pulang. Kakaknya cerita tentang masalah hobinya yang membuat dirinya seperti sekarang. Dan Dia juga merasa bersalah karena menyebabkan terlalu menekan Bangkit atas hobinya tersebut.


Terkejut mendengar pengakuan tersebut, Bangkit langsung mendatangi Ayahnya yang telah membuat dirinya dan Devina bertunangan. Dengan mata berkaca-kaca, Ayahnya meminta maaf dan memberi tahu alasannya menjodohkan dengan Devina, yaitu karena Neneknya ingin mendekatkan Dia dengan karyawati di supermarket milik keluarga Mereka. Ayahnya diam-diam mencari tahu silsilah keluarga wanita itu, yang tidak sebanding dengan keluarga Mereka. Kejadian itu membuat Ayahnya menghapus jejak masa muda dan hobinya Bangkit.


Bangkit frustasi mendengar kejujuran Ayahnya. Dia perlahan-lahan mengingat semua kenangannya yang hilang.


Flash Back off


Di tempat lain, Lala telah mengukuhkan niatnya untuk mengelola bisnis marketnya lebih maju. Dimas tiba-tiba datang dan meminta supaya hubungan mereka bisa kembali seperti sebelumnya.


" Aku meminta maaf telah menggangu waktumu. Dan maaf untuk masa lalu yang buat Kita salah paham. Aku ingin Kita bersama lagi." Pintanya.


Lala menyerngitkan keningnya. Dan bertanya-tanya, Sebenarnya ada apa dengan semua ini.


" Maaf Dim, Aku benar-benar sedang tidak ingin menjalin hubungan dengan siapapun untuk saat ini."Dimas ditolak dengan halus oleh Lala.


Adegan ini terlihat oleh Andra yang kebetulan datang mau menghadiri rapat pemegang saham, yang kemudian mengurungkan niatnya bertemu Lala. Dia langsung masuk keruangan rapat.


...***...


Saat duduk diruangan, pandangan Andra tidak fokus. Dia antara terkejut dan tidak percaya ada Lala diperusahaan itu.


' Kenapa Lala tiba-tiba mengelola perusahaan ini. Dan menggantikan Pak Ridwan?' Pikiran Andra bertanya-tanya.


" Selamat siang kepada para investor yang telah meluangkan waktu untuk menghadiri rapat ini. Perkenalan nama Saya Shabila Anastasya yang mewakili Pak Ridwan untuk menjelaskan kemajuan Sky Mart tahun ini."


Satu per satu Lala menjelaskan dari target penjualan, biaya pemasaran, dan pendapatan omset dari setiap cabang.


" Jadi untuk anggaran bulan berikutnya. Kita akan menyusun ulang. Begitu juga dengan produk-produk yang tidak begitu laku. Kita akan memodifikasi dengan sebuah promo atau diskon buat customer, dengan syarat dan ketentuan yang berlaku tentunya. Dan untuk pengorderan barang, Kita perbanyak barang yang dicari dan dibutuhkan konsumen. Selain itu... "


Perkataan Lala terpotong karena getaran ponsel didalam saku jasnya. Lala hendak mematikan ponselnya. Namu saat melihat nama orang yang meneleponnya, Dia pun memutuskan untuk menjawabnya.


" Rapat selanjutnya akan dilanjutkan oleh Pak Rio." Ucap Lala seraya bangkit dari tempat duduknya dan memberi kode minta maaf. Lalu Dia permisi keluar dari ruangan rapat.


Lala menggeser simbol telepon dilayar ponselnya. Lalu mendekatkan ponselnya ke telinganya.


" Maaf Ayah, Tadi Aku sedang... "


" Akhirnya Kamu menjawab La. Ayah masuk rumah sakit. " Suara Ibu tirinya terdengar sangat khawatir.


" Benarkah?"


" Iya La, Ini posisi dirumah sakit Tentara." Jelas Ibu tirinya.


Tanpa pikir panjang Lala langsung melangkahkan kaki menuju parkiran kantor.


Tak jauh dari arah belakang, Andra diam-diam mengikutinya.

__ADS_1


Lala langsung keluar dari lokasi tempat kerjanya dan mengarahkan mobilnya ke rumah sakit Tentara. Pikirannya kacau, bagaimanapun juga Ayahnya yang telah merawatnya dari kecil.


Mobilnya terhenti karena sebuah lampu merah. Lokasi tempat kerjanya dengan rumah sakit lumayan jauh. Lala sesekali terlihat mengerem mendadak karena panik. Andra yang mengikutinya terlihat geleng-geleng kepala.


Sampai rumah sakit, Lala langsung menuju resepsionis. Raut wajahnya terlihat sangat khawatir.


" Ruang No. 10."


Lala langsung menuju ke ruang yang dituju.


Terlihat Ibu tirinya sedang menenangkan Ayahnya.


" Lala. Akhirnya Kamu datang." Ibu tirinya langsung memeluknya. Lala terheran-heran, Ada apa sebenarnya. Karena tidak biasa Ibunya menyambut hangat seperti itu.


" Ayah kenapa?" Lala penasaran.


" Ayahmu tekanan darahnya naik gara-gara ada orang asing datang kerumah. Dia menanyakan semua tentangmu. Ayahmu ketakutan, Kalau saja itu keluargamu dan mengambil Kamu dari Kami." Jelas Ibunya.


" Siapa Ibu?" Lala lagi-lagi penasaran.


" Entahlah La, Tetapi dari pakaian dan bodyguardnya sepertinya Mereka orang kaya." Jelas Ibu tirinya dengan mata berbinar-binar.


Lala terlihat penasaran, Namun Dia langsung terlihat khawatir dengan kondisi Ayahnya yang masih terlihat lemah. Namun Ayahnya merengek minta pulang.


"Ayah tidak mau menginap La. Ayah tidak ingin menjadi beban buatmu."


" Tidak Ayah, Lala tidak berpikiran sejauh itu. Ayah harus menginap dahulu sampai benar-benar pulih." Lala menenangkan Ayahnya. Setelah hampir jam 10 malam. Lala disuruh Ibu tirinya untuk pulang. Lala mengecup kening Ayahnya dan keluar dari ruangan. Dia langsung menuju bagian administrasi rumah sakit.


" Kamar No. berapa Mba?"


" No. 10."


Karyawati tersebut langsung terlihat bingung.


" Maaf Mba, Untuk kamar No.10 sudah ada yang membayarnya." Jelas Karyawati tersebut.


" Siapa Mba? Jelas-jelas keluarga Kami belum ada yang mengurus pembayaran." Tutur Lala bingung.


" Tadi sore Mba, sekitar jam 5. Ada seorang pemuda tampan yang membayarnya." Jelas Karyawati tersebut semakin membuat Lala tambah kebingungan.


Dia bertanya-tanya dalam hati. Apa mungkin ada orang yang salah membayar administrasi keluarganya.


" Kalau boleh tahu, Atas nama siapa pembayaran tersebut Mba?"Lala sangat penasaran.


" Maaf Mba, Itu sebuah amanah. Saya tidak boleh menyebutkan namanya."


Lala semakin bingung. Dia pun beranjak meninggalkan bagian administrasi dengan hati bertanya-tanya.


To be Continued

__ADS_1


__ADS_2