
Lala berhenti dan menoleh kearah Bangkit.
" Ada apa Pak?" Tanya Lala terkejut seraya melepaskan tangan Bangkit yang sedang menahannya.
Bangkit pun bingung sendiri dengan sikapnya. Antara bingung dan spontan sudah tidak bisa membedakannya saat ini.
" Hmm.., bisakah Kau membatalkan pertemuan kita dengan Horizon?" Bangkit langsung mengalihkan pembicaraan.
" Apa? Kita tidak bisa seenaknya membatalkan sepihak seperti itu Pak." Protes Lala membuat Bangkit kecewa.
" Aku sungguh ada kepentingan mendadak tepat jam itu." Keluh Bangkit membuat Lala bingung.
" Kalau begitu biarkan Saya saja yang menemui. Beliau sahabatku jadi tidak masalah jika Aku saja yang menemuinya." Ujar Lala menawarkan solusi terbaik. Namun terbaik bagi Lala. Faktanya tidak terbaik bagi Bangkit
' Tidak. Kalau Dia sendiri, Berarti mereka berduaan. Oh No!!!' Pikir Bangkit spontan tiba-tiba merasa tidak rela.
" Tidak jadi, sepertinya Kita bersama saja. Aku akan menunda kepentinganku." Ucap Bangkit buru-buru.
Lala pun langsung menatap Bangkit penuh selidik.
" Kenapa? Apa Kau masih ingin diruanganku?" Tanya Bangkit mengalihkan mata Lala yang mulai mencurigainya.
" Kau... Bangkit sahabat kampusku?" Ucap Lala yakin.
Bangkit pun langsung tertawa.
" Iya Saya Bangkit siapa lagi. Tapi atasanmu. Bukan teman kampusmu." Jelas Bangkit.
" Sepertinya Kau rindu berat dengan sahabatmu itu. Atau jangan -jangan Dia sahabat yang membuatmu jatuh cinta?" Bangkit menggoda Lala.
Lala terdiam.
" Apakah itu benar?"
" Jadi Dia mirip denganku? Dari nama dan wajah juga?"
Lagi-lagi Lala hanya mendengus kesal.
Kata-kata Bangkit jelas langsung membuat Lala terkejut.
Lala pun langsung buru-buru meninggalkan ruangan Bangkit.
Daripada dirinya gila mendengar kata-kata aneh dari atasannya itu.
Bangkit terlihat langsung lega begitu Lala sudah keluar dari ruangannya.
Namun Bangkit masih frustasi.
" Apa Aku mempunyai kembaran?" Bangkit bertanya-tanya sendiri.
Bolak balik Dia menekan remote control jendela ruangannya, seraya melihat Lala yang sedang sibuk dengan kerjaannya.
Lala mengetik dokumen seraya pikirannya melayang-layang tidak jelas.
' Ini sungguh aneh. Kenapa tiba-tiba Dia ingin membatalkan meetingnya dengan horizon? Tapi menolak tawaranku.'Pikir Lala.
__ADS_1
Jelas-jelas ini membuat Lala semakin penasaran.
...***...
...Seorang wanita dengan senyuman lebarnya kembali dari USA diam-diam....
" I am coming ." Ucap Devina seraya menarik kopernya.
Dia pun langsung menelepon Bangkit. Namun berkali-kali teleponnya tak ada respon.
Bangkit hanya memandang hampa dering hpnya. Pikirannya jelas sudah teralihkan ke Lala. Bahkan Bangkit merasa tak berharap bertemu wanita yang selalu mengisi hari-harinya saat di USA itu. Padahal jelas Devina itu kekasihnya sekarang. Tapi hatinya kini benar-benar hampa. Iya, sepertinya Bangkit hanya main-main saja dengan Devina selama ini. Seorang wanita yang dijodohkan oleh Ayahnya.
Lala tidak sengaja melihat ke arah ruangan Direktur. Terlihat jelas jendela ruangan terbuka dan atasannya itu sedang memandang ke arahnya. Bangkit yang langsung tersadar dari lamunannya, seketika menutup kembali jendela ruangannya.
"Oh My God. Apa Dia melihatku?" Bangkit ketakutan sendiri. Dia pun langsung kembali fokus ke kerjaannya.
Selang beberapa jam, setelah selesai meeting dengan investor, waktu pun menunjukkan pukul 10.00. Lala menemani Bangkit ke Horizon Group.
Selama perjalanan, Bangkit terlihat lebih memilih diam. Dia takut berbuat aneh-aneh lagi atau membuat Lala semakin curiga. Dan jelas gawat kalau sampai Lala mengetahui Dia sedang tertarik padanya . Bisa-bisa Lala akan langsung menjauhinya. Dia tidak ingin itu terjadi.
