The Rival Beside Me

The Rival Beside Me
Memulihkan Ingatan


__ADS_3

Pagi-pagi, Ayah Lala kembali ke rumah setelah Dinas kerja dari luar Kota selama Satu bulan. Saat masuk ke dalam kamarnya. Istrinya menjelaskan jika dirinya telah memberitahu Lala kebenarannya. Wajah Ayah Lala mendadak berubah sedih, Jauh di lubuk hatinya dia tidak ingin Lala putrinya mengetahui yang sebenarnya. Biarlah rahasia kelahiran Lala tetap menjadi sebuah rahasia, yang seharusnya dikubur. Namun bujukan Istrinya yang materialistis seolah membutakan mata hatinya.


Kakak tirinya masuk ke dalam kamar dan mendapati Lala tertidur lemas. Juga menunjukkan raut wajah sedih. Dia bertanya apa yang terjadi namun bukannya menjawab, Lala malah bangun dan melangkah ke luar kamar menuju kamar ke dua orang tua Mereka.


“Ayah di rumah sakit mana Aku dilahirkan?” Tanya Lala dengan raut wajah sedih.


“Itu… itu…Aku tidak ingat."


“Aku ingin melakukan tes DNA. Ayah tidak mengingat tempatku dilahirkan, Apa Aku diadopsi?”


“Lala, Kamu tidak tahu situasi ini…..”


“Setelah Aku memikirkan semuanya, Aku tahu. Ibu tidak seperti seorang wanita yang habis melahirkan. Ibu tetaplah seperti seorang gadis. Ayah tolong katakan kebenarannya, dimana Ayah mengadopsiku? Setelah Aku tahu semuanya, Aku akan membiarkannya saja atau menerimanya.” Isak Lala.


Ayahnya terdiam.


"Apa dari panti asuhan?” Tanya Lala.


“Ibumu pernah bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Seseorang meninggalkanmu di pintu tempatnya bekerja. Aku tidak mengetahui rumah itu dimana, yang Ayah tahu rumah itu terletak di daerah Selatan. Ayah dan Ibumu membawamu. Kami percaya bahwa Kamu adalah karunia Tuhan dan kami memperlakukanmu seperti putri kami sendiri dan Kamu tahu itu." Ucap Ayah Lala dan ikut menangis.


Lala memutuskan keluar rumah. Dia mengikuti langkah kakinya, yang entah kemana akan membawanya pergi.


Lala mengemudikan mobilnya ke sebuah pemakaman. Lala mengunjungi makam Ibunya. Sudah lama sejak terakhir kali Lala mengunjunginya. Kenangan akan masa kecilnya bersama Ayah dan Ibunya dimana hanya ada kegembiraan, tawa dan canda membuat Lala bersedih.


'Waktu itu, Aku benar-benar bahagia. Apakah Aku akan mengalami kebahagiaan semacam itu lagi? Ibu akan selalu menjadi Ibuku. Aku sadar bahwa Aku telah diadopsi dan dijaga dengan sangat baik termasuk Ayah. Hatiku kosong dan Aku merasa itu akan terus kosong. Siapa Aku sebenarnya? Aku tidak mempunyai firasat sama sekali, mengapa? Karena hal apa sehingga Aku ditinggalkan? Mengapa mereka tidak bertanggung jawab? Memikirkannya sungguh tidak masuk akal. Aku tidak akan goyah seperti ini.'


Lala memandangi makam Ibunya seraya menabur bunga dan mendoakannya. Dering hpnya berbunyi.


" Akhirnya Kamu mengangkatnya. Kenapa Kamu tidak masuk kerja?" Suara Bangkit.


" Saya kan sudah mengundurkan diri Pak."


" Tapi Aku kan belum menyetujui dan menandatanginya."


" Mohon maaf Pak. Tetapi Saya sudah tidak terikat kontrak dan itu hak Saya. Saya sedang tidak ingin berdebat. Terima kasih atas perhatiannya. Selamat siang." Lala menggeser tombol mematikan panggilan.


Lala beranjak dari pemakaman Ibu angkatnya. Dan Dia melangkahkan kaki menuju ke mobilnya. Dia teringat Sani untuk menemui Ayahnya. Dan menyetujui mengelola dana 50% dengan memegang perusahaan retail.


Lala dan Sani akhirnya bertemu didepan kantor perusahaan Ayah Sani.


" Nona Shabila? Silahkan, Silahkan masuk!" Pinta Pak Drajat selaku orang kepercayaan keluarga Sani.


Mereka langsung masuk keruangan Ayah Sani.


" Kalian sudah datang? Silahkan duduk." Pak Ridwan selaku Ayah Sani.

__ADS_1


" Ini Shabila yang telah kuceritakan." Jelas Sani.


" Selamat siang Om. Maaf mengganggu pekerjaan Anda." Ucap Lala bersikap sopan.


" Tidak sama sekali. Sani telah banyak cerita mengenai Kamu. Sepertinya Kamu orang yang cerdas, kompeten dan bertanggung jawab." Puji Pak Ridwan membuat Lala malah tidak enak. Karena faktanya Dia merasa biasa saja.