Lala pun melirik kearah Bangkit. Dia penasaran dengan senyuman Bangkit yang tiba-tiba tiada angin, tiada badai dan tiada hujan muncul begitu saja.
" Apa ada yang salah dengan penampilanku?" Tanya Lala membuat Bangkit tersadar dari lamunannya.
Bangkit langsung memandang Lala dari rambut hingga ujung kaki. Dan jelas membuat Lala menyerngitkan dahinya.
" Tidak ada." Bangkit menggelengkan kepalanya.
" Lalu mengapa Bapak tiba-tiba tersenyum sendiri?" Tanya Lala penasaran.
Namun sebuah mobil dari arah berlawanan tiba-tiba tidak terkendali dan Bangkit banting setir ke kiri. Sehingga mobil menabrak sebuah pohon. Lala terlihat berdarah dikening saja. Sedangkan Bangkit terlihat pingsan.
" Pak Bangkit! Pak! Pak!" Teriak Lala panik.
Tidak selang lama ambulan datang dan membawa keduanya kerumah sakit terdekat.
Lala langsung menelepon pihak Horizon untuk membatalkan meeting. Dan menginfokan ke Pak David.
Bangkit langsung masuk Unit Gawat Darurat. Namun tidak begitu lama. Dia dipindahkan keruang VIP. Sedangkam Lala hanya perawatan luka kecil. Setelah itu Lala menunggu diruang tunggu pas depan ruangan Bangkit dirawat.
Tidak selang lama seorang wanita datang dengan paniknya.
" Aduh bagaimana bisa terjadi?"
Dia langsung menoleh ke arah Lala. Namun langsung masuk ruangan. Bangkit terlihat belum sadarkan diri. Dan seorang dokter masih memeriksa kondisinya.
" Bagaimana dok? Apakah Dia baik-baik saja?"
" Iya, Dia sepertinya pernah cedera otak. Dan peristiwa hari ini membuatnya sedikit terkejut."Jelas dokter.
" Pernah cedera otak?" Devina tekejut.
Dokter tersebut menganggukkan kepalanya. Dan lalu keluar dari ruangan.
Lala terlihat bingung sendiri. Apalagi setelah satu jam interogasi dari kepolisian. Sani terlihat meneleponnya.
__ADS_1
" Iya San. Ada apa?"
" Bagaimana kondisimu sendiri?"
" Aku baik-baik saja."
" Ada sesuatu yang ingin kuceritakan. "
" Cerita tentang apa San?"
" Bangkit. Ternyata dulu Dia menghilang karena cedera otak saat balapan liar dan menyebabkan amnesia. Lalu sama Ayahnya dipindahkan kuliah ke luar negeri biar Dia melupakan hobinya tersebut."Jelas Sani panjang lebar.
Lala langsung terkejut.
' Pantas saja Dia tidak mengingatku sama sekali.' Pikir Lala.
" Kamu dapat info sari siapa?"
" Eko."
" Kenapa Dia tidak cerita padaku?"
" Dia takut Kamu kepikiran dan mengganggu skripsimu."
Lala langsung terduduk lemas. Dia benar-benar merasa bodoh. Bagaimana bisa semua menjadi seperti ini. Lala langsung beranjak dari duduknya. Dia tidak ingin menambah masalah dengan tetap menunggu disitu. Lala meminta Sani untuk menjemputnya.
Lala menuju lobby rumah sakit. Dia membaca koran harian sambil menunggu jemputan Sani. Lala melihat keluarga Bangkit berdatangan menjenguknya. Termasuk kakaknya dan neneknya. Lala langsung menutup wajahnya dengan sebuah koran.
" Bagaimana bisa, pekerjaanku selalu berhubungan dengannya." Lala langsung terlihat down.
Tidak lama kemudian. Sani datang menjemputnya.
" Kau kenapa pucat seperti itu?"
Lala langsung masuk ke mobilnya Sani.
" Antar Aku kekantor."
" Ngapain sore-sore kesana?"
" Mengambil mobil dan mengemasi barang-barangku dikerjaan."
Sani terkejut.
"Kamu mau resign?"
Lagi-lagi Lala menganggukkan kepalanya.
" Gila. Kamu mau keluar dari perusahaan bonafit seperti itu?"
" Itu bukan masalah. Aku bisa kerja ditempat lain." Lala mengalihkan pandangan ke luar kaca jendela mobil.
Pikirannya benar-benar berkecambuk. Dia merindukannya. Namun disisi lain, waktunya sudah berubah. Mereka bukan Mereka yang dahulu. Mereka bukan lagi rival dikampus seperti dulu. Sekarang Mereka hanya sebatas rekan kerja. Lala menghela nafas panjang. Sesak rasanya mengingat itu semua.
To be Continued
__ADS_1