Akhirnya Mereka membahas tentang seluk beluk perusahaan retail yang Pak Ridwan serahkan ke Lala, untuk mengelolanya.


" Saya percayakan padamu."


Kesepakatan perjanjian hitam diatas putih pun ditandatangani. Sani terlihat senang, setidaknya Dia membantu Lala mewujudkan impiannya untuk mengelola sebuah perusahaan retail.


...***...


Lala bangun pagi-pagi dan langsung menuju perusahaan barunya. Pak Rio selaku orang kepercayaan Pak Ridwan di Sky Mart langsung menyambut Lala dengan gembira.


" Akhirnya Anda datang."


" Bagaimana dengan Pak Andra?"


" Dia jarang ke sini. Pak Andra dan Pak Ridwan hanya pemegang saham. Jadi Mereka kurang mengurusnya."


Lala mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti. Dan merasa aman. Pak Rio pun menjelaskan semua pekerjaan yang Lala pegang selaku bagian Direktur Utama.


" Ok Pak. Terima kasih banyak atas informasinya."


" Sama-sama. " Ucap Pak Rio dan berpamitan untuk melanjutkan aktivitasnya.


Lala masuk keruangan kerja barunya yang jelas berbeda dari situasi pekerjaan sebelumnya. Lala membuka laporan setiap devisi yang telah dilaporkan. Dari segi penjualan, pemasaran dan target perusahaan. Selain itu juga membaca laporan setiap laporan dari kepala cabang.


...***...


Untuk memastikan kecurigaannya, Dimas mendatangi kantor Bangkit. Namun disana Dia malah bertemu Devina yang sedang menunggu diruang kerjanya Bangkit. Gadis itu curiga akan sikapnya Dimas, yang tidak seperti partner kerja biasanya. Namun Dimas tidak memberitahu bahwa Bangkit adalah teman masa kuliahnya dulu.


" Jadi Kamu bekerja sama dengan perusahaan ini?" Devina penasaran.


Dimas menganggukkan kepala.


" Kalau boleh tahu, Kapan Kamu bertemu dengan Bangkit?"


Devina berpikir sejenak sebelum menjawabnya.


" Apa itu penting bagimu?" Tanya Devina membuat Dimas terdiam.


' Sepertinya tidak bisa mengoreksi info dari wanita ini. Dia terlihat licik juga.' Batin Dimas.

__ADS_1


" Tidak juga. Hanya penasaran." Jawab Dimas.


Tidak selang lama terlihat Bangkit datang bersama Pak Randy. Bangkit terkejut melihat Dimas. Namun Dia langsung mencoba rileks.


" Pak Dimas? Apa yang membuat Anda datang kemari?"


" Ada masalah dokumen proyek yang masih belum lengkap." Ucap Dimas.


" Namun sayang Saudari Shabila sudah tidak terlihat dibagian sekretaris. Apa sekretaris baru Anda bisa menyelesaikannya?" Tambah Dimas menoleh ke arah Devina. Membuat wajah Devina kesal karena merasa direndahkan harga dirinya. Dan Bangkit terlihat berpikir, Sebenarnya apa maksud Dimas menemuinya.


" Maaf Pak Dimas. Saya tunangan Pak Bangkit, bukan sekretarisnya." Jelas Devina.


" Kalau begitu bolehkah Saya minta waktunya Pak Bangkit sebentar?" Pinta Dimas memberikan kode bahwa Devina tidak termasuk dalam pembicaraan Mereka.


Dengan kesal Devina langsung keluar dari ruangan.


Bangkit terlihat semakin penasaran dengan kedatangan Dimas yang tiba-tiba mengunjunginya.


" Kamu pasti bingung, Kenapa Aku datang kesini?"Dimas tersenyum.


" Iya. Ada apa sebenarnya? Bukan tentang proyek pastinya." Bangkit menebak.


Dimas menganggukkan kepalanya.


" Ini tentang Lala."


Bangkit langsung mengerti.


" Aku ingin Kamu jangan memaksakan diri untuk mengingatnya." Jelas Dimas.


" Maksudnya?" Bangkit belum mengerti arah pembicaraan Dimas.


" Aku tahu dari Eko Kamu hilang ingatan. Dan Kamu sekarang sudah mempunyai tunangan. Jadi jangan menganggu kehidupan Lala kembali. Biarkan Dia melangkah ke masa depan dan menemukan kebahagiaannya sendiri."


Bangkit tertawa. Lalu Dia memandang Dimas dengan tatapan sinis.


" Apa hakmu melarangku?" Tanya Bangkit.


" Karena Aku masih mencintainya."


Bangkit menatap sinis Dimas.


" Kalau Kamu mencintainya, Kenapa Kamu menyakitinya dengan memeluk wanita lain didepan matanya." Ucap Bangkit membuat Dimas terkejut. Jelas Bangkit sudah mengingat masa lalunya.


To be Continued

__ADS_1


__ADS_2